
Mama Elly mengetuk pintu kamar Willy, ia ingin bicara dengan anaknya itu.
"Wil, boleh mama masuk"
"Silakan ma.. "
Mama masuk dan melihat Willy yang tidur dengan tangan diletakan di dahi. Mama Elly tahu pasti saat ini Willy sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa ma.. "
"Mama mau bicara. Duduklah, biar lebih enak"
Willy bangun dan duduk bersandar di kepala ranjang.
"Apa yang ingin mama bicarakan, aku capek ma. Aku tak ingin berdebat lagi"
"Maafkan mama nak"ucap Mama Elly tanpa bisa menahan air matanya.
"Maaf buat apa. Kenapa mama menangis "
"Maafkan untuk semua kesalahan mama. Maafkan mama yang selama ini belum bisa menjadi mama yang baik. Maafkan mama karena telah merebut kebahagiaan kamu"
"Maksud mama apa, mama adalah mama terbaik buatku. Aku yang selalu mengecewakan mama. Aku membuat mama malu dengan perbuatanku "
__ADS_1
"Seandainya mama dulu bisa menerima Melati apa adanya, seandainya mama tidak memandang seseorang karena status dan derajatnya, mungkin saat ini kamu bisa hidup bahagia bersama Melati dan Nabila"
"Sudahlah ma.. itu murni kesalahanku. Jika saja aku tidak mudah tergoda dan jika saja aku bisa menahan nafsuku, ini semua tak akan terjadi."
"Mama pengin rasanya minta maaf dengan Melati, mungkin setelah Melati benar benar ikhlas memaafkan mama, semua akan berubah baik. Mama takut karena kesalahan mama dan papa kalian anak anak mama yang mendapatkan karma buruknya. Mama berharap dengan memperbaiki hubungan mama dengan Melati,mungkin kebahagiaan juga akan menghampiri kamu seperti Melati yang telah mendapatkan kebahagiaannya"
"Jika mama memang ingin meminta maaf, mama bisa datangi Melati di toko rotinya"
"Mama takut nanti Melati tidak suka atas kedatangan mama. Dan mama juga malu karena telah sering menghinanya"
"Melati pasti menerima mama dengan baik, aku saja yang banyak menyakiti dan melukai hatinya, masih dengan baik diterimanya"
"Melati.. seperti namanya putih bersih "gumam Mama Elly.
"Willy, padahal mama berharap kamu memperbaiki semua kesalahan kamu dan mulai kehidupan baru dengan Lani. Kamu harus berubah, jangan lagi mengutamakan nafsumu. Lani bisa kamu jadikan istrimu satu satunya. Bagiamanapun ia juga telah banyak berkorban"
"Tapi aku rasa aku tak akan bisa,ma. Karena aku selalu ingat akan Melati jika aku tidur bersama Lani. Aku tak mau menyakiti Lani lebih lama lagi jika aku memaksa bertahan. Lani juga harus bisa memulai hidup barunya. Mungkin ia akan dapat lelaki yang mencintainya."
