
Sudah seminggu Yana menginap di rumah temannya. Ia nggak tahu harus kemana dan berbuat apa. Ia tak mungkin langsung bekerja, karena baru satu bulan habis melahirkan.
Alvin selalu saja menanyakan keberadaan Willy. Karena ia tidak pernah berpisah dengan Willy.
Yana akhirnya memutuskan untuk menghubungi Hendra. Mungkin Hendra bisa membantu.
Setelah beberapa kali menghubungi, akhirnya Hendra mengangkatnya.
"*Ada apa, Yana"
"Boleh kita bertemu, aku ingin bicara "
"Boleh.... "
"Kita ketemu di kafe tempat terakhir kita bertemu kemarin"
"Oke, jam berapa "
"Satu jam lagi aku kesana. Kamu tunggu aja jika kamu yang duluan sampai"
"Baik, aku tunggu* "
Setelah sambungan ponselnya terputus. Yana segera bersiap siap akan bertemu Hendra. Ia bawa Alvin juga. Ia pamit dengan temannya untuk keluar sebentar.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, akhirnya Yana sampai di kafe tempat ia janjikan.
Ia langsung menghubungi Hendra dan bertanya keberadaannya. Hendra menjawab jika ia masih diperjalanan. Yana pun memesan ruang VIP yang lebih privasi.
Yana memesan makanan buat Alvin dan membiarkan anaknya menyuapi makanannya sendiri.
Lima belas menit berlalu, akhirnya Hendra masuk. Tapi ia tak sendiri,Hendra datang bersama seorang wanita. Yana melihatnya dengan kaget.
__ADS_1
"Selamat siang Yana. Maaf, sudah lama menunggu"ucap Hendra terkesan sopan
"Selamat siang.... "
"Sayang, duduklah. Kenapa berdiri aja"ucap Hendra dengan wanita itu.
"Sayang, kenalkan ini... Yana temanku... dan Yana kenalkan ini Fani, pacarku... eh salah calon istriku"
Wanita yang tampak masih sangat muda itu mengulurkan tangannya dengan Yana dan memperkenalkan dirinya.
Yana tampak sedikit kurang nyaman karena ada wanita itu. Ia hanya diam sambil meneguk minumannya secara perlahan.
"Tadi katanya ada yang ingin kamu bicarakan silakan. Aku tak bisa berlama lama, nanti Fani bisa bosan"
"Aku lupa mau bicara apa. Aku cuma ingin tahu, apa kamu bisa menolong carikan kerjaan buatku"
"Apa uang yang di beri suamimu tidak mencukupi"
"Emangnya aku berbuat apa Yana. Aku tak pernah melakukan apa apa denganmu, jangan membuat Fani jadi salah paham"
"Jangan pura pura jadi pria baik, Hendra. Gara gara kamu menciumku, Willy jadi salah paham dan menceraikan aku"
"Oh...hanya ciuman . Maaf sayang,waktu itu aku sudah lama tak bertemu Yana, jadi aku menciumnya. Kamu jangan salah sangka ya"ucap Hendra yang ditujukan sama Fani
"Kamu katakan cuma ciuman,apa kamu lupa jika kamu juga mengajakku buat cerai dengan Willy dan saat aku benar benar diceraikan Willy saat ini, kamu bilang ini cuma sekadar ciuman karena teman yang lama sudah tak bertemu. Kamu takut pacarmu ini tahu siapa kamu sebenarnya "
"Fani sudah tahu siapa aku. Aku telah menceritakan masa laluku, karena aku tak mau nanti setelah kami menikah ada penyesalan"
"Mengapa kamu katakan semua yang kamu lakukan kemarin hanya sekadar ciuman dan pertemuan teman lama"
"Karena memang itu yang aku rasakan.Aku cuma ingin membuat kamu pisah dengan Willy. Jujur aku sengaja menciummu agar suamimu bisa melihat sifat kamu yang sebenarnya. Aku sengaja melakukan semua itu untuk menguji seberapa setianya kamu pada satu laki laki. Tapi kamu tak pernah berubah, aku rayu sedikit aja udah mulai ragu hatimu. Bagaimana rasanya di tinggal orang yang kamu cintai. Tapi aku rasa kamu tak mencintai Willy. Jadi kamu tidak merasa sakit hati. Yang kamu rasakan saat ini pastilah hanya kekuatiran akan uang yang tak bisa kamu dapatkan lagi"
__ADS_1
"Dasar bajing*n,jadi kamu sengaja menjebakku agar Willy menceraikan aku. Dan kamu hanya ingin balas dendam bukan benar benar ingin kembali denganku. Apa kamu nggak berpikir apa yang kamu lakukan padaku bukan hanya berdampak pada diriku. Aku harus pisah dengan bayiku. Apa kamu tahu, bayiku harus terpisah denganku padahal ia masih sangat membutuhkan ASI. Kamu bisa saja membunuh anakku. Jika kamu memang marah dan sakit hati denganku, kamu bisa balas hanya pada diriku. Kamu lihat sekarang, aku bukan hanya harus berpisah dengan bayiku saja, tapi anakku yang masih kecil ini harus hidup terlantar juga karena ikut denganku."
"Kenapa aku harus memikirkan itu...itu semua resiko dari perbuatan kamu. Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan. Ini ada uang sedikit buat biaya anakmu. Kamu bisa pulang kampung dengan uang ini"
"Kamu bicara seenaknya. Kamu pikir dengan uang ini semua bisa selesai. Anakku harus terpisah dengan ibu dan ayahnya,gara gara kamu"
"Jadi mau kamu apa. Apa kamu pikir aku benar benar ingin kembali denganmu. Aku tak akan mau terjerumus kedua kali denganmu... Kamu pikir aku bodoh, yang mau dengan wanita seperti kamu"
Yana berdiri dari duduknya dan menampar Hendra. Fani yang melihatnya jadi kaget.
"Beraninya kamu menamparku"ucap Hendra dan berdiri ingin membalas menampar Yana.
Tangan Hendra di tahan Fani. Ia menggelengkan kepalanya melarang Hendra.
"Kamu tak boleh menampar wanita... "ujar Fani
"Kamu beruntung Yana, aku masih bisa menahan berbuat kasar denganmu karena permintaan pacarku. Lain kali jika kamu menampar aku lagi, aku bisa balas yang lebih dari itu"
Setelah mengucapkan itu, Hendra pergi meninggalkan Lani dan Alvin yang bingung melihat pertengkaran mama nya dan Hendra.
"Mama, kenapa om tadi marah marah "
"Nggak apa apa sayang... kita pulang lagi ya"
Yana meninggalkan kafe itu menuju rumah temannya. Ia memikirkan perkataan Hendra. Mungkin memang lebih baik ia pulang ke kampung dulu. Alvin bisa ia tinggalkan di kampung bersama ibu dan saudaranya.
Keesokan harinya Yana pamit dari rumah temannya. Ia sudah putuskan akan mengantar Alvin ke kampung. Dan setelah itu baru ia mencari kerja lagi.
***********************
Terima kasih. Maaf ya part Yana aku tak bisa cerita banyak. Karena aku nggak tahu pasti kisahnya, dari yang aku dengar ia pulang kampung dan mengantar anaknya Alvin. Setelah itu ia kembali bekerja lagi di tempat semula.
__ADS_1
Maaf jika tulisan kali ini sedikit berantakan, karena aku menulis sambil ngejaga suami yang lagi di rawat.