
Willy memasuki toko roti milik Melati. Ia ingin membeli roti buat Alvin ,dimakan nanti di kantor. Saat ini Willy selalu membawa Alvin kemanapun ia pergi.
Ia telah mencari Yana, tapi tidak pernah bertemu. Yana seperti hilang di telan bumi.
Willy melihat Nabila yang sedang asyik bermain boneka. Ia senang karena Nabila sudah mengenal dirinya. Saat ini hampir tiap malam Willy video call dengan Nabila. Ia telah bertekad akan bertanggung jawab buat ketiga anaknya, termasuk Alvin walau pun bukan darah dagingnya.
Sejak kepergian Yana, dua bulan lalu memberi pengaruh positif bagi Willy. Ia mencoba memperbaiki dirinya. Walaupun untuk berhubungan baik dengan Lani belum bisa ia lakukan, karena ia masih beranggapan kehancuran dalam rumah tangganya berawal dari kedatangan Lani.
"Selamat siang Nabila sayang.... "
"Selamat siang ayah. Siapa yang ayah gendong tuh"
"Ini adiknya Nabila, Alvin namanya. Alvin kenalan dong dengan mbak Nabila"
Alvin saat ini usianya sudah dua tahun lebih,ia mengulurkan tangannya sama Nabila.
"Ayah, mau apa"tanya Nabila yang semakin besar semakin pintar. Ia telah bersekolah di taman kanak kanak. Usia Nabila sudah empat tahun lebih, menjelang lima tahun.
"Ayah mau belikan roti buat Alvin. Nabila nggak sekolah"
"Ini kan hari sabtu, mana ada orang sekolah,yah"
"Ayah lupa. Mungkin karena ayah sudah tua. Mana papi dan bunda.. "
"Papi di dalam sama bunda. Ayah, sebentar lagi Nabila punya adik dari bunda"
"Oh ya.. pasti Nabila senang banget ya"
"Senang dong ,yah.. "
Rangga keluar dari dalam kamar tempat istirahat menghampiri Willy yang lagi berbincang dengan Nabila.
"Selamat siang Willy... mau ketemu Nabila"tanya Rangga
"Iya, sekalian mau beli roti buat anakku.Kamu sakit, kelihatan sedikit pucat"
"Hanya sedikit pusing"
"Papi.. Nabila.. sini sayang, makan lagi. Bunda sudah selesai masaknya"ucap Melati sedikit keras dari dalam ruangan istirahat.
"Bentar sayang, ada Willy yang mau ketemu Nabila"ucap Rangga. Melati yang mendengar itu keluar dari ruangannya.
"Selamat siang mas, siapa nih yang ganteng"ucap Melati memegang pipi Alvin
"Alvin bunda, adiknya mbak Nabila"ucap Willy. Ia memang tak memberitahu siapapun jika Alvin bukan darah dagingnya termasuk dengan mamanya.
"Oh... anak siapa mas"
"Anakku dengan Yana"
Rangga menarik kursi dan duduk. Kepalanya masih terasa pusing. Ia memijat dahinya pelan.
"Masih pusing ya bie, kepalanya"ujar Melati sambil memijat kepala Rangga dari tempat ia berdiri
__ADS_1
"Papi kenapa bunda. Papi sakit lagi ya kepalanya. Sini Bila pijitin ya. "ucap Nabila, ia duduk di meja berhadapan dengan Rangga dan memijat dahi dan kepala Rangga.
"Nabila, ayah pamit dulu ya. Rajin belajar ya mbak, biar tambah pintar"ucap Willy pamit. Ia masih cemburu jika melihat kemesraan Melati dan jika melihat betapa sayangnya Nabila pada Rangga.
"Mas, nggak sekalian makan siang bersama"tawar Melati
"Lain kali aja Mel, aku masih ada kerjaan. Terimakasih tawarannya. Ayah pergi dulu ya, Bila"
"Iya ayah, hati hati "
Setelah memesan roti, Willy melangkah cepat meninggalkan toko roti milik Melati. Dadanya sesak melihat Melati dan Nabila yang tampak sangat perhatian dan menyayangi Rangga.
"Melati.. sampai detik ini hatiku masih belum sepenuh nya bisa ikhlas melepaskan dirimu. Jika aku mau jujur, aku masih mengharapkan kamu kembali disisiku. Tapi aku tahu itu tak mungkin terjadi. Aku telah banyak memberikan luka. Apa lagi setelah aku tahu, jika saat ini kamu lagi mengandung anaknya Rangga.Mungkin benar yang selalu orang katakan, jika kita akan menyadari arti kehadiran seseorang itu saat ia telah pergi dari kita"
"Papi, Bila.. mari makan dulu, udah siang banget nih. "
Rangga dan Nabila mengikuti Melati masuk kedalam ruang istirahat yang saat ini telah direnovasi Rangga, ia membuatkan satu kamar buat Melati istirahat jika ada di toko.
