
Setelah perdebatan dalam beberapa saat, akhirnya dengan keputusan Sani menerima lamaran Indra dan mereka melangsungkan penikahan secara agama saat itu juga. Meski dalam hati papi Roni masih berapi-api tetapi papi Roni menerima pilihan Sani dan memberikan kesempatan bagi Sani juga Indra untuk memperbaiki kesalahan yang sudah mereka lakukan dulu.
Rizki bernafas lega. Sangat lega karena saat ini dirinya sudah terlepas dari masalah yang tidak seharusnya. Rizki terus memandangi istrinya, bahkan kini mereka sudah berada di rumah mama Wina.
"Jangan ngeliatin aku kayak gitu terus" ucap Rosa yang sedari tadi salah tingkah. Sudah lama tidak bertemu dengan Rizki membuat dirinya sedikit canggung.
Rizki tidak membalas ucapan Rosa justru malah mengikis jarak dengan Rosa. Rosa yang sedang duduk di tepi tempat tidur dan Rizki yang berlutut dengan kepalanya persis di depan perut Rosa. Rizki mengulurkan tangannya dan mengusap lembut perut Rosa. Rosa hanya bisa memperhatikan dan membiarkan Rizki melakukan hal demikian. Hati Rizki bergetar kala ada respon dari si jabang bayi dengan gerakannya. Matanya yang sudah memerah tak mampu lagi membendung air mata.
"Maafkan papa" kata Rizki lalu mendongakan kepalanya menatap Rosa. Tangan Rosa terulur untuk menghapus air mata Rizki. Rosa memberikan senyum dengan kedua tangan meraup wajah Rizki.
"Mereka sudah memaafkan papanya, Insyaallah"
"Maafin aku sayang" kata Rizki yang masih merasa bersalah.
"Belom lebaran. Minta maaf mulu. Aku mau tidur mas, ngantuk" sahut Rosa menguap.
Rizki berdiri dan membantu Rosa merebahkan tubuhnya. Rizki tidur menjadikan tangannya sebagai bantalan kepala Rosa. Rizki belum kunjung tidur. Dirinya masih memandangi wajah Rosa yang semakin cantik menurutnya. Rizki rasanya tak mau memejamkan mata karena takut jika terbangun tidak ada Rosa lagi di hadapannya.
"Kalo kamu gak mau tidur juga, aku mau tidur sama mama" ucap Rosa dengan mata terpejamnya.
__ADS_1
Rizki hanya tersenyum lalu melabuhkan ciuman di kening dan bibir Rosa sekilas lalu lantas memejamkan matanya dan tidur bersama dengan istrinya lagi.
***
Setelah sah menjadi suami istri. Sani ditinggalkan oleh papi, mami dan kembarannya pulang. Kini yang menamani Sani di rumah sakit suaminya. Indra dengan telaten dan tidak canggung untuk membantu menggendong atau mengganti popok anak perempuannya. Juga Indra membantu Sani dalam menghapus make up sisa dari akad nikah tadi.
Jantung Sani berdebar dengan perlakuan dan sikap perhatian dari Indra. Begitu juga dengan Indra yang merasakan hal sama berbeda saat bersama Adel sebelumnya. Indra juga semakin menyadari jika mantan pacar dari sepupunya ini sangatlah cantik. Bahkan cantik tanpa menggunakan make up sekalipun jadi Indra tak heran dan merasa beruntung bila anak perempuannya memiliki paras yang sama cantik dengan ibunya.
"Eemm... Kak" panggil Sani ketika Indra sudah meletakan anak perempuannya ke dalam box bayi yang di sediakan. Indra menoleh dengan senyum lalu menghampiri Sani di atas brankar.
"Kamu perlu sesuatu?" tanya Indra dengan sangat lembut. Sani menatap Indra dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku gak mau apa-apa kak" jawab Sani lalu menundukan pandangannya. Indra mengubah posisinya, Indra berdiri dan duduk di tepian brankar Sani. Mendekatkan diri ke Sani dan memberanikan diri untuk memeluk istrinya pertama kali.
