Sahabatku Maduku

Sahabatku Maduku
BAB 39


__ADS_3

Pak Raka langsung pergi menuju ke teras depan dimana tamunya berada. Riana dan Iqbal mengikuti dari belakang.


Ternyata tamu itu adalah kakak dari almarhum ibu Riana yang bernama budhe Sumi, yang terkenal judes dan sombong.


"Eh mbakyu tumben datang kemari ada urusan apa ya mbak?" ucap Pak Raka yang menyalami mbak Sumi.


Iqbal dan Riana mengikuti pak Raka dengan menyalami budhe Sumi


Masih dengan gaya angkuhnya dia berkata.


"Loh kamu ada disini Ri? Dan ini siapa? Calon suami kamu? Hebat ya baru beberapa bulan bercerai bisa dapat mangsa baru." ucap bude Sumi.


Riana hanya mengepalkan tangannya saja mendengar ocehan dari budhenya itu. Pak Raka menenangkan Riana yang sedang emosi itu.


"iya mbak ini calon suami dari Riana. Mbakyu kesini ada apa ya?" ucap Raka.


"Begini Raka, Si umi kan sebentar lagi mau menikah mbak kesini mau pinjam uang buat biaya pernikahan. Gak banyak kok cuma lima puluh juta saja." ucap Budhe Sumi


Pak Raka menghembuskan nafas kasar, bukannya dia tidak mau membantu tetapi sudah banyak yang di hutang oleh Sumi tapi tidak pernah di bayar sama sekali oleh Sumi.


Sudah ratusan juta yang di pinjam oleh Sumi dengan alasan yang macam - macam. Tidak pernah sekalipun di bayar oleh Sumi. Pak Raka hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan kakak dari almarhum istrinya itu.


"Maaf mbakyu, Karena Riana akan menikah lagi dalam waktu dekat ini, jadi aku tidak bisa meminjamkan uang tabungan itu ke mbakyu. Mbakyu bisa pinjam ke saudara yang lainnya saja." ucap Raka.


Terlihat budhe Sumi seperti menahan emosi, dia mengepalkan tangannya. Kemudian berkata.


"Riana cukup menikah di KUA saja kan dia j*nda, beda dengan Umi karena dia gadis jadi harus di bikinkan acara yang meriah. Kamu tidak kasihan dengan keponakanmu? Jika Mawar masih hidup pasti dia tidak segan - segan membantu ku." ucap Sumi dengan emosi.


Dengan kesal Raka menimpali ucapan Sumi.


"Sudahlah mbakyu, sudah berapa yang aku keluarkan untuk mbakyu? Bilangnya hutang tapi tidak pernah di bayar, sekarang bayar dulu hutang mbakyu ke aku, nanti aku bakal kasih pinjam lagi." ucap Raka.


Budhe Sumi langsung pucat pasi di tagih oleh pak Raka.


"Kamu sama keluarga kok perhitungan, nanti kalo ada rejeki pasti di bayar kok, jangan pelit kamu ke saudara. Pantas saja sekian lama menikah Riana tidak memiliki anak ternyata gara - gara Kamu pelit ke saudara." ucap Bu Sumi


Pak Raka langsung emosi mendengar hinaan dari Sumi.

__ADS_1


"Jangan hina Riana mbak, silahkan mbak pergi dari rumah ku, dan pinjam ke orang lain saja. Aku tidak akan pernah meminjamkan uang sepeserpun kepada mbakyu." ucap Raka.


Sumi tidak terima di usir seperti itu oleh Raka, yang notabene nya adalah iparnya. Dengan suara yang keras dia berteriak.


"Oh kamu mengusirku Raka? percuma kaya tapi pelit ke saudara, Dasar pelit." ucap Sumi


Budhe Sumi langsung meninggalkan rumah pak Raka tanpa pamit ngeloyor begitu saja. Dia menghidupkan motor yang terparkir di halaman rumah dan pergi secepat kilat dari sana.


"Pah kenapa sih budhe jika kesini selalunya pinjam duit, jarang - jarang kesini, sekalinya kesini jika butuh tok, Aneh tu orang." ucap Riana.


"Hush begitu juga budhe kamu, tidak boleh berkata seperti itu." ucap Pak Raka.


"Kenapa tidak di pinjamkan saja Pah uangnya? Untuk biaya pernikahan ku dan Riana biar aku saja yang tanggung, papah dan Riana tidak perlu memikirkan biayanya." ucap Iqbal.


Raka langsung tertawa lebar, dia menepuk pundak Iqbal.


"Tidak nak, budhe sudah banyak berhutang ke papah, jadi kali ini tidak akan papah beri, pernikahan Riana hanya untuk alasan saja, dan papah yakin kamu pasti akan berkata seperti itu. Biaya di tanggung kamu, tapi papah juga ingin turut andil di pernikahan kalian ini, semoga pernikahan kalian nanti menjadi yang terakhir ya." ucap Pak Raka.


Setelah kejadian budhe Sumi datang, mereka bertiga pergi untuk makan siang yang sudah di siapkan oleh Bi Yasmin. Setelah makan siang Riana dan Iqbal berkemas untuk pulang ke kota.


"Kalian akan pergi sekarang? Padahal papah masih ingin bersama dengan cucu papah ini." ucap pak Raka sambil mencubit pipi Kiara.


"Iya Pah soalnya besok kan Kiara sekolah dan kita kerja, jadi harus pulang sekarang, kapan - kapan kita kesini lagi deh." ucap Riana.


"Iya kakek kapan - kapan Kiara kesini lagi ya, nanti kita jalan - jalan keliling kebun teh lagi." ucap Kiara.


"Iya iya hati - hati di jalan ya, bawa mobilnya jangan ngebut Iqbal." ucap Pak Raka, dan di angguki oleh Iqbal.


Iqbal memasukkan semua barang - barang bawaan Riana dan dirinya ke dalam mobil, mobil semakin sempit karena mereka membawa oleh - oleh yang di berikan oleh Raka.


Mereka bergantian menyalami pak Raka, kemudian masuk ke dalam mobil, Kiara sudah duduk di car seat dengan tenang. Dia melambaikan tangan ke arah pak Raka ketika mobil sudah mulai jalan.


"Papah nanti kita ke rumah kakek lagi ya? Tadi pagi seneng banget pergi sama kakek." ucap Kiara.


"Iya nak nanti kita ke rumah kakek lagi." ucap Iqbal.


Mobil mereka sudah memasuki tol untuk kembali ke ibukota. Selama di rumah Riana Iqbal sama sekali belum memberitahu Kiara jika Ibunya ingin bertemu dengan Kiara.

__ADS_1


Berkali - kali Sofia menelepon dan mengirim pesan ke Iqbal tapi sama sekali tidak di hiraukan oleh Iqbal.


Beberapa kali Iqbal berhenti di rest area, untuk beristirahat. Hingga sekitar jam 7 malam akhirnya mereka sampai di kost Riana.


"Mau mampir dulu apa gak mas?" ucap Riana.


"Gak deh sayang, Mas mau langsung pulang saja, karena Kiara juga sudah tidur. Kasihan kalo di bangunkan." ucap Iqbal.


"Oh ya sudah hati - hati di jalan ya mas, jangan ngebut oke." ucap Riana.


Riana langsung keluar dari mobil dan berjalan menuju ke kamar kostnya membawa koper besar lagi yang isinya oleh - oleh dari kampung untuk penghuni kost lainnya.


Iqbal langsung meluncurkan mobilnya meninggalkan kost Riana.


"Ri.. Baru balik dari kampung?" sapa Siska yang sedang berkumpul dengan penghuni kost.


"Iya nih kebetulan kalian semua ada disini. Nih ada sedikit oleh - oleh dari kampung. Buka aja terus bagi ke semuanya ya, aku tak ke kamar dulu mau bersih - bersih nanti aku ke sini lagi." ucap Riana.


Penghuni kost sangat antusias mendapat oleh - oleh yang di bawa oleh Riana. Siska yang membuka koper Riana, di dalam koper terdapat banyak berbagai jajanan khas kampung halaman Riana.


Mereka membagi secara merata, hingga koper itu sudah kosong tidak ada isinya lagi. Mereka pun melanjutkan ngobrolnya sambil nunggu Riana berkumpul bareng mereka.


Tak berapa lama Riana datang sudah segar karena dia sudah mandi. Dia menghampiri mereka yang sedang duduk di depan kosan Siska.


"Wuih koper ku sudah kosong nih." ucap Riana sedikit bercanda.


"Hahaha makasih ya Ri, oleh - olehnya bisa buat cemilan kita selama satu bulan." ucap mereka semua kompak.


"Ngomong - ngomong tumben nih kalian kumpul begini memang ada apa?" ucap Riana serius.


"Kita tuh lagi ngobrolin tentang Siska yang kemarin katanya ada bajunya yang di jemur hilang." ucap Reni.


"Iya Ri, baju aku yang beli di mall bareng kamu, kemarin pas aku jemur kok sudah tidak ada. Aku pikir aku yang lupa tapi saat aku cek di lemari memang sudah tidak ada baju itu." ucap Siska.


"Wah memang penjaga gak liat ada orang asing masuk ke lingkungan sini? Bahaya banget yah, ada yang kehilangan juga gak lainnya?" ucap Riana.


"Gak tau kita Ri, itu si Uni katane kehilangan pakaian d*lamnya." ucap Siska.

__ADS_1


"Iya bener Ri, pakaian d*lam yang aku jemur di teras tiba - tiba raib, gak hanya satu tapi beberapa. Kita jadi takut akhir - akhir ini Ri." ucap Uni.


Riana terdiam sejenak memikirkan masalah yang di hadapi teman - teman kost nya. Apa yang harus dia lakukan?


__ADS_2