Sahabatku Maduku

Sahabatku Maduku
Bab Tujuh puluh Sembilan


__ADS_3

Mama Elly masuk ruang ICU, dokter memvonis mamanya Willy terkena serangan jantung ringan.


Shinta dan Willy menunggu di luar ruangan. Lani sudah kembali ke rumah, kerena tidak memungkinkan baginya berlama lama di rumah sakit, karena usia Bobby yang masih balita.


"Aku nggak habis pikir mengapa papa tega membohongi kita selama ini"ucap Shinta sambil terisak


"Aku ingin rasanya membunuh papa"geram Willy


"Kamu bicara apa.. kamu dan papa sama saja. Kalian tega menyakiti hati wanita yang dengan tulus mencintai kalian"


"Apa kak Shinta lupa jika Mas Deni juga sama"


"Mengapa aku terlahir dari keluarga seperti ini. Aku sudah melakukan kewajiban aku sebagai istri yang baik, tapi tetap saja aku menerima karma dari perbuatan jahat papa dan kamu. "


"Sudahlah kak.. ini bukan waktunya saling menyalahkan. Untuk saat ini aku tak sudi melihat wajah papa"


"Kamu sakit hati kan mengetahui papa menduakan mama. Bagaimana dengan Melati, kamu bisa bayangkan sakit dan hancurnya hati Melati, ketika kamu mengkhianati nya. Kamu bahkan mengulangi kesalahan kamu dengan Yana"


"Kak.. aku bilang, ini bukan saatnya kita berdebat. Aku tahu aku sudah banyak salah pada Melati. Dan aku sudah mendapat balasannya, anakku Nabila lebih dekat dan lebih sayang dengan ayah tirinya dari aku ayah kandungnya "


"Kamu pantas menerimanya, karena kamu tak pernah tahu tentang perkembangan Nabila selama ini"


"Kak.. aku bilang cukup. Jangan menghakimi aku terus. "


"Kalian.. mengapa jadi bertengkar, ini rumah sakit. Tahan sedikit suara nya"ucap Deni yang baru muncul.


"Istri mas ini, hanya bisa menyalahkan aku dan papa atas perbuatan dan kesalahan mas. Ia selalu aja mengatakan jika perbuatan mas itu adalah karma dari perbuatan jahat papa dan aku. "


"Shinta.. jangan mengungkit lagi masalah itu. Kamu sudah janji ketika kita kembali bersama, jika kita saling melupakan masalah itu"


"Mas.. kaca yang pecah walaupun disatukan kembali tidak akan utuh lagi.. Begitupun hatiku, walau aku coba melupakan dan menerima semua perbuatan mas dulu, tapi masih ada bekasnya dihatiku."


"Jika kamu masih terus mengungkit itu, kamu jangan salahkan jika akhirnya rumah tangga kita akan menang benar benar bubar"


"Ya.. aku akan menerimanya. Mengapa hanya wanita sebagai korban selalu saja diminta bersabar dan bertahan atas apa yang dilakukan lelaki. Sedangkan lelaki itu sendiri tidak pernah benar benar menyadari kesalahannya. Dan mengapa lelaki tidak pernah berusaha mengobati luka hati wanitanya. Membiarkan wanita itu melupakan dan menghapus luka hatinya sendiri"

__ADS_1


"Shinta.. aku minta maaf. Aku benar benar menyesal. Aku juga minta pisah dulu bukan karena ingin bersama wanita lain itu, tapi aku berharap dengan berpisah akan membuat kamu lebih tenang dan bisa hidup bahagia tanpa aku yang telah menyakiti hati kamu. "


"Mas.. sudah. Aku capek.. "ucap Shinta bersandar di kursi dan memejamkan matanya. Namun air mata masih terus mengalir dari pelupuk matanya.


Willy pergi dan meninggalkan Shinta dan suaminya. Ia menerima telepon dari pembantu dirumahnya yang menjaga Alvin anaknya dengan Yana.


