
Melati berjalan memasuki gedung perusahaan milik keluarga Rangga. Ia membawakan makan siang buat suami manjanya.
Rangga tak akan makan siang jika bukan masakan Melati. Semenjak Melati hamil, Rangga makin manja. Ia merasakan semua yang biasa dialami ibu hamil.
Mual dan muntah pagi hari tidak pernah lagi Melati alami,tapi justru kini Rangga yang mengalaminya.
Rangga terkadang juga ngidam satu makanan, dan nafsu makannya juga mulai bertambah.
Seluruh karyawan memberi hormat ketika Melati masuk ke gedung itu. Melati langsung menuju ke ruang kerja Rangga,ia sebelumnya telah menghubungi Rangga.
Melati mengetuk pintu ruang kerja Rangga.
"Masuk... "sahut Rangga dari dalam
Rangga melihat istrinya masuk, langsung tersenyum.
"Sayang.. aku kira karyawan tadi. Mengapa harus mengetuk pintu dulu. Masuk aja. "
"Harus dong bie, siapa tahu lagi ada tamu"
"Walaupun ada tamu, nggak apalah, kan istri aku yang masuk"
"Gimana bie, masih pusing "ucap Melati mendekat dan memijat kepala Rangga
"Sedikit, tapi sekarang hilang setelah melihat kamu "
"Gombal.. "
"Sayang.. duduk sini"ucap Rangga memukul pelan pahanya. Melati langsung duduk dipangkuan suaminya.
Rangga lalu menghubungi sekretarisnya, mengatakan jika ia tak mau di ganggu karena ia akan makan siang.
"Sayangnya papi.. apa kabar. Kamu yang sehat ya. Jangan buat repot bunda, papi ikhlas semua yang biasa dirasakan ibu hamil papi yang kini rasakan asal bunda selalu sehat"
Rangga mengelus perut Melati. Rangga lalu menggendong Melati dan mendudukan diatas meja kerjanya. Ia lalu menyingkap baju Melati hingga memperlihatkan perutnya.
"Hubby.. mau apa"ucap Melati menutup perutnya dengan tangan
"Kamu pikir aku pengin apa, pasti pikirannya mesum nih"ucap Rangga menyentil dahi Melati
"Sakit bie.. "
"Makanya jangan pikirin yang macam macam, aku cuma ingin mengelus langsung perut kamu"
Rangga lalu mengelus perut Melati yang sudah mulai membuncit. Ia mengecup perut Melati.
"Sayang.. kamu makin seksi sejak hamil nih"
"Jangan pikiran mesum ya bie, ini dikantor"ucap Melati dan mengalungkan tangannya dileher Rangga.
__ADS_1
Rangga meletakan kepalanya dipaha Melati yang terekspos sambil tangannya terus mengusap perut Melati.
"Sayang,aku nggak sabar bayi ini segera lahir. Kira kira anak kita cowok apa cewek ya"
"Bagiku cewek apa cowok sama aja bie. Yang penting sehat.. "
"Iya sih, tapi jika boleh memilih aku ingin anak lelaki karena aku sudah memiliki anak cewek."
"Semoga aja keinginan kamu terkabul,bie"
"Oh ya.. minggu depan kita pindah ke rumah bunda. Mami minta kita syukuran kehamilan kamu yang memasuki empat bulan diadakan di rumah bunda"
"Terserah mana yang baik bagi mami , aku ngikiut aja bie.Jadi nggak nih makannya,nanti keburu dingin. Tak enak lagi"
"Kita makan di sofa aja ya"ucap Rangga.
#####################
Weni turun dari taksi dengan perasaan sedikit takut. Ia takut nanti tante Elly tahu jika uang yang digunakan buat membayar hutang tantenya dari tabungan mamanya, yang juga berasal dari uang pemberian papa Erwin.
Weni sebenarnya tak ingin memakai uang simpanan mamanya, karena itu sebenarnya juga hak Tante Elly.
Setelah mengumpulkan keberanian ia pun mengetuk pintu. Terdengar sahutan dari dalam. Lani membuka pintu dan mempersilakan Weni duduk.
"Tunggu sebentar, aku panggilkan mama"ucap Lani setelah bertanya maksud kedatangan Weni.
"Selamat sore tante..."ucap Weni ketika melihat tante Elly keluar dari kamar
"Apa maksud kamu datang kemari"
"Saya ingin membayar hutang tante saya. Maaf karena aku telat satu hari dari waktu yang tante berikan"
"Dengan siapa kau ke sini...."
"Aku sendirian saja tante"
"Tidak bertanggung jawabnya si Erwin, membiarkan anak gadisnya sendirian dari luar kota"
"Papa sudah tidak tinggal bersama kami lagi tante, karena aku dan mama sadar atas semua kesalahan kami, yang telah merebut kebahagiaan keluarga tante. Mama telah merelakan papa kembali bersama tante"
"Kamu pikir aku akan menerima papa kamu begitu saja. Aku tak akan begitu mudah memaafkan lelaki itu setelah puluhan tahun mengkhianati dan membohongi aku"
"Tante.. tolong maafkan papa. Aku tahu papa salah, tapi aku tahu papa telah menyadari kesalahannya. Sejak tante mengusirnya, Papa selalu termenung, ia selalu teringat kak Shinta yang membencinya dan tak mau memaafkan papa. Papa sangat menyayangi kak Shinta, ia selalu memikirkan kak Shinta. "
"Kamu datang mau membahas papa kamu atau membayar hutang"
"Oh ya tante, ini uang yang tante saya pinjam.Maafkan tante saya yang mungkin terkesan memanfaatkan papa."
Weni meletakkan uang itu diatas meja. Lani yang ingin tahu maksud kedatangan Weni, duduk di samping mama. Weni tersenyum ke arah Lani yang dikiranya kak Shinta, kakak tirinya.
__ADS_1
"Apakah ini kak Shinta, tante"tunjuk Weni ke arah Lani
"Bukan, ini istrinya Willy. Jika sudah tak ada kepentingan, kamu boleh pergi dan tinggalkan rumah ini segera"
"Bobby ,mau kemana"tanya Lani melihat bobby yang akan keluar dari rumah
"Ayah...pulang mama"ucap Bobby yang sudah mulai jelas bicaranya karena usia saat ini sudah menginjak tiga tahun lebih.
Tampak Willy yang baru pulang kantor dengan menggendong Alvin yang tertidur.
"belum juga kamu ketemu dengan wanita jal*ng itu, sampai kapan anak ini akan tinggal disini"
"Jangan mulai lagi Lan, aku capek pulang kerja"
"Kamu lebih perhatian dengan anak itu daripada anakmu yang lain"
"Anakku yang lain ada ibunya, Bila ada Melati, Bobby ada kamu sedang Alvin hanya memiliki aku, jika aku tak memberi perhatianku,apa kamu mau memberikan sedikit perhatian kamu buat Alvin"
Weni yang masih berada dirumah kaget mendengar ucapan Willy.
"Jadi Willy memiliki tiga istri, itu sebabnya Melati minta pisah."
"Ibunya saja mencampakkan anak itu, dan apa kamu yakin itu darah dagingmu"
"Darah dagingku atau bukan, Alvin hanyalah seorang anak kecil yang tak berdosa, mana mungkin aku mentelantarkan dirinya"
"Kamu selalu saja masih membela jal*ng itu"
"Aku bukan membela Yana, aku hanya membela Alvin. Kamu yang harus introspeksi diri Lani, jika Yana kamu sebut jal*ng,sebutan apa yang pantas bagimu. Seorang wanita yang mau berselingkuh dengan suami sahabatnya "ucap Willy sinis
Weni yang mendengarnya tambah kaget mengetahui kenyataan itu.
"Jadi wanita ini sahabatnya Melati yang tega mengkhianati dirinya bersama suaminya"
"Lani, Willy sudahlah, apa kalian tidak bosan bertengkar terus. Bagaimana rumah tangga kalian bisa bahagia, jika setiap bertemu hanya bertengkar aja. "
"Aku juga sudah bosan ma, aku mau cari kontrakan dan pindah dari sini"ucap Willy dan meninggalkan Lani menuju kamarnya.
Willy sejak membawa Alvin, memang tak tidur bersama Lani, ia tidur di kamar tamu.
"Lani, bagaimana kamu bisa memperbaiki rumah tangga kalian jika setiap hari kamu hanya mengajak Willy bertengkar terus. Cobalah sedikit mengalah. Kamu ingin Willy seutuhnya bersamamu bukan, jadi coba kendalikan sedikit emosimu"
"Mengapa aku yang harus mengalah, Willy yang keterlaluan, mengapa ia tak pernah menghargai kehadiran aku. Apa aku saja yang salah ma. Aku sudah meninggalkan segalanya demi Willy. Apa lagi ma.. bukankah aku sudah terlalu mengalah selama ini. Ma.. aku juga ingin Willy menganggap aku sebagai seorang istri, selama ini ia tak pernah menganggap aku ada. Ia selalu menyalahkan aku karena perpisahannya dengan Melati. Padahal itu juga kesalahan Willy, bukankah Melati mengajukan surat cerai setelah ia tahu Willy berselingkuh lagi dengan Yana"ucap Lani sambil terisak dan meninggalkan ruang tamu membawa Bobby masuk ke kamar
"Tante.. maaf, aku pamit dulu"ucap Weni mengagetkan lamunan Elly
"Pergilah, aku harap kita tak pernah ketemu lagi"ucap mama Elly dan masuk ke kamar
"Ya Tuhan, apakah ini semua balasan atas sikap ku yang jahat selama ini dengan Melati. Aku merendahkan dan menyakiti hati Melati, padahal ia lah satu satunya istri Willy yang ku lihat tak pernah membantah perkataan Willy, ia selalu menghargai Willy sebagai suami. Semua ini memang salahku yang terlalu mengharapkan menantu yang sempurna dan kaya, yang pada akhirnya itu membuat anakku Willy terluka. Sejak perpisahan nya dengan Melati, tak pernah aku lihat senyum di wajah Willy. Aku tahu ia amat terluka... "
__ADS_1
******************************
Terima kasih buat semua pembaca setia novel ini, mohon maaf jika masih banyak terdapat kata dan cerita yang kurang sesuai.