
Beberapa Minggu setelah makan malam bersama dengan keluarga Iqbal, hubungan Riana dan Iqbal semakin romantis dan baik, walaupun sampai saat ini Iqbal belum di kenalkan secara resmi kepada pak Raka jika Iqbal adalah kekasih Riana.
Yang pak Raka tahu ya Iqbal itu sebatas pemilik dari pabrik teh yang ada di kotanya ini. Selama beberapa Minggu ini pun Sofia mantan istri dari Iqbal tidak menganggu Iqbal, hanya beberapa kali dia nekat ke sekolahan Kiara. Tapi karena pihak sekolah tidak mengenal Sofia jadi tidak di perbolehkan masuk untuk menjemput Kiara. Walaupun Sofia sudah bilang jika dia adalah Ibu dari Kiara.
Iqbal pun sudah berbicara kepada pihak sekolah jika bukan dirinya atau supir keluarganya yang menjemput Kiara jangan pernah perbolehkan membawa Kiara.
Sehari setelah di ancam oleh Riana akhirnya Risa menghapus postingannya dan memberi klarifikasi atas postingannya itu. Banyak yang menghujat Risa karena begitu tega memfitnah Riana. Sejak saat itu Risa tidak pernah lagi memposting apapun di media sosialnya.
Akhir pekan ini Riana berniat untuk pulang ke rumah di kampung. Siang itu Riana sedang di ruangan Iqbal karena sedang menunggu tanda tangan dari Iqbal.
"Ri besok week end kita pergi berlibur ke Bali bareng sama Kiara ya." ucap Iqbal.
Riana lupa dia belum memberi tahu Iqbal jika besok week end akan pulang ke rumah papahnya.
"Gak bisa Mas, aku besok mau pulang ke rumah papah. Sudah lama aku gak pulang ke sana." ucap Riana.
Iqbal yang tadinya menunduk karena sedang menandatangani laporan langsung menengadah menatap Riana yang sedang berdiri di hadapannya.
"Kamu mau pulang ke kampung? Kok mendadak Ri?" ucap Iqbal.
"Gak mendadak kok Mas, aku sudah bilang ke papah jika weekend ini aku pulang cuma aku lupa belum ke kamu." ucap Riana sambil tersenyum malu.
Iqbal langsung memasang wajah cemberut karena merasa tidak penting bagi Riana.
"Ya sudah aku sama Kiara ikut kamu saja ke kampung pak Raka, sekalian liburan di sana. Oke." ucap Iqbal.
Riana langsung melebarkan matanya karena kaget mendengar keinginan Iqbal.
"Jangan deh aku belum bilang papah tentang hubungan kita. Aku kesana mau bilang masalah ini, masa mas ikut." ucap Riana merasa keberatan.
Iqbal langsung menghentikan kegiatannya dan berjalan menghampiri Riana. Kini Iqbal berdiri di hadapan Riana. Kemudian berkata.
"Boleh gak boleh harus boleh sayang, Kiara pasti senang jika ke kampung halaman kamu." ucap Iqbal.
__ADS_1
Riana akhirnya pasrah dan dia tidak punya alasan lagi untuk menolak keinginan Iqbal, apalagi dia membawa nama Kiara, semakin ke sini Riana semakin menyayangi Kiara.
"Iya boleh deh, tapi kesana sedikit mas, takut ada yang masuk." ucap Riana sambil mendorong Iqbal supaya menjauh dari dirinya.
Bukannya menjauh tapi malah Iqbal semakin mendekat ke Riana. Iqbal menarik tangan Riana hingga mereka berpelukan. Iqbal pun berbisik
"Siapa yang berani masuk ke ruanganku, aku kangen sama kamu sayang." bisik Iqbal.
Riana seketika merinding mendengar bisikan Iqbal di telinganya. Riana terpaku melihat Wajah Iqbal mendekat ke arahnya.Sebelum bibir mereka menyatu tiba - tiba dari arah pintu ada seseorang yang membuka pintu.
"Pak Iqbal ini ada laporan yang perlu anda periksa..." ucap Soni yang kaget melihat adegan di depan matanya. Dia langsung menundukkan wajahnya dan berkata.
"Maafkan saya pak." ucap Soni lalu langsung menutup pintu kembali.
Sontak Iqbal kesal karena sudah di ganggu oleh Asistennya itu. Soni Memang sudah terbiasa keluar masuk ruangan Iqbal tanpa mengetuk pintu.
Riana terkekeh karena merasa lucu dengan Iqbal. Karena tidak mau rugi Iqbal menempelkan bibirnya sekilas ke bibir Riana. Kemudian melepaskan pelukannya.
Riana langsung terpaku sejenak kemudian memukul lengan Iqbal. Dia lalu bergegas keluar dari ruangan. Di depan pintu Soni masih berdiri di sana menunggu Riana keluar.
Soni hanya tersenyum canggung dan masuk kembali ke ruangan Iqbal.
Di dalam ruangan Iqbal memasang wajah kesalnya. Dia lalu bertanya ke Soni.
"Ada apa Son? Kamu bukannya ketuk pintu dulu malah langsung nyelonong aja. Ganggu tahu gak?" ucap Iqbal ketus.
Soni langsung menunduk dan meminta maaf ke Iqbal.
"Maaf pak biasanya juga saya langsung masuk aja. Gak tau di dalam ada mbak Riana." ucap Soni.
"Ya sudah lah, tapi lain kali jika ada Riana ada di dalam ruangan ini kamu harus mengetuk pintu dulu ya. Tadi apa yang mau kamu laporkan sepertinya penting." ucap Iqbal
"Begini pak saya mendapat sebuah kejanggalan ketika saya memeriksa laporan keuangan di kantor cabang Depok. Ada ketidak sesuaian Antara laporan yang ke pusat dan laporan yang sebenarnya di kantor cabang. Silahkan bapak periksa dahulu." ucap Soni.
__ADS_1
"Kok bisa seperti ini? Berarti laporan yang masuk ke kantor pusat itu sudah di rekayasa? Kamu dapat laporan yang benar dari mana Son?" ucap Iqbal.
"Saya dapat dari karyawan kantor cabang Depok pak, tapi dia tidak mau memberitahu nama dia siapa." ucap Soni.
"Baiklah kalau begitu, segera selidiki siapa yang bermain curang di sana. Setelah mendapatkan siapa orangnya segera laporkan ke saya." ucap Iqbal
"Baik pak akan saya selidiki, kalau begitu saya permisi dulu pak." ucap Soni.
"Ya silahkan son." ucap Iqbal.
Begitu Soni keluar dari ruangan, Iqbal memeriksa kembali kertas laporan yang di berikan oleh Soni tadi.
"Ternyata ada tikus yang sedang bermain - main denganku. Sejauh mana dia akan bisa melarikan diri." gumam Iqbal dalam hati.
Iqbal sudah terbiasa menghadapi tikus - tikus yang menggerogoti keuangan perusahaannya. Padahal Iqbal sudah mengantisipasi kejadian seperti itu agar tidak terulang dengan menaikkan kesejahteraan karyawannya.
Tapi selalu saja terjadi hal yang sama. Kali ini Iqbal tidak akan memberi toleransi kepada karyawannya yang sudah korupsi, dia akan melaporkan ke pihak berwajib jika terbukti orang itu tidak dapat mengganti kerugian perusahaan. Untuk memberi efek jera ke karyawan yang lainnya, supaya tidak berbuat hal itu lagi.
Selama ini jika terjadi penyelewengan, Iqbal mengatasinya dengan cara kekeluargaan, karena dia merasa tidak perlu sampai ke pihak berwajib. Tapi kebaikannya malah di manfaatkan oleh oknum yang tak bertanggung jawab dengan mengulangi perbuatan itu lagi.
Mungkin karena Iqbal terlalu baik, mereka merasa tidak takut jika melakukan penyelewengan. Kali ini sudah saatnya Iqbal untuk tegas.
Karena terlalu memikirkan masalah yang terjadi di kantor cabang, Iqbal tidak melihat jam yang sudah menunjuk pukul lima sore, sudah waktunya untuk pulang.
Iqbal segera membereskan mejanya dan bergegas untuk keluar dari ruangan. Dia melihat Riana yang sudah bersiap untuk pulang sedang menunggu Iqbal sambil bermain ponsel.
"Sayang kok kamu tidak memberitahu aku jika sudah jam Lima, biasanya kamu langsung masuk ruangan untuk mengajakku pulang." ucap Iqbal.
"Tadinya aku mau masuk ajak mas pulang, tapi aku lihat mas sedang fokus di depan laptop, aku pikir masih ada yang harus di kerjakan, jadi ya aku tunggu saja." ucap Riana.
Iqbal merasa beruntung bisa kenal dengan Riana, karena dia pengertian.
"Ya sudah yuk pulang sudah sore. Mau mampir makan dulu gak yang?" ucap Iqbal.
__ADS_1
"Mas lapar? Jika iya ya ayo saja." ucap Riana.
Iqbal hanya menganggukkan kepala, akhirnya mereka berdua berjalan beriringan menuju ke basement. Tanpa di duga Iqbal melihat seseorang yang saat ini sedang tidak ingin dia temui datang ke kantor. Padahal sudah ada larang untuk orang itu datang ke kantor.