
Yana sedang memakaikan baju Alvin setelah ia memandikannya .Ketika sedang memakaikan baju Alvin,ponselnya Yana berdering. Yana meletakan Alvin kedalam baby walker nya setelah itu baru menerima sambungan ponselnya.
"Ada apa Heru kamu menghubungi aku, sudah aku katakan jika aku tak bisa masuk kerja seminggu ini"
"Mengapa... apa Willy suami kamu sudah dapat memberi kamu uang yang banyak.. "
"Anak kamu Alvin sakit"
"Apa maksud kamu.. "
"Heru... harus berapa kali aku katakan jika Alvin itu anakmu bukan anak Willy. "
Yana tidak menyadari kedatangan Willy. Ia terus saja mengobrol, Willy yang mendengar semua itu menahan amarahnya. Ia ingin tahu kelanjutan permbicaraan antara Yana dengan si penelpon.
"Bagaimana aku bisa percaya jika itu anakku"
"Jika kamu nggak percaya kamu bisa lakukan test DNA"
"Jika ia memang anakmu, mengapa baru sekarang kamu mengatakannya"
"Aku tidak mengatakan dari pertama karena aku pikir menikah dengan Willy dapat meningkatkan perekonomianku. Aku sudah capek hidup miskin. Tapi ternyata Willy tak sekaya yang aku duga. Buat membeli rumah dan mobil buat aku saja ia tak mampu "
"Apa yang membuat kamu bisa yakin benar jika Alvin anakku"
"Aku mulai berhubungan dengan Willy setelah aku tahu jika aku sedang hamil enam minggu. Kamu waktu itu pulang ke kampungmu. Aku pikir kamu tak akan kembali. Aku telah menunggu hingga satu bulan. Karena aku takut perutku makin membesar aku katakan saja pada Willy jika aku mengandung anaknya. Dan ia percaya. "
"Kamu menikah dengannya.. "
"Ya.. agar anak ini memiliki status yang jelas. Lagi pula aku berharap Willy bisa merubah nasibku. Kamu tahukan aku ini kepala keluarga. Banyak nyawa yang bergantung hidup denganku. Ibuku dan tiga saudaraku, anakku satu dan ponakan aku juga ada dua dikamapung, semuanya bergantung hidup denganku. Tapi nyatanya uang yang ia berikan tidak mencukupi semua. Aku harus kembali bekerja buat menafkahi semuanya."
"Apaaa.. jadi kamu sudah memiliki anak di kampung "
"Ya.. anakku sudah sekolah. Aku pernah katakan padamu kan jika aku ini sudah janda"
"Jika memang Alvin anakku, aku akan bantu menafkahi kamu, tapi biarkan saja ia tetap diakui Willy sebagai anaknya.. "
"Ya.. biarlah Alvin menjadi anak Willy selamanya.. Sudah dulu, Willy bilang ia mau pulang melihat Alvin, aku tak mau ia mendengar aku bicara denganmu. "
Yana menutup sambungan ponselnya dan ketika ia akan masuk ke kamar, ia kaget melihat Willy yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Kamu... sudah lama kamu datang"
"Katakan padaku apa maksud semua ini"
"Maksudmu apa.. "tanya Yana gugup
"Jangan balik bertanya.. apa benar yang aku dengar tadi. Jadi selama ini kamu membohongi aku. Dasar wanita jal*ng,kamu telah menjebak aku.Padahal aku sudah betul betul tulus mencintai kamu, tapi kamu tega menipu aku"ucap Willy ingin menampar Yana tapi Yana langsung menepisnya.
"Jangan coba coba menyentuhku, jika kamu tidak mau berakhir dipenjara.Kamu tahu, aku banyak mengenal aparat, tidak sulit bagiku membuat kamu mendekam di penjara. Ya memang Alvin bukan darah dagingmu, ia anak Heru. Aku mengatakan jika ia anakmu dan mau menikah denganmu karena aku berharap kamu dapat mengangkat derajatku, aku sudah capek bekerja dan aku sudah bosan hidup miskin. Tapi ternyata nasibku tidak berubah juga walau telah menikah denganmu. Kamu tidak bisa memberi kemewahan yang aku mau. Jika kamu bisa memberi itu semua, mungkin aku bisa bertahan denganmu. Banyak yang harus aku tanggung hidupnya. Jadi aku tak bisa hanya berdiam diri jika uang yang kamu beri tidak cukup buat kebutuhanku dan keluargaku."
"Sekarang juga kamu pergi dari rumahku.Aku tak mau melihat kamu lagi.Aku tak yakin kamu akan berubah walau aku penuhi semua kebutuhan hidupmu. Seekor lalat pasti akan mencari tempat sampah walau sudah dipelihara ditempat yang bersih "
"Jangan kuatir aku juga tidak ingin lama lama menjalin hubungan denganmu. Aku juga mau berpisah. Jika kamu menganggap aku lalat, berarti kamu sampah dan kotoran itu, karena lalat hanya hinggap ditempat sampah dan kotoran"ucap Yana masuk ke kamar dan menguncinya.
"Dasar jal*ng...Aku mau kamu segera tinggalkan rumah ini, jika aku kembali lagi kamu masih ada disini, jangan salahkan aku berbuat kasar"teriak Willy. Ia lalu masuk ke dalam mobilnya dan meninju setir mobil
"Tuhan.. cobaan apa lagi ini. Aku menyayangi Alvin, aku kira ia memang darah dagingku, tapi ternyata aku selama ini hanya ditipu dan dibohongi Yana. Mengapa aku bisa mempercayai ucapannya. Aku benar benar tak percaya semua ini. Saat aku ingin berubah dan ingin menjalankan rumah tangga yang benar dengan Yana dan Alvin, aku mendapati kenyataan jika ia bukan darah dagingku. Apakah ini balasan karena selama ini aku tak peduli dengan darah dagingku sendiri ,Nabila dan Bobby.. tapi aku juga menyayangi Alvin.. "
Willy pergi ke kafe ingin menenangkan pikiran. Ia duduk disudut ruangan dan memesan minuman alkohol.
