
"Kamu dimana?" tanya Rizki lirih.
Berbagai cara sudah Rizki coba lakukan untuk mencari keberadaan Rosa tapi hasilnya selalu tak sesuai dengan harapan. Dalam hatinya selalu bertanya apakah istrinya itu baik-baik saja? Dimanakah Rosa tinggal saat ini? Apa Rosa makan dengan baik? Apa Rosa mengalami mual atau muntah pada kehamilannya? Bagaimana kondisi anak yang ada dalam kandungan Rosa? Aah sudahlah itu hanya beberapa pertanyaan dari sekian banyak pertanyaan yang berputar di otak Rizki.
Tangis Rizki pun mulai terdengar bersamaan dengan pintu ruangan kerjanya terbuka. Kali ini Rizki sedang berada di kantornya. Rizki segera menyeka air matanya lalu menatap Sani penuh dengan kebencian. Nafasnya memburu dengan sorot tak suka.
"Mau ngapain kamu kesini? Belum puas dengan apa yang sudah kamu lakukan saat ini?" tanya Rizki masih pada tempatnya.
Sani semakin mendekat dengan senyum manis di bibirnya.
"Aku mau minta pertanggung jawaban atas ucapan kamu Ki. Dalam hitungan bulan anakku akan lahir dan dia membutuhkan kamu sebagai ayahnya. Aku mau kita menikah secepatnya" ucap Sani dengan mengelus perutnya.
"Jangan mimpi. Ayah kandungnya saja tak mau mempertanggungjawabkan apalagi aku yang bukan siapa-siapa" sahut Rizki dengan nada dingin dan tatapan tajam. Sani tetap memberikan senyum manisnya dan tak membatah apa yang di katakan Rizki.
"Tetapi laki-laki yang baik adalah laki-laki yang tak mengingkari ucapannya. Dan bukankah disebut laki-laki pengecut jika dirinya tak bisa memegang perkataannya dan mempertanggungjawabkan apa yang telah di ucapkan? Aku hanya mengingatkan jika kamu bersedia menjadi ayah dari anak dalam kandunganku dan juga bersedia mempertanggung jawabkan ini karena kak Indra tak mau melakukan itu. Jadi apa salah jika sekarang aku meminta kamu untuk memenuhi apa yang sudah kamu katakan?" kata Sani dengan penuh keseriusan menatap Rizki.
Rizki membuang pandangannya asal merasa tak suka dengan yang ada di hadapannya saat ini.
“Ck. Jangan harap dan jangan pernah berharap. Perempuan yang aku cinta hanya Rosa dan sampai kapan pun hanya Rosa. Bahkan kamu gak perlu bermimpi untuk bisa menggantikannya” tegas Rizki.
“Kamu gak bisa seperti itu Ki. Kamu harus mempertanggung jawabkan semua yang sudah kamu ucapkan. Aku akan berbicara semua kepada papaku dan aku akan pastikan jika kamu akan melakukan apa yang aku inginkan!!”
__ADS_1
“Silahkan, silahkan kamu lakukan apa yang kamu inginkan tapi akan aku pastikan setelah kamu melakukannya. Dan papa kamu mengetahui semua, justru kamu sendiri yang akan menyesali itu”
“Oke kita lihat saja. Siapa yang akan menyesal nantinya” kata Sani dengan senyumnya yang sangat yakin jika Rizki akan bertanggungjawab dengan semuanya.
Rizki semakin di buat geram dengan tingkah Sani yang tiba-tiba ini. Mau Rizki protes dengan apa yang di lakukan Sani pun rasanya mustahil karena memang semua ini adalah kesalahannya sendiri. Bahkan kini hubungannya dengan Indra pun merenggang karena dirinya yang membela mantan pacarnya itu.
“Aaarrrggghh!!!”
***
“Lo gila Del? Gue gak nyangka kalo ternyata lo dalang dari semuanya. Kalo gini caranya secara gak langsung lo udah ngancurin rumah tangganya Rizki dan Rosa. Astaga” kata Elsa setelah mendengar semua pengakuan Adel di dalam kamar kost nya.