"Cobalah nak, karena kamu belum tentu juga dapat wanita yang lebih baik dari Lani. Cobalah bertahan dan bersabar menghadapi sifatnya. Bagaimana pun ia juga istrimu. Mungkin selama ini ia bersikap kurang baik denganmu sebagai protesnya karena kamu yang selalu mengabaikan dirinya. Kamu sadar Wil, jika kamu tak pernah menganggap ia ada selama ini. Kamu selalu saja tak memandang kehadirannya. Lepas dari kesalahannya karena telah bermain api denganmu, tapi ia mencintai kamu dengan ikhlas. Ia rela meninggalkan kedua orang tuanya demi kamu. Seharusnya kamu sedikit menghargai pengorbanan Lani"
"Aku tak bisa,ma.Aku juga ingin mengontrak karena aku tak bisa melihat Lani. Aku selalu dibayangi dengan Melati setiap aku melihat Lani. Aku selalu dikejar dan dihantui rasa bersalah. Aku juga mau mencoba memperbaiki diriku ma. Untuk itu aku akan menceraikan Lani"
"Apa kamu sudah pikirkan ini baik baik nak... "
__ADS_1
"Sudah ma, aku akan bicarakan ini dengan Lani secepatnya "
"Mama harap kali ini kamu juga tidak akan langkah. Karena mencari yang sempurna tidak akan pernah kamu dapatkan.. "
"Aku hanya perlu doa mama. Semoga kedepannya aku juga mendapat pasangan yang sesuai seperti Melati dan Rangga. "
"Mama selalu mendoakan kebahagiaan kamu dan kak Shinta. Mama sekarang dapat memahami kepedihan dan kesakitan yang pernah dirasakan kakakmu ketika mengetahui pengkhianatan suaminya. Apalagi Melati, ia pasti lebih merasakan sakit karena selain pengkhianatan kamu, Lani juga sahabat yang telah dianggapnya saudara tapi telah menikamnya dari belakang. Di tambah lagi dengn sikap mama yang mendukung perselingkuhan kamu. Mama merasa sangat berdosa sekali. Padahal seharusnya mama menjadi tempat sandaran,tempat ia berbagi kesedihan, sebagai pengganti orang tuanya yang telah tiada, tapi mama malah menambah luka dan sakit hatinya"
"Aku juga merasa sangat bersalah, ketika akan menikah ia telah mengatakan jika ia tak pernah mengharapkan hartaku, tapi ia hanya memerlukan tanggung jawab dan kesetiaan aku sebagai suami. Dan hanya aku tempat ia bersandar setelah ibunya meninggal, tapi aku yang dijadikannya sandaran, malahan meninggalkan dirinya. Bagaimana ia tidak sakit dan terluka... "
"Tapi syukurlah ia mendapatkan suami pengganti yang sangat menyayangi dirinya. Kamu tidak pernah berharap akan kembali lagi dengan Melati kan. "
"Jujur ma, aku masih sangat berharap Melati kembali padaku. Tapi aku sadar,aku hanya memberikan kesakitan dan penderitaan saja selama ini."
"Sudahlah Wil, jika kamu memang menyesal karena pernah membuat Melati terluka dan sakit hati kamu harus ikhlas melepaskannya saat ini. Melati telah menemukan kebahagiaan dirinya, saat ini yang harus kamu lakukan adalah tanggung jawab terhadap anak anakmu. Karena perpisahan orang tau akan memberi luka yang mendalam pada anak anakmu kelak, kamu tidak ingin anak anak kamu yang akan menerima balasan dari perbuatan jahat kamu kan. Seperti Kak Shinta yang ternyata harus menerima balasan dari perbuatan jahat papa kamu."
"Ma.. aku ingin berubah. Aku ingin mencari wanita yang mau menerima aku apa adanya dan mulai dengan kehidupan baru, walau aku tak yakin aku bisa menemukan seseorang yang benar benar aku cintai seperti aku mencintai Melati. Aku sadar aku telah menyia nyiakan Berlian demi sebongkah batu. Aku baru menyadari kalau Melati sangat berarti dihidupku. Tapi semua telah terlambat, walau aku berniat ingin merubah sikap dan perbuatan jahatku selama ini, itu tak akan ada gunanya karena Melati telah benar benar pergi, ia tak akan mau memberikan aku kesempatan lagi buat berubah. Ia telah menemukan kebahagiaannya. Aku melihatnya tadi, betapa Melati sangat bahagia dan mencintai suaminya saat ini. Aku yakin tak ada cinta buatku tersisa dihatinya itu. Aku benar benar telah kehilangan Melati. Aku tak akan pernah dapat menggapainya kembali"ucap Willy mulai meneteskan air matanya.
"Lupakan Melati, mungkin ia memang ditakdirkan bukan untukmu"ucap mama Elly mengusap punggung Willy.
"Sekali lagi maafkan mama nak, mama yang telah membuat kamu jadi seperti ini. Mama yang telah merampas kebahagiaan kamu, mama yang telah membuat kamu menderita. Jika saja mama tak ikut campur akan rumah tanggamu, mungkin saat ini kamu masih bersama Melati. Ini balasan atas sikap sombong mama selama ini"
************************
__ADS_1
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini