
Yana pulang dari kafe itu ketika hari menjelang magrib. Hendra mengantar Yana sampai ke depan rumahnya.
Willy yang mendengar suara mesin mobil berdiri di pintu melihat siapa yang datang. Yana tidak menyadari jika Willy melihatnya.
Hendra yang menyadari ada pria dari rumah Yana memperhatikan mereka membuat rencana agar Yana bertengkar dengan pria itu.
"Itu pasti suami Yana, aku akan membuat pria itu jadi tahu siapa Yana sebenarnya. Mungkin Yana memang memuaskan di ranjang, tapi ia tak pantas mendapat kebahagiaan setelah mencampakkan aku begitu saja. Yana juga harus merasakan bagaimana sakit hatiku"
Hendra menarik tengkuk Yana dan ******* bibirnya perlahan. Hendra lalu bermain lidah dengan Yana. Yana yang sedang terbawa suasana karena perlakuan Hendra lupa jika mereka berada di depan rumahnya.
Willy dapat melihat dengan jelas apa yang dilakukan Yana,karena Hendra sengaja menurunkan kaca mobil tanpa Yana sadari. Ia mengepalkan tangannya kuat.
Setelah Hendra merasa cukup dan yakin Willy melihat apa yang ia dan Yana lakukan, Hendra lalu melepaskan pagutan mereka.
"Kamu masih manis seperti biasanya Yana. Pantas kamu selalu jadi bunga dimanapun kamu bekerja.... "
"Hendra, aku rasa kita telah melakukan hal yang salah. Aku telah bersuami. Ini untuk pertama dan terakhir kita bertemu"
"Yana, jangan sok suci. Ketika kamu berpacaran denganku, kamu tetap bercinta dengan pria lain"
"Kita hanya pacaran, dan saat ini aku bersuami bukan pacaran. Aku mau hidup selayaknya seorang istri yang benar"
"Apa kamu yakin bisa melakukannya... kamu terbiasa dengan banyak pria.... "
"Hendra, cukup. Aku ingin mencoba berubah"
"Berubah... jika kamu memang berniat berubah, kamu tak akan menyambut ciumanku. Seandainya kamu saat ini tak hamil tua, aku yakin kamu dengan senang hati bermain denganku di hotel"
"Jangan gila Hendra. Bicaramu sudah mulai melantur. Aku pamit dulu. Maaf jika dulu aku pernah mengecewakan kamu"
"Kamu sangat mengecewakan aku, Yana. Jika saja bukan karena ingin memenuhi semua keinginan kamu, aku tak akan terjerumus ke pengedaran obat terlarang. Dulu mungkin aku akan melakukan apa saja untuk membuat kmu bahagia, tapi saat ini aku akan melakukan apa saja untuk menghancurkan kamu... "
"Masuklah... besok setelah kamu lahiran, aku ingin bermain denganmu seharian"
"Ini terakhir kali bertemu.... "
"Kamu yakin tak ingin bertemu denganku lagi,kamu tak ingin kita kembali seperti dulu lagi. ..."
"Hendra...aku masih bisa bertemu kamu, tapi hanya sebagai teman, tidak lebih"
"Baiklah, sebagai teman juga nggak apa,sini ponselmu. Simpan nomorku...."
Yana memberikan ponselnya dan Hendra menyimpan nomor ponselnya.
__ADS_1
Setelah itu Yana pamit. Sebelum membuka pintu, Hendra kembali mengecup bibir Yana.
Melihat Yana yang membuka pintu mobil, Willy masuk ke dalam rumah. Ia duduk di sofa ruang tamu.
"Dari mana kamu.... "ucap Willy begitu melihat Yana
"Willy...."ucap Yana kaget
"Dari mana kamu"tanya Willy kembali dengan suara tinggi
"Maaf Wil, aku tadi keluar bertemu teman.Aku lupa mengabarinya"
"Teman apa teman.... "
"Maksud kamu apa.... "
"Apa kamu pikir aku terlalu bodoh Yana. Jika aku mau menerima wanita jal*ng seperti kamu bukan berarti aku ini bodoh. Aku hanya ingin kamu bisa berubah, karena aku kasihan dengan nasibmu. Aku pikir selama ini kamu sudah berubah, tapi ternyata tidak. Sekali sampah akan tetap menjadi sampah.... "ucap Willy emosi
"Willy, aku tidak melakukan apa apa"
"Tidak melakukan apa apa... didepan rumah aja kamu berani berciuman.Entah apa yang kamu lakukan dibelakangku. Kamu memang tak pantas diangkat dari tempat sampah, karena lalat pasti akan kembali ketempat yang kotor walau telah ditempatkan di tempat bersih"
"Aku minta maaf Willy. Aku mengaku salah, tapi kami hanya berciuman. Tidak lebih.... "
Yana berlari mengejar Willy yang menuju tangga. Karena ingin cepat, ia tersandung dan jatuh.
