Sahabatku Maduku

Sahabatku Maduku
Bab Sembilan puluh Satu


__ADS_3

Rangga dan Melati sedang duduk menunggu dokter kandungan yang direkomendasikan om Dicky.


Dokter Aldi lagi ke kamar kecil sebentar, itu yang dikatakan perawat yang ada di ruangan itu.


Tak berapa lama pintu ruang itu terbuka,tampak dokter Aldi yang memasuki ruangan. Rangga kaget melihat wajah dokter Aldi.


"Gila om Dicky,masa sih ia merekomendasikan dokter muda dan ganteng begini. Paling usianya baru tiga puluh tahunan.."


"Selamat sore, bapak Rangga kan.. "


"Selamat sore dok,iya dok "


Dokter Aldy duduk berhadapan dengan Melati, Rangga lalu meminta Melati pindah duduk,dengannya.Jadi Rangga yang saat ini ada dihadapan dokter Aldy. Melati yang tak mengerti apa maksud Rangga menjadi heran.


"Dokter Dicky sudah menceritakan semuanya... karena ibu.. siapa namanya bu.. "


"Melati...dok"ucap Melati sambil tersenyum. Rangga melihat Melati yang tersenyum ke dokter Aldi menjadi cemberut dan langsung memeluk istrinya.


"Ibu Melati sudah lakukan test pack bukan, dan hasilnya positif. Jadi saya tidak perlu lakukan itu lagi. Kita langsung USG aja agar ibu bisa yakin dengan hasilnya. "


"Siti... bantu ibu Melati berbaring "


"Ya dok"jawab Siti sang perawat.


Rangga langsung menggendong Melati dan membaringkan tubuhnya. Siti lalu menutup tubuh bagian bawah Melati dengan selimut, setelah itu menyingkap baju Melati hingga dada, memperlihatkan perut Melati yang putih bersih.


"Mengapa bajunya disingkap ,apa yang akan dilakukan ."tanya Rangga tak rela ada mata lelaki lain melihat tubuh istrinya,ia lalu menutupi perut Melati kembali. Melati yang pernah hamil tentu tahu apa yang akan dilakukan dokter itu.


"Hubby, dokter mau periksa perut aku. Apa benar ada calon bayi di dalamnya,jadi harus dibuka perutnya"ucap Melati pelan, karena malu atas sikap Rangga tadi.


"Harus tampak perut ya dok, nggak bisa dengan berpakaian lengkap.Nggak bisa cuma sekedar dipegang aja dari atas pakaian. Atau periksa bagian lain, lengan misalnya. "


"Nggak bisa dong pak... ini biar tampak jelas. Biar anak yang ada dikandungan ibu Melati bisa terlihat.Jika saya periksa lengan istri bapak, mana bisa tampak bayinya. Kecuali jika bayinya pindah ke lengan istrinya"ucap Dokter Aldy tersenyum.


Rangga akhirnya menyingkap pakaian Melati kembali. Dan menutupi dengan telapak tangannya. Perawat yang akan mengoles jel meminta izin pada Rangga untuk memyingkirkan tangannya dari perut Melati.


"Maaf pak... tangan bapak menutupi perut ibu, saya ingin mengoles jel ini"ucap perawat.


"Bie, tangannya menghalangi perut aku. Bagaimana mau diperiksa jika tangan kamu masih berada diatas perut aku"bisik Melati


"Kamu dulu waktu hamil Nabila juga dibuka ya perutnya ketika mau diperiksa"bisik Rangga pula


"Iya hubby.."lirih Melati


Dokter yang melihat perdebatan Rangga dan Melati jadi tersenyum. Rangga akhirnya menyingkirkan tangannya dari perut Melati.


Perawat lalu mengoles jel di perut Melati dan dokter mulai memeriksa perut Melati.


"Bapak dan ibu lihat di monitor, ini bayi bapak dan ibu. "ucap dokter.


"Apaaa dok, jadi istri saya benar benar hamil ya.. "ucap Rangga terharu dan tak sadar meneteskan air mata. Melati yang melihat Rangga, juga ikut terharu.


"Ya,karena hasil test pack itu keakuratannya hingga 90 persen, jadi hasilnya bisa dikatakan pasti. Kandungan istri bapak sudah masuk minggu ke tujuh.. "


"Sayang.. kamu dengarkan, kamu tuh ternyata benar lagi hamil... "ucap Rangga memeluk dan mengecup pipi Melati


"Ya bie, aku dengar "ucap Melati.


