Sahabatku Maduku

Sahabatku Maduku
Bab Delapan puluh Delapan


__ADS_3

Wajah Willy tampak sangat lelah, perusahaan yang ia dirikan ketika akan menikahi Melati dulu sepertinya tidak bisa ia pertahankan lagi.


Willy sudah memberhentikan semua karyawannya hari ini. Dan mengenai tunjangan bagi karyawan, ia hanya menjanjikan setelah ia mendapat uang.


Saat ini tak ada pilihan lain bagi Willy, ia harus mau bekerja dengan ibunya. Dari dulu ia ingin sekali memiliki perusahaan hasil kerja kerasnya, tapi semua sekarang musnah. Usahanya sendiri bangkrut.


Baru saja Willy akan masuk ke dalam mobil, ponselnya berdering. Ia melihat nama bibi tertera. Willy menerimanya.


"*Ada apa bi... "


"Ini pak... Alvin.. "


"Mengapa Alvin, mana Yana.. "


"Ibu Yana sudah meninggalkan rumah dari kemarin pak dan sampai saat ini belum kembali"


"Apa maksud bibi... apakah Alvin ditinggalkan Yana. Ia tak membawa Alvin sekalian.. "


"Nggak pak... anu pak... "


"Anu apa bi... "


"Tadi ada bapak bapak bilang, rumah ini harus segera dikosongkan karena ia sudah memberi waktu yang cukup buat bapak pindah. Ia bilang ini sudah dibelinya. Saya harus bagaimana pak. Saya mau pergi, tapi nanti Alvin sama siapa. Tak mungkin saya meninggalkan Alvin sendirian.. jadi saya mohon bapak menjemput Alvin"


"Apa maksud Yana ini. Mengapa ia meninggalkan anaknya. Baiklah bi.. saya segera kesana*"


Willy mengendarai mobilnya menuju rumah yang pernah ia belikan buat Melati dan sekarang telah berpindah tangan.


Sesampainya di halaman rumah, Willy terdiam di dalam mobil sambil memandangi rumah tempat dimana ia pernah membina rumah tangga dengan Melati.


"Rumah ini sebenarnya banyak meyimpan kenangan. Jika saja aku tak membutuhkan uang, aku tak akan menjualnya. Ini sudah aku hadiahkan buat Melati dan Nabila tapi aku dengan tanpa malu memintanya kembali dan menjualnya. Aku ini memang pecundang. Melati... jika aku bisa memutar waktu, aku tak ingin berada disaat ini. Aku ingin waktu berputar ke awal kita bertemu dan menikah, saat kita berdua masih saling memcintai. Saat ini kamu sudah menemukan kebahagiaan kamu. Tapi aku masih mencoba mencari dimana kebahagiaan buatku itu berada, atau memang kebahagiaan itu tak pernah ada buat diriku ini. Apakah ini semua karma atas perbuatan aku padamu. Melati.. andai saja kamu mau memberi aku kesempatan sekali lagi, aku akan mencoba kembali menjadi Willy seperti pertama kamu kenal. Aku akan meninggalkan semua yang tak kamu sukai. Tapi apakah itu mungkin, melihat kamu sekarang sepertinya itu tak akan pernah terwujud... kamu tak akan pernah lagi akan menjadi milikku..."


Willy menghapus air mata yang menetes dari sudut matanya. Ia keluar dari mobil dengan perlahan. Willy masuk ke rumah dan melihat Alvin yang sedang bermain. Saat ini usia Alvin sudah satu tahun lebih. Bobby usia dua tahun lebih dan Nabila tiga tahun lebih.


"Pa.. Pa... "ucap Alvin yang baru belajar mengucap kata.

__ADS_1


"Ya sayang.. Alvin sedang apa nak.. Main ya. Alvin sudah makan"


"Mam.. mam... "


"Mama.... "


"Mam... mam.... "


"Mamam.. makan ya. Alvin lapar. Tunggu ya papa tanya bibi apa masih ada makanan Alvin"


Willy mencari bibi yang ternyata ada di dapur sedang membuatkan nasi tim buat Alvin


"Bapak... maaf pak saya tidak tahu bapak datang "


"Nggak apa bi.. Itu nasi buat Alvin bi. Ia kelihatannya lapar"


"Ia pak.. dari tadi Alvin sedikit rewel nggak mau ditinggal, makanya sedikit telat saya membuat makannya pak"


"Nggak apa Bi.Beri segera bi, Alvin sudah lapar banget tuh"


"Bi.. Alvin akan saya bawa, bibi bisa meninggalkan rumah sekarang. Bibi susunlah barang barang milik bibi setelah Alvin makan."