"Aaawww... Willyyy... toooloonggg.... "teriak Yana merasa perutnya sakit.
Bibi yang mendengar langsung keluar dari dapur dan melihat Yana yang terduduk dilantai dengan darah yang mengalir di kakinya.
"Ibu, ada apa ini.... "
"Tolong panggil bapak, tolong cepat bi.... "
Bibi berlari menuju lantai atas kamar Willy berada. Bibi mengetuk pintu dengan tergesa. Willy membuka pintu kamar dan melihat bibi dengan raut wajah cemas.
"Ada apa bi.... "
"Bu Yana, pak.... "
"Biar aja,ia teriak hanya ingin menarik perhatianku saja.... "
"Bukan pak, ibu Yana memang kesakitan. Ia jatuh dan berdarah.... "
__ADS_1
"Apaa... bibi nggak bercandakan"ucap Willy berjalan cepat menuruni tangga dan melihat Yana yang merintih menahan sakit.
"Astaga Yana.... "ujar Willy kaget
Willy langsung mengambil kunci mobil dan menggendong Yana.
"Bi, jagain Alvin...."teriak Willy dan langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Yana yang berada di kursi belakang merintih menahan sakit.
Willy hanya diam sepanjang perjalanan. Ia juga takut terjadi sesuatu dengan anaknya.
Sampai di rumah sakit, Yana langsung masuk ruang operasi. Dokter mengatakan ia harus segera operasi agar anak dalam kandungannya bisa diselamatkan.
Willy menunggu operasi anaknya dengan gelisah.
"Ya Tuhan selamatkan anak yang ada dalam kandungan Yana. Aku menginginkan anak itu"
Setelah satu jam dokter keluar dari ruang operasi.
"Dokter bagaimana anak saya... "
"Syukurlah, istri dan anak anda selamat. Itu karena anda cepat membawanya.... Saat ini istri anda masih ada di ruang observasi. Anda bisa melihat putri anda... "
"Terima kasih dok.... "ucap Willy dan masuk kerja ruang perawatan bayi.
Perawat memberikan bayi Willy yang telah dibersihkan.
"Ini pak bayinya.... "
"Terima kasih.... "
Willy menggendong bayinya dan mengadzani putrinya. Setelah itu ia kembalikan bayinya ke perawat.
"Bayi bapak akan kami bawa ke ruang rawat ibunya setelah ia sadar nanti ya pak.... "
"Baiklah.... saya pamit dulu mau melihat ibunya.... "
Saat ini Yana sudah ada di ruang rawat inap. Ia belum sadarkan diri dari pengaruh bius. Dokter terpaksa memberi Yana suntik bius tadi.
Willy memandangi wajah Yana dengan hati yang masih kesal.
"Yana, aku kembali menentang ibu ku untuk dapat menikahi kamu kembali. Aku mencintai kamu walau tidak sebesar cintaku pada Melati. Aku sangat berharap kamu bisa berubah. Aku juga berniat ingin berubah, tapi ternyata harapanku terlalu tinggi padamu. Kau tak pernah berubah. Aku yang bodoh tidak mau mendengar ucapan mama. Seharusnya aku memang mencoba memperbaiki hubungan dengan Lani dari pada mencari wanita lain lagi. Aku harus bisa menerima Lani,karena mama ada benarnya, jika semua yang terjadi dalam hidup dan rumah tanggaku bukan salah siapa siapa. Semuanya terjadi karena kesalahanku. Jika saja aku tidak mementingkan nafsu, mungkin hidupku tidak akan seperti ini. Aku yang merusak hidupku sendiri. Tidak ada yang bisa merubah nasib seseorang kecuali diri nya sendiri. Mulai hari ini aku akan berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu, tapi aku tak bisa lagi menerimamu lagi, Yana. Aku sangat kecewa denganmu. Aku tak bisa menerima pengkhianatan kamu lagi. Hatiku sangat sakit karena telah kamu bohongi lagi. Jika bukan karena kamu ibu dari bayiku ,kamu pasti sudah aku telantarkan. Aku masih mengasihani kamu karena kamu ibu dari putri kecilku"
****************************
__ADS_1
Terima kasih buat yang tetap setia membaca dan menantikan novel ini. Terima kasih buat yang telah meninggalkan jejaknya berupa Vote, like dan koment.