"Tapi dok, mengapa bayi saya belum tampak jelas. Mengapa hanya berbentuk bulat seperti kecebong.Berapa lama ia tumbuh menjadi seorang bayi, apa itu karena Melati malas makan yang membuat bayinya kecil saja "


Dokter Aldi tertawa mendengar pertanyaan Rangga.

__ADS_1


"Usia kandungan istri bapak baru memasuki tujuh minggu, masih ada sekitar tiga puluhan minggu lagi baru bisa melahirkan seorang bayi. Jadi wajar saat ini cuma sebesar kecebong"ucap dokter dengan tersenyum.


"Dokter,apa ibunya harus makan banyak biar bayinya bisa tumbuh dengan cepat"


"Nggak perlu banyak banget, makan seperti porsi biasa saja, cuma agak diperbanyak makan sayur dan buah saja, pak"


"Dokter, apa lagi yang tak boleh dilakukan wanita hamil"


"Hubby.. semua nya boleh kok dilakukan bukan begitu dokter "ucap Melati


"Ya betul bu, hanya di usia kehamilan muda ini jangan terlalu capek karena masih rentan keguguran dan juga jangan terlalu sering berhubungan. Sperm* jangan di buang dalam rahim ketika berhubungan. Karena zat prostaglandin yang terkandung dalam sperm* bisa mengakibatkan kontraksi,jika berhubungan lebih baik memakai kond*m"


"Berarti nggak boleh berhubungan badan dok"tanya Rangga


"Bukan nggak boleh, tapi jangan keseringan ,menjelang trimester pertama aja kok... "


"Baiklah dok, terima kasih. Apa ada obat agar istri saya nggak merasakan mual dan muntah dok"


"Mual dan muntah pada ibu hamil diusia kandungan trimester pertama itu biasa. Malahan itu tanda jika bayi dalam kandungan sehat, tak mudah keguguran.Ini ada resep vitamin dan obat pengurang rasa mual, bisa diambil di apotek. Jangan lupa di minum ya bu"


"Iya dok, terima kasih. "ucap Melati sambil tersenyum, membuat Rangga kembali cemberut.


Rangga memeluk bahu Melati menuju mobilnya. Ia tak berhenti tersenyum bahagia.


"Sayang, terima kasih karena telah memberi kado terindah di hari ulang tahun aku"ucap Rangga mengecup tangan Melati


"Sama sama Hubby, aku juga merasa bahagia karena bisa mengandung benih cinta dari kamu"


"Tapi ingat ya, besok jika periksa kembali kamu nggak boleh dandan, dan jangan senyum senyum dengan dokter Aldi. Kamu senang ya dengan dokter itu."


"Hubby,lucu banget deh. Nggak mungkin aku memandang dokter itu dengan wajah cemberut"


"'Papi sayang... dokter itu senyum berarti ia ramah pada pasien. Dan dokter Aldy rekomendasi dari om Dicky berarti ia sudah berpengalaman. Mengapa harus cari dokter lain"


"Iya.. baiklah. Menurut kamu, mana yang lebih ganteng dokter itu atau aku"


"Ganteng dokter itu sedikit... "


"Apa.. jadi ganteng dokter itu"ucap Rangga manyun


"Dengar dulu hubby, jangan dipotong omongan aku. Ganteng dokter itu sedikit, ganteng banyak my hubby"


"Manis banget ucapan istriku ini, nanti kamu mau aku beliin apa sebagai hadiahnya sayang"


"Aku nggak mau hadiah apa apa.. aku cuma mau diri hubby aja. Aku mau hubby selalu ada disampingku terus, itu sudah lebih dari hadiah apapun"


"Kok istriku hari ini kata katanya romantis banget sih, apa itu termasuk ngidam ya. Jika iya.. aku senang banget ngidam kamu kayak gitu"


"Bisa aja hubby,. mana ada ngidam pengin ucapin kata romantis terus"


"Sayang, mulai besok kamu harus tambah karyawan. Jadi yang membuat roti Mira dan Novi, kamu cuma mengawasi. Kamu dengarkan kata dokter kamu tak boleh capek. Biar gaji karyawan baru aku yang bayar.. "


"Mana bisa begitu bie, itu karyawan buat toko aku, kok hubby yang bayar gajinya. Nanti aku nggak tahu dong seberapa besar keuntungan toko"


"Karyawan itu aku yang inginkan, buat bantu istri tersayangku yang lagi hamil, jadi itu tanggung jawab aku. Jangan membantah. Itu sudah keputusan aku... "ucap Rangga


Mereka kembali ke rumah mami, Rangga ingin menitipkan Nabila sampai kandungan Melati sudah mulai kuat.


