
Tring.. Tring..
Suara alarm ponsel Riana berbunyi menunjukkan pukul tujuh pagi, Iqbal yang mendengar alarm itu langsung bangun, dia merasa segar sekali pagi ini.
Dengan wajah tersenyum dia pandangi wajah Riana yang masih tertidur karena kelelahan gara - gara Iqbal tadi malam.
Iqbal beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia membiarkan Riana untuk tidur sebentar lagi.
Sura gemericik dari arah kamar mandi membuat Riana terbangun. Dia merasa badannya terasa sakit semua. Padahal semalam bukan kali pertamanya melakukan itu.
Tapi dia merasa seperti pertama kalinya. Apa karena sudah lama dia tidak melakukan itu?.
Riana sudah bangun tapi sangat malas untuk bangun. Jadi dia masih rebahan di ranjangnya.
Terlihat Iqbal keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya.
Riana teringat kejadian semalam jadi malu sendiri. Karena dia yang sangat agresif, dia menatap tubuh Iqbal dengan tatapan kagum, tubuh Iqbal yang kotak - kotak seperti roti sobek. Pengin sekali Riana gigit ups..
Otak Riana sangat m*sum, Iqbal yang di tatap seperti itu langsung tersenyum senang.
"Kenapa menatapku seperti itu yang? Mau lagi?" ucap Iqbal sambil menaik turunkan alisnya.
"Ish gak lah, gak nolak maksudnya. hahahaha." ucap Riana.
Karena gemas Iqbal langsung menggelitik pinggang Riana hingga Riana menyerah.
"Sudah mas, aku mau mandi dulu, bentar lagi kan mau sarapan bersama di bawah." ucap Riana.
"Iya sudah sana mandi." ucap Iqbal.
Iqbal kemudian memakai bajunya dan bersiap untuk ke bawah, sambil menunggu Riana selesai mandi, Iqbal membuka ponselnya.
__ADS_1
Banyak sekali panggilan tak terjawab dari mamanya. Kemudian Iqbal menghubungi mamanya.
"Halo mah ada apa?" ucap Iqbal.
"Kalian sedang apa? Kita semua sudah menunggu kalian loh, cepat kemari kasihan ini Kiara sudah lapar." ucap Bu Kartika
"Iya mah bentar lagi, Riana masih mandi." ucap Iqbal.
"Ya sudah cepat ya." ucap Bu Kartika yang langsung mematikan teleponnya.
Riana yang sudah selesai mandi, sudah sekalian memakai pakaiannya, dia berdandan sedikit agar tidak terlihat pucat.
"Yuk mas, kita ke bawah. sudah di tunggu kan?" ucap Riana.
"Loh kok tahu yang, kan aku belum bilang." ucap Iqbal.
"Tadi dengar pas mamah telepon, ya sudah ayo kasihan Kiara." ucap Riana.
Iqbal dan Riana keluar dari kamar sambil bergandengan tangan. Senyum selalu menghiasi wajah mereka berdua.
"Wajah kamu cerah sekali Bal? Pasti gara - gara kerisnya sudah di asah ya?" ucap Bu Kartika semua yang ada di meja itu langsung tertawa mendengar perkataan Bu Kartika.
"Nek memang papah punya keris ya? Kok harus di asah?" tanya Kiara polos.
Bu Kartika langsung menutup mulutnya karena dia baru sadar jika cucunya ada di sana.
"Hayo loh mama, Kiara sampe tanya gitu loh." ucap Iqbal merasa senang karena mamanya mati kutu saat Kiara bertanya.
"Eh enggak kok sayang, maksud Nenek keris yang kemarin papah pake pasti sudah di asah." ucap Bu Kartika meralat ucapannya.
Kiara hanya mengangguk mengerti. Bu Kartika langsung lega melihatnya.
__ADS_1
"Makanya mah kalo di depan anak kecil omongannya di jaga. Sudah kita makan dulu Oalah sudah lapar." ucap pak Bagaskara.
"Nenek berarti mulai hari ini Mama Riana sudah tinggal bareng kita ya?" ucap Kiara.
"Iya sayang, mama Riana bakal tinggal bareng kita, jadi Kiara bisa main terus sama mama Riana." ucap pak Bagaskara
"yeah.. Asik, Kiara sekarang punya mama dan papah, jadi di sekolah tidak di katain Kiara gak punya mama." ucap Kiara senang.
Yang ada di meja itu pun ikut senang melihat Kiara senang.
"Kakek Raka, berarti nanti aku bisa sering - sering ke rumah kakek ya, buat naik kuda disana." ucap Kiara lagi.
"Iya sayang, Kiara bakal kakek ajak naik kuda jika ke rumah kakek. Nanti kakek belikan kuda buat Kiara." ucap Pak Raka.
"Benarkah kek? Kiara sayang kakek Raka." ucap Kiara.
"Kakek dan Nenek disini gak di sayang sama Kiara?" ucap Bu Kartika.
"Pokoknya Kiara sayang sama semua keluarga Kiara." ucap Kiara.
Mereka pun sarapan dengan mengobrol santai, hingga tak terasa waktu sudah lumayan siang.
Mereka semua akan cek out hari ini juga, sedangkan Riana dan Iqbal akan berbulan madu di Bali.
Padahal Iqbal mau bulan madu di Maldives tapi Riana gak mau karena terlalu jauh, dia tidak mau meninggalkan Kiara terlalu lama.
Kiara yang tadinya merengek ingin ikut papah dan mamahnya, tapi langsung di tenangkan oleh Bu Kartika.
"Kiara pengin adik bayi tidak? Kalo pengin biarin papah dan mamah pergi ya, Kiara ikut kakek sama nenek aja, kita ke puncak gimana?" ucap Bu Kartika.
"Mau nenek, berarti nanti ketika pulang mamah sama papah bawa adik bayi yah?" tanya Kiara.
__ADS_1
"Iya makanya Kiara ikut kakek sama nenek aja ya." ucap pak Bagaskara
Akhirnya Kiara mau ikut dengan kakek dan neneknya. Iqbal pun lega karena Kiara tidak merengek lagi ingin ikut ke Bali.