Sahabatku Maduku

Sahabatku Maduku
Bab Seratus Delapan Belas


__ADS_3

Pagi dini hari Melati masih belum bisa memejamkan matanya. Dari sehabis magrib ia sudah merasakan pinggangnya yang mulai sakit.


Ia sengaja tak mengatakan pada Rangga agar suami posesifnya itu tak kuatir.


Melati menunggu sampai rasa itu tak bisa ditahan lagi, baru ia mengatakan pada suaminya. Ia tak mau lama lama di rumah sakit.


"Pi, papi... "Ucap Melati mengguncang tubuh Rangga


"Ada apa sayang... pengin ya"


"Papi, aku nggak lagi pengin itu.... "


"Jadi kenapa sayang"ucap Rangga masih dengan mata yang agak tertutup


"Pinggangku sakit.. "


"Sini sayang, lebih dekat tidurnya. Biar aku elus"


"Papi... sepertinya aku mau melahirkan"


"Apaaa.... "ucap Rangga kaget dan langsung duduk


"Aku rasa mau lahiran, pi"ulang Melati


"Kamu betul mau lahiran,sayang.Jadi aku harus bagaimana sayang"ucap Rangga gugup


"Ya ke rumah sakit pi"ucap Melati meringis menahan sakit


"Kalau gitu ayo kita ke rumah sakit "ucap Rangga langsung turun dari ranjang menuju pintu


"Pi, emang papi mau kerumah sakit hanya dengan memakai boxer gitu"


"Astaga, kamu kok nggak ngomong, sayang"


"Itu yang tadi ngomong siapa"


"Sayang, yang sakit apa sih"ucap Rangga sambil berpakaian, ia mulai tampak panik


"Seluruh badan ini terasa sakit pi kalau mau lahiran tuh"


"Kamu aku gendong aja ya"ujar Rangga langsung menggendong Melati dan ia menurunkan Melati di sofa ruang tamu.


"Aku hubungi mami dulu ya, sayang"


"Iya, pi. Cepet dikit, pinggang dan perutku makin terasa sakit "


"Iya sayang"ucap Rangga mengambil ponselnya dan menghubungi mami. Lama dihubungi, baru mami mengangkat ponselnya


"*Ada apa Rangga, malam malam mengganggu aja"


"Mi, Melati mau lahiran "


"Apa, lahiran"


"Iya, mi. Temani aku kerumah sakit mi. Dan tolong bangunkan kak Rachel buat jaga Nabila"


"Iya, kamu siapin mobil. Bawa pakaian yang disiapkan Melati buat bawa ke rumah sakit"


"Iya Mi*"


Setelah itu Rangga langsung menutupi sambungan ponselnya.


Rangga langsung menghampiri Melati yang sedang memegang pinggangnya yang makin terasa sakit.


"Sayang, mami bilang bawa tas isi perlengkapan bayi buat di rumah sakit "

__ADS_1


"Ambil itu tas koper yang disamping lemari pi. Yang aku tunjukin sama papi kemarin"


"Oke sayang, kamu tunggu ya"


Rangga langsung berlari kembali ke lantai atas mengambil tas koper itu.


Setelah itu Rangga membawa tas masuk ke dalam bagasi mobil. Ia lalu menggendong Melati dan mendudukkan di jok belakang. Baru Rangga akan masuk mobil tampak mami dan kak Rachel datang.


"Mana Melati nya, Ngga"


"Udah di dalam kak"


"Kalau gitu berangkatlah, beri kabar sama Kakak ya... nanti pagi kak Rachel nyusul dengan anak anak"


"Mami berangkat lagi Rachel. Jaga baik baik cucu mami"


"Iya mi.... "


Rangga menjalankan mobil dengan kecepatan yang lumayan cepat. Beruntung jalanan sepi karena jam masih menunjukan pukul tiga pagi.


Melati ada dalam pelukan mami sambil ia mengusap pinggang dan perutnya.


"Bagaimana sayang masih sakit ya"tanya Rangga


"Tentu aja Rangga, sakitnya terasa sampai anak lahir dan makin dekat kelahiran semakin sakit yang terasa. Kamu tak akan bisa menahannya, seperti kata dokter, sakitnya seperti dua puluh tulang dipatahkan secara serempak "


"Sayang, bertahan ya sebentar lagi kita sampai rumah sakit"


"Tahan ya nak... "ucap mami masih mengelus pinggang Melati


"Ya.. mi... "ucap Melati sambil menahan rasa sakit yang makin lama makin terasa intens.


"Mi, aku pipis... "ucap Melati malu


"Iya mi"jawab Rangga panik


"Konsentrasi, walau dipercepat kamu harus hati hati. Kamu sudah menghubungi dokter tadikan"


"Sudah mi... "


Mobil memasuki halaman rumah sakit, Rangga segera menggendong Melati dan membawa masuk ke ruang IGD.


