Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
23. Pengakuan


__ADS_3

Rizki terdiam mendengar semua yang dipaparkan oleh. Merasa tak percaya tapi itulah kenyataan yang ada.


"Berarti gue nikung sahabat gue sendiri ya Yas?" tanya Rizki dengan dada yang terasa sesak. Ayyas membalas dengan menggelengkan kepalanya.


"Lo gak nikung Ki. Kan Rosa sama Yuda enggak ada hubungan apa-apa sebelumnya. Hanya saja Yuda gak punya keberanian kayak lo yang langsung ngajak Rosa serius dalam menjalanin hubungan ke mama Wina. Padahal kalo bisa di bilang, ini itu moment yang pas buat ngedapetin Rosa dengan cara meminta Rosa kepada mama Wina" jelas Ayyas menyimpulkan keadaannya.


"Lo tenang aja. Gue yakin Yuda cukup dewasa dalam menanggani hal ini. Cuma yang harus lo tau kalo Yuda sayang sama Rosa bukan Yuda aja tapi juga gue sayang sama Rosa hanya sayang kita berbeda dalam halnya ya. Untuk itu gue minta sama lo, jangan pernah lo macem-macem apa lagi sampe bikin Rosa kenapa-napa. Bikin dia nangis atau dia kecewa. Yang udah jelas kalo itu terjadi lo bakalan berurusan sama gue atau pun Yuda" terang Ayyas yang sejujurnya mengkhawatirkan hal tersebut.


Deg


Ucapan Ayyas seketika mengingatkan kesepakatannya dengan Hari. Rizki yang gak mau Rosa kembali dengan Hari, Rizki yang memang menyimpan rasa, Rizki yang memang di haruskan menikah segera, Rizki yang mempunyai taruhan dengan Hari meski awalnya dia hanya menganggap itu ucapan biasa saja. Entah, yang pasti Hari menganggap itu sebagai sebuah taruhan.


Rizki hanya diam dan tak membalas ucapan Ayyas. Rizki mengutuki dirinya sendiri jika sampai hal itu sampai terbongkar dan terdengar oleh kedua sahabat laki-lakinya ini. Tamatlah riwayatnya jika semua terjadi. Pikirnya begitu.


***


Yuda membisu dan diam dalam lamunannya. Yuda melemas setelah mendengar ucapan Rosa bahwa Rizki adalah calon suaminya. Bahkan bahagia sangat terlihat dari raut wajah Rosa, begitu juga dengan raut wajah Rizki yang begitu penuh damba terhadap Rosa. Iya Rosa memanglah perempuan yang pantas di dambakan dengan semua sifat baik melekat di dalam dirinya.


"Gak mungkin. Tapi itu kenyataannya" kata Yuda lirih.


"Ha ha ha ha" tawa Yuda merasa seperti sedang di kerjain.

__ADS_1


"Rosa bahagia, lo juga bahagia Yud. Mungkin kebahagiaan Rosa bukan sama lo tapi sama Rizki. Jangan gini, kasian Rosa. Dia juga sayang sama lo tapi cuma sebagai abang dan sahabatnya aja. Ayoo Yud, ayoo demi bahagianya Rosa" kata Yuda pada dirinya sendiri.


Yuda mengembalikan kesadarannya lalu menarik nafasnya panjang. Yuda membuka kunci pintu ruangannya lalu keluar kembali menemui ketiga sahabatnya.


'Cantik. Cantik banget. Andai gaun itu digunain untuk acara resepsi pernikahan kita. Bukan bahagia lagi yang gue rasa Ros. Tawa lo, senyuman lo saat ini menandakan betapa lo jiga bahagia akan menikah. Bismillah gue akan belajar mematikan perasaan gue ini. Gue bahagia liat lo bahagia tapi gue kecewa kenapa harus sahabat gue sendiri yang bersanding dengan lo. Tapi setidaknya gue tau jika Rizki juga pasti bisa jagain lo, bahagiain lo. Kayak gue dan Ayyas selama ini bersikap demikian' kata Yuda dalam hati ketika melihat Rosa menggenakan gaun pengantin buatannya. Yuda terpukau dengan aura kecantikan sahabatnya sendiri.