"Mami.. aku punya berita yang sangat baik"teriak Rangga begitu masuk rumah


"Ada apa sih teriak teriak, ini bukan hutan ya"ujar Rachel

__ADS_1


"Melati, Rangga ada apa... berita bagus apa. Kamu memang tender lagi"


"Ini lebih dari menang tender besar mi"ucap Rangga, membuat Melati tersenyum bahagia melihat antusias suami brondongnya.


"Emang berita apa sih,antusias gitu banget"ucap Rachel


"Nabila mana mi"


"Pergi sama Syifa dan papi.. "


"Jangan mengalihkan pembicaraan, bilang cepat, apa yang membuat kamu senang "tanya Rachel lagi


"Kak Rachel kepo banget sih"


"Gue Jitak juga ya kepala Lu, Lu yang buat gue penasaran. Mengapa tadi ngomong kalau nggak mau beritahu.. "


"Nabila mau punya adik mi"ucap Rangga memeluk erat tubuh maminya.


"Apaaa...Nggak salah.. Lu mau jadi seorang papi lagi"


"Apa benar sayang. Kamu mau jadi seorang papi nak"ucap Mami mengusap punggung Rangga yang memeluk dirinya


"Iya.. mi. Mengapa mami menangis. Mami nggak senang dengar aku mau punya baby"tanya Rangga heran.


"Mami senang banget, mami nggak menyangka kamu sebentar lagi sudah jadi seorang papi. Padahal baru kemarin rasanya mami melahirkan kamu, dan sebentar lagi mami akan melihat istri kamu melahirkan anak kamu"


"Mami kok jadi cengeng, sama kayak Melati"ucap Rangga mengecup pipi mami dan menghapus air mata maminya


"Baru kemarin rasanya Lu sunat, sekarang sudah mau punya anak aja"


"Kak Rachel ngomong apa sih, sama aja dengan om Dicky.. "


"Rangga,mami harap mulai hari ini kamu harus bertambah dewasa dalam berpikir dan bertindak. Kurangi emosi kamu. Tanggung jawab kamu bertambah satu lagi. "


"Iya.. mi"


"Melati... terima kasih nak. Sudah mau menerima Rangga dengan segala kekurangan nya, kamu selalu bersabar dengan Rangga yang sifatnya emosian "


"Mi, bagi aku itu bukanlah suatu kekurangan. Aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih dengan mami. Karena telah melahirkan seorang putra yang hebat seperti Rangga "


"Sayang.. kamu dari tadi selalu berkata manis, kalau begitu aku ingin kamu hamil terus. Biar kamu selalu berkata yang manis manis terus... "


"Kamu ngomong enak aja. Lihat aja ketika Melati melahirkan, kak Rachel yakin kamu tak akan mau meminta Melati hamil lagi"


"Memang kenapa kak"


"Karena sakitnya melahirkan itu sama dengan dua puluh tulang dipatahkan secara bersamaan. Si ibu berjuang antara hidup dan mati"


"Kak Rachel jangan takuti aku"


"Siapa yang takuti, itu memang kenyataan. Tanya aja mami jika tak percaya. Sakit nya nggak bisa dikatakan"


"Mami, jadi mami menahan rasa sakit itu ketika akan melahirkan. Maafkan ya mi jika selama ini aku selalu saja membuat mami susah. Sayang.... kamu harus kuat ya.Jangan pernah menyerah ketika melahirkan "ucap Rangga memeluk Melati.


Rangga memeluk kedua wanita yang paling disayanginya. Ia duduk ditengah antara Melati dan Maminya.


"Rangga.. mami tak mengira kamu sudah dewasa saat ini. Mami masih ingat kamu yang selalu menangis ketika tahu papi meninggalkan rumah . Kamu lah yang paling terpuruk menerima kenyataan papi memiliki wanita lain. Mami saat ini sangat bersyukur kamu sekarang sudah melupakan kesakitan itu. Kamu sudah bisa menerima papi kembali walau tak membiarkan ia tinggal bersama. Mami tahu semua itu berkat Melati yang sabar. Mami merasa sangat beruntung kamu memiliki istri seprti Melati "


**************************


Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini

__ADS_1


__ADS_2