
Willy sekarang lebih sering pulang ke rumah mamanya. Ia mengikuti saran mamanya agar memperbaiki hubungannya dengan Lani. Saat ini hubungannya dengan Lani sudah agak membaik.
"Selamat malam gantengnya ayah... "ucap Willy begitu menginjak rumah melihat Bobby anaknya yang sedang bermain.
"Kamu mau makan atau mandi dulu Wil"
"Aku mau mandi dulu... "
Lani mengikuti Willy masuk ke kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan Willy.
"Ada yang mau kamu tanyakan... "
"Kamu masih belum mau pisah dengan Yana.."
"Lani.. jangan memulai pertengkaran lagi di saat ini. Kita baru saja akan memperbaiki hubungan. Perlu kamu tahu , aku tak akan pernah menceraikan istri istriku kecuali jika mereka yang menggugatnya. Baik kamu atau Yana "
"Aku mau kamu memikirkan lagi.. jika kamu hanya memiliki istri aku saja.. aku akan mencoba membujuk papa buat menanamkan investasi keperusahaan kamu"
"Sudahlah.. aku bisa mencoba mencari sendiri"
"Tapi beberapa bulan ini usaha kamu mengalami kerugian"
"Aku masih bisa menutupinya.. aku mau mandi. Bicaranya nanti saja kita lanjutkan"ucap Willy dan masuk kamar mandi
"Seandainya kamu mau pisah dengan Yana ,aku akan berusaha semampuku membujuk papa. Saat ini papa makin tak percaya denganmu. Mama bilang papa sudah tahu kamu memiliki istri lagi. Mama hanya bisa memberi uang secukupnya. Tapi jika papa.. pasti ia bisa membantu keuangan perusahaan kamu"
Setelah mandi dan makan malam mereka kembali berkumpul diruang keluarga.
"Bagaimana perusahaan kamu"tanya mama
"Papa kemarin membantu memberi uang buat menutupi pengeluaran. Aku sudah banyak memberhentikan karyawan,karena tak mungkin bagiku untuk tetap menggaji mereka saat ini. Lagi pula buat apa banyak karyawan karena apa yang dikerjakan itu sudah tidak ada"
"Papa kamu.. makin jarang saja pulang. Apa bisnisnya sedang berjalan lancar. Mengapa kamu tidak merubah bisnismu seperti bisnis papamu, kamu bisa kerja sama nanti dengan papa "
"Itu berarti aku harus mulai dari awal lagi.. "
"Dari pada kamu memaksakan bisnis yang sekarang, tapi selalu saja merugi"
"Aku akan pikirkan itu.. "
"Kamu jual saja rumah yang pernah kamu tempati dengan Melati dulu"
"Tapi rumah itu atas nama Melati"
"Suratnya ada ditangan kamu kan"
__ADS_1
"Ya.. tapi aku malu ma jika nanti aku menjualnya berarti aku harus minta persetujuan Melati"
"Mengapa malu, itukan kamu beli dengan uangmu"
"Aku setuju Wil.. bukankah itu termasuk harta gono gini. Jika memang Melati menginginkan bagiannya kamu bisa memberinya. Sisanya bisa kamu buat modal lagi"
"Jika rumah itu dijual berarti Yana tak bisa lagi tinggal di rumah itu.. aku harus bisa membujuk Willy agar menjual rumah itu"
"Akan aku pikirkan ma... "
"Mengapa kamu harus memikirkan itu, kamu dan Lani bisa selamanya tinggal disini bersama mama. Kak Shinta kamu sudah tak bisa mama harapkan buat menemani mama. Kamu tahu sendiri kan sejak ia kembali nikah dengan suaminya itu, ia tak pernah menginjak rumah ini lagi. Seakan akan pernikahan suaminya yang dulu itu karena salah mama."
"Sebaiknya mama memang tak usah mencampuri urusan rumah tangga kak Shinta lagi"
"Bagaimana mama nggak ikut campur, suaminya itu tak bisa memberi nafkah yang layak buat Shinta dan menikah pula lagi"
"Jika memang pendapatan suami kak Shinta segitu, mau bagaimana lagi ma. Karena mama selalu marah dengan mas Deni makanya ia menikah lagi dan ingin berpisah dengan kak Shinta. Ia tak mau mama selalu menekannya serta memojokan terus. Mama harus tahu berapalah gaji seorang karyawan"
"Itulah dari dulu mama nggak pernah setuju ia menikah dengan Shinta, tapi kakakmu itu sudah nggak bisa dilarang karena terlalu cinta"
"Tapi bukankah mama yang meminta kak Shinta cepat cepat menikah dengan mas Deni"
"Karena dulu mama kira ia seorang manajer atau pemilik perusahaan ternyata hanya seorang karyawan"
Di dalam rumah Melati tampak Rangga yang tidur dipahanya sambil menonton.
