
Waktu berlalu dan terasa sudah masuk hampir petang. Rosa dan Rizki telah selesai dalam hasil karya yang Rizki inginkan. Rizki terbangun lebih dulu dan mendapati wajah istrinya yang terlelap karena lelah menghadapi dirinya di atas ranjang.
Seulas senyum terbit dengan Rizki membereskan anak rambut Rosa yang menutupi wajah cantiknya. Bahkan dalam pelukannya, Rizki terus mengeratkannya dan tak mau di lepaskan. Bahkan hembusan nafas keduanya saling terasa di diri mereka masing-masing.
"Jangan ngeliatin aku kayak gitu mas. Aku malu" kata Rosa yang masih memejamkan mata lalu membenamkan wajahnya di dada Rizki. Dada yang polos tanpa sehelai pakaian.
Rizki menyimpulkan senyum lalu menarik Rosa hingga wajah mereka sejajar kembali. Lalu..
Cup
"Lupa Afternoon kiss dulu" kata Rizki membuat Rosa membuka matanya dengan sempurna.
"Afternoon? Sekarang jam berapa mas?" tanya Rosa mulai panik. Dirinya lupa jika sekarang mereka sedang berada di kampung halaman Rizki.
"Istirahat aja. Aku tau kamu capek. Malah capek banget karena abis aku kerjain kan?" tanya Rizki yang menjurus menggoda istrinya.
Rosa merona saat mengingat apa yang sudah mereka lakukan beberapa waktu lain.
"Jangan di perjelas. Aku malu" ucap Rosa pelan dan menarik selimut hingga menutup lehernya.
"Gak usah di tutup. Aku udah liat semua. Udah aku rasain juga. Makasih banyak ya Sa. Makasih banyak untuk semuanya sayang. Love you" kata Rizki mengelus rambut Rosa dan mendaratkan ciuman di kening Rosa. Lalu tiba-tiba.
Tok tok tok
Tok tok tok
"Rizki, Rosa apa kalian udah bangun? Sudah mau petang" teriak dari luar kamar.
Rosa menatap Rizki takut. Iya takut karena keduanya dalam keadaan polos sama sekali.
"Bude? Gimana ini?" tanya Rosa mulai panik.
"Kamu kalo panik makin ngegemesin sayang. Gak usah panik lagian juga bude, pakde, mbah itu udah tau kita suami istri jadi mau kayak gimana juga gak apa-apa. Bude biasanya emang suka bangunin kalo di sini tidur sampe sore gini. Jadi gak usah panik yah" jawab Rizki menenangkan istrinya dan tak lama tak terdengar suara lagi dari balik pintu. Iya bude Murni hanya mengingatkan saja jika waktu sudah petang jadi jangan sampai masih dalam kondisi tidur.
"Tuh udah gak ada suara lagi kan? Yaudah sekarang kita bersihin badan ya, mandi dan setelahnya kita nemuin bude, pakde, dan mbah di bawah sambil nunggu waktu magrib" kata Rizki yang sudah mendudukan dirinya dan mengambil boxernya yang tak jauh dari jangkauannya.
"Ayo" ajak Rizki membuat Rosa bingung harus berbuat apa. Dirinya masih tidak berkutik dengan selimut tebalnya itu.
__ADS_1
"Aawww ssshhhtttt" kata Rosa merintih saat merasakan sakit di area pangkal pahanya. Iyalah sakit emang Rizki gak main-main dalam hasil karyanya itu.
"Masih sakit yah?" tanya Rizki mendekati Rosa yang merintih. Rosa mengangguk pelan.
"Maaf" ucap Rizki menundukan kepalanya karena merasa bersalah.
"Aku bantu ke kamar mandi yah dan aku bantu buat mandi. Gimana?" tanya Rizki lagi sambil mengusulkan.
Rosa menggeleng kepalanya cepat.
"Kenapa? Kamu kan kayak gini karena ulah aku" kata Rizki tanpa aba-aba langsung menarik selimut Risa dan mengangkat tubuh Rosa yang polos ke kamar mandi.
"Hei" sontak Rosa dengan debaran jantung tak karuan. Rizki melirik Rosa yang kini ada dalam dekapannya.