“Gue gak tau El kalo akhirnya kayak gini. Lagian Rizki juga kenapa bodoh banget si bisa sampe mau ngomong kayak gitu. Mau jadi ayah dari anak itu? Gak mikir udah punya istri? Apalagi sekarang Rosa lagi hamil” sahut Adel yang jadi ikutan kesel memikirkan ini.
“Hamil? Astaga makin rumit banget ini masalah Del. Lo gak kasian sama Rosa? Rosa gak salah apa-apa lho dalam hal ini. Indra dan Rizki juga sebenernya gak salah. Ini tuh salah lo yang udah menjebak pacar lo sendiri buat tidur sama cewek itu”
Adel menggelengkan kepalanya merasa seperti tak bisa berpikir. Karena yang di katakana Elsa benar pada kenyataannya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Yang saat ini ingin Adel lakukan adalah bagaimana memberitahu kepada Hartono tentang kehamilan putrinya yang di rahasiakan ini. Adel ingin sekali Hartono merasa malu dengan putrinya yang hamil di luar nikah yang pastinya akan membuat malu nama besar keluarganya.
“Gue gak akan ngebiarin cewek itu merusak rumah tangga Rosa dan Rizki. Gue akan berusaha untuk itu. Tapi beda halnya jika si Rizki yang oon itu mau melakukan ucapannya yang bodoh itu ya El!!” kata Adel sambil menekankan dan mengingatkan perkataan Rizki yang menurutnya sangat bodoh itu.
Elsa hanya menganggukan kepalanya mengerti. Bagaimana tidak, entah dalam keadaan sadar atau tidak Rizki mengatakannya yang pasti perkataannya ini sudah membuat semua semakin rumit di tambah asal mula Rosa memilih untuk pergi karena perkataannya itu.
__ADS_1
“Terus gimana sekarang rencana lo?” Tanya Elsa ingin tahu step selanjutnya yang akan Adel lakukan.
Adele mendekati Elsa dan berbicara berbisik tentang apa yang akan dirinya lakukan.
Dibalik pintu yang tak tertutup rapat itu ternyata ada Indra yang sedarai tadi disana. Indra mendengarkan dengan seksama semua yang dikatakan Adel atau Elsa.
Hampir tak mengerti maksud dari yang di ucapkan pacarnya ini tetapi jika di dengarkan dengan seksama Indra mengerti dan mengingat semua kejadian yang terjadi dengan Sani saat itu. Indra memutuskan tak masuk ke dalam kost Adel dan memilih pergi. Indra mendatangi club pada malam itu. Indra meminta rekaman CCTV yang mungkin masih tersimpan dan mengcopy-nya untuk dirinya lakukan penyelidikan lebih lanjut.
Karena Indra memang memikirkan bagaimana nasib rumah tangga dari sepupunya ini jika harus berakhir. Bukan Rizki yang di lihat Indra melainkan Rosa. Rosa tak salah apa pun harus menjadi korbannya.
***
Hari terus berganti. Kehidupan Rosa berubah kala Yuda kembali mengisi kesehariannya. Hal-hal kecil yang Yuda lakukan sungguh membuat Rosa seketika lupa dengan apa yang sedang di alaminya. Bahkan terkadang Rosa merasakan rindu dengan kedua sahabatnya yang tak lain Ayyas dan Rizki.
“Yud. Terima kasih” kata Rosa saat selesai membereskan pesanan kue di kontrakannya yang di bantu oleh Yuda.
Yuda hanya membalas dengan senyum karena Yuda sendiri merasa senang bisa membantu Rosa dan menemani Rosa. Bahkan bu Ratna sendiri merasa senang karena Rosa terlihat lebih bahagia dari pertama kali Rosa berada disana.
“Sama-sama”
“Lo harus segera berangkat ke kantor lho. Jangan kseringan telat" ucap Rosa dengan melirik jam dinding.
__ADS_1