
Hari ini ulang tahun mama Willy yang ke lima puluh lima. Semua keluarga berkumpul di salah satu restoran di kota itu.
Shinta dan mas Deni serta anaknya juga ikutan hadir. Semua tampak sangat bergembira.
Weni yang datang bersama temannya Linda juga memasuki restoran yang sama.
"Tumben Lu mau diajak makan di luar, biasanya nggak mau"ucap Linda
"Biasanya gue tak diizinkan keluar jika tidak bersama tante gue. Gue nggak tahu juga, mengapa mama dan tante sangat protektif ama gue. Semua dilarang. Sejak gue wisuda baru sedikit diberi kebebasan. Tapi seperti nya tidak berlangsung lama juga, karena papa dan mama maunya gue kerja ditempat kelahiran gue. Nggak boleh di kota ini"ujar Weni
"Gue juga heran, sepertinya keluarga lu nggak boleh Lu bergaul dan mengenal dunia luar. Seperti ada ketakutan gitu"
"Gue juga berpikir begitu.. seperti ada yang sesuatu yang disembunyikan"
"Wen... kalau gue tak salah, itukan bokap lu"
"Mana... "tanya Weni
"Itu.. yang lagi berkumpul dengan satu keluarga. Itu keluarga bokap Lu ya.. "
"Ya itu bokap gue. Gue tak pernah tahu dan mengenal keluarga bokap gue. Apa itu semua keluarganya ya.. "gumam Weni
"Samperin aja sana... "
"Tapi mengapa jantung gue jadi berdetak begini Lin. Gue jadi gugup... Gue jadi takut Lin, gue samperin apa nggak ya"
"Lu juga harus kenal dengan keluarga bokap Lu.. mengapa Lu takut"
"Gue kesana dulu ya. Lu tunggu disini aja.. "Ucap Weni dan berdiri mendekati meja Papanya.
"Selamat malam Pa. Papa kok ada disini, katanya papa lagi ada urusan bisnis.. "ucap Weni gugup.
Semua keluarga Willy memandangi Weni dengan intens. Tak ada yang bersuara, semua kaget mendengar Weni memanggil papa dengan papa Erwin. Terutama mama Elly
__ADS_1
"Kamu Willy.. mantan suami Melatikan"ucap Weni lagi
"Kamu.. ngapain kamu disini. Dan mengapa panggil papaku dengan sebutan papa"
"Weni.. papa mau bicara.. "ucap Papa berdiri dan ingin membawa Weni pergi.
Langkah papa dihentikan mama. Ia memandangi papa dengan muka merah menahan marah.
"Apa maksud ini semua Pa.. coba jelaskan disini dan sekarang juga mama mau dengar "
"Ma.. aku bisa jelaskan nanti dirumah... malu jika disini "
"Mengapa harus malu. Memangnya apa yang papa lakukan dan apa yang ingin papa jelaskan, mengapa tidak bisa disini"ucap Mama dengan suara yang mulai meninggi
"Papa... apa maksud semua ini. Mengapa Willy mengatakan jika papa adalah papanya"tanya Weni.
"Papa akan jelaskan nanti, sekarang papa minta kamu pulang. Papa dan mama sudah sering bilangkan, kamu tak boleh keluar rumah tanpa tantemu"
"Mengapa.. apa karena papa ingin menyembunyikan ini dari aku. Papa memiliki keluarga lain... "
Shinta langsung berdiri dan memeluk lengan mamanya.
"Ma.. jangan berteriak disini. Mama lihat semua mata pengunjung restoran memandang ke arah kita. Papa harus menjelaskan ini semua. Kami menunggu papa dirumah. Ma ayo kita pulang"
"Aku mau kamu jelaskan sekarang juga"teriak mama Elly lagi.
"Ma.. sudahlah. Kak Shinta benar, mama jangan mempermalukan diri mama. Nanti jika ada kenalan yang melihat bisa malu"ucap Willy
"Anak jal*ng,katakan siapa kamu"ucap Mama masih berteriak
"Aku anak papa Erwin.. aku bukan anak jal*ng,kamu harus jaga mulutmu.Seharusnya kamu bisa menjaga ucapanmu, kamu sudah tua"
Plak.. ..mama Willy menampar pipi Weni dengan keras.
