
"Terus kamu mau mempertemukan Kiara dengan Sofia?" ucap Bu Kartika
Iqbal hanya diam saja, dia sedang berfikir apakah benar dia mempertemukan Sofia dengan Kiara?
"Aku juga bingung mah, menurut Mamah dan papah gimana?" ucap Iqbal.
"Mamah sama papah bakal dukung semua keputusan kamu nak, semoga saja benar Sofia sudah berubah, jadi Kiara bisa mendapat kasih sayang ibunya." ucap Bu Kartika.
"Baiklah mah, Pah Iqbal pikirkan lagi, apa yang terbaik untuk Kiara." ucap Iqbal.
"Iya nak, tapi kamu juga tetap waspada takutnya perubahan Sofia ini hanya sementara." ucap pak Bagaskara
Iqbal mengangguk mendengar nasehat papahnya. Kemudian Iqbal berpamitan untuk kembali ke kamarnya karena esok hari harus bangun pagi untuk pergi ke kampung halaman Riana.
Pagi harinya Iqbal bangun lebih pagi dari biasanya, karena jika hari Sabtu seperti ini Iqbal bakal bangun lebih siang di banding hari - hari lainnya.
Dia memasukan beberapa pakaian di tasnya, karena dia dan Kiara berencana akan menginap di rumah Riana di kampung.
Untuk pakaian Kiara sudah di persiapkan oleh mbok Marni, Kiara senang sekali karena akan berlibur bersama dengan papah dan Riana.
Semalam tidak lupa Iqbal memberitahu jika hari ini akan berlibur ke kampung halaman Riana. Saat Iqbal keluar dari kamar dengan menenteng tas berisi pakaian menuju ke ruang makan, di sana sudah berkumpul anak dan orangtuanya.
"Cie.. Cie.. Yang mau ketemu camer bahagia banget." ledek Bu Kartika.
Iqbal tersipu malu di ledek seperti itu oleh mamanya. Pak Bagaskara tertawa melihat tingkah anaknya.
"Ih mamah bisanya ngeledek aja, ayo Kiara cepet sarapannya biar kita gak kesiangan jemput Tante Riana." ucap Iqbal yang sudah duduk di kursinya.
Kiara dengan riang menganggukkan kepalanya, dia merasa bahagia karena akan berlibur dengan papah dan Tante Riana. Kiara sudah tidak sabar untuk segera sampai di kampung halaman Riana karena dia mendengar jika kampung Riana indah dan ada kebun tehnya.
Setelah mereka semua selesai sarapan Bu Kartika dan pak Bagaskara mengantar Iqbal dan Kiara ke teras depan.
__ADS_1
"Nanti Kiara jangan nakal ya, nurut sama papah dan Tante Riana oke." ucap Bu Kartika.
"Iya nek, Kiara bakal nurut sama papah dan Tante Riana." ucap Kiara
"Jagain cucu papah loh bal, hati - hati di jalan. Pelan - pelan saja jalannya." ucap Pak Bagaskara
"Iya.. Iya.. Kayak kita mau pergi jauh aja, lagian juga aku sering keluar kota kok, lebay ah kalian ini." ucap Iqbal pura - pura kesal.
"Ish kamu ini, kali ini kan kamu Keluar kotanya bareng cucu dan calon menantu mamah, jadi mamah sama papah agak khawatir." ucap Bu Kartika.
Iqbal tertawa terkekeh.
"Iya.. Iya.. Sudah ya, sekarang aku sama Kiara pergi dulu, Minggu sore kita sudah sampai rumah lagi kok. Ayo sayang Salim ke kakek dan nenek dulu." ucap Iqbal
Iqbal dan Kiara bergantian bersalaman dengan Bu Kartika dan pak Bagaskara. Setelah berpamitan mereka berdua masuk ke dalam mobil dan mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju ke kost Riana.
Saat sudah sampai di kost. Riana sudah menunggu di depan pagar kost, dia membawa satu buah koper dan tas tangan. Mobil berhenti tepat di depan Riana. Kemudian Iqbal turun dan menyimpan koper Riana di bagasi mobil.