"istrinya kenapa pak... "tanya perawat melihat Rangga menggendong Melati menuju IGD


"Mau lahiran, dokter Zulaida nya mana"


"Oh, kalau mau lahiran sebaiknya jangan IGD pak, mari sini... bawa masuk pak. Dan tidurlah di kasur itu, saya panggilkan dokter"ucap Perawat setelah Melati dibaringkan di ruang persalinan. Mami mengikuti dari belakang.


"Sayang, mana yang sakit.. "


"Semuanya, perut, pinggang, dan badan"


"Aku harus bagaimana biar sakitnya hilang syang"


"Nggak ada pi, jangan tinggalkan aku sendiri, itu aja"


"Mi, apa nggak ada obat untuk menghilangkan sakit yang dirasakan Melati"


"Nggak ada Rangga,itu memang proses alami ketika wanita akan melahirkan"


Dokter Zulaida masuk bersama dua bidan pembantu.


"Dokter, tolong istri saya. Tolong hilangkan rasa sakitnya"


"Sebentar ya pak Rangga, saya periksa dulu bukaan istri anda"

__ADS_1


"Bukaan apa dok... " tanya Rangga heran


"Bukaan buat jalan lahirnya putra anda"


"Cepat periksa dok.. kasihan Melati, lihat keringat sudah membasahi tubuhnya karena menahan sakit"


"Ya pak"ucap Dokter dan memeriksa Melati. Ia lalu memeriksa bukaan buat jalan lahir


"Ternyata udah bukaan sembilan. Sebentar lagi istri anda lahiran. Ibu Melati nanti jika saya minta ibu mengejan, ibu tarik nafas dalam dalam baru ibu mengejan ya"


"Ya dok... "jawab Melati lemah sambil terus menggenggam tangan Rangga menahan rasa sakit.


Rangga yang merasa kuatnya genggaman tangan Melati, tahu jika istrinya itu sedang menahan rasa sakit.


Rangga menangis melihat istrinya yang meringis menahan sakit.



"Sayang, apa yang harus aku lakukan agar sakit yang kamu rasakan bisa berkurang "ucap Rangga sambil menangis


"Nggak ada pi, pegang aja tanganku. Biar aku kuat"


" Iya sayang, kamu harus kuat ya. Sebentar lagi putra kita lahir "


"Iya pi... "


"Dokter, aku sudah nggak tahan,apa aku sudah boleh mengejan.... "ucap Melati makin mempererat genggaman tangannya dengan Rangga.


"Mami, bantu Melati"ucap Rangga memohon,karena melihat Melati yang menahan sakit.


"Rangga, nggak ada yang bisa mami bantu. Cuma doa aja nak. Kamu tenang sebentar lagi Melati pasti lahiran"


"Ibu Melati ini sudah saatnya ibu mengejan. Saya hitung sampai sepuluh, ibu tarik nafas kuat kuat dan mulai mengejan ya"ucap dokter Zulaida


Dokter lalu memulai hitungan, Melati menarik nafas kuat kuat dan mengejan sekuat tenaga, sampai kepala dan punggungnya terangkat. Tapi anaknya belum juga keluar.


"Sekarang tahan dulu bu, kita coba lagi. Ibu tarik nafas kuat seperti tadi lalu mengejan ulang."


Melati menarik Nafasnya dalam dalam dan mulai mengejan kembali, Melati berteriak. Tapi anaknya belum juga tampak keluar, hanya rambutnya yang udah keliatan.


"Dokter, saya sudah nggak kuat"ucap Melati akhirnya karena udah beberapa kali mencoba masih gagal. Ia merasa sangat lelah.


Rangga semakin kuatir dan kasihan melihat istrinya yang berjuang melahirkan buah hati mereka.


"Sayang, kamu harus kuat. Jangan menyerah "ucap Rangga mengusap kepala Melati


"Ibu kita coba lagi. Ini rambut anak ibu sudah kelihatan. Ibu harus kuat... "


Dokter mengarahkan Melati buat mencoba mengejan lagi. Melati kembali menarik nafasnya kuat. Kali ini bidan membantu bayi keluar dengan mendorong dari perut Melati.


Rangga tak bisa menahan tangisnya melihat Melati yang masih terus berjuang melahirkan.


"Ya Tuhan bantu Melati, beri ia kekuatan agar dapat melahirkan bayi kami"


Setelah di bantu bidan akhirnya bayi Melati keluar. Terdengar suara tangisan bayi menggema diruangan itu.


Rangga melihat bayinya keluar dari perut istrinya tak bisa menahan tangisnya. Ia terisak dan langsung memeluk Melati.


"Selamat pak Rangga, dan ibu Melati, anak bapak laki laki.... "ucap Dokter.


Rangga menarik nafas lega dan tak berhenti mengucapkan syukur.


******************************


Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini

__ADS_1


__ADS_2