Dari tempat duduknya, ia melihat Melati dan Rangga yang duduk sambil berpelukan.
"Mela.. kamu tampak sangat bahagia dengan pernikahan kamu saat ini, apa tidak ada sedikitpun kamu mengenang lagi saat saat kita bersama dulu. Kamu dulu sangat mencintai aku. Bukankah dulu aku juga sangat memanjakan dan mencintai kamu seperti Rangga, tapi mengapa sekarang kamu melupakan semuanya"
"Apakah memang kebiasaan kamu minum alkohol atau kamu sedang banyak masalah. Sebenarnya aku kasihan melihat nasibmu saat ini, disaat perusahaan kamu sedang dalam masalah kamu juga harus menghadapi masalah keluarga. Aku tak tahu, apakah itu pantas kamu dapatkan? "
"Bie... kamu lagi memandangi siapa"
"Willy, tampaknya ia sedang banyak masalah. Lihatlah, ia minum banyak alkohol. Di meja aja sudah ada dua botol. Apakah ia juga sering mabuk ketika bersama kamu dulu. Bagaimana sebenarnya sifat Willy itu"gumam Rangga
"Kamu nggak marah jika nanti aku menceritakan mas Willy"tanya Melati
"Nggak apalah.. sesekali kamu cerita tak masalah... "
"Dulunya mas Willy lelaki yang baik,penyayang dan juga perhatian, tapi semua berubah sejak usahanya mulai maju. Dan aku sebenarnya tak ingin berburuk sangka, tapi ini memang kenyataan yang aku rasakan. Ia semakin berubah sejak menikahi Lani"
"Kamu sedih ya sayang.. kamu masih mencintai Willy"
"Bie.. aku nggak mau ya kamu berpikir begitu. Tadi kamu yang mau aku cerita.. "ucap Melati cemberut.
__ADS_1
Rangga yang melihat Melati cemberut langsung mengecup bibirnya. Bertepatan saat itu Willy lagi memandang ke arah mereka.
Willy langsung melempar gelas ke lantai melihat Rangga mencium Melati. Itu membuat semua pengunjung memandangi Willy. Ia lalu menghampiri meja Rangga.
Setelah sampai di dekat meja Rangga, Willy langsung mencengkeram kerah leher Rangga.
"Apa maksud kamu mencium Melati"ucap Willy dengan suara keras. Rangga menarik tangan Willy dengan keras agar terlepas dari kerah bajunya. Ia lalu berdiri.
"Aku yang seharusnya bertanya.. apa maksud kau yang tiba tiba datang dengan marah marah. Aku mencium istriku, dimana letak salahnya.. "
"Kau sengaja ingin memanas manasi aku, bukan"
"Nggak ada untungnya aku memanasi kamu. Jika saja kau tidak dalam keadaan mabuk, sudah ku buat babak belur wajah kau "ucap Rangga mulai emosi
"Bie... sudah. Jangan diladeni. Mas Willy pasti sudah mabuk, kita lebih baik pergi saja"ucap Melati memeluk lengan Rangga.
"Melati.. apa kamu tidak pernah mengingat kenangan manis kita dulu. . Apa kamu benar benar telah melupakan semuanya. Kamu tidak ingat ketika aku melamarmu dengan bunda, kita berjanji akan hidup selamanya bersama.Dulu kamu sangat mencintaiku....... "ucap Willy mendekati Melati
"Berani kau sentuh Melati, aku tak akan tinggal diam"ucap Rangga dan membawa Melati bersembunyi dibelakang punggungnya.
"Bie... aku mohon, jangan berkelahi"ucap Melati menangis sambil memeluk pinggang Rangga dari belakang.
"Kau beruntung saat ini, karena kau lagi dalam keadaan mabuk. Jika tidak,aku tak menjamin kau pulang selamat"ucap Rangga memeluk bahu Melati dan membawanya keluar dari kafe itu.
"Kau lelaki pecundang, bisanya cuma merebut istri orang. Apa yang kau banggakan, istri dapat dari hasil perselingkuhan. Kalian dengar semuanya.. wanita cantik itu dulunya istriku, tapi lelaki itu merayunya hingga ia minta cerai denganku "racau Willy
Rangga yang belum sampai keluar mendengar racauan Willy langsung melepaskan pelukannya dibahu Melati, ia berjalan dengan cepat menuju Willy dan langsung memberikan bogem mentah di wajah Willy.
"Kau yang pecundang, kau yang telah mencampakan istrimu. Setelah ia lepas darimu dan bahagia denganku, kau merasa menyesal sekarang. Makanya jangan pernah membuat wanita menangis karena saat ada lelaki lain menghapus air matanya baru kau merasa menyesal... "
"Bie.. sudah. Aku mohon.. sudahlah. Biarkan apa yang mau dikatakan olehnya.. "ucap Melati memeluk Rangga yang ingin menendang Willy
"Mulut lelaki seperti ini, pantas diberi pelajaran agar tak bicara sembarangan lagi"
"Bie.. Tak ada gunanya meladeni orang yang mabuk.."ucap Melati masih memeluk tubuh Rangga. Ia menangis dipelukan Rangga
Rangga lalu membawa Melati ke luar dari kafe itu dengan masih manahan amarahnya.
"Jika saja aku tak bersama Melati, telah kuhabisi kamu. Aku hanya tak ingin Melati ketakutan melihat aku memukul dirimu"
__ADS_1
************************
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini