
Pagi ini Kiara semangat sekali karena dia akan jalan - jalan dengan pak Raka dengan menaiki kuda.
"Kakek kita pergi sekarang?" ucap Kiara.
Pak Raka yang sedang duduk di teras bersama dengan Iqbal kaget mendengar suara Kiara.
"Eh Kiara bikin kaget saja, boleh ayo kita ke kandang kuda, kakek kasih makan dulu kudanya ya." ucap Pak Raka.
Kemudian pak Raka menggandeng tangan Kiara menuju ke halaman belakang tempat kandang kuda. Di sana sudah ada pak Triman, orang yang mengurusi kuda - kuda pak Raka.
Pak Raka mempunyai dua ekor kuda, berwarna hitam dan putih, yang hitam sering di bawa oleh pak Raka untuk berkeliling kebun teh, sedangkan yang putih adalah milik Riana.
Mata Kiara berbinar senang melihat kedua kuda itu. Dia menarik tangan pak Raka untuk berjalan cepat menuju kandang kuda.
"Kakek kudanya cantik banget, yang putih pasti punya Tante Riana ya?" ucap Kiara.
"Iya nak yang putih punya Tante Riana, hari ini kita naik kuda hitam punya kakek ya." ucap Pak Raka
"Ayo sekarang aja kakek, Kiara sudah tidak sabar." ucap Kiara.
"Baiklah ayo.." ucap pak Raka.
Pak Raka menaikkan Kiara di atas kuda terlebih dahulu, baru dirinya naik.
"Ayo pak Triman kita keliling kebun teh. Memantau pekerja di kebun teh." ucap pak Raka.
"Iya juragan." ucap pak Triman.
Pak Triman menuntun kuda pak Raka keluar dari halaman rumah menuju ke kebun teh. Pak Raka memang terbiasa memantau para pekerja bersama dengan pak Triman.
Iqbal melambaikan tangan ke arah Kiara ketika dia melihat pak Raka dan Kiara meninggalkan rumah sambil menunggang kuda.
Iqbal tidak melewatkan kesempatan ini untuk berduaan dengan kekasih hatinya. Dia berjalan menuju ke arah dapur, dimana Riana sedang sibuk membuat kue untuk teman minum teh.
Dia tidak melihat ada bi Yasmin. Jadi dia langsung memeluk Riana dari belakang. Riana tau jika yang memeluknya adalah Iqbal.
"Sayang, terima kasih ya sudah mau menikah denganku, aku dan orang tuaku pasti akan segera kesini untuk melamar mu." ucap Iqbal.
"Iya mas, tapi lepasin dulu ih, nanti ada yang liat loh." ucap Riana.
"Gak ada yang liat kok, Papah kamu sama Kiara sudah pergi tadi, bi Yasmin juga gak ada, hanya ada kita berdua di rumah ini." ucap Iqbal semakin mengeratkan pelukannya.
"ehmm.. " suara Bi Yasmin yang tiba - tiba masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Iqbal buru - buru melepaskan pelukannya dan tersenyum kikuk ke arah Bi Yasmin.
"Aduh yang lagi kasmaran, nanti aja Mas kalo sudah sah, kalo pak Raka liat bisa cepet - cepet di nikahkan kalian." ucap Bi Yasmin.
"Bi Yasmin dari mana? Kok datang dari belakang?" ucap Riana mengalihkan pembicaraan.
"Itu tadi habis jemur pakaian non, eh masuk ke dalam rumah di kasih pemandangan yang membuat jiwa jomblo Bi Yasmin meronta." ucap Bi Yasmin sambil tertawa.
Riana ikutan tertawa juga, walaupun ada rasa malunya juga. Iqbal masih kikuk meninggalkan dapur untuk pergi ke kebun pak Raka, siapa tahu ada yang bisa di kerjakan di sana.
Riana melanjutkan membuat kue di bantu oleh BI Yasmin.
"Bi kenapa Bi Yasmin gak nikah lagi aja? Biar ada yang jagain." ucap Riana.
Bi Yasmin yang sedang menuangkan tepung di wadah pun menatap wajah Riana. Dia berkata.
"Bibi sudah tua non, gak mikir buat nikah lagi, anak bibi juga sudah pada gede, malah bentar lagi Bibi bakal punya cucu lagi." ucap Bi Yasmin.
"Benarkah Bi? Anak dari siapa Bi? Kok aku baru tahu?" ucap Riana.
"Iya non, Anaknya si Tono, ingat tidak dulu Non Sering jahil terhadap Tono saat Bibi Bawa ke rumah ini." ucap Bi Yasmin.
Riana terdiam memikirkan Tono yang mana?. Tiba - tiba dia ingat dengan Tono, yang dulu anaknya kecil dan keriting, Riana suka sekali menggoda Tono, karena di goda seperti apapun Tono gak marah.
"Juragan Raka juga berkata seperti itu non, tapi Bibi belum ngomong ke Tono. Nanti coba Bibi bicara ke Tono sama istrinya, mau Ndak mereka tinggal disini sekalian bantu - bantu disini." ucap Bi Yasmin.
"Nah gitu Bi, jadi setiap aku pulang kampung bakal rame rumah ini." ucap Riana.
Kue yang di buat oleh Riana dan Bi Yasmin akhirnya jadi, dia memotong kue itu, di tata di piring kemudian di bawa ke gasebo halaman belakang dimana Iqbal berada, tak lupa juga segelas es Teh manis.
Riana menghampiri Iqbal yang sedang asik mengamati kebun ayahnya. Di tepuk pundak Iqbal hingga dia terlonjak kaget.
Riana tertawa terbahak - bahak melihat Iqbal yang kaget.
"Hahahaha. Kalo kaget mas Iqbal lucu banget sumpah." ucap Riana.
"Ish kamu ini bikin jantungan aja. Aku tuh lagi fokus ngeliatin tanaman ayah kamu ini. Berbagai sayur mayur ada disini." ucap Iqbal.
"Papah memang dari dulu hobi berkebun, sejak Papah keluar dari pekerjaannya dahulu, dia beralih profesi menjadi petani di kampung." ucap Riana.
Iqbal baru mengetahui jika pak Raka dulunya pernah bekerja di kota.
"Papah kamu dulunya kerja dimana?" ucap Iqbal.
__ADS_1
"Entahlah katanya jadi Asisten cuma asisten siapa aku gak di kasih tahu." ucap Riana
Riana mengajak Iqbal untuk duduk di Gasebo yang mengarah ke kebun itu. Mereka berdua duduk sambil menikmati es teh manis dan kue yang di buat Riana.
"Disini sejuk ya, jadi betah lama - lama disini." ucap Iqbal.
Riana pun mengiyakan perkataan Iqbal, di desa ini memang sejuk. Tak berapa lama Pak Raka dan Kiara pulang dari jalan - jalan.
Kiara berlari menuju Gasebo setelah turun dari kuda.
"Papah, Tadi Kiara jalan - jalan naik kuda keliling kebun teh, asik sekali loh." ucap Kiara setelah dia sampai di gasebo
Kiara sampai berkeringat karena berlari, karena merasa haus dia langsung meminum minuman Iqbal yang masih tersisa separuh.
"Wah harus sekali ya nak? Sampe minuman papah kamu minum." ucap Iqbal.
Kiara hanya tersenyum mendengar perkataan Iqbal.
"Haus Pah, gak apa - apa ya Kiara minum minuman papah." ucap Kiara.
"Gak apa - apa sayang, nanti biar Tante Riana bikin kan lagi buat papah." ucap Iqbal.
"Iya Tante bikin lagi ya sekalian buat Papah Tante." ucap Riana.
Riana beranjak ke dapur untuk membuatkan es teh manis untuk Iqbal dan Ayahnya.
Selang tak berapa lama, pak Raka datang setelah memasukan kuda ke kandangnya dibantu oleh pak Triman.
Pak Raka mengobrol dengan Iqbal masalah lamaran yang akan di lakukan beberapa hari ke depan.
"Pak Beberapa hari ke depan orang tua saya akan datang ke mari untuk melamar Riana, saya sudah memberitahu mereka tentang ini." ucap Iqbal.
"Baguslah kalau begitu, kamu boleh panggil aku papah seperti Riana, kamu kan calon mantu papah. Orang tua kamu merestui hubungan kalian kan?" ucap Pak Raka
"Baiklah Pah, sangat merestui Pah, apalagi mamah saya, dia sayang sekali terhadap Riana." ucap Iqbal.
"Baguslah, Papah tidak ingin Riana mengalami hal yang sama seperti dulu saat menjadi istri dari Damar." ucap pak Raka.
Riana kembali ke gasebo membawa es teh, dan cemilan lagi untuk Kiara. Dia duduk berdampingan dengan Iqbal dan Kiara di pangku oleh Riana.
Mereka asik mengobrol hingga tak terasa hari sudah siang. Bi Yasmin berlari tergopoh - gopoh menuju Gasebo karena ada tamu yang datang untuk bertemu dengan juragan Raka.
Pak Raka mengernyitkan kening karena setahu dia hari ini tidak ada janji dengan siapapun. Siapa tamu itu?
__ADS_1