
Siang harinya Willy sudah berada di kota tempat tinggal Lani. Ia janjian ingin bertemu lani dan Bobby di salah satu kafe di kota ini.
Setelah menunggu hampir setengah jam di dalam kafe yang mereka janjikan tampak Lani dan Bobby berjalan masuk ke kafe itu.
Melihat Bobby, Willy berdiri dari duduknya. Bobby yang juga melihat kehadiran Willy langsung berlari memeluk ayahnya.
"Ayah.... "
"Iya, nak. Ayah kangen Bobby.... "
"Bobby juga kangen ,ayah..."
Willy memeluk erat anaknya dan tanpa ia sadari air mata jatuh membasahi pipinya
"Maafkan ayah nak. Ayah baru sempat melihat Bobby "
"Bobby pikir ayah sudah lupa sama Bobby"
"Ayah tidak mungkin melupakan anak ayah. Cuma ayah belum ada waktu buat berkunjung"
Willy melepaskan pelukannya dan meletakkan Bobby di kursi sampingnya.
"Bobby mau makan apa. Bobby bisa pesan apapun yang Bobby mau.... "
"Bobby tidak mau apa apa, Bobby cuma mau ayah.... "
Mendengar ucapan Bobby air mata Willy makin tidak bisa dibendung lagi.
"Maafkan ayah, nak. Selama ini ayah telah menelantarkan kamu, padahal kamu tidak ada salah dalam masalah antara ayah dan mama. Ayah terlalu egois, terlalu memikirkan perasaan ayah sendiri tanpa memikirkan apa yang kamu rasakan "
"Ayah, kenapa menangis... "
"Ayah senang karena Bobby tidak marah dengan ayah... "
"Bobby sebenarnya mau marah sama ayah, karena ayah tidak pernah datang menjemput Bobby. Bobby mau tinggal dengan Oma Elly lagi, bobby ingin tinggal bersama ayah. Teman teman Bobby semuanya ada ayah. Bobby bilang sama teman Bobby, jika Bobby juga ada ayah. Ayah Bobby kerja cari uang yang banyak untuk bisa jemput Bobby"
"Bobby mau tinggal sama ayah... "
"Iya, Ayah.... "
"Bobby, apa yang mama katakan tadi. Ayah tidak bisa bawa Bobby ikut kerumah Oma Elly karena ayah masih banyak kerjaan, ayah datang ingin melihat Bobby aja, karena ayah kangen Bobby "
"Betul, Yah. Bobby nggak bisa ikut ayah"
__ADS_1
"Bobby sekarang udah sekolah. Nanti kalau ayah bawa Bobby sekolahnya bagaimana. Lagi pula nanti ayah harus kerja, Bobby dengan siapa.... "
"Dengan Oma Elly "
"Oma Elly juga kerja sayang "
"Bobby bisa di rumah sendiri, Bobby udah gede. Bobby nggak takut"
"Bobby, bisa nggak Bobby pesan es krim dulu di sana.... "ucap Lani.
"Iya, ma"
Lani menarik nafasnya sebelum bicara.
"Kamu lihat sendirikan Wil, bagaimana Bibby sangat merindukan sosok seorang ayah. Ia saat ini belum tahu jika ayah yang selama ini ia rindukan dan banggakan adalah seorang pecundang. Ia belum tahu jika selama ini ayahnya tidak pernah menginginkan kehadirannya. Kamu pernah nggak berpikir, bagaimana sakitnya hati Bobby ketika ia besar dan menyadari jika selama ini ayahnya tidak pernah menginginkan kehadirannya, ayahnya tidak mau tahu tentang perkembangan anaknya. Ayahnya tidak pernah sedikitpun perhatian dengannya... kamu bisa bayangkan bagaimana hancurnya hatinya ketika ia tahu itu.... "
"Lani maafkan aku.... "
"Tidak ada gunanya kata maaf kamu, Wil. Lagi pula kamu seharusnya bukan minta maaf padaku, tapi pada Bobby yang telah menjadi korban keegoisan dari ayahnya, yang hanya memikirkan perasaan dirinya. Yang sibuk dengan kehancuran hatinya karena harus berpisah dengan wanita yang dicintainya ranpa sedikitpun peduli bagaimana hancurnya hati seorang anak yang tidak pernah dianggap kehadirananya dari ia lahir "
"Lani, kamu salah sangka. Aku menyayangi Bobby. Aku tak pernah bermaksud membuat ia terluka dan sakit hati"
"Tapi kamu telah melukai hatinya, Willy"
Lani dan Willy menghentikan obrolan mereka karena Bobby yang telah datang.
