
Willy tertidur di tepi ranjang putranya sambil memegang tangan mungil Alvin. Bibi juga tertidur di sofa yang ada di ruang rawat itu.
Tengah malam Willy terbangun, ia ingat mamanya.Willy lalu membangunkan bibi yang sedang tertidur.
"Bi.. bangun bi"
"Ada apa pak"jawab bibi begitu membuka matanya.
"Bi,tolong jagain Alvin .Aku mau melihat mama, siapa tahu sudah sadar"
"Baik pak.. "
"Terima kasih bi"
Willy keluar dari ruangan dan menutup pintu perlahan, takut membangunkan Alvin. Ia berjalan menuju ruang ICU.
Ia melihat kak Shinta yang tertidur di bangku bersandar dibahu mas Deni.
"Mas.. apa mama sudah sadar "
"Belum, tapi tanda vital di tubuh mama sudah normal semua. Nggak lama lagi mama pasti sadar"
"Syukurlah kalau begitu."ucap Willy sambil menarik nafasnya kasar. Ia benar benar terlihat kusut.
"Bagaimana anakmu.. "
"Ia terkena DBD. Tapi untunglah panasnya sudah sedikit turun dan trambositnya mulai naik"
"Mas.. jika mama sadar tolong hubungi aku ya. Aku mau keluar sebentar"
"Kemana kamu malam malam begini"
"Aku ada urusan di luar. "
"Kamu mau mencari istrimu Yana"
"Mas nggak perlu tahu, itu urusan keluargaku"
__ADS_1
"Aku cuma bertanya. Semoga Yana memberikan pelajaran berharga buatmu"
"Maksud mas apa... "Tanya Willy dengan suara sedikit mengeras.
"Kamu jangan mudah tergoda dan terayu mulut wanita. Yana yang dengan mulut manisnya menggoda dirimu, setelah ia bosan lalu pergi sesuka hatinya.Seseorang yang dipungut dari tempat sampah pasti akan kembali ketempat kotor lagi karena ia telah terbiasa dengan kotoran"
"Jaga mulut mas, tidak semua wanita malam itu wanita nakal"
"Dan jika ia wanita baik, pasti lebih memilih pekerjaan yang baik. Tempat di mana kita kerja bisa mencerminkan kepribadian kita. Kamu itu Wil, sudah salah langkah dengan berselingkuh sama Lani malah diulang lagi selingkuh dengan wanita yang levelnya jauh dibawah Melati dan Lani. Seharusnya kamu introspeksi diri. Sejak kamu menduakan Melati dengan Lani, keluarga kamu mulai berantakan, usaha kamu mulai macet. Malah ditambah memperburuk keadaan dengan mengulang kesalahan. Padahal seharusnya kamu bersyukur Melati mau menerima Lani, jangan dikasi hati minta jantung. Malah tambah lagi selingkuhan siapa yang tak sakit hati. "
"Mas jangan banyak omong, mas juga selingkuh "
"Aku selingkuh dapat gadis.. kamu"
"Mas.. jangan berbangga diri. Apapun itu tetap namanya perselingkuhan. "
"Tapi aku cepat menyadari kesalahanku dan memperbaiki diri, kamu malah menambah masalah berhubungan dengan Yana. "
"Aku bosan mendengar ceramah mas. Jangan sok suci mas. Kita juga sama"
"Tapi aku tidak akan membuang berlian demi sebongkah batu kali"
"Jika aku sudah mendapat istri secantik dan sebaik Melati mungkin aku tidak akan mencari wanita lain"
"Jadi mas mau mengatakan kak Shinta tidak baik sehingga mas mencari yang lain"
"Memang harus aku akui Shinta wanita yang baik,hanya saja ia sebagai seorang istri sedikit egois dan tidak pernah mensyukuri jerih payah suami mencari nafkah, selalu saja merasa kurang.Itu karena pengaruh didikan dari mama kamu,yang selalu mengompori Shinta buat meminta uang lebih. Bagaimana lagi aku harus memberi lebih jika memang penghasilan aku segitu. Uang walau sedikit akan bisa mencukupi kebutuhan hidup tapi uang sebanyak apapun tidak akan pernah cukup jika untuk memenuhi gaya hidup. Aku sudah bilang sama Shinta aku akan memperbaiki kesalahanku jika Shinta juga bisa menerima aku apa adanya. Syukur Shinta bisa berubah. Aku juga harus berubah, seharusnya aku mengajari istriku, karena baik buruknya istri juga tergantung didikan suaminya. Kamu dapat Melati yang mau menerima apa aja tanpa pernah mengeluh, masih saja kurang puas. Tapi aku rasa sekarang kamu pasti ada merasa penyesalan karena menyianyiakan Melati"
"Itu biarlah menjadi urusan pribadiku. Mas tak perlu tahu apakah aku menyesal atau tidk"
"Melati makin sukses tanpa dirimu, lihat kamu Willy, makin terpuruk sejak ditinggalkan Melati"
"Mas.. sudah aku bilang jangan mengajari aku jika apa yang aku lakukan juga mas lakukan. Kita sama sama busuk dan brengs*k jadi jangan pandai menasihati saja"
"Ya sudah jika kamu tak mau menerima. Pergilah kamu cari Yana di tempat asalnya. Aku yakin ia ada disana"
"Hhuu... mas jangan sok tahu"
__ADS_1
"Coba saja kamu buktikan jika kamu tak percaya "
"Aku pergi, cukup aku sudah mendengar ceramah dari mas"ucap Willy dan meninggalkan Deni.
