
'Lo emang berbakat Ros. Sangat berbakat. Gue siap jadi saksi atas bakat lo ini. Bahkan sekarang gue bisa nyaksiin lo eh bukan cuma gue melainkan semua isi tamu undangan pernikahan sahabat kita. Semua mata hampir tertuju pada lo tanpa berkedip. Lo tau? Mereka tak percaya dan terkagum dengan suara yang barusan lo keluarkan. Gue bahagia Ros. Gue bahagia lo ketemu orang yang tepat yaitu Rizki, sahabat kita sendiri. Iya benar kita bukan jodoh jadi gak harus di paksa terutama gue yang gak boleh maksa. Iya kan? Gue juga bahagia karena Ayyas ketemu dengan Deby yang bisa membenarkan erornya otak Ayyas selama ini, yang bisa meluruskan sifat Ayyas menjadi lebih baik dan lagi. Kalian harus bahagia yah, meski nanti gak ada gue. Bukan, bukan gue menghindar hanya saja gue merasa belum siap dengan kesendirian gue ini. Tapi kalian gak usah khawatir. Gue akan baik-baik aja dan pasti akan selalu mendoakan kalian agar kalian berempat selalu bahagia dalam kondisi pernikahan kalian, meski badai menghadang gue yakin kalian sama-sama kuat untuk selalu berjuang' kata Yuda dengan senyum yang terlukis di wajahnya.
Yuda pun perpana dengan Rosa dan Deby yang mampu mengambil perhatian seluruh orang bahkan ada yang meminta untuk mereka membawakan lagu lagi.
Selain mata Yuda yang tertuju pada keempat orang yang berada dalam center ruangan. Ternyata banyak juga yang saling berbisik kepada mereka yang saling mengenal atau hanya mengenal.
"Mereka sama-sama pasangan yang serasi. Duuh kapan gue bisa punya pasangan kayak gitu" kata salah satu tamu yang hadir disana.
"Gak nyangka Rosa suaranya bisa setinggi itu" kata nya lagi dari salah satu mereka.
"Rosa auranya semakin keliatan semenjak nikah. Ikut bahagia sama suami istri dari dasar sahabat ini" katanya juga dari yang lain.
"Oh my god Yuda, seandainya gue ada kesempatan buat deket sama lo. Gue mau pake banget. Ya Allah Yuda senyum lebar kayak gini jarang banget terjadi. Jaga senyumnya ya Allah semoga memudar. Aamiin" ucap Siska yang memandangi Yuda dari bawah pelaminan.
Ketika semua mata hampir tertuju kepada dua pasangan di center ruangan. Tidak kepada Siska yang memfokusnya matanya kepada laki-laki yang lama singgah di hatinya namun tak berani untuk mendekatinya. Iya lah gak berani, Yuda kan dulunya menutup diri banget. Dan hanya ramah kepada orang-orang tertentu aja. Tapi sekarang berbeda ketika dirinya sudah mengelar status sebagai seorang desainer ternama. Kini Yuda sangat terkenal sangat ramah kepada siapa pun.
Yuda mengedarkan pandangannya dan tanpa sadar mata Yuda melihat kepada mata Siska yang sedang memandangnya dengan senyum. Bahkan tatapan Siska sangat sulit di artikan.
'Dia kenapa? Apa dia ngeliatin gue?' batin Yuda bertanya dan segera turun dari pelaminan.
Siska segera terbuyar dari lamunannya saat menyadari Yuda sudah tak ada di atas pelaminan lagi.
"Lho kemana dia?" tanya Siska pelan.
Sedangkan di center ruangan
__ADS_1
"Ka-kamu" panggil Ayyas lirih kepada istri yang berdiri di hadapannya dengan senyum manis.
"Hm?" sahut Deby dengan deheman yang membalas tatapan Ayyas.
"Ka-kamu cantik" ucap Ayyas seolah tak ada kata lain. Sebenarnya bukan tak ada kata lain hanya saja Ayyas gak ngerti harus mengungkapkan kata seperti apa lagi kepada istrinya ini.
