Sahabatku Maduku

Sahabatku Maduku
BAB 55


__ADS_3

"Mas kok kamu gak tanya masalah tadi pas ketemu dengan Sofia?" tanya Riana.


"Aku percaya sama kamu Kok sayang, jadi pasti Sofia yang salah. Bukan kamu." ucap Iqbal.


Riana langsung meleleh di bilang seperti itu sama Iqbal.


"Aku kesal mas sama Sofia, dia berbicara seolah aku merebut kamu dari dirinya. Padahal kan dia sendiri yang meninggalkan kamu dan Kiara kenapa malah sekarang menyalahkan ku." ucap Riana.


"Sudahlah jangan di pikirkan gak penting banget, sekarang yang terpenting ya kita. Semoga benihku tumbuh di perutmu ini ya Yang." ucap Iqbal.


Riana seketika berubah sendu, karena perkataan Iqbal, dia merasa sedikit insecure untuk masalah anak, karena di pernikahan pertama dia bercerai gara - gara dia belum memberikan anak.


"Mas jika aku beneran mandul apakah kamu akan meninggalkan aku seperti Mas Damar?" ucap Riana sendu


Iqbal merasa bersalah karena perkataannya tadi, dia tidak bermaksud untuk mengungkit rasa sakit yang di rasakan oleh Riana.


"Maafin mas sayang, Mas sangat mencintai kamu, mas tidak akan pernah meninggalkan kamu apapun yang terjadi." ucap Iqbal sambil memeluk Riana.


Riana terharu karena begitu di cintai oleh Iqbal.


"Aku juga mencintaimu mas." ucap Riana membalas pelukan dari Iqbal.


Iqbal bersyukur bisa menikahi sosok seperti Riana. Yang dengan tulus menyayangi anaknya.


...****************...


Kini Riana dan Iqbal sudah sampai di bandara Soetta, mereka di jemput oleh Bu Kartika dan Kiara.


"Mamah.. Papah.. Kiara kangen banget sama kalian." ucap Kiara sambil berlari setelah melihat Iqbal dan Riana berjalan ke arah mereka.


"Aduh anak papah jangan lari - lari dong, nanti jatuh loh." ucap Iqbal sambil mengendong Kiara dan mencium pipi Kiara karena gemas.


Riana juga ikut menggelitik perut Kiara sampai Kiara tertawa - tawa senang.


Bu Kartika yang melihat interaksi itu merasa bahagia karena Iqbal tidak salah pilih istri.


"Sudah... Sudah... Ayo kita cepat pulang pasti kalian lelah kan?" ucap Bu Kartika setelah sampai di hadapan Iqbal dan Riana.


Iqbal dan Riana mencium punggung tangan Bu Kartika.


"Gimana kabar mamah? Sehat?" tanya Riana.


"Kabar baik Ri, kalian berseri - seri sekali pulang bulan madu." ucap Bu Kartika

__ADS_1


Riana tersipu malu mendengar perkataan itu dari Bu Kartika.


"Ish mama ini, jangan menggoda istriku kasihan tahu." ucap Iqbal.


"Iya.. iya.. ayo kita pulang." ucap Bu Kartika.


Bu Kartika menggandeng tangan Riana sedangkan Iqbal mengendong Kiara sambil membawa koper.


Selang 30 menit mereka sampai di Rumah, Iqbal mengantar Kiara terlebih dahulu ke kamarnya karena dia tertidur saat di perjalanan tadi.


Sedangkan Riana dan Bu Kartika berada di ruang keluarga sambil melepas lelah. Si mbok membawakan minuman dingin untuk Riana dan Kartika.


"Makasih ya mbok tahu saja kalo aku haus." ucap Riana yang langsung meminum minuman itu.


"Iya mbak sama - sama." ucap si mbok yang langsung pergi ke dapur.


Iqbal terlihat menghampiri Riana dan Bu Kartika, dia duduk di samping Riana sambil merangkul pinggang istrinya itu.


Riana merasa agak risih karena di sana ada Mertuanya tapi kelakuan suaminya itu bikin dia malu.


"Papah mana mah? Kok gak keliatan." ucap Iqbal.


"Wah baru pulang bulan madu sudah lupa, papah kamu kan gantiin kamu sementara sampai kamu kembali bekerja." ucap Bu Kartika.


"Kamu pikir mamah anak kecil apa? Yang bisa nakalin temennya." ucap Bu Kartika sewot.


Riana tertawa mendengar perdebatan ibu dan anak itu.


