
Setelah mama Wina meninggalkan Rosa untuk membeli makanan. Rosa meraih ponselnya dan mencoba berselancar mengisi ke bosanan yang sedang menghampiri dirinya. Hingga sampai dokter visit dan memeriksa luka di kening Rosa serta mengganti kain kasa disana.
Rosa sudah di nyatakan boleh pulang oleh dokternya. Tapi entah kenapa rasanya pulang terasa berat bagi Rosa. Why? Dirinyalah yang mengetahui.
Dokter meninggalkan ruang rawat inap Rosa lagi setelah selesai melakukan pemeriksaannya. Rosa menghembuskan nafasnya lalu menyenderkan punggungnya sambil pikirannya beradu. Entahlah apa itu. Hingga akhirnya Rosa merebahkan diri dan lama-lama terpejam.
Mama Wina yang telah kembali perlahan memasuki ruang rawat Rosa dan berusaha tak bersuara agar tak menganggu anaknya yang tengah terlelap. Mama Wina meletakan banyak makanan dan cemilan kesukaan Rosa di atas nakas dekat brankar Rosa.
Mama Wina yang kebelet masuk ke dalam kamar mandi dan menuntaskan apa yang harus di tuntasnya. Tapi saat selesai dan mama Wina ingin keluar dari dalam kamar mandi, niatnya di urungkan karena dari celah kamar mandi mama Wina melihat seorang perempuan dengan perut yang sedikit buncit menghampiri anaknya.
Ternyata Rosa sudah bangun dan menatap perempuan itu dengan ekspresi datar. Rosa bertanya dalam hatinya untuk apa Sani datang menemuinya? Dari mana Sani tahu jika Rosa di rawat? Apa dari Rizki? Atau bagaimana? Pikirannya pun kembali berperang dengan pertanyaan yang membuatnya gundah.
"Hai. Pagi Ros" sapa Sani dengan ramah dan lembut. Rosa hanya membalas dengan senyum kecilnya dan memutus kontak mata dengan mantan pacar suaminya ini.
"Gimana keadaan kamu? Sudah boleh pulang?" tanya Sani lagi setelah melihat tangan Rosa sudah tak di infus lagi.
"Hm" Rosa hanya berdehem dan menganggukan kepalanya. Sani semakin mendekatkan jaraknya dengan Rosa hingga duduk di kursi sebelah brankar Rosa. Rosa pun beranjak untuk duduk dan menatap Sani yang terlihat serius kepadanya.
__ADS_1
"Ini. Aku bawa ini buat kamu. Semoga kondisi kamu semakin membaik setelah keluar dari rumah sakit yah" katanya lagi dan meletakan parsel buah yang di dalamnya adalah buah kesukaan Rizki. Lho? Ada maksud apa nih?
Rosa melirik parsel buah yang di bawa Sani yang di letakan persis di samping makanan yang Rosa rasa itu mama Wina yang membawanya. Tapi dimana mama Wina? Tanya Rosa yang sungguh takut jika mamanya akan mengetahui permasalahan rumah tangga apa yang sedang di hadapinya. Rosa pun mengedarkan pandangan ke dalam isi ruang rawat inap namun tak curiga sama sekali karena memang tak terlihat sama sekali keberadaan mama Wina. Apa di kamar keluarga pasien? Ataukah di kamar mandi? Entahlah, Yang jelas semua tidak terlihat dalam pandangan mata Rosa.
Sani merasa jika Rosa tak nyaman dengan kedatangannya dan langsung meraih tangan Rosa dan di genggamnya. Rosa menoleh kepada Sani dengan tatapan sulit di artikan bahkan mencoba menepis pelan tangan yang sudah di genggam oleh Sani itu.
"Ros" panggil Sani lirih.
"Apa yang mau katakan? Apa itu hal yang bersangkutan dengan Rizki?" tebak Rosa langsung dan di anggukan oleh Sani. Rosa bernafas lemah seolah sudah tak ingin mendengar apa pun tentang hubungan keduanya.