"Sayang.. aku jadi ingat. Kamu kok bisa kenal ya dengan papanya Weni"
"Oh iya.. mengapa emangnya"
"Kamu kenal di mana sayang"
"Hhhmmmm.... dimana ya.. "
"Loh kok malah tanya balik......"
"Aku bingung mau ngomongnya... "
"Bingung kenapa... "
"Sebenarnya itu papa Willy..."
"Apaaa.... papa Willy"ucap Rangga terkejut dan langsung bangun dari tidurnya
"Itu yang membuat aku jadi bingung harus bagaimana. Apakah harus memberitahukan ini pada mama dan Willy atau menyimpannya sebagai rahasia. Jika aku menyimpan rahasia ini berarti sama saja aku mendukung perselingkuhan. Jika aku beri tahu takutnya mama Willy tak percaya. Lagi pula aku kasihan dengan mama, bagaimana hancurnya mama jika tahu telah dibohongi puluhan tahun."
__ADS_1
"Sayang.. kalau menurut aku lebih baik saat ini kamu diam saja. Karena dilihat dari sifatnya mama Willy, takutnya nanti kamu dituduh menyebarkan berita bohong lagi. Berarti Weni dan Willy kakak adik "
"Ya.. Pernikahan papa dengan mama Weni sudah terjadi sejak dua puluh lima tahun yang lalu. Bagaimana sakit dan hancurnya hati mama ketika mengetahui orang yang paling ia cinta dan percayai ternyata telah membohonginya selama itu"
"Bagiku lelaki yang memiliki istri lebih dari satu itu hanyalah lelaki yang tak bisa menahan nafsu. Padahal aku rasa semua wanita sama aja, kita berhubungan juga dengan cara yang sama baik dengan wanita manapun"
"Rangga.. . aku bersyukur banget jika kamu memang berpikiran begitu, aku nggak tahu lagi bagaimana hancurnya aku jika aku tahu kamu menduakan aku. Aku bisa sabar dan bertahan Apapun dan bagaimanapun sikap kamu, tapi aku tak akan bisa menerima pengkhianatan dalam bentuk apapun"
"Mel.. aku tak akan menduakan kamu. Jika kamu bisa sabar menghadapi sikap aku yang emosian dan cemburuan juga terkadang manja mengapa aku mencari wanita lain. Belum tentu ia bisa menerima semua kekurangan yang ada pada diriku.Loh kok kamu panggil nama aku sih, kan sudah aku bilang nggak boleh panggil nama lagi"
"Aku panggil kamu papi aja ya.. atau hubby.. kalau Say lucu kedengarannya.. norak. Kayak ABG aja"
"Panggil my hubby aja.. itu lebih bagus atau hubby atau bie aja"
"Iya Hubby..Weni tinggal dimana sih bie ,Kok papa bisa ya menutupi pernikahannya selama itu"
"Kalau aku nggak salah Weni tidak tinggal dikota ini. Weni disini tinggal bersama tantenya sejak ia sekolah menengah atas. "
"Aku tak pernah mengira papa bisa membohongi mama juga. "
"Sayang sudah ah jangan mikirin rumah tangga orang terus, mendingan kita mikirin rumah tangga kita. Sehabis pesta nanti kita langsung pergi bulan madu sambil buat adik untuk Nabila"
"Katanya tunggu Nabila sudah gede"gumam Melati
"Sekarang Nabila sudah hampir empat tahunan. Sudah pantas memiliki adik lagi. Aku juga sudah puas sering berhubungan badan denganmu, jadi nanti jika kamu hamil aku sudah bisa menahannya"bisik Rangga
"Kemarin kamu yang nggak mau aku hamil.Kamu yakin jika aku hamil dan melahirkan bisa menahannya"
"Yakinlah sayang.. "
"Aku juga pengin banget memiliki anak darimu, tapi terkadang aku merasa ketakutan juga"
"Apa yang kamu takutkan"
"Aku takut nanti ketika aku melahirkan dan kamu tidak bisa menahan keinginan kamu untuk berhubungan,kamu mencari yang lain seperti Willy pernah lakukan "ucap Melati sudah mulai menangis mengingat kisah lalunya.
"Sayang.. aku bukan Willy dan jangan pernah samakan aku dengan Willy. Aku tak akan pernah menduakan kamu dan tak akan pernah meninggalkan kamu. Aku tidak akan berjanji lagi, tapi aku akan membuktikannya dengan sikap dan perbutaanku. Aku ingin banget memiliki keturunan yang lahir dari rahim wanita yang paling aku cintai"
"Aku benar benar takut jika kamu meninggalkan aku, aku tak akan sanggup lagi jika aku dikhianati lagi. Aku tak akan pernah menuntut kamu memberikan sesuatu, hanya satu pintaku,jangan pernah duakan aku"
"Percayalah sayang, aku tak akan menduakan kamu.. aku mencintaimu"ucap Rangga membawa Melati tidur ke dalam pelukannya.
*****************************
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini
__ADS_1