Sahabatku, Imamku

Sahabatku, Imamku
82.


__ADS_3

Hari menjauh beberapa langkah sampai Sani keluar dan tak terlihat lagi. Hari pun masuk kedalam ruang rawat Rosa lagi dan mendapati Rosa yang menurut Hari sedang tidak baik-baik saja. Rosa menoleh dan menatap Hari yang terlihat seperti orang terluka. Iya Hari terluka melihat Rosa seperti ini. Lalu dalam pikiran Rosa kenapa Hari kesini juga? Tahu dari mana?


Kenapa orang yang tak di harapkan Rosa datang hari ini dan membuat pikirannya semakin berkecambuk dan juga membuat hatinya semakin sakit.


"Sayang" panggil Hari dengan suara sedikit bergetar. Dan panggilan Hari membuat mama Wina menajamkan mata serta pendengarannya.


Rosa diam dan tak membalas, hanya memalingkan wajahnya dan tak ingin menatap Hari dengan tatapan sangat menginginkannya. Dan juga Rosa merasa jika Hari mendengar apa yang sudah di katakan Sani tadi.


"Sudah berapa lama kamu di depan pintu?" tanya Rosa langsung yang sangat yakin sekali. Sebab tatapan Hari tak mungkin menjadi seperti itu jika tidak ada sesuatu yang dirinya ketahui.


"Apa yang sedang terjadi dengan rumah tangga kamu Ros?" tanya Hari ingin mengetahui semuanya dari mulut Rosa.


"Bukan urusan kamu" jawab Rosa pelan dan Hari semakin mendekat. Bahkan Hari sampai memeluk Rosa yang tengah duduk di atas brankarnya. Bahkan pelukan yang Hari berikan sangat erat meski Rosa meronta untuk minta di lepaskan.


"Lepasin Har. Aku istri orang" kata Risa dengan berusaha melepaskan pelukan yanh Hari berikan. Hari semakin mengeratkannya bahkan bahkan sampai berani mencium puncak kepala Rosa.


"Lepas. Please!" kata Rosa lagi meminta dengan lirih bahkan dengan suara sedikit serak. Hari yang mendengarnya langsung melepaskan pelukannya dan memegang kedua tangan Rosa.


Hari menatap mata Rosa yang Rosa sendiri tak ingin menatapnya. Hari semakin merasa terluka dengan melihat Rosa seperti ini.


"Maaf" ucap Hari lalu menghapus air mata Rosa meski air matanya belum luruh. Dan Rosa segera menjauhkan tangan Hari dari wajahnya.


"Aku gak apa-apa. Kamu gak perlu bersikap seperti ini" kata Rosa mencoba biasa saja padahal jujur dalam dirinya ingin sekali di peluk untuk menenangkan kalutnya.


Hari menurut karena tak mau membuat Rosa malah menjauh.


"Kamu udah makan? Aku bawa bubur ayam kesukaan kamu" kata Hari yang masih ingat jika Rosa sangat menyukai bubur ayam. Bahkan bubur ayam yang jualan di dekat rumah Hari.

__ADS_1


Rosa ingin menolak tapi dirinya juga menginginkan bubur ayam yang dibawakan Hari. Rosa menoleh dan melihat tentengan bubur yang sudah Hari simpan di nakas sebelum memeluk Rosa tadi.


"Simpen aja. Kalo aku laper, aku akan makan. Terima kasih sebelumnya" kata Rosa dengan senyum kecil pada Hari.


"Aku suapin yah" sahut Hari yang hendak membuka bawaannya.


"Gak usah Hari. Aku belum laper"


"Tapi kamu harus makan biar cepet sembuh"


"Please" pinta Rosa yang kini menatap Hari. Hari terlihat sendu dan menaruh kembali bubur ayam bawaannya. Lalu menatap Rosa dengan senyum manis.


"Ros" panggil Hari lagi. Rosa menoleh dan menaikan alisnya.


"Aku mau ngomong serius dan aku harap kamu jujur sama aku"


"Kamu tahu jika pernikahan kamu dan Rizki adalah sebuah taruhan antara aku dengan dia. Kamu juga tahu jika Rizki ingin menjadi ayah dari anak mantan pacarnya dan mempertanggung jawabkan anak itu. Lalu untuk apa kamu bertahan?" tanya Hari jujur ingin tahun sekali.


Deg


Rosa menatap Hari serius. Begitu juga dengan mama Wina yang masih di dalam kamar mandi.


"Berapa banyak yang kamu dengar?" tanya Rosa yang enggan untuk menjawab. Dan semakin pula pikiran berputar di kepalanya.


"Semua. Semua yang perempuan hamil itu katakan kepada kamu. Dia mantan pacarnya Rizki bukan? Dan aku rasa kamu tahu bagaimana perasaan Rizki dulu kepada perempuan itu" jawab Hari jujur.


"Huft! Lupakan semua yang kamu dengar. Aku bisa menyelesaikan masalah rumah tanggaku sendiri. Please" kata Rosa meminta dengan nasa suara lembut. Karena baginya ini merupakan ujian meski sebenarnya Rosa sendiri merasa tak tahu harus bagaimana menyikapinya. Mau di diskusikan dengan Rizki tapi semua perkataannya yang di dengarnya itu dari mulutnya Rizki sendiri. Lalu bagaimana?

__ADS_1


"Rosa kembalilah kepadaku. Aku sangat menyayangi kamu, aku cinta sama kamu. Aku tahu aku terlambat tapi aku mohon berikan aku kesempatan".


"Apa bedanya kamu dengan Rizki Har? Kamu juga taruhan dengan dia kan? Taruhan siapa yang lebih dulu menikah denganku? Hm? Apa itu yang di sebut cinta?" tanya Rosa dengan tegas dan Hari menundukan kepalanya karena merasa benar apa yang di katakan Rosa ini.


"Aku beda Rosa. Aku gak kayak Rizki yang masih mencintai mantan pacarnya padahak sudah menikah dengan perempuan lain. Aku gak mau kamu semakin tersakiti karena mencintai sendiri"


"Kamu dengan dia sama. Sama-sama mencintai mantan pacar. Hm. Please kasih aku waktu untuk aku sendiri".


Hari diam dengan menatap Rosa sedih. Kok sakit yah? Padahal dulu Rosa tak pernah begini bahkan dulu Rosa sangat mencintai dirinya. Iya dulu kan sekarang berbeda Hari.


"Oke baik. Apa pun itu aku sangat berharap kamu kembali Ros. Aku berharap aku dan kamu bisa menjadi kita seperti dulu lagi. Kamu istirahat, jangan lupa di makan buburnya. Kabari aku jika terjadi sesuatu kepada kamu. Dan harus kamu ingat kalau perasaan aku saat ini tulus. Aku sangat mencintai kamu tanpa syarat apa pun dan aku sangat menginginkan kamu sebelum ada taruhan itu" kata Hari tulus seolah lupa jika dirinya ingin menikah selain karena Rosa adalah perempuan yang dirinya anggap sempurna juga karena untuk mendapatkan warisan dari sang ayah. Tapi berjalannya waktu semua niat Hari berubah menjadi tulus mencintai Rosa.


Rosa hanya menganggukan kepalanya. Lalu setelahnya Hari beranjak pergi sambil mengelus lembut puncak kepala Rosa.


"Aku akan kembali nanti" ucapnya lalu pergi dan tiba-tiba Rosa merasa perutnya seperti di aduk-aduk hingga Rosa turun dari brankar dari menuju kamar mandi.


Betapa terkejutnya Rosa saat melihat mama Wina disana dengan sudut matanya yang basah tapi Rosa menghiraukannya lalu...


Hoek hoek


Dimuntahkan isi perut Rosa yang hanya air saja. Iya sebab Rosa belum makan sama sekali sedari malam.


Mama Wina langsung memijit belakang lehwr Rosa sambil menangis melihat kondisi Rosa yang terlihat lemas dan pucat pasi.


Hoek hoek


Terus saja hingga akhirnya Rosa membasuh bibirnya dan bernafas dengan turun naik. Mama Wina langsung memeluk anaknya setelah mereka berhadapan. Rosa tak berani menatap kedua mata mama Wina dan juga menangis setelah menahan semuanya sendiri. Eh gak sendiri sih, ada Ayyas yang mengetahui tapi Ayyas belum tahu jika Deby dan Hari menemui Rosa hari ini.

__ADS_1


__ADS_2