Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
7. Urusan Penting Rosa


__ADS_3

Rosa semalam tidak bisa tidur karena pikirannya terganggu dengan apa yang di katakan Rizki kepada mamanya. Rosa merasa tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Keseriusan Rizki mengajaknya menikah. Di tambah sang mama sangat setuju jika dirinya benar menjadikan Rizki sebagai pendamping hidupnya kelak.


Rosa menghembuskan nafasnya kasar lalu meraih ponselnya dan segera menghubungi bossnya. Dalam dering ketiga sambungan telponnya pin tersambung.


'Halo' sapa dari sebrang sana.


'Halo, selamat pagi pak Ayyas' ucap salam Rosa lembut sekali.


'Ngapain lo telpon pagi-pagi? Astaga gue masih ngantuk!!' gerutu Ayyas yang masih ada di balik selimutnya. Rosa pun menjauhkan sebentar ponsel dari telinganya lalu memutar matanya malas.


'Pak hari ini saya izin tidak dalam masuk kerja' kata Rosa langsung pada intinya karena merasa hari ini harus menyelesaikan urusannya dengan Rizki agar tidak terus-terusan mengganggu pikirannya lagi.


'Hah?' tanya Ayyas sedikit terkejut karena Rosa sebelumnya tak pernah sekali pun izin tidak masuk kerja.


'Kenapa?' tanya Ayyas lagi yang langsung bangun dari rebahannya dan duduk bersandar di dipan kasurnya.


'Saya ada urusan penting'


'Oke' ucap Ayyas yang langsung memutuskan sambungan telponnya dengan Rosa.


Ayyas pun langsung bangun setelah melirik jam sudah menunjukan pukul enam pagi. Ayyas merasa ingin tahu urusan penting apa yang akan Rosa lakukan karena sebelumnya sepentig apa pun urusan Rosa, tak pernah Rosa sampai izin untuk tidak masuk kerja.


"Mau kemana dia?" tanya Ayyas pada dirinya sendiri.


***


Jam sudah menunjukan hampir waktu makan siang. Meski ragu tapi Rosa memberanikan diri untuk menemui Rizki di kantornya dan entah kenapa Rosa sampai sibuk memasak dan membawakan Rizki bekal makan siang.


Wah? Apakah ada kabar baik buat Rizki?


Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri sampailah Rosa di depan kantor Rizki. Menarik nafas panjang dan hembuskannya perlahan lalu melangkahkan kaki masuk kedalam gedung bertingkat di depan matanya.

__ADS_1


"Siang mbak Rosa" sapa ramah sang resepsionis saat Rosa menghampirinya.


"Siang. Hm pak Rizkinya ada?" tanya Rosa ragu-ragu.


"Ada mbak di dalam ruangannya namun ada tamu temannya bapak bu" jawab Hana dengan sangat sopan.


"Teman? Hemm siapa?" tanya Rosa lagi ingin tahu. Tiba-tiba ingin saja tau siapa yang menemui Rizki yang di bilang sebagai teman ini.


"Mbak Sani" jawab Hana pelan dengan senyum yang melengkung.


"Yaudah saya titip ini aja bisa?" kata Rosa sambil menyodorkan paper bag berisi bekal makan siang kepada Hana. Hana pun mengangguk pelan dan menerimanya.


"Bisa mbak. Nanti saya sampaikan ke bapak"


"Hm oke. Makasih yah. Saya pamit kalo gitu" ucap Rosa lalu membalikan badannya meninggalkan kantor Rizki.


"Sani? Sani? Sani? Katanya udah gak ada hubungan tapi masih ketemu ternyata. Haaah sudahlah. Mungkin dia cuma iseng-iseng doang ngajakin gue nikah" kata Rosa yang merasa kesal dengan keadaan saat ini.


Sepuluh menit berlalu, Rizki yang hendak melangkahkan kali keluar kantor di panggil oleh Hana. Rizki pun menoleh ke suara yang memanggil namanya dengan sopan itu. Sebelumnya Sani sudah keluar lebih dulu lima menit sebelum Rizki.


"Iya Hana, ada apa?" tanya Rizki langsung sambil memainkan ponselnya.


"Ini ada titipan dari mbak Rosa"


"Siapa? Rosa?" tanya Rizki memastikan dan Hana menganggukan kepalanya pelan.


