
Seperti yang Willy katakan di hari kesepuluh,Yana kembali dari rumah sakit, Willy memintanya segera pergi dari rumah.
"Sekarang cepat kemasi pakaianmu dan tinggalkan rumah ini segera.... "
"Willy, putri kita masih memerlukan ASI "
"Aku bisa mengurusnya... kamu jangan takut, ia tak akan sakit"
"Willy, aku masih mau bersama Naya"
"Jangan pura pura berperan jadi ibu yang baik. Kamu sudah biasa meninggalkan anakmu, jadi aku rasa tidak sulit bagimu jika kali ini kamu meninggalkan Naya."
"Tapi.... "
"Ini uang buatmu, anggap saja bayaran karena kamu telah mengandung anakku. Dan jangan lupa bawa Alvin sekalian "
"Apa kamu tega membiarkan Alvin bersamaku"
"Kamu ibunya, mengapa tidak.... "
"Apa sudah tidak ada rasa sayangmu pada Alvin.... "
"Aku tetap meyayanginya, tapi aku tak mau ia bersamaku, yang nantinya jadi alasan kamu untuk kembali padaku"
"Naya juga anakku, Wil"
"Tapi ia anak kandungku, aku tak akan biarkan kamu mendekati anakku. Aku tak mau Naya menjadi liar seperti kamu nantinya. Cepatlah pergi,.... "teriak Willy
"Baiklah, jika itu maumu.... "
Yana memasukkan bajunya dan Alvin ke dalam koper dan menyeretnya keluar. Willy memandangi Alvin. Sebenarnya ia tidak sampai hati melepaskan Alvin, tapi ia tidak mungkin juga menjaga Alvin dan Naya sekaligus.
"Ayah, Alvin pergi sama mama"ucap Alvin dan memeluk Willy
"Maafkan ayah, Alvin. Bukan ayah tak sayang Alvin, tapi ayah tak bisa membawa Alvin bersama ayah. Alvin ikut mama aja ya. Semoga Alvin bahagia dengan mama"
"Iya, Ayah... "
"Hati hati nak.... "ucap Willy menahan air matanya. Ia sangat menyayangi Alvin, tapi ia tak mungkin mempertahankan Alvin,karena saat ini aja buat menjaga Naya, ia masih harus tetap mempekerjakan bibi. Dan jika menjaga dua anak sekaligus, ia takut bibi kewalahan.
Setelah kepergian Yana, Willy masuk ke kamarnya. Ia melihat wajah anaknya yang tertidur dengan pulasnya.
"Maafkan ayah Naya, ayah harus memisahkan kamu dengan mama. Ayah tak mau kamu nanti jadi seperti mama setelah dewasa. Ayah sayang semua anak anak ayah, ayah takut semua yang pernah ayah lakukan, karmanya nanti jatuh pada kalian, Nabila, Bobby dan kamu Naya. Jika saja waktu bisa ayah putar, ayah ingin kembali saat ayah pertama menikah dengan Bunda Nabila. Bukan ayah menyesali kehadiran Bobby dan kamu, Naya. Tapi ayah menyesali jalan hidup ayah saat ini. Ayah sudah terlalu banyak melakukan kesalahan dan ayah tak ingin semuanya nanti ditanggung anak anak ayah. Semoga kalian anak anak ayah selalu merasakan kebahagiaan. Ayah, ingin bertemu kakak kamu Nabila dan Bobby"
##################
Willy datang menemui Melati di toko kuenya. Melati yang sedang menyuapi Arsha yang saat ini telah berusia 7 bulan sangat kaget dengan kedatangan Willy.
Sudah hampir delapan bulan, sejak terakhir bertemu,barulah kali Willy datang lagi menemuinya.
__ADS_1
"Mas Willy.... "
"Selamat sore, Mela.... "
"Selamat sore"
"Mela, aku datang pengin bertemu Nabila. Apa Nabilanya ada.... "
"Nabila lagi dalam perjalanan pulang sekolah. Mas mau menunggu.... "
"Iya, Mel. Jika diizinkan"
"Tentu saja mas, bukankah mas ayahnya Nabila. Tak ada alasan melarang mas bertemu Nabila. Mas mau minum apa, aku buatkan dulu ya"
"Terima kasih, Mel"
Melati masuk ke dalam ruang istirahatnya. Ia menghubungi Rangga mengatakan jika ada Willy. Rangga pun mengatakan ia hampir sampai di toko.
"Selamat sore, Willy"ucap Rangga begitu masuk toko dan melihat Willy
"Selamat sore... Nabila, apakabar nak. Kamu baru pulang sekolah. Sekarang anak ayah sudah SD ya"
"Selamat sore, ayah. Bila sehat, ayah sehat"
"Ya, seperti yang Bila lihat... "
"Papi, mana bunda dan adik Arsha .... "
"Ya, pi. Ayah, Bila ganti baju dulu.... "
"Iya, nak.... "
Rangga masuk ke dalam dan melihat Melati yang menggendong Arsha. Rangga lalu mengambil Arsha dari gendongan Melati
"Anak papi nih, makin besar makin ganteng aja.... "ucap Rangga menciumi seluruh wajah Arsha
"Papi, yuk keluar. Mas Willy sudah menunggu Nabila dari tadi... "ucap Melati setelah Nabila mengganti pakaiannya.
Rangga dan Melati menemui Willy. Nabila duduk di samping Willy.
"Nabila, maaf ayah jarang menemui Nabila. Ayah baru bisa menemui Nabila lagi saat ini."
"Tak apa ayah, Nabila ada papi.... "ucap Nabila polos.
Ucapan Nabila seakan menusuk hati Willy, ia tersenyum miring.
