Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
87.


__ADS_3

Rizki menganggukan kepala pelan dengan menuduk setelahnya. Rizki menyesal dengan mengiyakan taruhan pada mantan pacar Rosa itu. Padahal memang dirinya menginginkan Rosa. Tapi apalah emosi yang mengebu membuatnya tanpa sadar karena tak ingin perempuan yang di cintainya kembali bersama mantan pacar yang membuat luka di hatinya dulu.


"Rizki menyesal bu menerima taruhan itu. Ibu pun tahu jauh dari taruhan itu, Rizki sangat mencintai Rosa, Rizki sangat menginginkan Rosa bahkan saat ibu, Riana, Raina menyebut nama Rosa untuk jadi istri Rizki, Rizki sangat bahagia. Bahagia jika keluarga Rizki juga menginginkan Rosa bersama dengan Rizki. Tapi apa itu yang buat Rosa salah paham bu? Sedangkan dari Rosa di rawat semua terlihat baik-baik aja dan Rosa pun udah gak jaga jarak atau diam seperti awal dia tahu itu bu" jelas Rizki yang sama sekali tidak ada bohong menurut pandangannya.


"Jujur ibu kecewa sama kamu. Kamu Menjadikan pernikahan ini sebagai taruhan meski kamu sendiri mencintai Rosa. Wajar kalo Rosa kecewa dengan apa yang kamu lakukan ini" kata Ibu Titi menghembuskan nafasnya pelan karena cukup terkejut dengan pengakuan anaknya.


"Maafin Rizki bu. Rizki menyesal. Rizki menyesali hal itu. Harusnya Rizki gak menerima taruhan itu dan pasti Rosa masih ada disini sama Rizki. Dada Rizki sakit bu, sesak juga. Rizki takut kehilangan Rosa bu, hiks" ucap Rizki yang tanpa sadar sudah menjatuhkan air matanya.


Ibu Titi mendekati anaknya lalu memeluk Rizki. Menepuk pelan punggung Rizki yang sedang menangisi Rosa. Bahkan ini kali pertama ibu Titi melihat Rizki menangis lagi setelah sekian lamanya tak pernah menangis seperti ini.


"Rizki salah bu, Rizki salah dan Rizki menyesal" ucapnya lagi lirih yang masih dalam pelukan ibunya.


Ibu Titi memilih diam dan mencoba menenangkan Rizki. Sekitar sepuluh menit Rizki sudah bisa mengendalikan tangisnya, ibu Titi melepaskan pelukannya lalu menghapus sisa air mata di pelupuk mata Rizki.


"Ibu akan bantu mencari keberadaan Rosa. Tapi kalo Rosa udah ketemu dan apa pun keputusannya, ibu harap kamu menerima. Setidaknya kamu sudah tau bagaimana Rosa jika sudah merasa kecewa. Bahkan jika ibu menjadi Rosa, ibu akan melakukan hal yang sama terlebih ibu pun memikirkan bila kamu hanya mempermainkan sebuah pernikahan" kata ibu Titi tegas namun dengan nada yang lembut.


Rizki menganguk setuju tapi tidak janji dengan hal tersebut. Baginya akan mempertahankan Rosa sampai akhir apa pun yang terjadi.

__ADS_1


***


Usai menceritakan isi hatinya dengan ibu Titi, Rizki kembali mencari Rosa dan keliling membelah jalanan kota Jakarta dan sekitarnya.


Rizki masih kesulitan menghubungi Ayyas bahkan Rizki pun enggan menghubungi Yuda. Rizki tahu jika Yuda dulunya sama seperti dirinya yang memiliki perasaan khusus kepada Rosa. Tapi Yuda mengalah dan mundur kala dirinya tahu jika Rosa sudah memilih Rizki. Padahal gak ada salahnya lho Ki nanya Yuda. Kali aja Yuda tahu, Eh?


"Aku harus cari kamu kemana lagi sayang? Aku kangen, Gimana kabar kamu? Apa kamu baik-baik aja? Aku sangat khawatir" lirih Rizki memandangi foto pengantin Rosa yang terlihat senyum bahagia di dalamnya.


