Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
75. Akan Menyesal


__ADS_3

Indra menatap seseorang itu dengan tajam, perasaan kesalnya masih menusuk dalam dadanya. Rasa kesal dan marah menjadi satu sehingga Indra melakukan hal di luar kendalinya.


"Aaarrrggghhh!!" teriak Indra lagi menjatuhkan tangannya.


"Ngapain kamu belain perempuan murahan ini" tegas Indra yang masih belum bisa mengendalikan dirinya.


"Yang membuat dia perempuan murahan itu kak Indra sendiri. Apa kak Indra lupa jika di dalam rahimnya sedang tumbuh anak kak Indra? Benihnya kak Indra? Hm?" jawabnya pelan namun terdengar tegas. Indra menoleh dan menatap tajam Sani yang masih terisak dalam tangisnya. Bahkan Sani terus menunduk karena tak berani menatap mata Indra yang sangat menusuk dan menyudutkannya.


"Berhenti menyalahkan kesalahan yang jelas bukan salah dia sepenuhnya. Kak Indra memikirkan perasaan pacar kak Indra tapi kak Indra gak sama sekali memikirkan perasaan ibu dari anak kak Indra. Dan coba liat apa selama perutnya yang semakin membesar dia menuntut kak Indra?" katanya sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Enggak kak. Bukan maksud aku membelanya hanya saja berhenti menyalahkannya jika kak Indra tidak berniat mempertanggung jawabkan apa yang telah kak Indra perbuat dengannya" tegas laki-laki itu dengan menatap Indra serius.


"Ck" decih Indra tak terima pada kenyataannya.


"Buat apa kamu membela dia? Apa kamu masih ada perasaan dengan dia? Hei kamu aja di tinggalkan oleh dia, jangan lupa itu. Dan sekarang kamu masih membela dia?? Ha ha ha" kata Indra yang benar-benar sudah tak terkendali.


"Masa laluku gak ada hubungannya dengan sikap kak Indra saat ini"


"Kenapa? Kenapa? Kenapa? Hah? Bilang kalo kamu gak bisa move on dari dia? Bilang kalo kamu juga masih ingin kan kembali dengan dia? Cuma sangat disayangkan aja kamu sudah menikah dengan sahabat kamu itu" teriak kak Indra lagi kepada Rizki yanh membuat Rizki tak menyangka bisa melihat Indra dalam puncak amarah seperti ini lagi.

__ADS_1


"Diam? Benar yang aku katakan? Hah? Kalo aku gak bisa tanggung jawab anak dalam kandungan mantan pacar kamu, kenapa gak kamu aja yang mempertanggung jawabkannya? Hm? Kan kamu masih belum bisa melupakan mantan terindah sekaligus cinta pertama kamu ini? Benar kan tebakan aku?" kata Indra dengan senyum liciknya.


Rizki diam karena apa yang di katakan Indra menggoyangkan hatinya. Hati Rizki sakit saat melihat air mata Sani terus mengalir bahkan saat tamparan keras itu mendarat di pipi Sani rasanya dada Rizki ikut berdenyut nyeri. Apa Rizki masih ada perasaan dengan Sani? Lalu bagaimana perasaan Rizki dengan Rosa?


Rosa kesulitan menelan salivanya saat mendengar perkataan kak Indra. Sedikit tegang karena Rosa seperti di kasih kejutan yang tak pernah terpikirkan sama sekali. Begitu juga Ayyas yang akan sangat marah bahkan kecewa jika yang dikatakan kak Indra benar adanya.


"Lalu apa urusannya jika yang dikatakan itu benar? Hm? Apa kak Indra akan mempertanggung jawabkan semua? Enggak kan? Sani disini korban. Korban kak Indra yang kak Indra tanpa sadari. Dan kalau aja Sani meminta pertanggung jawaban kepadaku sebelum aku menikah dengan Rosa, tentu aku sangat bersedia"


DEG


Lemas sudah rasanya seluruh badan Rosa. Dan Ayyas sampai mengepalkan erat tangannya dengan jawaban yang di berikan Rizki. Lalu apa arti pernikahan Rizki dan Rosa dimatanya? Ayyas yang hendak menghampiri ketiganya segera di cekal dengan Rosa. Meski merasa sangat lemas tapi Rosa tak ingin Ayyas ikut campur dalam urusan rumah tangganya.