"Iya mbak Rosa pak. Tadi mbak Rosa kesini pas ada mbak Sani di dalam ruangan bapak".


"Oh oke makasih Hana" kata Rizki sambil mengambil alih paper bag pemberian Rosa.


Sebelumnya Rosa memang sudah sering mengirimi Rizki makan siang seperti ini tetapi biasanya Rosa langsung masuk saja kedalam ruangannya tanpa pernah sekali pun menitipkan bekal makan siang ini kepada sang resepsionis.

__ADS_1


Aneh, seperti ada sesuatu. Pikir Rizki saat itu. Apa Rosa tahu jika tadi Sani menemuinya? Padahal ini kali pertama Rizki bertemu Sani lagi setelah mereka putus.


Rizki segera meraih ponselnya dan mencoba menelpon Rosa tapi ponsel Rosa sama sekali tidak bisa di hubungi bahkan sampai tidak aktif.


"Kamu kemana Sa?" tanya Rizki pada layar ponselnya yang hampir mati.


Rizki langsung menuju mobilnya dan melajukan perlahan kecepatan mobil. Sambil terus mencoba menghubungi Rosa meski tidak ada hasilnya. Rizki pun menghubungi Ayyas yang mana Ayyas adalah sahabat sekaligus atasannya Rosa di tempat Rosa bekerja.


'Halo Ki. Ada apa? Tumben telpon?' tanya Ayyas langsung setelah sambungan telpon terhubung.


'Halo Yas. Rosa ada di kantor?' tanya Rizki balik menanyakan keberadaan Rosa.


'Enggak Ki. Rosa izin gak masuk kerja hari ini. Katanya ada urusan penting' jawab Ayyas apa adanya.


'Oh oke Yas. Makasih yah' kata Rizki langsung memutuskan sambungan telponnya.


Ayyas mengerutu. Hari ini entah Rosa atau Rizko memutus sambungan telpon begitu saja tanpa dirinya menanyakan lebih lanjut lagi.


"Jodoh kali ini mereka berdua. Tadi pagi Rosa yang maen putus sambungan telpon aja lah sekarang si Rizki. Emang Rosa kemana sih? Urusan penting apa coba? Iissshhks" kata Ayyas lalu melanjutkan pekerjaannya.


***


Tempat Pemakaman Umum Kamboja.


Iya disinilah Rosa berada. Di tempat pemakaman umum Kamboja. Tempat peristirahatan terakhir sang papa. Iya papa Rosa telah tiada sejak dirinya berusia lima tahun. Papa Rosa meninggal karena sakit yang di deritanya. Meninggalkan Rosa dan mama Wina begitu saja.


Hidup Rosa sulit semenjak meninggalnya sang papa. Tapi beruntungnya mama Wina yang pekerja keras yang selalu berusaha memenuhi kebutuhan Rosa. Dan beruntungnya Rosa yang cerdas hingga bisa membuka usaha toko Bakery hingga 4 toko dalam empat tahun terakhir ini. Meski Rosa masih bekerja di rumah sakit milik keluarga Ayyas. Bukan Rosa yang betah menjadi karyawan hanya memang Ayyas yang selalu menahan Rosa untuk selalu stay di rumah sakitnya. Bagi Ayyas tidak ada yang bisa handle rumah sakit selain Rosa. Karena selain Rosa menjadi manager keuangan rumah sakit, Rosa juga terkadang menjadi asistennya Ayyas. Yang mana bila Ayyas mempunyai banyak pekerjaan, Rosa lah yang banyak membantu Ayyas.


"Assalamualaikum papa" salam Rosa sambil berjongkok di samping batu nisan bertuliskan nama papanya. Rosa pun meletakan sebucket bunga mawar merah kesukaannya.


"Hai papa. Apa kabar? Rosa kangen pah. Kangen banget. Pengen peluk papah" kata Rosa lagi sambil menatap lekat batu nisan itu.

__ADS_1


"Pah. Papa kangen Rosa gak? Kayak Rosa yang kangen papa ini? He he he maaf ya pah. Maaf banget Rosa baru ke sini sekarang. Rosa janji lain kali Rosa akan lebih sering lagi ngunjungi papa yah"


"Oh iya pah. Papa tau gak kalo sekarang Rosa lagi butuh pelukan papa. Karena Rosa lagi bingung pah. Papa pasti tahu kan, papa pasti tahu apa yang ada di pikiran Rosa saat ini"


__ADS_2