
Rangga bersujud tanda rasa syukurnya setelah ia memeluk dan mencium dahi Melati. Ia memeluk maminya dan menangis.
"Mami, maafkan aku"
"Maaf buat apa... "
"Karena aku baru tahu perjuangan seorang ibu buat melahirkan buah hatinya, aku minta maaf karena belum bisa membalas pengorbanan mami"
"Kamu anak yang baik, mami bangga punya anak seperti kamu. Semua pengorbanan mami sudah terbalas melihat kamu menjadi anak yang bertanggung jawab seperti ini"
"Mami, terima kasih karena telah menjadi ibu yang sempurna untukku"
Mami mengelus punggung putra kesayangannya,yang sekarang telah menjadi seorang ayah di usia yang masih termasuk muda.
Rangga kembali mendekati Melati dan mengecup seluruh bagian di wajah Melati.
"Terima kasih sayang, karena kamu telah berjuang melahirkan putra kita"
"Pi,terima kasih karena selalu ada disampingku"ucap Melati lemas.
Bidan yang membawa bayi Melati dan Rangga tadi kembali ke hadapan mereka.
"Bapak Rangga dan Ibu Melati ini putranya"ucap Bidan itu dan meletakkannya di atas dada Melati.
Melati dan Rangga memeluk putranya dan menciuminya. Mami mendekat dan meminta Rangga buat mengadzani anaknya.
Rangga di bantu mami menggendong bayinya dan mengadzani. Setelah diadzani mami meletakkan bayi Melati diatas dada Melati.
"Coba kamu ajari bayi kamu menyusu, Mel"
"Iya, mi"
Melati membuka bajunya dan mengarahkan mulut bayinya ke put*ing susunya. Pertama tampak ia kesulitan, mami dan Melati terus mengarahkan mulutnya, dan akhirnya ia bisa menghisap put*ng susu Melati.
Setelah puas menyusu, putra Rangga tertidur kembali.
"Mirip dengan papi wajahnya "ujar Melati mengusap pipi putranya yang tertidur setelah menyusu.
"Iya, mirip banget dengan Rangga kecil"ujar Mami.
"Aku ganteng dari kecil berarti ya, mi"
"Kalau kamu nggak ganteng mana mau Melati denganmu"canda mami
"Iya juga mi. Karena aku ganteng, baik hati, dan rajin menabung lah, makanya Melati jadi cinta banget"
"Papi narsis banget"
Dokter Zulaida masuk keruangan dan mendekati Melati.
"Ibu, nanti ibu dibersihkan sama bidan sebelum pindah ke ruang inap. Sekarang saya pamit dulu, ada pasien yang akan di operasi."
"Terima kasih dok... "ucap Mami, Rangga dan Melati
Sementara Melati dibersihkan, mami mendorong bayi Rangga yang ada di bok menuju ruang inap.
Setelah Melati dibersihkan dan berganti pakaian, perawat dibantu Rangga mendorong tempat tidur Melati menuju ruang inap.
__ADS_1
Sampai di ruang inap, Rangga menghubungi Kak Rachel mengabarkan jika Melati telah melahirkan putranya.
"Kak Rachel, Melati sudah melahirkan"
"Apa semuanya baik aja dan jam berapa lahirannya"
"Satu jam yang lalu kak"
"Sudah satu jam lahiran baru kamu ingat ngabari Kak Rachel"
"Kak, aku cemas banget tadi lihat Melati yang melahirkan. Jadi ketika ia telah lahiran, aku nggak tahu harus melakukan apa. Aku terlalu bahagia "
"Sudah nggak apa, yang penting Melati serta bayinya selamat dan sehat"
"Kak, tolong mandikan Nabila dan bawa ia sekalian jika kak Rachel akan ke sini"
"Iya, kamu jangan kuatir. Anak gadismu akan kakak urus"
"Terima kasih kak*"
Rangga lalu mematikan sambungan ponselnya. Ia mendekati tempat tidur Melati.
"Sayang, apa masih ada yang sakit "ucap Rangga sambil menggenggam tangan Melati
"Semua rasa sakit itu hilang begitu aku mendengar suara tangisan bayiku"
"Sayang, terima kasih"
"Terima kasih buat apa pi, tadi juga sudah ucapkan terima kasih"
"Aku tak akan berhenti mengucapkan terima kasih. Karena memang banyak yang telah kamu lakukan buatku dan sebenarnya tak hanya cukup dengan ucapan terima kasih"
"Itu memang kewajibanku sebagai suami, untuk membahagiakan istri"ujar Rangga mengecup tangan Melati
"Papi, tadi papi telepon kak Rachel kan"
"Iya.. sayang. Kenapa"
"Apa Nabila sudah bangun, pi."