__ADS_1
'Jika kamu bukan anak jal*ng berarti mama kau pasti wanita jal*ng,l*nte,pel*cur "
"Ma.. sudah. Mama tak boleh berkata begitu, bagaimanapun ia anakku juga"
"Aapa... jadi kamu sekarang mengakui jika wanita ini anakmu.Jadi selama ini kamu telah membohongi dan mengkhianati aku"ucap Mama sambil memegang dadanya.
Mama Elly masih terus memegang dadanya dan akhirnya pingsan. Untung mama Elly dipegang Shinta sehingga ia tidak terjatuh.
"Papa keterlaluan... papa harus menjelaskan ini semua padaku dan Willy"ucap Shinta menangis.
"Selama ini aku mengira aku lelaki b*jingan karena telah menduakan istriku, ternyata kau lebih bajing*n lagi, kau menyembunyikan ini selama ini dari kami. Untung aku masih menghormati kau sebagai papa aku, jika tidak telah aku buat kau babak belur"ujar Willy emosi
"Papa jahat.. papa telah membohongi aku selama ini"ucap Weni berlari keluar restoran. Linda yang mendengar dan menyaksikan itu semua mengejar Weni yang berlari.
Papa Erwin tak mengejar Weni karena ia harus menggendong mama Elly dan akan membawanya kerumah sakit terdekat.
"Aku kira hanya papa lah lelaki yang cukup baik di dalam keluarga ini. Aku, Dan Willy sama sama mengkhianati istri kami. Ternyata papa jauh lebih buruk dari kami berdua. Ia telah memiliki anak yang sudah gadis dan menyembunyikan ini dari mama selama bertahun tahun."
Deni lalu menggandeng tangan anaknya,membawa pergi dari restoran itu. Willy dan Shinta serta papa membawa mama ke rumah sakit. Deni harus pulang kerumahnya dulu untuk mengunci rapat seluruh rumah, baru menyusul kerumah sakit.
Weni menangis didalam pelukan Linda. Mereka sudah berada di dalam taksi.
"Linda.. aku tak mengira jika papa aku memiliki keluarga lain. Tapi yang lebih tak bisa aku terima, ternyata mama aku yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga papa. Aku malu Lin. Aku sebenarnya tak menyalahkan wanita itu jika ia marah dan menampar aku. Tapi sebagai anak aku juga tak bisa terima ibu aku dihina. Aku sekarang mengerti mengapa mama tak mengizinkan aku keluar tanpa tante. Dan kenapa papa dan mama jarang tampil berdua. Pantas mama melarangku mendekati lelaki bersuami, pasti selama ini mama merasakan ketidak nyamanan sebagai simpanan. Mengapa mereka bisa menyembunyikan selama ini"ucap Weni dengan terisak
"Kamu tidak boleh langsung menghakimi kedua orang tuamu. Maaf...aku juga tak pernah setuju yang namanya perselingkuhan, walau bagaimana pun yang namanya orang ketiga itu tetap salah.Tapi kamu sebagai anak harus mendengar alasan mengapa ibumu sampai melakukan ini"
"Aku malu.. apapun alasannya mama tetap salah, karena telah merampas yang bukan miliknya. Dan mama aku adalah perusak rumah tangga seseorang. Aku tak tahu harus bagaimana saat ini. Aku boleh menginap dirumah kamu untuk sementara ini. Aku belum bisa menerima penjelasan Apapun dari tante atau mama aku. Mereka telah membohongi dan membodohi aku selama ini"
Linda membawa kepala Weni bersandar dibahunya dan membiarkan Weni menangis.
"apa yang akan dikatakan teman teman aku jika ia tahu aku adalah anak dari seorang wanita simpanan. Melati pasti tahu semua ini. Pantas ia begitu kaget melihat papa saat itu. Dan berarti papa mengajak Melati bicara agar ia menyembunyikan kebenaran ini. Berarti aku dan Willy bersaudara. Dan Nabila juga ponakan aku. Rangga pasti sudah tahu juga kenyataan ini. Apa yang mereka pikirkan tentang aku.. Aku malu.. "
*******************************
__ADS_1
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini. Biasanya minggu aku beri double up kali ini aku beri hari senin, biar lebih semangat beraktivitas. Semoga kita semua selalu dalam lindunganNya dan diberi kesehatan. Semoga saudara kita yang sedang mengalami musibah di beri ketabahan. Aamiin