
Begitu mobil berhenti di bawah pohon mangga, keluarlah Riana dan Iqbal dengan menggendong Kiara.
Pak Raka terkejut melihat Iqbal ke rumahnya bersama dengan Riana. Yang dia tahu kan Iqbal hanya atasan Riana saja, kok bisa ke rumah bersama dengan Riana.
"Papah.. Riana kangen." ucap Riana yang sudah berdiri di depan Pak Raka.
Iqbal dan Kiara mengikuti Riana dari belakang, mereka mencium tangan pak Raka secara bergantian.
"Kamu tuh kebiasaan jika ke sini tidak pernah bilang dulu, ini kok kesini bareng dengan pak Iqbal?" ucap pak Raka.
Riana dan Iqbal saling tatap, bingung mau mulai dari mana.
"Kita masuk dulu yuk Pah, nanti aku jelasin di dalam." ucap Riana yang langsung masuk ke dalam rumah, di ikuti oleh pak Raka dan Iqbal yang menggendong Kiara.
Kini mereka sudah duduk di ruang tamu. Pak Raka sangat tahu sifat dari anaknya itu, Riana tidak akan mengajak lawan jenis ke rumah jika tidak memiliki hubungan khusus dengan pria itu. Jadi pak Raka berfikir jika Iqbal adalah ke kasih dari Riana.
Iqbal merasa canggung karena pak Raka sedari tadi hanya diam sambil memperhatikan dirinya dan Kiara.
"Oia bentar ya aku ambil minum dulu di dapur." ucap Riana yang mengajak Kiara untuk pergi ke dapur.
Iqbal semakin canggung begitu Riana pergi ke dapur. Pak Raka membuka mulutnya.
"Jadi Nak Iqbal punya hubungan apa dengan Riana?" ucap pak Raka datar.
Iqbal kaget mendengar pertanyaan dari pak Raka.
"Begini Pak Raka, Saya sangat mencintai Riana, saya ingin Riana menjadi Istri serta Ibu dari anak - anak kami kelak." ucap Iqbal tegas.
Pak Raka menghembuskan Nafasnya berat.
"Nak Iqbal, apakah Nak Iqbal tahu kenapa Riana di ceraikan oleh suaminya? Saya tidak mau Riana mengalami sakit hati yang kedua kalinya." ucap pak Raka.
"Saya tahu semua masa lalu Riana pak, saya tidak peduli dengan semua itu, jika pun benar Riana seperti yang di katakan oleh keluarga mantan suaminya saya akan tetap berada di sisi Riana, karena saya mencintai diri Riana apapun keadaan dari Riana pak." ucap Iqbal.
Riana yang mendengar Iqbal berbicara seperti itu langsung terharu. Dia semakin yakin terhadap Iqbal.
Pak Raka melihat ketulusan di sorot mata Iqbal, terbit seulas senyum di wajah tua pak Raka.
"Baiklah Nak Iqbal, jika Nak Iqbal serius dengan Riana, Ajaklah kedua orang tua Nak Iqbal untuk bersilaturahmi ke sini." ucap Pak Raka.
__ADS_1
Iqbal tersenyum lebar karena sudah di beri lampu hijau dari pak Raka. Sebelum Iqbal menjawab Pertanyaan pak Raka, Riana keluar dari dalam membawa kopi dan cemilan untuk Ayah dan Iqbal. Dia berjalan bersama dengan Kiara.
Pak Raka melambaikan tangan ke Kiara supaya Kiara mendekat ke pak Raka. Kiara menatap Riana meminta ijin, Riana menganggukkan kepalanya.
Kiara berjalan mendekati pak Raka. Setelah dekat pak Raka mengangkat Kiara untuk duduk di pangkuannya.
"Nama kamu siapa Nak? Cantik banget." ucap pak Raka.
"Nama aku Kiara Kakek, Kakek Ayahnya Tante cantik?" ucap Kiara sambil tersenyum.
Pak Raka meleleh melihat senyuman dari Kiara yang menurut pak Raka sangat menggemaskan.
"Iya Nak, Kakek Ayahnya Tante Riana, nama Kakek Raka. Kiara nanti nginep kan di rumah kakek?" ucap Pak Raka.
"Iya kakek, Kakek Kiara boleh tanya?" ucap Kiara.
"Mau tanya apa anak cantik." ucap pak Raka.
"Apa benar Kakek punya kuda? Bolehkah besok Kiara naik kuda kakek?" ucap Kiara.
Pak Raka langsung tertawa mendengar pertanyaan Kiara.
Kiara langsung tertawa senang matanya terlihat berbinar bahagia.