Riana langsung duduk di samping Iqbal. Dia menyapa Kiara yang duduk tenang di kursi penumpang.
Kiara membalas senyuman Riana.
"Gak apa - apa Tante, Kiara senang kok kalo ke kampung halaman Tante, apa benar di sana ada kebun teh Tante?" ucap Kiara.
"Benarkah? Syukurlah jika kamu senang, iya ada dong sayang, nanti Tante ajak Kiara naik kuda mengelilingi kebun teh, gimana?" ucap Riana.
Sontak perkataan Riana membuat terkejut Iqbal.
"Loh kamu bisa naik kuda Ri? Kok aku baru tahu?" ucap Iqbal.
"Bisa lah mas, wong papah punya kuda di rumah, biasanya di pake ketika meninjau kebun tehnya. Aku di ajarin oleh papah." ucap Riana penuh percaya diri
__ADS_1
"Benarkah Tante? Asik.. Kiara bisa naik kuda sama Tante." ucap Kiara riang gembira.
Di sepanjang perjalanan, Kiara terus berceloteh riang, Riana dan Iqbal hanya sesekali menanggapi celotehan Kiara, hingga akhirnya Kiara tertidur di kursi belakang. Untungnya Kiara memakai car seat. Jadi Iqbal tidak khawatir jika Kiara tidur.
"Sayang kamu bawa koper besar banget kita kan cuma sehari semalam di sana?" ucap Iqbal.
"Isi kopernya itu oleh - oleh buat papah dan saudara di sana kok, aku malah gak bawa baju karena di sana sudah ada." ucap Riana.
Iqbal menepuk keningnya karena dia baru ingat, dia lupa untuk membeli oleh - oleh untuk orang rumah di kampung.
"Aku kok sampai lupa gak bawa oleh - oleh ya untuk papah kamu." ucap Iqbal.
"Sudah gak usah mas, aku sudah bawa oleh - oleh inih. Kamu jangan khawatir oke." ucap Riana.
"Ya beda lah sayang, itu kan oleh - oleh dari kamu, nanti kita beli dulu ya, gak enak gak bawa apa - apa." ucap Iqbal memaksa.
"Iya deh terserah mas aja deh." ucap Riana pasrah.
Mobil Iqbal berhenti di sebuah toko pusat oleh - oleh yang di pinggir kota. Mereka semua turun untuk membeli beberapa barang untuk di bawa ke kampung.
Riana geleng - geleng kepala melihat Iqbal belanja banyak sekali barang dan makanan untuk di bawa ke rumahnya.
"Mas itu gak kebanyakan? Kayak mau buka toko saja. Memang mobilnya muat buat taruh barang sebanyak itu?." ucap Riana.
"Gak kan bisa di berikan ke tetangga atau pekerja di kebun teh papah kamu. Sudah nanti muat kok di mobil." ucap Iqbal.
Riana hanya pasrah, benar kata Iqbal mobilnya muat membawa barang - barang belanjaan Iqbal. Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kampung halaman Riana. Beberapa kali mereka berhenti di rest area, untuk beristirahat sejenak, Kiara pun tidak rewel sama sekali, dia sangat senang karena liburan kali ini dia tidak hanya dengan Papahnya tapi juga dengan wanita yang sangat Kiara sayangi. Walaupun buka ibu kandung tapi Kiara sudah menganggap Riana sebagai ibunya.
Setelah menempuh waktu empat jam akhirnya mereka sampai di kampung halaman Riana. Mobil terus melaju melewati jalan desa, di sepanjang jalan itu Riana selalu menyapa orang - orang yang lewat.
Mobil berhenti di sebuah rumah yang cukup asri, di halaman ada pohon jambu dan mangga. Terlihat buah mangganya sedang berbuah lebat.
__ADS_1
Pak Raka yang sedang duduk di teras sambil membaca koran heran melihat sebuah mobil yang asing memasuki halaman rumahnya.
Siapa gerangan yang datang, karena setahu pak Raka dia tidak mempunyai kenalan yang mempunyai mobil seperti itu.