"*Ya bi ada apa... "


"Bapak, ini Alvin menangis terus. Badannya panas. Bibi nggak tahu harus bagaimana, pagi dan sore tadi bibi sudah memberi obat tapi panasnya belum turun juga"


"Memangnya Yana kemana bi"


"Bibi nggak tahu, dari kemarin sebenarnya bu Yana pergi sampai hari ini belum kembali"


"Apa... mengapa bibi tak beritahu saya dari pagi jika Yana tak pulang "


"Maaf pak.. biasanya ibu Yana jika pergi malam,paginya juga sudah kembali, tapi ini sudah malam kembali, Bu Yana belum juga pulang "


"Memangnya ibu sering keluar malam.. "


"Jadi selama ini Yana sering keluar malam.. "


"Maaf pak... ibu Yana sebenarnya meminta saya diam saja. Tapi ini Alvin sakit, saya sudah menghubungi ibu tapi teleponnya tak aktif"


"Baiklah bi. Tunggu sebentar saya pulang, Alvin harus dibawa kerumah sakit*"


Willy lalu bergegas meninggalkan rumah sakit setelah mematikan sambungan ponselnya, ia menuju jalan kerumah yang pernah ditempati dengan Melati,sekarang ia tinggal bersama Yana.


Willy mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi karena ia marah atas kelakuan Yana dan juga kuatir dengan Alvin anaknya.


Sampai dirumah Willy langsung berlari menuju kamar anaknya.


"Mana Alvin bi.. "


"Itu pak.. kasihan badannya panas banget,dari pagi nggak mau makan dan minum susu"

__ADS_1


Willy memegang dahi anaknya dan merasakan suhu badan Alvin yang sangat panas.


"Bi, tolong aku bi. Gendong Alvin,ia harus dibawa kerumah sakit"


"Baik pak"ucap bibi menggendong Alvin. Ia membawa selimut Alvin.


Setelah mengunci rumahnya dan ia merasa semua aman,Willy melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat mamanya di rawat agar nanti memudahkan jika Alvin harus dirawat juga.


Sampai dirumah sakit, Willy langsung membawa Alvin menuju ruang IGD. Setelah sekian lama diperiksa, dokter menyatakan jika Alvin harus dirawat karena ia menderita penyakit DBD.


Alvin dipindahkan ke ruang rawat. Willy sudah beberapa kali menghubungi Yana, tapi ponselnya tidak aktif juga.


"Dasar wanita jal*ng,aku kira ketika aku mengangkat derajatnya dengan menikahinya, ia akan berubah menjadi istri dan ibu yang baik. Tapi nyatanya ia tak mau berubah dan tetap mau menjadi wanita malam. Aku akan membuat perhitungan denganmu Yana. Ibu mana yang tega meninggalkan anaknya. Binatang aja masih sayang sama anaknya. Jika aku tahu kamu kembali kepekerjaanmu yang dulu, aku tak akan pernah memaafkan kamu"


Willy masuk keruang rawat anaknya, ia duduk disamping Alvin. Dipandanginya wajah anaknya yang tak berdosa.


"Maafkan ayah nak. Ayah memang bukan ayah yang baik buat semua anak anak ayah. Karena ayah tak pernah sepenuhnya memberi perhatian pada kalian. Tapi yakinlah cinta ayah pada kalian anak anak ayah tidak ada yang ayah bedakan. Semua anak anak ayah adalah anak kesayangan ayah. Ayah mencintai kalian.. Nabila.. Bobby dan Alvin. Walau ayah akui, ayah bukan suami yang baik buat ibu ibu kalian, tapi ayah selalu berusaha untuk menjadi ayah yang baik bagi anak anak ayah"


Willy terus memandangi wajah Alvin dan memegang tangannya yang diinfus. Ia merasa iba melihat anaknya yang masih kecil harus menanggung sakit.


"Bi, bisa tolong aku. Tolong jaga Alvin, aku tak bisa sendiri menjaganya. Lagi pula mama aku juga sedang dirawat dan belum sadarkan diri saat ini"


"Baiklah pak.. saya akan menunggu di sini. Tapi rumah bagaimana, nanti jika bu Yana pulang"


"Biarkan saja bi, nanti ia kan bisa menghubungi bibi atau saya "


"Ya Tuhan.. mengapa cobaan ini sekaligus engkau berikan padaku. Aku tahu aku telah banyak berbuat dosa dan kesalahan, tapi jika aku boleh meminta, tolong jangan berikan balasan atas perbuatan jahat yang aku lakukan pada anak anakku, mereka tidak bersalah.. "


Tanpa Willy sadari air matanya mengalir.


*****************************


Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini


Mohon maaf jika cerita kurang sesuai, tapi aku berusaha sebisanya untuk menyamakan dengan kisah sebenarnya. Walau ada adegan atau tokoh tambahan.

__ADS_1


Maaf juga karena tidak bisa membalas komentar pembaca novel ini satu persatu, tapi aku membaca semua komentar yang masuk. 😍😍😍


__ADS_2