"Kak Rachel bilang belum, tapi nanti Kak Rachel akan bawa kesini"
"Nabila pasti senang dapat adik "
"Aku juga senang sayang,sekarang anak aku sudah sepasang. Aku harus lebih kerja keras untuk dapat memenuhi semua keinginan istri dan anak anakku...."
"Tapi papi harus jaga kesehatan, jangan terlalu memaksakan diri buat bekerja, karena uang bukanlah segalanya dan uang bukanlah segalanya"
"Iya sayang, aku akan menjaga kesehatan. Karena aku ingin mendampingi kamu dan anak anak sampai kita menua bersama"
"Mami mana pi. Kok nggak kelihatan. Pulang ya."
"Mami menyusul papi keparkiran. Papi mau kesini, tapi mami minta tolong belikan sarapan. Jadi mami pergi beli sarapan dulu dengan papi"
"Papi sepertinya masih mencintai mami "
"Memangnya kenapa sayang, kalau papi masih mencintai mami"
"Kenapa mami dan papi nggak rujuk lagi"
__ADS_1
"Aku nggak tahu, mungkin mami masih belum sepenuhnya lepas dari bayang bayang pengkhianatan papi dulu. Atau mungkin juga ada pertimbangan lain. Tapi bagiku sekarang ini jauh lebih baik. Jika dulu mami selalu saja menangis dan ada saja yang mereka perdebatkan jika bertemu. Saat ini ,aku melihat mami dan papi jauh lebih tenang dan bisa menerima semua yang pernah terjadi. Aku juga tidak merasa sedih karena harus melihat mami yang selalu menangis"
"Papi benar, kita nggak tahu apa yang saat ini mami pikirkan dan pertimbangkan sehingga tidak bisa rujuk dengan papi. Kita anak anak hanya bisa mendukung apapun itu keputusan yang akan diambil mami selama itu membuat mami senang"
"Tuh pintar sayangnya papi"ucap Rangga mengacak rambut Melati
"Papi, ngomongnya kayak sama Nabila aja"
"Kamu dan Nabila sama sama bidadari aku. Bagiku kamu dan Nabila sama aja. Aku dan putra kita akan selalu menjadi your hero"
Ketika mereka sedang asyik bicara terdengar ketukan di pintu. Rangga mempersilakan masuk. Perawat masuk membawakan sarapan buat Melati.
"Maaf pak, ini sarapan buat ibu Melati. Serta obatnya.... "ucap perawat dan meletakan di meja samping tempat tidur Melati
"Terima kasih... "ujar Rangga
"Permisi pak... "
Setelah perawat itu pergi, Rangga membantu Melati duduk. Rangga pun ikut duduk di tepi ranjang dan menyuapi Melati.
Setelah Melati makan. Rangga mengambil bayinya dan menggendong putranya itu.
"Sayang, putra kita ganteng banget, apa aku seganteng ini juga ya waktu bayi"gumam Rangga
Melati tersenyum melihat Rangga yang masih sedikit kaku menggendong anaknya.
Pintu kamar terbuka dan tampak kak Rachel datang dengan Nabila dan Syifa.
"Papi, itu adik Bila ya.. "
"Iya sayang,sekarang Bila sudah jadi kakak... "
"Lihat papi... "
Rangga membungkukan badannya agar Bila bisa melihat wajah adiknya.
"Lucu banget, mama Rachel lihat sini. Adik Bila ganteng banget"
Rachel mendekati Rangga yang menggendong bayinya.
"Gila anak Lu, jauh lebih ganteng dari Lu.. "
"Berarti kak Rachel mengakui aku gantengkan"
"Iya.. iya Lu ganteng. Masa cantik. Anak Lu ini wajahnya perpaduan dari wajah Lu dan Melati"
"Pasti nanti gedenya ganteng banget ya kak, papinya ganteng, dan bunda cantik.. "ujar Rangga
"Kak Nabila juga cantikan pi"ucap Nabila
"Tentu saja, putri papi pasti paling cantik... "ucap Rangga mengecup pipi gembul Nabila.
Tanpa ia sadari kembali Rangga menitikan air mata.
"Ya Tuhan, tak berhentinya aku mengucapkan syukur atas karunia dan rahmat Mu ini. Kau beri aku kebahagiaan yang melimpah, putri yang cantik dan putra juga tampan. Kau beri aku istri yang baik. Aku merasakan hidupku sangat sempurna saat ini. Aku tak ingin apa apa lagi selain kebahagiaan keluarga kecilku. Semoga istri dan anak anakku selalu dalam lindungan Mu"
*************************
Terima kasih....
__ADS_1