"Ayah tahu, ayah salah karena kurangnya perhatian ayah sama kamu. Tapi perlu Bila tahu ayah sangat menyayangi Bila. Walau ayah jarang menemui Nabila, bukan berarti ayah melupakan Nabila. Ayah selalu ingat dengan anak anak ayah. Hanya waktu ayah yang tidak ada buat menemui anak anak ayah"
Lama Willy berbincang dengan Nabila dan Rangga menemaninya. Melati masuk buat menidurkan Arsha.
__ADS_1
Setelah menemui Nabila, Willy lalu menghubungi Lani.
"Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan anak anak. Aku tak mau mereka nantinya tidak mengenaliku lagi. Aku juga tak mau nanti anak anakku makin jauh denganku. Aku akan membuat anak anakku saling mengenal dan menyayangi walau mereka lain ibu"
Beberapa kali mencoba, akhirnya Lani mengangkat sambungan ponselnya.
"Lani, apa kabar.... "
"Masih ingat menghubungi aku Wil"
"Lani, aku minta maaf... "
"Apa kamu pikir kata maaf kamu cukup buat mengobati sakit hatiku"
"Lani, aku benar benar minta maaf... "
"Apa maumu... kenapa menghubungi aku"
"Aku ingin tahu kabar Bobby, apa ia sehat... "
"Tentu saja ia sehat. Malahan lebih sehat dari ketika kami tinggal bersamamu dulu"
"Lani, aku ingin bertemu Bobby, apa boleh... "
"Apa aku pernah melarang kamu menemui Bobby, walau aku marah, benci dan kecewa denganmu, tapi aku tak mungkin menjauhi Bobby dari ayah kandungnya. Tapi ayahnya kandungnya yang tak pernah ingat dan tak pernah mau tahu kabarnya selama ini. Apa kamu tahu, Willy. Bobby Saat ini sudah mulai kritis. Terkadang ia selalu bertanya mengapa ayahnya tidak pernah menemuinya. Jangankan untuk bertemu, menghubungi aja tidak. Ayah nya tidak pernah ingin tahu bagaimana kabar anaknya sekarang. Willy, apa Bobby ada salah."
"Lani, apa maksudmu. Tentu saja Bobby tidak ada salah"
"Kamu tahu itu bukan, Bobby tidak ada salah dalam masalah kita ini. Ia juga tidak pernah meminta lahir dari seorang ibu pelakor dan ayah pengkhianat seperti kamu. Aku sadar Willy,aku salah karena mau saja terayu denganmu. Tapi aku tak habis pikir, jika aku yang salah,mengapa Bobby yang kamu hukum. Bobby juga korban. Korban dati aku dan kamu. Kita yang bersalah tapi Bobby yang menanggungnya. Ia besar dari seorang ayah tak pernah menginginkan kehadiran dirinya. Apakah kamu tidak pernah berpikir bagaimana perasaan Bobby nanti setelah ia mulai besar, orang bertanya dimana ayahnya, mengapa tidak pernah tampak....apa lagi nanti ia tahu jika ayahnya tidak pernah menginginkan kehadirannya. Pasti ia akan merasa sedih dan merasa terbuang....jika kamu ingin menghukumku karena menganggap aku penyebab hancurnya rumah tangga kamu dan Melati, tapi jangan kamu hukum Bobby. Apa beratnya menghubungi Bobby sekali dalam sehari atau video call sehari sekali. Aku tidak menuntut kamu menemuinya setiap hari, hanya minta kamu menanyakan kabarnya melalui ponselmu itu. Apa itu barat bagimu Willy. Suka tak suka kamu atas kehadiran Bobby, ia tetap darah dagingmu, tetap anak kandungmu"
"Maafkan aku lani... aku janji akan menemui Bobby besok. Aku berangkat besok pagi. Dna mulai besok aku janji akan menghubungi Bobbu setiap hari"
"Aku ingin melihat bukti, aku tak mau janji lagi. Aku hanya ingin kamu menemui Bobby, jika kamu tidak ingin melihatku, bagiku tidak masalah "
"Lani, sekali lagi maafkan aku.... "
"Aku mungkin tak akan pernah memaafkan kamu. Walau aku mengizinkan kamu bertemu Bobby, itu bukan berarti aku memaafkan kamu. Itu aku lakukan hanya agar Bobby tidak sedih karena selalu bertanya tentang ayahnya"
"Aku tahu Lani, pasti tak mudah bagimu memaafkan aku, kamu masih tetap mengizinkan aku bertemu Bobby itu sudah lebih dari cukup"
"kalau tidak ada yang perlu diomongkan lagi, aku tutup. Terima kasih... "
Lani mematikan sambungan ponselnya. Willy menarik rambutnya frustrasi.
"Aku memang ayah yang tidak bertanggung jawab, selama ini aku telah menyakiti hati anak anakku. Terutama Bobby. Aku tak pernah berpikir jika ia akan sangat terluka karena aku yang tak pernah memperhatikan kehadiran dirinya"
******************
Terima kasih...
__ADS_1
Pada bab kemarin, banyak yang komentar agar Lani jangan kembali dengan Willy, tapi aku nggak bisa ngehalu agar Lani mencari pria lain, karena kenyataan sampai hari ini Lani dan Willy masih status suami istri. Willy masih memenuhi nafkah buat Lani dan anaknya. Tapi mungkin nafkah batin Lani tidak terpenuhi. Apa ini karma buat Lani... aku juga nggak tahu karena itu rahasia Tuhan. Mungkin cara Tuhan menghukum Lani dengan dihantui rasa ketakutan akan kesalahannya dulu.... sekali lagi itu hanyalah rahasia Tuhan.