"Udah ah mama mau ke kamar capek liat kamu." ucap Bu Kartika yang langsung meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


"Ih ngambek, nanti cantiknya ilang loh mah?" ucap Iqbal jail


Bu Kartika jalan terus tanpa menengok ke belakang. Karena Bu Kartika sudah pergi kesempatan Iqbal untuk menjahili istrinya.


"Sayang ayo aku tunjukkan kamar kita." ucap Iqbal yang langsung menarik tangan Riana untuk mengikutinya.


Mereka sudah sampai di kamar Iqbal yang terletak di lantai dua, di samping kamarnya ada kamar Kiara. Sedangkan kamar bu kartika dan pak Bagaskara terletak di lantai bawah.


Karena mereka merasa lelah setelah perjalanan jauh akhirnya mereka pun tertidur hingga pagi hari.


Di pagi harinya Riana membuka mata karena dia mendengar alarm yang berbunyi dari ponselnya.


Riana melirik jam di ponselnya ternyata jam 5 pagi. Tangan kokoh Iqbal yang masih setia di pinggang, Riana pindahkan secara perlahan, dia takut sampai membangunkan suaminya itu.

__ADS_1


Riana ke kamar mandi dan mencuci mukanya, lalu dia pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk semua orang.


Ternyata di dapur si mbok sedang meracik bumbu masakan.


"Pagi mbok, mau masak apa nih pagi ini?" ucap Riana.


"Loh mbak Riana, apa ada yang mbak Riana butuhkan nanti biar mbok yang ambilkan." ucap Si mbok.


"Aku mau bantu masak mbok, boleh ya." ucap Riana


"Aduh mbak, nanti kalo mbok si marahin nyonya sama tuan besar gimana? Masa menantunya masak di dapur." ucap Si mbok.


"Ih gak apa - apa mbok, aku di rumah juga sering masak kok." ucap Riana.


"Baiklah mbak, mbok mau masak nasi uduk mbak Riana bantu bersihin beras ya.sama goreng ayam itu, sudah mbok ungkep tadi." ucap si mbok.


"Iya mbok." ucap Riana.


Riana dengan sigap membersihkan beras dan memasukan ke rice cooker. Kemudian dia mulai menggoreng ayam yang sudah di ungkep oleh si mbok.


Si mbok merasa senang karena yang menjadi Istri dari tuan mudanya itu sosok seperti Riana. Yang tidak takut untuk turun ke dapur, dan perangainya juga baik tidak sombong seperti mantan istri dari tuan mudanya itu.


"Mbok senang yang menjadi istri dari Mas Iqbal itu mbak Riana, sudah cantik pinter masak lagi. Gak kayak yang sebelumnya sombongnya minta ampun." ucap Si mbok.


"Ah si mbok pintar muji nih nanti aku terbang loh. Memang si mbok bekerja di sini sudah lama?" ucap Riana bercanda.


"Sedari Mas Iqbal bayi mbak hingga saat ini. Mbok yang merawat Mas Iqbal, jadi mbok ikut merasakan sakit saat neng Sofia pergi ninggalin mas Iqbal dan Kiara yang saat itu masih berusia 3 bulan." ucap Si mbok dengan mata berkaca-kaca.


"Wah lama juga ya mbok, ya yang sudah ikhlaskan saja mbok, sekarang kan sudah ada aku yang bakal jagain Kiara. Kalo makanan kesukaan Kiara itu apa mbok?" ucap Riana.


"Neng Kiara itu pinter mbak, dia tidak pernah pilih - pilih makanan. Apa yang di sediakan di meja pasti bakal di makan dia dengan lahap. Salah satunya ya nasi uduk yang akan kita buat ini mbak." ucap Si mbok.


"Wah pinter ya, tidak pilih makanan. Padahal seusia Kiara sedang banyak maunya. Tapi malah Kiara enggak." ucap Riana.


Selang satu jam Masakan pun sudah siap tinggal di hidangkan di meja makan.


"Untuk pekerja disini ikut makan yang di masak ini kan mbok?" tanya Riana.


"Iya mbak, tuan dan nyonya besar tidak pernah membedakan pekerja di sini, jadi apa yang dia makan pekerjanya juga harus makan." ucap Si mbok.


"Oh gitu ya mbok, ya sudah mbok ambil buat mereka semua, aku yang akan tata di meja makan." ucap Riana.


Saat sedang menata makanan di meja makan tiba - tiba ada yang memeluk Riana dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2