"Aku gak akan ngapa-ngapain. Janji. Tapi enggak tau kalau nanti malam dan seterusnya" kata Rizki setelah berhasil menurunkan Rosa. Rizki berjalan menuju bathtube dan mengisinya dengan air hangat agar Rosa menjadi lebih rileks.
"Yaudah kamu mandi dulu ya, aku siapin pakaian buat kamu dulu baru setelah selesai aku yang mandi" ucap Rizki mengacak rambut Rosa lalu mendaratkan kecupan di bibir Rosa sekilas.
Rosa membeku masih tak percaya dengan sikap Rizki. Iya masih dalam penyesuaian dalam diri Rosa yang sedikit lambat.
***
Hari membalas senyum Sena dan membiarkan Sena berlalu meninggalkannya yang masih diam dalam posisinya.
"Sena? Sena? Dimana gue pernah liat orang itu ya? Kenapa gak asing?" tanya Hari yang masih memikirkan siapa Sena itu.
Hari pun mengecek ponselnya berharap jika Rosa sang pujaan hati membalas pesan yang di kirim olehnya. Tapi lagi dan lagi hasilnya selalu nihil karena Rosa sama sekali tidak merespon Hari.
"Huft! Kamu kenapa ya Ros? Segitu susahnya buat dapetin kamu balik. Padahal jelas banget sepuluh tahun ini kamu sendiri dan gak berhubungan dengan laki-laki lain. Segitu sudah tertutupnya pintu hati kamu Ros?" tanya Hari menatap layar ponselnya yang sudah menghitam.
Tapi bukan Hari namanya jika harus menyerah dalam berperang. Hari masih dengan semangatnya mengirimi Rosa pesan dan sangat berharap akan di balas oleh calon istri menurut dirinya.
Untuk : Rosa♡
Assalamualaikum,
Hai pemilik hati. Apa kabar kamu? Aku berharap kamu selalu baik dimana pun kamu berada!
__ADS_1
Hai pemilik hati. Bolehkah aku mengatakan bila aku merindukan kamu? Merindukan sosok kamu yang selalu mendukungku dalam keadaan apapun itu, merindukan kamu dengan senyum ceriamu mewarnai hariku.
Hai pemilik hati, Rosa Malinka.
Maaf dan hanya kata itu yang ingin aku sampaikan. Maafkan aku yang dulu dan tolong berikan aku satu kesempatan untuk mengungkapan bahwa aku telah memilih mu.
Dari ku yang mencintaimu
Hari Samuel Dirgantara
Wassalamualaikum
Send
Hari mengirimkan pesannya kembali dan berharap kali ini akan ada balasan. Sebab Hari tau jika Rosa memang menyukai kalimat puitis apalagi jika dirinya yang memberikan dulu. Bahkan semua tulisan puitis yang Hari berikan sempat di simpan rapih oleh Rosa. Namun sekarang? Gak usah di tanya kemana tulisan puitis itu he he he
***
Kini Rosa dan Rizki telah bersiap akan menemui bude, pakde dan si mbah. Sebelum melangkahkan kaki mengikuti Rizki untuk keluar kamar, Rosa meriah ponsel yang tak berhenti memberikan notifikasi masuk di dalamnya.
Iya notifikasi itu sebuah pesan yang di kirimkan oleh Hari. Rosa menghembuskan nafasnya kasar lalu membiarkan ponselnya begitu saja di atas nakas.
"Kenapa gak di bawa ponselnya? Dari tadi ada notifikasi terus. Dari siapa?" tanya Rizki menghampiri istrinya dan langsung memeluk Rosa dari belakang.
"Notifikasi pesan dari Hari" jawab Rosa dengan raut tak sukanya.
"Hari? Bukannya udah di blokir nomernya?"
"Iya tapi dia hubungin aku pake nomer yang berbeda mas"
"Hah? Segitunya kah?" tanya Rizki tak percaya.
"Segitunya gimana?" tanya Rosa balik yang masih betah di peluk suaminya.
"Segitu dia ngejar-ngejar kamu sayang. Kamu itu berlian yang di tinggalkannya begitu aja"
"Ah masa? Kamu kalo muji bisa aja ya" kata Rosa merasa lucu dengan perkataan suaminya.
__ADS_1