Melati mengambil nasi beserta lauknya, ia menyuapi Rangga dan Nabila bergantian.
"Papi, nggak malu. Sudah gede masih disuapin"ledek Nabila
"Papi lagi sakit sayang"ucap Melati
"Kemarin papi nggak sakit juga disuapin bunda"
"Itu karena Papi dan Nabila adalah kesayangan bunda"ujar Rangga.
"Papi.. besok Bila ikut lomba mewarnai, jika Bila menang papi belikan hadiah ya buat Bila"
"Nggak apa Bunda, papi akan beli boneka yang paling gede jika Bila dapat juara satu.. dan jika juara dua bonekanya agak kecilan"
"Janji ya papi.. belikan Bila boneka"
"Boneka Bila kan udah banyak sayang"
"Papi mau beliin buat Bila kok.. "
"Iya... biar aja bunda.. biar Bila semangat ikut lombanya.. "
"Bunda, udah. Bila dah kenyang"
"Minum dulu ya, sebentar lagi tidur siang "
"Bila main dulu bunda, nanti kalau ngantuk baru tidur "
"Bila.. jangan bicara sembarangan dengan pembeli, dan jangan keluar dari toko. Atau main di sini aja sama papi"
"Nggak,Bila mau main dengan mbak Novi"
"Tapi jika ada pembeli, jangan ganggu mbak Novi ya"
"Iya bunda.. papi nanti Bila tidur rumah Oma lagi ya.. "
__ADS_1
"Kasihan papa Rifo harus mengantar Bila sekolah terus sebelum ke kantor ,Bila tidur di apartemen aja ya"ujar Melati
"Papa Rifo ngga pernah marah kok bun"
"Biar aja Mela, di apartemen Bila mungkin kesepian. Nggak ada teman. Sebulan lagi juga kita sudah bisa pindah ke rumah bunda kamu, sekarang tinggal finishing lagi kok"
"Oke, tapi Bila nggak boleh nakal dan jangan selalu repotin Oma ya.Jangan minta Opa datang buat bawa jalan jalan. Kasihan Opa kadang capek pulang kerja harus bawa Bila dan Kak Syifa jalan lagi "
"Bila nggak pernah minta bunda, Opa aja yang ngajakin jalan"
"Mela.. biar aja. Mungkin papi senang bawa cucu cucunya jalan"
"Papi aja boleh.. bunda sih marah terus"gerutu Nabila sambil keluar
"Bie, kamu lihat tuh. Bila sudah bisa ngedumel sama aku, karena kamu selalu saja menuruti maunya "
"Sudahlah.. sini duduk lebih dekat, aku mau pelukan.. "
Rangga tidur di paha Melati yang sedang makan. Semenjak Melati hamil, Rangga memang makin manja dan tak mau jauh dari Melati.
#############
Weni dan mamanya telah mendapatkan satu kontrakan yang kecil saja. Hanya memiliki satu kamar.
"Besok kamu jadi minta izin buat ke rumah tante Elly"
"Iya ma. Aku mau meminta keringanan tante Elly buat aku dapat membayar uang pinjaman tante"
"Kalau begitu kamu minta izinnya lusa saja. Besok mama ambil uang mama dulu buat bayarin hutang tantemu"
"Memang mama ada uang.. "
"Ada simpanan mama, yang tidak papa kamu ketahui. Setiap papa memberi uang, mama selalu menyisihkan buat ditabung"
"Hutang tante bukan sedikit loh ma. Seratus juta, memang uang simpanan mama cukup "
"Cukup... besok mama ambil seratus juta "
"Berarti uang simpanan mama cukup banyak. Ma.. jangan buat aku menjadi berburuk sangka lagi dengan mama "
"Apa maksud kamu, mama nggak ngerti"
"Apa selama pernikahan mama dengan papa, mama selalu meminta uang yang banyak dengan papa, lalu menabungnya. Mama mau menikah dengan papa bukan karena mama tahu papa pimpinan dari satu perusahaankan. Ma.. apa selama ini mama sengaja meminta uang lebih karena mama tahu harta dan uang yang papa miliki adalah punya tante Elly, jadi mama sengaja membuka tabungan tanpa sepengetahuan papa karena mama tahu hal seperti saat ini pasti akan mama alami"
"Weni.. sudahlah, mama nggak mau berdebat lagi. Mama capek. Perlu kamu tahu, mama hanya menyimpan uang dari pemberian papa kamu. Bukankah sudah menjadi kewajiban papa kamu menafkahi mama sebagai istrinya. Mama mau tidur"
Mama lalu meninggalkan Weni yang masih tak percaya dengan ucapan mamanya.
"Mama.. aku tak tahu harus berkata apa. Ternyata mama tak seperti yang aku kenal selama ini, setelah mama merampas papa, mama juga menguras harta papa yang jelas jelas mama tahu itu bukan milik papa.. "
********************
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini. Mampir ya ke novel terbaruku CINTA SUCI ALESHA
__ADS_1