Sahabatku Maduku

Sahabatku Maduku
Bab Seratus Tiga


__ADS_3

Shinta duduk dengan gelisah di salah satu restoran. Ia menunggu kedatangan papanya. Jika ia menuruti hatinya, ingin rasanya Shinta kembali pulang.


Tapi ia tak boleh egois, bukan hanya dirinya saja yang terluka dengan kejadian ini. Papa nya pasti juga merasa terluka karena rasa bersalah dan penyesalannya yang telah membohongi anak istrinya.


Shinta melihat papanya masuk ke restoran. Papa Erwin tersenyum melihat Shinta anaknya. Ia tak menyangka Shinta mau menemuinya.


"Shinta.. "ucap papa sambil tersenyum


"Apa kabar kamu nak.. "


"Seperti yang papa lihat... "


Papa Erwin menarik kursi dihadapan Shinta dan duduk.


"Terima kasih, karena kamu mau datang"


"Apa aku punya pilihan. Aku hanya seorang anak Pa. Nggak mungkin aku membantah permintaan orang tuaku"


"Shinta maafkan papa.. "


"Untuk apa kata maaf yang papa ucapkan.. "


"Untuk semuanya nak. Kebohongan papa dan pengkhianatan papa.. "


"Apa papa hanya akan minta maaf denganku saja.. "


"Tidak, semuanya. Papa akani minta maaf pada semua orang yang telah papa bohongi terutama mama, kamu dan Willy. Papa sudah meminta Willy juga hadir, tapi sepertinya tidak mudah bagi Willy untuk memaafkan papa. Ia tak mau menemui papa."


"Papa merasa bersalah dengan kami"

__ADS_1


"Tentu nak, papa sangat bersalah dengan kalian semua"


"Mengapa papa lakukan semua ini. Apa papa tidak pernah memikirkan aku dan Willy. Padahal saat itu kami masih kecil. Papa tahu, papa itu sangat egois. Papa hanya memikirkan kebahagiaan papa semata. Papa tidak memikirkan apa dampak dari perbuatan papa. Bagaimana jika kami masih kecil dulu tahu tentang pengkhianatan papa, apa papa tidak pernah pikirkan akibat dari perbuatan papa itu.. "ucap Shinta mulai terisak.


"Shinta papa memang salah, kamu benar nak, papa ini egois. Papa tak pernah memikirkan apa yang akan terjadi jika papa melakukan itu. Papa hanya memikirkan perasaan papa saja. Padahal banyak hati yang terluka karena perbuatan papa"


"Dan apakah papa pikir jika kebohongan ini tidak terungkap papa akan menyembunyikan semua ini selamanya dari kami. Apa papa tak pernah berpikir, jika semua yang papa lakukan itu semuanya berdampak pada anak anak papa. Pernah nggak papa berpikir, seandainya papa dan wanita itu pergi untuk selamanya, bagaimana dengan Weni. Apa papa tak pernah pikirkan perasaan Weni yang merasa sedih karena ditinggal sendiri, tanpa ia tahu jika saudaranya masih ada yang lain"


"Shinta.. papa memang salah nak. Maafkan papa.. "


"Perlu papa ketahui, aku paling benci dengan orang yang telah melakukan kesalahan, hanya bisa selalu mengatakan maaf.. maaf dan maaf. Tanpa mau mencoba memperbaiki kesalahan mereka dengan melakukan sesuatu. Apa papa tidak pernah ada niat buat memperbaiki semua ini. Papa yang membuat mama terluka. Dan papa juga yang membuat mama membenci wanita papa itu. Apa tindakan papa selama ini untuk memperbaiki semua ini. "


"Papa masih belum sanggup menemui mama ,nak. Karena papa sadar kesalahan papa terlalu besar, dan papa juga sadar kesalahan papa tidak pantas untuk mendapatkan maaf dari mama. "


"Sekarang Shinta mau, papa katakan apa yang sebenarnya ingin papa katakan, meminta Shinta datang"


"Jika aku mengatakan kalau aku tak bisa memaafkan papa dan tak ingin lagi bertemu papa, apa yang akan papa lakukan "


"Papa tidak bisa melakukan apa apa, jika itu memang yang kamu inginkan. Papa tidak akan menemui kamu nak."


