Sahabatku Maduku

Sahabatku Maduku
Bab Delapan puluh Satu


__ADS_3

Willy memarkirkan mobilnya di halaman rumah sakit. Ia turun dari mobil dengan wajah yang masih menahan amarah.


Willy dan Yana menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar rawat putranya Alvin. Sampai di dekat tempat tidur putranya, Yana langsung memegang tangan Alvin.


"Sakit apa Alvin. .. "


"Kamu lihat anakmu sekarang, ibu macam apa yang tega meninggalkan anak dalam keadaan sakit"


"Ketika aku pergi ia masih sehat "


"Walaupun anakmu sehat, apa ada ibu yang meninggalkan anak yang masih balita hanya bersama pengasuhnya tanpa memberi kabar dan tanpa ingin tahu keadaan anaknya"


"Kamu jangan bisa menyalahkan aku saja. Kamu sebagai ayahnya juga tidak becus. Kemana saja kamu selama seminggu ini tanpa kabar. Jika kamu bisa meninggalkan anakmu tanpa kabar, mengapa aku tidak boleh. Apa karena aku seorang ibu. Kamu sebagai ayah juga seharusnya memberikan perhatianmu.Jangan hanya bisa menyalahkan wanita. Pengasuhan anak bukan hanya dari seorang ibu"


"Aku mencari nafkah.. "


"Aku juga mencari nafkah"


"Apa uang yang aku beri tidak mencukupi kebutuhan kamu"


"Tidak.. jika kamu memberi uang yang banyak buat apa aku lagi mencari nafkah. Mobil yang dari dulu aku minta saja tak pernah sanggup kau beli. Jika aku terpenuhi secara materi tak akan aku mencari lagi... "


"Pikiran kamu hanya uang saja,bukankah untuk kebutuhan hidup uang yang aku beri sudah cukup"


"Kamu pikir wanita itu hanya perlu makan. Setelah kebutuhan hidupnya, tidak membutuhkan yang lain. Kamu pikir aku seperti istrimu yang lain yang hanya diam dan menerima berapapun yang kamu beri. Jika kamu tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupku yang lain, jangan larang aku bekerja "


"Kamu tuh ya.. .. "ucapan Willy tertahan karena ponselnya berdering dan ia melihat nama Shinta tertera

__ADS_1


"Ada apa kak... "


"Mama telah sadar dan akan dipindahkan ke ruang rawat"


"Baiklah kak. Aku akan segera kesana... "


Willy mematikan sambungan ponselnya.Dan memandangi Yana yang duduk disamping tempat tidur Alvin.


"Ini sudah hampir pagi. Tolong jangan kemana mana. Jaga anakmu. Aku harus melihat ibuku ,ia juga sedang di rawat. Jangan membuat tambah pikiranku. "


"Pergilah.. jangan takut, aku tak akan kemana mana"


Willy melangkahkan kakinya menuju tempat ruang rawat inap yang dikatakan Shinta. Ia langsung masuk ke ruang inap itu.


Willy melihat mamanya yang hanya terdiam dengan pandangan kosong. Ia sangat sedih melihat keadaan mamanya itu.


"Mama.. apa yang mama rasakan. Mana yang sakit ma"ucap Shinta mengelus tangan mamanya.


"Ma.. jangan diam aja. Jika mama ingin marah, marahlah. Jika ingin teriak, teriaklah"ucap Willy. Ia ingat ketika Melati mendiamkan dirinya, akhirnya Melati jadi jatuh sakit setelah itu.


"Ma.. bicaralah"ucap Shinta mulai terisak


"Mana papa kalian. Apa ia pergi menemui wanita itu"


"Mama jangan pikirkan itu, sekarang mama harus sembuh dulu. Papa, biar nanti menjadi urusan aku dan Willy "


"Apa salah mama. Mama sudah lebih dari tiga puluh lima tahun mendampingi papamu. Tak pernah sedetikpun mama berniat menduakannya. Tapi papa kamu dengan teganya menduakan mama selama bertahun tahun ini. Mama tidak pernah mencurigai papa kamu, karena mama percaya dengannya. Tapi kepercayaan yang mama berikan disalah gunakan papa kamu. "

__ADS_1


"Mama.. semua mungkin sudah menjadi takdir kita diduakan oleh pasangan. Tapi mama harus ikhlas menerimanya "


"Apa.. mama harus ikhlas. Mama tak akan pernah ikhlas dan memaafkan wanita itu. Mama ingin tahu siapa wanita yang menjadi simpanan papa kalian selama ini. Tolong hubungi papa kalian, mama harus bicara"ucap mama dengan suara manahan amarah


"Ma.. sudahlah. Sekarang mama pikirkan dulu kesehatan mama.Nanti setelah sehat mama bisa bicarakan semuanya dengan papa.. "ujar Willy


"Kamu bisa berkata begitu, karena kamu sama saja dengan papamu . Kalian tidak tahu bagaimana rasa sakitnya ketika tahu suami yang kita percaya selama ini telah mengkhianati kita. Apa lagi ini sudah dilakukan papa kamu selama puluhan tahun."


"Sekarang mama bisa merasakan sakit yang dulu Melati dan aku rasakan. Mama dulu bisa berkata agar Melati bisa memaafkan Willy dan menerima ini sebagai takdir. Dan mama juga pernah berkata jika suami mencari wanita lain itu karena istrinya pasti memiliki kekurangan. Aku menyadari kekuranganku dan akhirnya menerima mas Deni kembali"gumam Shinta


"Kak Shinta.. kak Shinta ngomong apa.. mama baru sadar sudah bicara yang bukan bukan"ucap Willy ketus


"Aku cuma mengingatkan... "


"Sudahlah.. kalian keluar aja jika kalian hanya bisa berdebat Tolong hubungi papa kamu. Mama mau bicara. "


"Apa mama yakin bisa bicara dengan papa. Nggak menunggu mama sembuh dulu. Agar mama bisa bicarakan dsngan papa dan dapat mrnyelesaikan semua dengan baik"ujar Willy


"Mama yakin.. apa kamu tidak mengenal siapa mama. Papa kamu harus menceritakan semuanya. Papa kamu harus memberi penjelasan. Mama tak ingin lebih lama lagi dibohongi dan dibodohi papa kamu"


"Aku harus tahu wanita seperti apa yang menjadi simpanan kamu selama ini. Aku harus tahu wanita yang mana yang mampu membuat kamu bisa menyembunyikan kebohongan selama ini. Kamu bukan saja mengkhianati aku tapi kamu selama ini telah membodohi aku .Mengapa aku selama ini tidak pernah mencurigai semua kelakuan kamu. Kamu sangat pandai menutupi semuanya. Atau apa benar berita yang dulu pernah beredar jika kamu menjalin hubungan kembali dengan Yanti. Apa memang istri kamu Yanti. Ya.. anak gadis kemarin mirip dengan Yanti. Jika itu memang Yanti, bekas pacar kamu sewaktu sekolah dulu yang menjadi istri kamu, aku tak akan memaafkan wanita itu. Padahal aku sudah memberikan segalanya buatmu, harta dan cintaku semua untukmu. Tapi kamu membalasnya dengan pengkhianatan. Aku terlalu mempercayaimu sehingga kamu dengan mudahnya membohongi aku selama puluhan tahun ini. Kamu harus memilih antara aku atau istri mudamu itu"


Shinta memandangi wajah mama nya yang tampak menahan amarah Shinta tahu bagaimana perasaan namanya saat ini karena ia pernah berada di posisi mamanya.


Walau harus diakui pasti rasa sakit yang dirasakan mamanya, pasti lebih parah dari dirinya. Mamanya telah dikhianati dan dibohongi selama puluhan tahun.


"Ma.. aku tahu perasaan yang mama rasakan saat ini. Mama pasti sedang marah, kecewa, benci dan perasaan lainnya yang bercampur di hati mama. Sekarang mama bisa merasakan perasaan sakit yang dulu aku dan Melati rasakan. Mama tahu kan bagaimana sakitnya hati Melati ketika tahu suami nya berselingkuh ditambah lagi dengan mertua yang merestui perselingkuhan suami kita.Papa yang selama ini aku banggakan ternyata sama saja dengan lelaki bej*t yang lainnya.. apakah perselingkuhan suami aku adalah karma dari perbuatan papa selama ini. Dan perbuatan Willy juga dampak dari kelakuan papa. Aku tak pernah mengira papa memiliki anak yang lain selain aku dan Willy. Padahal papa begitu tampak sempurna sebagai seorang ayah. Papa yang penyayang dan penyabar dalam menghadapi anak anaknya. Apa kah itu semua hanya buat meneutupi kebej*tan papa selama ini. Aku saja sebagai anak sangat kecewa atas pengkhianatan papa apalagi mama.. "

__ADS_1


*********************


Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini


__ADS_2