"Izinkan aku menjadi yang kedua untuk Rizki" pinta Sani menatap dengan memohon kepada Rosa. Rosa membuang wajahnya menahan hati yang semakin terasa sakitnya. Apa belum cukup saat Rizki mengakatakan hal kemarin itu?
"Apa yang membuat kamu yakin tentang perasaan Rizki?" tanya Rosa ingin mendengar versi dari Sani tangkap maksud Rizki kemarin. Sani menghembuskan nafasnya perlahan dan mengulas senyum kecilnya.
"Rizki sendiri yang mengatakan ingin mempertanggung jawabkan anak ini meski anak ini bukan anaknya. Rizki juga mengatakan jika dia mau menjadi ayah untuk anak ini. Apa itu artinya Rizki masih menjadi Rizki yang dulu untuk ku Ros? Kamu paham kan maksud ku?" tanya Sani seolah membuat semua salah Rosa telah menikah dengan sahabatnya sendiri.
Deg
__ADS_1
Sulit sekali menelan saliva dan bernafas saat mendengar ucapan Sani ini. Bahkan mama Wina sampai menutup mulutnya seperti tak percaya dengan ini. Padahal selama ini sangat terlihat sekali jika Rizki sangat mencintai istrinya, Rosa Malinka lalu bagaimana dengan ucapan mantan pacar menantunya ini? Maksudnya apa?
"Apa Rizki juga berkata akan menjadikan kamu yang kedua jika aku merestuinya?" tanya Rosa dengan nada yang sangat dingin.
Sani menggelengkan kepala tapi tatapan matanya sangat berharap kepada Rosa.
"Ros tolong aku. Demi anakku supaya mempunyai ayah saat lahir. Izinkan aku menjadi yang kedua untuk Rizki. Izinkan Rizki untuk menyatukan perasaannya kembali kepadaku. Dan kamu juga tahu kan bagaimana perasaan Rizki dulu kepadaku?" kata Sani terus mengutarakan maksudnya tanpa mengungkapkan apa yang terjadi setelahnya.
"Aku yakin kamu juga pasti tahu jika aku dan Rizki sama-sama masih saling mencintai, aku juga tahu mungkin kamu merasa tak enak karena menjadi orang ketiga di antara kita. Tapi aku gak apa-apa jika kita harus menjalin hubungan bertiga. Karena aku juga yakin jika Rizki pun gak akan mau untuk berpisah dengan kamu jadi aku akan mengalah dan menerima kamu di dalam hubungan aku dan Rizki" kata Sani dengan percaya dirinya.
Rosa orang ketiga? Gimana-gimana San? Bukannya disini kamu yang orang ketiga? Kok enak yah mutar balikin keadaannya?
Rosa diam dan tak menjawab. Di depan pintu kamar rawat inap Rosa juga ada seseorang yang mendengar apa yang diucapkan Sani. Dengan melebarkan kedua matanya, Hari pun mengepalkan kedua tangannya merasa tak terima perempuan yang di cintainya di perlakukan demikian oleh suaminya sendiri.
Hari ingin marah karena Hari tahu bahwa ini semakin menyakitkan untuk Rosa tapi diblain sisi ini seperti sebuah kesempatan yang mana bisa membuat Rosa berpisah dengan Rizki. Tapi apa benar Rizki masih mencintain mantan pacarnya ini? Tanya Hari dalam hatinya karena merasa tak percaya juga dengan apa yang barusan di dengarnya itu.
Mama Wina membisu dan masih tetap diam memperhatikan anaknya disana. Ingin segera keluar dan memeluk Rosa tapi mama Wina memilih diam agar bisa mengetahui semua permasalahan rumah tangga yang di alami anaknya ini.
__ADS_1
"Kalau sudah selesai kamu boleh tinggalkan ruangan ini" kata Rosa mengusir Sani halus.
"Aku harap kamu gak egois Ros. Tolong pikirkan kebahagiaan Rizki juga. Kalo kamu melarang kami bersatu jangan salahkan aku jika aku nanti membuat kamu berpisah dengan Rizki" kata Sani dengan percaya diri dan tersenyum lalu meninggalkan Rosa.