"Apa ada yang mau kamu tanyakan?" tanya Indra yang masih memeluk istrinya. Sani mengangguk pelan. Ingin menanyakan tapi Sani masih takut, Sani takut akan jawaban Indra. Sani tidak mau terlalu berharap dengan Indra dan pernikahannya ini. Toh papinya hanya menginginkan jika cucunya ada penggakuan dari seorang ayah. Untuk bagaimana pernikahannya nanti kedepan, Sani hanya bisa menyerahkan pada takdirnya.
Indra melepas pelukannya secara perlahan dan dipegang kedua lengan Sani. Indra menatap Sani hangat sambil menunggu pertanyaan yang akan di lontarkan istrinya.
"Kak.."
__ADS_1
"Hmm"
"Bagaimana hubungan kak Indra dengan pacar kak Indra? Bukannya kakak sangat mencintainya? Apa maksud dari kakak menikahi aku saat ini? Apa kita harus buat perjanjian selama beberapa lama lalu berpisah?" tanya Sani pelan namun masih terdengar jelas di telinga Indra. Sani menundukan kepalanya tak berani menatap kedua mata yang sedari tadi menatapnya. Indra tersenyum manis melihat sikap Sani yang pertama kalinya seperti ini. Indra menarik dagu Sani hingga kini keduanya saling bertatapan kembali.
"Hubunganku dan pacarku sudah berakhir saat aku memutuskan untuk menikahi kamu. Dulu aku memang sangat mencintainya, saat ini aku akan belajar mencintai kamu. Kamu ibu dari anakku, kamu membiarkan anakku tumbuh dan berkembang baik dalam perut kamu dan tanpa aku membantunya. Memang aku salah karena aku belum memberitahukannya tapi aku rasa dia akan mengerti. Karena bagaimana pun juga yang membuat kita menjadi keluarga kecil adalah satu kesalahan terbesarnya" kata Indra dan Sani mencoba memahami maksud dari perkataan suaminya ini.
"Maksudku menikahi kamu sebagai bentuk tanggungjawab atas kesalahan yang sudah amu buat. Memang kita sama-sama melakukan hal itu di luar kendali kita. Tapi kita gak bisa membiarkan anak kita yang tak berdosa harus menanggung semua kesalahan kita. Bahkan aku pun gak mau jika kehadiran anak kita malah menjadi masalah bagi orang lain. Kamu paham kan maksud aku?" tanya Indra yang mengingatkan tentang masalah yang menerpa rumah tangga Rizki dan Rosa. Sani menganggukan kepalanya malu. Malu jika dirinya hampir saja merusak rumah tangga mantan pacarnya itu.
"Kita gak perlu buat perjanjian apapun. Satu hal yang aku minta. Apapun keadaan aku, tetaplah berada disamping aku. Aku tahu perbedaan keluarga kita sangat jauh. Bahkan jauh sekali. Aku tahu itu. Tapi aku bersyukur karena papi kamu menerimaku meski aku bukan dari kalangan seperi kamu. Terima kasih juga untuk kamu yang mau memaafkan kebodohanku juga mau memberikan aku kesempatan. Jangan berpikiran apa pun. Semua sudah jadi keputusanku, selebihnya bagaimana aku dan pacarku biar menjadi urusannku. Kamu cukup merawat anak kita, merawat aku jika kamu tidak keberatan" kata Indra dengan senyum melengkung lebar dan membuat paras Indra semakin terlihat sempurna.
Sani diam membisu tidak menyangka jika laki-laki yang pernah menolak bertanggungjawab terhadap dirinya justru kini sudah menjadi suaminya. Bahkan sikap Indra seolah mampu menghipnotis Sani saat ini.
"Aa.. Aku.. Aku gak keberatan kak dan bukannya itu sudah menjadi kewajiban aku buat mengurus kamu?"
Gemas, begitulah menurut Indra. Indra sendiri masih tidak habis pikir jika dirinya bisa mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan Adel dan berakhir menikah dengan Sani.
"Terima kasih istriku" ucap Indra lalu melabuhkan kecupan di kening Sani.
***
__ADS_1