"Yuda" panggil Rosa dengan senyum lebar yang tak pudar. Yuda menoleh dan membalas senyum itu meski dengan hati yang terluka. Kenapa bisa terluka begini? Kenapa bisa sesakit ini? Apa karena Rizki yang menjadi calon suaminya Rosa? Iya sepertinya begitu.


Yuda menghampiri Rosa dengan bersikap seperti biasa tetapi sorot matanya sangat terlihat jika dirinya kecewa.


"Cantik. Pas banget di tubuh lo. Gak sia-sia gue bikin ini spesial pake telor dua buat lo Ros"


Yuda kikuk entah harus bersikap bagaimana. Debaran jantungnya terasa kencang dengan Rosa yang tiba-tiba memeluk erat seperti ini. Rasanya tak ingin melepaskannya dan ingin menghentikan waktu agar dirinya bisa lebih lama memeluk perempuan yang telah lama singgah di hatinya.


"Lo suka?" tanya Yuda dengan senyum tipis.


"Iya suka banget. Makasih banyak ya Yud. Emang cuma lo yang paling tau gue mau nya apa dan mau nya kayak gimana bahkan gue yang banyak mau nya he he he" katanya lagi dengan menggenggam kedua tangan Yuda.


Ros disitu ada Rizki lho. Dia lihat lho apa yang kamu lakuin dengan Yuda.


Deg

__ADS_1


Pengakuan Rosa akan hal tersebut membuat Rizki seperti di buat melayang lalu di jatuhkan begitu saja. Sakit. Iya sakit rasanya. Tapi Rizki memang tak mengingkari jika yang dikatakan calon istrinya ini sangat benar dan memang benar sekali.


Yuda selalu tau apa yang Rosa mau, apa yang Rosa inginkan dan apa yang Rosa butuhkan. Sedetail itu kah? Dan memang benar jarang sekali ada yang namanya persahabatan murni yang terjalan dari dua insan. Pasti salah satunya akan menaruh hati atau perasaan kepada lawannya meski tak mengakui atau menepisnya tetapi itu benar kenyataannya.


"Iya sama-sama. Gue seneng kalo lo suka. Pasti nanti makin cantik deh pas udah kena make up. Yaudah gue ke Deby sama Ayyas dulu ya. Lo juga kalo udah selesai nyobanya boleh ganti baju lo. Biar gak gerah, lagian ini gaun berat lho" kata Yuda dan di anggukan oleh Rosa.


"Iya Yud. Tapi rasanya gak mau lepas gaun ini. Suka banget sumpah gue Yud" sahut Rosa jujur.


"Terus mau lo pake tidur nih gaun? Ya gue sih gak masalah paling besok badan lo yang bermasalah"


"Ishks nyebelin. Iya-iya gue ganti. Sekali lagi makasih yah. Makasih udah buatin gaun pernikahan sebagus dan secantik ini. Gue suka. Dan akan selalu suka dengan semua karya lo. Lo emang paling terbaik"


"Iya sama-sama. Yaudah gue tinggal dulu ya. Nanti lo di temenin Sisi sama calon suami lo. Cie yang di temenin calon suami. Jadi pengen juga di temenin calon istri ha ha ha" goda Yuda membuat pipi Rosa merona. Bahagia dan malu itulah yang tergambar jelas.


"Iya" kata Rosa dengan senyumnya.


Setelah Yuda berlalu meninggalkan Rosa, Rizki pun menghampiri Rosa yang tadinya hendak mengganti gaun pernikahannya dengan pakaian yang di kenakan tadi.


"Sayang" panggil Rizki membuat Rosa kesusahan menelan salivanya. Pertama kali Rosa mendengar Rizki memanggilmya sayang setelah memberitahukan kepada sahabatnya jika dirinya adalah calon suami Rosa. Rosa menoleh dengan memperhatikan raut wajah Rizki yang terlihat seperti ada sesuatu. Kenapa? Tanya Rosa dalam hatinya.


"Hm" kata Rosa yang hanya berdehem. Rizki tersenyum lebar lalu menggenggam satu tangan Rosa lalu mencium punggung tangan Rosa. Berdebar. Iya itulah rasanya ketika Rizki yang sudah berani seperti ini. Laki-laki pendiam bisa melakukan hal demikian? Benarkah?

__ADS_1


__ADS_2