Setelahnya Rizki kembali kerumah mama Wina dan mendapati mama Wina sedang menyiapkan makan malam.


"Assalamualaikum mah" salam Rizki menghampiri mama Wina lalu mencium punggung tangan mama mertuanya.


"Makan bareng mama Ki. Habis makan kamu istirahat" kata mama Wina yang merasa kasihan. Rizki diam dan menundukan kepalanya lalu menatap masakan yang di masak mama Wina. Masakan itu adalah makanan kesukaan Rosa dan juga dirinya. Rizki tersenyum tipis lalu menghampiri meja makan dan duduk manis disana.


Mama Wina melihat tatapan Rizki yang seolah hilang, entah dimana pikirannya yang pasti mama Wina tahu jika Rizki sedang memikirkan istrinya.


"Makan yang banyak. Rosa pasti sedih melihat kamu seperti ini" kata Mama Wina dengan menyendokan nasi dan lauk di piring Rizki. Rizki menatap mama Wina sedih, dadanya sakit, ingin sekali segera bertemu Rosa dan bisa makan bersama kembali.

__ADS_1


"Rosa dimana mah? Rizki pengen ketemu" ucap Rizki lalu menangis kembali.


***


"Kenapa kamu lakuin ini sama Rosa San? Ucapan dan keinginan kamu mustahil banget. Kamu kan tahu sendiri gimana cintanya Rizki dengan Rosa. Kok bisa kamu bilang mau jadi yang kedua diantara hubungan mereka. Kamu pikir ini hanya lelucon?" tanya Sena tak habis pikir dengan pikiran Sani. Sena mengetahui semua karena pergerakan Sani memang ada dalam pengawasannya.


"Rizki sendiri yang bilang kalau dia mau jadi ayah dari anak ku dan mau menikahi aku. Bahkan seandainya dia belum menikahi Rosa, Dia berencana menemui aku Sen. Karena aku menghargai Rosa dan Rizki juga hanya menganggap Rosa sebagai sahabat. Gak lebih. Pernikahan mereka, aku yakin bukan karena cinta" sahut Sani dengan sangat percaya diri. Sena tak habis pikir dengan apa yang Sani pikirkan ini.


"Gak usah jadi perusak rumah tangga orang atau perebut suami orang San. Kamu itu cantik, berpendidikan, santun. Seharusnya bisa mendapat laki-laki yang bisa mencintai kamu apa adanya terlebih bisa menerima anak kamu. Bukan seperti ini. Coba kamu bayangkan jika kamu di posisi Rosa"


"Dan coba kamu bayangkan jika kamu di posisi aku Sen. Aku hamil tanpa suami dan punya anak tanpa ikatan pernikahan. Apa kata orang?" keluh Sani dengan nafas yang memburu.


"Apa kata orang? Seharusnya itu yang kamu pikirkan sebelum kamu berangkat ke pesta itu dan berakhir di atas ranjang dengan Indra. Indra yang sangat jelas setia dengan pacarnya. Dan gak akan mungkin mau bertanggung jawab dengan kesalahan satu malam itu" teriak Sena penuh penekanan. Sani membuang wajah sembarang karena menahan amarah yang mana ucapan Sena sangat benar pada kenyataannya.


Kalau saja saat itu Sani tak berangkat ke pesta temannya itu, mungkin saat ini semua baik-baik saja. Sani tak menyesali dengan anak yang di dalam kandungannya hanya saja Sani menyesali ayah dari anaknya ini.


"Semua terjadi di luar kendali ku Sena. Aku di jebak saat itu. Aku terjebak dimana aku dan Indra sama-sama gak sadar melakukannya. Kami mabuk bahkan kami ada dalam pengaruh obat perangsang. Dan kami gak bisa mengendalikan itu" kata Sani yang mengingat sedikit kejadiannya dan juga mencari tahu penyebab setelah kejadian itu terjadi.

__ADS_1


***


__ADS_2