"Baik pak... "


Setelah Alvin makan, bibi menyusun barang bawaannya .Tak lupa bibi menyiapkan pakaian buat Alvin. Setelah itu ia pamit ingin pergi.


"Bi... ini sedikit buat bibi. Gaji dan tunjangan sedikit. Maaf bu, saya tidak bisa memberi lebih karena keuangan saya juga sedang bermasalah"


"Nggak apa pak.. terima kasih. Saya pamit dulu. Alvin.. bibi pamit. Jangan nakal dan jangan rewel jika tidak ada bibi "ucap bibi sambil menahan tangis. Karena ia memang menyayangi Alvin yang sudah ia jaga dari bayi.


Setelah bibi pergi, Willy pun ikut pergi meninggalkan rumah itu dengan menggendong Alvin. Sebelum ia melajukan mobilnya, kembali Willy melihat rumah itu.


"Apakah ia pertanda jika kita tidak mungkin kembali lagi Mel. Semua kenangan itu tidak ada tersisa lagi.. Di sini kita pernah bahagia dulu.. sekarang aku meninggalkan rumah ini dengan penuh kesedihan. Semua akan benar benar berakhir... "


Willy akhirnya membawa Alvin ke rumah mamanya. Mama yang melihat Willy menggendong seorang anak lelaki menjadi heran.

__ADS_1


"Anak siapa yang kamu bawa itu"tanya mama


"Anak Yana... "


"Apa maksud kamu membawa anak ini kerumah"tanya Lani


"Aku mau minta tolong mama menjaga Alvin"


"Kemana wanita jal*ng itu. Apa ia telah meninggalkan kamu setelah tahu kamu bangkrut"


"Ma.. aku benar benar lelah hari ini. Aku mohon kali ini jangan ajak aku berdebat. Aku hanya meminta mama menjaga Alvin sampai aku bisa menemukan Yana."


Willy meletakkan Alvin yang tertidur di atas sofa. Ia duduk disampingnya sambil terus memandangi wajah Alvin.


"Alvin.. papa tak pernah mengira jika kamu bukan darah dagingku. Padahal aku sangat menyayangimu. Saat ini saja, ketika aku sudah tahu jika kamu bukan anakku, masih saja aku tak bisa membenci kamu . Padahal papa ingin membina rumah tangga yang baik dengan mama kamu, tapi ternyata mama kamu telah membohongi papa selama ini. Papa benar benar mencintai mama kamu. Tapi ia telah mengkhianat papa.. sakit.. ya sakit rasanya. Tapi papa ini lelaki, yang tak boleh terpuruk hanya karena perbuatan seorang wanita.... "


"Jadi maksud kamu anak ini akan tinggal di sini selama ibunya belum dapat kamu temukan. Kemana ibunya melarikan diri. Itu wanita yang kamu bela, yang kamu cintai. Akhirnya meninggalkan kamu di saat kamu sedang terpuruk ekonominya"omel Lani


Willy hanya diam sambil memejamkan matanya dan memijat dahinya. Wajahnya tampak sangat kusut.


"Mengapa... sekarang kamu menyesal mengambilnya dari tempat sampah, kamu yang bermaksud membawanya agar menjadi wanita baik ternyata meninggalkan kamu juga."ucap Lani lagi.


"Lani, sudah aku bilang.. aku lelah. Aku tak mau berdebat. Biarkan aku tenang sebentar "


"Lelah karena memikirkan wanita itu,... kamu sekarang baru tahu bagaimana rasanya diabaikan. Baru tahu bagaimana rasanya dikhianati "


"Cukup aku bilang. Apa kamu tak dengar yang aku katakan tadi, jika aku ingin istirahat. Jangan memancing emosiku."


"Semoga setelah kepergian Yana kamu bisa sadar..."ucap Lani meninggalkan Willy


"Aku harap Yana tidak akan pernah kembali. Biar kamu tahu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang kamu cintai. Dulu kamu mengabaikan aku demi Yana, kamu lebih membela dirinya dari pada aku. Sekarang kamu tahu siapa Yana dan bagaimana sifat aslinya"


***********************


Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini

__ADS_1


__ADS_2