"Mau kakek, beneran ya ajak Kiara naik kuda, bolehkan Pah?" ucap Kiara bertanya ke Iqbal.
Iqbal senang karena pak Raka mau menerima anaknya. Dan menganggap anaknya itu cucunya sendiri.
"Boleh Sayang." ucap Iqbal.
Kiara sangat senang sekali, mereka lalu mengobrol hingga tak terasa sudah jam Lima sore, Riana menunjukkan kamar yang akan di gunakan oleh Iqbal, dan dia meminta ijin Iqbal biar Kiara tidur bersama dengannya.
"Mas ini kamar kamu, silahkan beristirahat nanti saat makan malam akan aku panggil ya, Kiara tidur sama aku saja ya mas. Ya sudah aku mau mandiin Kiara dulu Mas." ucap Riana.
"Iya sayang, aku kok gak di ajak tidur bareng kamu?" ucap Iqbal sambil menaik turunkan alisnya.
"Ish Mas ini becanda aja. Udah sana masuk istirahat." ucap Riana.
Iqbal tertawa terbahak - bahak, dia sangat senang menggoda Riana, karena menurutnya wajah Riana saat kesal itu sangat menggemaskan.
__ADS_1
Iqbal masuk ke dalam kamar, dia sudah gerah sekali ingin segera membersihkan diri. Setelah membersihkan diri selama tiga puluh menit, Iqbal merebahkan diri di ranjang. Dia memejamkan mata sejenak karena merasa lelah.
Sayup - sayup terdengar ketukan pintu, Iqbal membuka mata secara perlahan, dia melihat jam sudah pukul tujuh malam. Dia pun bangun dan membuka pintu. Di depan pintu ada Riana yang terlihat menggemaskan yang menggunakan piyama bergambar kartun Doraemon, dengan rambut di gerai.
"Mas ayo makan, pasti lapar kan?" ucap Riana.
Iqbal menengok ke kanan dan kiri, dengan cepat dia mencium pipi Riana lalu berlari menuju ke ruang makan.
Riana yang mendapat serangan mendadak langsung mematung. Begitu sadar dia berlari mengejar Iqbal sambil mengangkat sendal hendak di pukulkan ke Iqbal karena berani - beraninya mencium Riana.
Iqbal yang di kejar oleh Riana hanya tertawa terbahak - bahak. Pak Raka yang melihat Riana mengejar Iqbal langsung bertanya ke anaknya.
"Kenapa kamu kejar Iqbal Nak? Malu tuh sama Kiara, kayak anak kecil aja main kejar - kejaran." ucap pak Raka.
Di tegur seperti itu oleh ayahnya Riana tidak bisa menjawab, dengan malu dia duduk di kursi samping Iqbal, yang sedang tertawa.
Begitu anggota keluarga berkumpul semua, makan malam pun di mulai, Kali ini Kiara minta makan sendiri, biasanya dia minta di suapi oleh Riana.
Setelah makan malam mereka semua berpindah ke ruang keluarga, mereka bersantai sejenak sebelum pergi tidur.
Kiara duduk di karpet sambil l bermain boneka yang dia bawa dari rumah. Pak Raka bertanya ke anaknya.
"Ri, kemarin Iqbal sudah mengatakan semuanya tentang hubungan kalian, apa kamu yakin dengan hubungan kamu dengan Iqbal?" ucap pak Raka.
Iqbal menggengam tangan Riana.
"Iya Pah Riana yakin dengan Mas Iqbal, papah merestui hubunganku dengan Mas Iqbal?" ucap Riana.
"Jika kamu bahagia papah pasti bakal merestuinya Nak. Tapi apa tidak sebaiknya kalian segera menikah?" ucap Pak Raka.
Iqbal dan Riana saling tatap mereka sedang berdiskusi lewat tatapan mata.
"Saya sangat ingin segera menikahi Riana pak, tapi saya tidak akan memaksa Riana jika Riana belum siap." ucap Iqbal
"Nak kamu belum siap menikah dengan Iqbal? Kanapa?" ucap Pak Raka.
Riana menghembuskan nafas berat.
"Awalnya Riana memang belum siap untuk membina rumah tangga kembali, karena Riana belum siap jika nanti di khianati lagi, tapi semua itu berubah sejak tadi pagi, saat aku dengar Mas Iqbal berkata akan menerimaku apa adanya. Sekarang Riana siap Pah." ucap Riana.
__ADS_1
Iqbal menatap Riana dengan tidak percaya, dia merasa senang karena Riana sudah siap menikah dengan Iqbal. jika sekarang sedang tidak di rumah calon mertuanya Iqbal pasti bakal lompat kegirangan.