"Ha ha ha ha Rizki Rizki mau sampe kapan kamu terjebak dengan masa lalu? Aku akan pastikan kamu akan menyesal berkata demikian. Kamu akan menyesal bahkan sangat menyes--"


"Enggak aku gak akan menyesal. Jika tahu akhirnya seperti ini, aku gak akan memperkenalkan kak Indra dengan Sani. Dan kalau saja malam itu aku yang datang, Sani tentunya gak akan pernah kak Indra nilai sebagai perempuan murahan. Aahh iya yang pantas di sebut dengan sebutan itu adalah pacar kak Indra sendiri. Pacar yang sudah buat kak Indra susah bahkan sampai berani melawan orang tua malah sampai membuat anak orang hamil dan tak berani bertanggung jawab" geram Rizki mengungkapkan kekesalannya.


"Brengsek!!" umpat Indra yang sudah ingin melayangkan tangannya tapi tertahan oleh Rizki hingga keduanya saling bertatapan tajam.


"Jangan pernah kamu sebut Adel sebagai sebutan yang sebutan itu pantas di sebutkan kepada mantan pacar kamu ini. Kalau kamu terus membela dia lebih baik kamu tanggung jawab saja dengan anak dalam kandungannya dan jadilah ayah dari anaknya. Dan gak usah kamu mengungkit atau meminta aku untuk mempertanggung jawabkannya. Karena itu gak akan mungkin terjadi" tunjuk Indra dengan amarah mengebu-gebu.

__ADS_1


"Iya baik. Aku akan pertanggungjawabkan itu. Aku akan menjadi ayah dari anak itu. Dan akan aku pastikan kamu akan menyesal kak"


"Ha ha ha ha bukan aku yang menyesal tapi kamu Rizki. Berlian seperti Rosa memang tak pantas bersanding dengan kamu. Kamu hanya pantas bersanding dengan perak murahan seperti dia. Kamu akan menyesal itu. Ingat!! Kamu akan menyesal"


Rosa tak sanggup lagi untuk melihat atau mendengar perdebatan saudara itu. Rosa meminta Ayyas untuk memutarkan kursi rodanya dan mengantarnya ke ruang rawat inapnya.


Rosa menelaah dengan seksama perkataan demi perkataan yang di ucapkan Rizki saat itu. Entah itu benar dari kejujuran hatinya atau hanya sebuah pembelaan saja. Tapi jika itu sebuah pembelaan untuk apa? Sedangkan saat awal Sani meminta pertanggung jawaban Rizki kala mendatangi Rizki yang tengah hamil itu, Rizki menolak dengan tegasnya dihadapan Rosa.


Lalu bagaimana jika yang dikatakan Rizki adalah kejujuran hatinya? Apa Rizki tak memikirkan perasaan Rosa sebagai istrinya jika mengetahui itu?


Pertanyaan demi pertanyaan pun berkecambuk di pikiran Rosa. Hingga saat tiba di dalam ruang rawat inap Rosa, Ayyas membantu Rosa untuk membaringkan tubuhnya di atas brankar sambil menutupi tubuh Rosa dengan selimut sebatas perut.


Rosa pun melempar senyum kepada Ayyas. Senyum yang Ayyas rasa sangat di paksakan oleh Rosa.


"Yas" panggil Rosa yang tahu jika Ayyas juga kecewa atas perkataan Rizki yang tadi mereka dengar.


Ayyas menatap Rosa sedih dan menjatuhkan bokongnya duduk di sebelah brangkar Rosa dan segera menggenggam tangan Rosa erat.


"Gue gak apa-apa. Lo jangan gegabah ya. Biar gue aja yang selesaiin urusan rumah tangga gue. Gak apa-apa kan?" pinta Rosa pelan dan membalas genggaman tangan Ayyas.

__ADS_1


__ADS_2