"Aku tahu apa yang dikatakan mas Deni itu benar. Aku saat ini memang menyesali perbuatan aku, jika saja dulu aku bisa menahan **** dengan tidak tergoda Lani mungkin saat ini aku akan hidup bahagia bersama Melati dan Nabila. Dan bodohnya aku,aku bisa tergoda dengan wanita malam. Walau hati ku selalu membantah jika tidak semua wanita malam itu nakal tapi kenyataannya aku selalu aja memikirkan tentang itu. Mas Deni memang benar, aku telah membuang berlian demi bongkahan bongkahan batu. Aku juga yakin jika Yana kembali ke klub itu. Karena seekor lalat walaupun dipelihara di tempat bersih ia pasti akan mencari kotoran*"
Willy mengendarai mobilnya menuju klub tempat Yana dulu bekerja. Setelah memarkirkan mobilnya ia langsung masuk ke dalam klub.
"Semoga saja apa yang dikatakan mas Deni tidaklah benar. Tidak semua wanita yang bekerja disini wanita nakal. Dan aku yakin Yana pasti akan berubah. "
Willy memandangi sekeliling, ia lalu duduk sedikit menjauh dari meja bartender. Setelah sekian lama, Willy melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan Yana keluar dari satu ruangan. Ia lalu berdiri di meja bartender itu.
Willy melihat wanita itu menyajikan minum buat seorang pelanggan. Dan lelaki itu mengecup pipi wanita itu.
"Aku harap wanita itu hanya mirip Yana, tak mungkin ia melakukan itu dibelakangku. Dan mana mungkin ia tega meninggalkan anaknya tanpa kabar. "
Willy berjalan mendekat, dan ia kaget melihat wanita itu ternyata memang istrinya Yana. Dengan wajah merah padam menahan marah Willy mendekati.
"Apa apaan kamu Yana. Sejak kapan kamu kembali bekerja disini"ucap Willy dengan suara tinggi dihadapan Yana.
Yana kaget melihat kedatangan Willy. Ia keluar dari balik meja bartender dan mendekati Willy.
"Ayo keluar. Aku tak mau kamu membuat onar dan mempermalukan aku"ucap Yana menarik tangan Willy.
"Apa... aku mempermalukan kamu. Kamu malu sudah punya suami.Kamu tampak seperti wanita yang tak punya harga diri,tanpa risih dicium lelaki yang bukan suami kamu. "
"Willy.... aku bilang kita bicara di luar. Ini banyak orang, bukan saja aku tapi kamu juga nanti akan malu. Kamu jangan sok polos, kamu tahukan dunia aku ini. Kamu juga melakukan hal sama ketika baru kenal denganku. Itu hanya cium tanda perkenalan. Jangan pura pura naif"
"Aku mau kamu pulang dan jangan pernah menginjakkan kakimu disini. Ibu macam apa kamu. Tega meninggalkan anak sendiri yang lagi sakit. Kamu tahu, sekarang Alvin lagi di rawat di rumah sakit. Kamu sebagai ibunya tidak ada sedikitpun kekuatiran. Binatang saja masih menyayangi anaknya. "
"Cukup Willy,kamu tak berhak menghakimiku. Karena kamu juga sama. Baiklah kali ini aku ikut kamu , kita ke rumah sakit, Aku pamit dulu pada manajerku. "ucap Yana dan meninggalkan Willy sendiri
Setelah meminta izin Yana kembali ketempat Willy, dan ia mengajak Willy untuk meninggalkan klub. Selama perjalanan ke rumah sakit Willy dan Yana hanya terdiam, larut dengan pikiran masing masing.
"Ya Tuhan.. ibu macam apa Yana ini. Mengapa aku bisa terperdaya dan terayu dengannya. Meninggalkan anak sekecil itu tanpa ingin tahu kabar beritanya. Sudah dua hari pergi dari rumah tanpa sedikitpun kuatir akan keadaan anaknya. Ya Tuhan.. apa ini juga salah satu karma darimu. Aku mendapatkan wanita seperti Yana..Padahal aku tulus memcintainya dan berharap ia akan berubah setelah menikah"
*********************************
__ADS_1
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini