Sahabatku Maduku

Sahabatku Maduku
BAB 59


__ADS_3

Pagi hari setelah mendapat perintah dari Iqbal, Soni langsung menuju ke kantor cabang dimana Damar bekerja.


Dia menyuruh Damar untuk menghadap. Damar yang di panggil merasa heran, karena tidak biasanya Soni asisten Iqbal berkunjung ke kantor cabang ini.


Dia merasa takut jika kelakuan dia tercium oleh Soni. Dengan wajah yang tegang Damar masuk ke dalam ruangan Soni.


"Selamat pagi pak Soni? Ada apa anda memanggil saya?" ucap Damar.


"Begini pak Damar, setelah melakukan penilaian tentang kinerja karyawan selama beberapa bulan ini, ternyata kinerja anda termasuk dalam yang terburuk pak, jadi dengan sangat menyesal anda tidak bisa lagi menjabat sebagai direktur keuangan di perusahaan ini, kami memberikan solusi bagaimana jika anda menduduki posisi manager kembali karena manager keuangan di perusahaan ini kebetulan sedang kosong. bagaimana pak Damar anda bersedia?" ucap Soni tegas.


Damar sangat bingung kenapa tiba - tiba jabatan dia di turunkan menjadi manager, padahal sudah beberapa tahun ini dia menjadi direktur keuangan.


"Kinerja seperti apa ya pak? Saya merasa tidak pernah melanggar peraturan perusahaan, kenapa kinerja saya terburuk? Dan kenapa sangsinya adalah penurunan jabatan? Saya rasa ini tidak adil." ucap Damar.


"Tapi ini sudah menjadi keputusan dari pimpinan pak, saya tidak bisa merubahnya. Jika anda mau mulai besok anda bekerja menjadi manager keuangan." ucap Soni.


"Tapi pak...," ucap Damar lagi.


"Kalo bapak keberatan bapak bisa mengajukan surat pengunduran diri." ucap Soni lagi.


Damar berfikir lagi, tidak mungkin dia keluar dari perusahaan ini, karena tidak ada perusahaan lain yang menggaji karyawannya sebesar perusahaan ini. Jadi dengan berat hati Damar menyetujui jika dirinya kembali menjadi manager keuangan di perusahaan itu.


Setelah Soni mempersilahkan Damar pergi dia menghubungi Iqbal.


"Pak perintah sudah di laksanakan." ucap Soni


"Bagus Son, jika nanti Istri dari Damar membuat ulah kembali, segera pecat Damar." ucap Iqbal.

__ADS_1


"Baik pak." ucap Soni.


Setelah itu Soni kembali ke kantor pusat. Damar yang sedang membereskan barang - barangnya untuk di pindahkan ke ruangan barunya yang lebih kecil dari ruangan direktur.


Karyawan yang disana melihat Damar dengan tatapan mencemooh, karena selama Damar menjadi direktur keuangan dia terlihat semena - mena terhadap karyawan lainnya, sikap Danar yang sombong dan angkuh terlihat seperti pemilik perusahaan.


"Lihat tuh, akhirnya dia tidak menjadi direktur lagi, sudah tidak setia angkuh lagi, ini karma buat dia." ucap salah satu karyawati di kantor itu.


"Iya sekarang dia sudah tidak bisa semena - mena lagi terhadap kita, pekerjaan kita selalu di akui oleh dirinya hingga dia di percaya untuk menjadi direktur keuangan." ucap Salah satu temannya.


"Ssstt jangan keras - keras nanti orangnya denger loh, dia lagi di dalam kan, sedang membereskan barang pribadinya?" ucap Teman satunya lagi.


Saat melihat damar keluar membawa kardus yang berisi barang - barangnya karyawan yang sedang bergosip itu langsung diam.


"Kenapa kalian langsung diam? Silahkan lanjutkan omongan kalian. Awas aja kalian akan aku pecat setelah aku dapat jabatan direktur lagi." ucap Damar.


Damar langsung pergi menuju ke ruangannya yang terletak di pojok. Dan hanya di batasi sekat saja, sudah tidak ada lagi ruangan pribadi, dan fasilitas mewah lainnya.


Sungguh miris nasib dari damar setelah bercerai dengan Riana.


Saat sedang duduk di kursinya ponselnya berdering. Ternyata dari Risa, Damar enggan menerima panggilan itu, tapi sedari tadi berbunyi terus.


"Halo ada apa? Kamu tahu kan aku lagi kerja?" ucap Damar.


"Jangan marah - marah dong mas, aku mau ke kantor mas, tadi aku masak kesukaan mas kita makan siang bareng ya di kantor." ucap Risa.


"Gak usah ngapain juga kamu ke sini. Sudah dulu aku sibuk." ucap Damar lalu dia mematikan ponselnya.

__ADS_1


Risa yang belum selesai berbicara langsung mengumpat kesal. Padahal dia sedang berusaha mengambil hati Damar kembali karena dia tidak ingin di ceraikan oleh Damar.


"S*al kenapa harus di matiin sih teleponnya aku kan belum selesai berbicara. Apa aku langsung ke kantor saja? pasti tidak akan di usir kan?" ucap Risa


Risa bersiap - siap untuk pergi ke kantor Damar, Risa seperti tidak punya malu karena dengan pede nya dia ke kantor Damar setelah video dia viral di medsos.


Sesampainya dia di kantor Damar, dengan pongahnya dia berjalan menyusuri lobi dan menuju lift dia akan naik ke ruangan suaminya itu.


Bisik - bisik karyawan disana terdengar jelas di telinga Risa namun di cuekin oleh Risa. Dia berjalan menuju ke ruangan Damar, Risa tidak mengetahui jika Damar sudah tidak menjadi direktur lagi di kantor itu.


Dia langsung masuk saja ke ruangan direktur. Ruangan itu ternyata kosong, sekretaris juga tidak ada. Saat akan pergi karena tidak ada orang di ruangan, Risa melihat Damar sedang duduk di di meja yang di sekat.


"Mas kamu ngapain kerja disini? Bukannya ruangan kamu disana?" ucap Risa yang mengagetkan Damar.


"Risa kenapa kamu kemari? sudah aku bilang jangan kemari kenapa kamu bandel?" ucap Damar.


Dengan cepat Damar menarik tangan Risa untuk ke tempat yang sepi.


"Mas jelaskan kenapa mas kerja di ruangan itu? Kamu kan direktur kenapa malah kerja disana." ucap Risa


"Sekarang aku sudah bukan direktur lagi, sekarang aku manager." ucap Damar dingin.


"Kenapa bisa begitu? Gak gak mungkin mas. Kenapa kamu tidak protes?" ucap Risa emosi.


"Kenapa kamu yang emosi? Sudahlah lebih baik kamu pulang sana dan jangan pernah lagi datang ke kantor ini." ucap Damar.


Damar langsung pergi meninggalkan Risa seorang diri. Risa menjadi bingung kenapa dengan sekejap Damar sudah tidak menjadi direktur lagi.

__ADS_1


__ADS_2