"Udah tau" sahut Deby
Ayyas tak menghiraukan lagi dan segera menarik tenguk Deby lalu memberikan ciuman bibir kepada istrinya ini. Menempel dan Ayyas menunggu reaksi dari Deby. Meski Deby sempat terkejut namun dirinya merasa tak masalah karena memang dalam sebuah acara pesta pernikahan pasti akan ada yang namanya wedding kiss.
Oke baik kesempatan tak di sia-siakan Ayyas. Ayyas kembali mencium bibir Deby bahkan bukan hanya mencium melainkan ******* dan menggigitnya.
Suara teriakan semakin terdengar padahal ini belum waktunya wedding kiss lho. Ayyas Ayyas.
Rizki dan Rosa serta Yuda sampai melebarkan mata dan menggelengkan kepala melihat kelakuan Ayyas saat ini.
Rizki dan Rosa menoleh ke sumber suara yang tentunya sangat di kenal mereka. Rizki memberikan cengiran dan memperlihatkan giginya seolah mengiyakan apa yangbdi katakan Yuda.
"Omongan apa?" tanya Rosa ingin tahu apa yang sudah di bicarakan suaminya kepada sahabatnya.
"Omongan laki-laki Ros, biasalah" jawab Yuda sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
"Itu Ayyas beneran cium Deby?" tanya Rosa polos padahal adegan itu jelas di depan matanya.
"Menurut lo Ros? Apa sekarang mata lo bermasalah dan harus di periksa ke dokter?" tanya Yuda tanpa menoleh ke Rosa dan masih fokus menatap sepasang pengantin baru itu.
__ADS_1
"Gue baik-baik aja Yud. Cuma masih shock sedikit aja. Lo paham lah pasti gue shocknya kenapa" jawab Rosa yang sama seperti Yuda tak melihat ke arah yang berbicara.
"Bukan cuma lo tapi gue juga Ros. Tapi kenapa kita shock ya padahal ini kan hal yang umum"
"Kayaknya emang kita agak norak deh Yud"
"Norak? Kita? Kayaknya lo aja deh Ros, gue mah enggak" kilah Yuda lalu menoleh kepada Rosa yang pinggangnya masih ada lengan Rizki. Yuda tersenyum melihatnya namun juga sedikit sesak di hatinya.
"Oh iya. Lo keren. Keren banget. Gue suka" kata Yuda dengan mengacungkan jempol tangannya di udara. Namun seketika dirinya langsung menatap Rizki yang takut salah paham saat Yuda berkata 'Gue suka' padahal mah maksudnya benar pada perasaannya sendiri tuh eeehh.
"Gue suka liat lo nyanyi lagi kayak gitu" lanjut Yuda kikuk. Rosa tersenyum dan menundukan kepalanya. Debaran di jantungnya kembali berdetak lebih kencang lagi karena groginya yang belum padam. Bahkan pipinya mulai merona lagi.
"Aku juga suka ngeliat kamu nyanyi lagi Sa" kata Rizki yang menoleh dan menatap istrinya yang sedang menunduk.
"Kapan-kapan bolehlah ya lo nyanyi lagi. Bakat lo harus sering-sering di asah. Kali aja lo bisa jadi penyanyi Ros" celetuk Yuda begitu saja. Rosa mengangkat kepala dan langsung menggelengkan kepalanya.
"Why?" kata Yuda menautkan keningnya.
"Gak ah malu gue Yud. Ini juga kalo gak di ancem istrinya Ayyas juga gue gak mau. Cuma gue gak bisa nolak. Jadi gue iyain aja dulu" jelas Rosa yang sudah tak ada di tutupi lagi.
"Di ancem gimana?" tanya Yuda dan Rizki bersamaan dan menatap Rosa.
Rosa membalas menatap keduanya saling bergantian sambil menelan salivanya karena kedua laki-laki ini menatap dirinya dengan sangat serius.
"Hah? Iya biasalah aceman perempuan" kilah Rosa membalas dengan senyum kuda
__ADS_1
***