Shinta tanpa sadar memukul meja, membuat papa Erwin dan pengunjung yang lain kaget.


"Itu yang aku benci. Kenapa papa langsung menyerah dan menuruti mauku. Mengapa papa tak berusaha membuat aku bisa memaafkan papa. Mengapa papa tak melakukan berbagai cara agar aku mau bertemu papa kembali. Aku benci lelaki yang seperti papa. Mengapa mereka cepat menyerah. Apakah papa tidak berpikir jika semua yang aku katakan itu hanya karena rasa kecewa ku.. mana ada seorang anak yang benar benar membenci orang tuanya. Mereka pasti ingin slalu bertemu dengan papanya. Jika aku meminta jangan bertemu, itu hanya dimulut saja"


Shinta langsung berdiri dan ingin meninggalkan papanya. Papa Erwin langsung memegang pergelangan tangan Shinta dan memeluk putri kesayangannya itu.


"Maafkan papa, nak. Maaf... karena papa ini hanyalah lelaki pecundang. Papa tak tahu harus bersikap bagaimana agar kamu memaafkan papa dan tak membenci papa"


Shinta menangis dipelukan papanya. Selama ini ia begitu dekat dengan papanya dari pada mama.Dari kecil,Ia selalu saja menceritakan semua masalah pribadinya dengan papanya.

__ADS_1


"Apa papa tahu bagaimana perasaan aku saat ini. Ketika aku melihat dan mengetahui Willy selingkuh, aku marah dan kecewa. Ditambah suamiku berselingkuh, aku makin kecewa lagi. Papa tahukan aku sempat bunuh diri, tapi yang lebih mengecewakan aku ketika aku tahu jika papa juga sama dengan mereka, Willy dan mas Deni. Papa yang merupakan cinta pertamaku. Di dalam setiap doa ku dulu, aku selalu meminta diberikan jodoh seperti papa. Ternyata Tuhan memang mengabulkan permintaan aku, ia memberi lelaki pengkhianat dan pembohong padaku sesuai dengan kelakuan papa.. "


"Maafkan papa nak... "


"Jika saja papa jujur dari dulu, mungkin aku tak pernah meminta dikirimkan lelaki seperti papa"ucap Shinta makin terisak


Papa Erwin membawa Shinta kembali duduk tepat disamping kursinya.


"Papa nggak pernah menduga jika perbuatan papa akan menyakiti kamu nak... "


"Papa... "ucap Shinta memeluk papanya.


"Kamu anak papa yang paling papa sayangi, kamu pasti tahu itu. Secapek dan sejauh manapun papa pergi, jika kamu meminta papa kembali, pasti papa langsung pulang"


"Papa.. mengapa semua ini harus aku yang merasakannya. Mengapa aku yang menanggungnya.Pengkhianatan demi pengkhianatan selalu saja aku alami. Dan para pengkhianat mengelilingi aku. Di mulai dari Willy, mas Deni dan papa"


" Maafkan papa nak. Ini semua karena salah papa, tapi papa yakin Itu semua kamu alami, karena Tuhan tahu kamu anak yang kuat. Tuhan yakin kamu mampu menghadapinya "


"Papa..papa pasti tahu kalau aku sangat menyayangi papa, aku sangat kecewa ketika tahu papa juga pengkhianat. "ucap Shinta. Ia selama ini memang selalu manja dengan papanya.


Lama Shinta menangis dipelukan papanya.


"Maafkan papa nak. Karena kesalahan papa kamu yang harus menanggung semuanya tapi papa tahu kamu anak yang kuat, kamu pasti sanggup menghadapi semua ini."


Setelah lama berbincang akhirnya Shinta pamit dengan papanya. Ia sebenarnya masih merindukan papanya.


**************


Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini

__ADS_1


__ADS_2