"Nggak nak... Bobby makan aja... "
"Ayah, Oma Elly bilang ia akan menjemput Bobby. Kapan Oma mau datang"
"Jika Oma sudah nggak sibuk dengan kerjaannya ,pasti Oma datang menjemput"
"Oh... "
"Bobby, bagaimana sekolahnya. Apa kamu mau pindah nanti ke sekolah dekat ayah... "
"Mau ayah... "
"Bilang sama mama, jika Bobby mau"
"Ma, Bobby sekolah dekat ayah aja ya... "
"Nggak bisa Bobby, mama harus kuliah dan bekerja di sini. Nggak bisa pindah"
__ADS_1
"Lan, maafkan aku. Kita bisa memulai semuanya dari awal"
"Aku nggak yakin kita bisa memulai semua dari awal, Wil. Karena semua sudah diawali dengan kesalahan, jadi akhirnya juga akan terjadi kesalahan"
"Kamu tidak mau memberi aku sekali lagi kesempatan"
"Aku sudah berulang kali memberi kamu kesempatan. Tapi kamu selalu saja tidak pernah berubah, kamu tidak pernah memanfaatkan kesempatan yang aku beri. Mungkin saat ini kita lebih baik begini. Aku akan tetap disini dan kamu tetap dengan kehidupan kamu. Kita saling introspeksi diri aja. Di mana kesalahan kita sehingga kita selalu saja gagal untuk membina rumah tangga yang harmonis."
"Apa kamu menginginkan kita bercerai"
"Aku tidak pernah mengatakan ingin bercerai, atau kamu yang menginginkan kita bercerai "
"Tidak... "
"Jika tidak, ya jalani aja seperti ini. Bukankah di awal pernikahan kita juga terpisah dengan jarak. Jadi anggap saja kita seperti dulu lagi"
"Baiklah Lan. Aku tahu tidak mudah bagimu kembali percaya denganku. Aku juga tidak akan memaksa. Kamu ada benarnya. Sebaiknya kita introspeksi diri masing masing dulu. Biar kita sadar dengan kesalahan yang telah kita lakukan. Tapi aku janji aku akan usahakan melihat Bobby ke sini.. .."
"Aku tidak perlu janji janjimu. Kamu buktikan saja ucapanmu itu. "
"Baiklah, Lan.. aku masih boleh bawa Bobby jalan jalan. Kita ke mal bawa Bobby bermain"
"Boleh... "
Willy dan Lani meninggalkan kafe itu. Mereka menuju salah satu mal terdekat. Willy menghabiskan waktu seharian bersama Bobby sampai malam menjelang.
"Bobby, sekarang Bobby harus pulang. Ayah juga akan kembali ke hotel tempat ayah menginap. Besok ayah akan kembali lagi. Ayah janji jika ayah akan datang lagi... "
"Ayah janji ya... "ucap Bobby mengulurkan kelingkingnya ke kelingking Willy, tanda janji.
"Ayah janji. Bobby nggak boleh nakal, dengarkan apa perkataan mama. Jadi anak yang pintar"
"Iya ayah, hati hati... "ucap Bobby.
"Bobby dan mama juga hati hati"
Willy masuk ke dalam salah satu taksi yang banyak berjejer di depan mal.
Lani membawa Bobby pulang. Ia menyetir mobilnya dengan perlahan.
"Ya Tuhan apa yang sedang aku rasakan saat ini. Aku tidak bisa benar benar lepas dari bayang Willy. Apakah aku bodoh masih tidak bisa melepaskan Willy sepenuhnya. Apa ini obsesi atau cinta, aku tak tahu"
**************
__ADS_1
Terima kasih buat yang tetap setia membaca novel ini.
Maaf jika ceritanya tidak sesuai yang diinginkan. Aku hanya ikut alur kisah nyatanya. Walau ada bagian cerita yang aku tambah dan karang sendiri.