
Pagi sudah menjelang, Rangga membuka matanya dan melihat Melati masih tertidur disampingnya.
Rangga lalu memeluk pinggang Melati membawa tubuh Melati agar lebih merapat ketubuhnya.
"Hhhmmmmm.. "ujar Melati tanpa membuka matanya
"Tumben belum bangun sayang, biasanya sudah siap siap mau ke toko"ujar Rangga sambil mengecup kepala Melati
"Bie.. kepalaku pusing. Aku mau tidur lagi"ucap Melati dan tambah menyembunyikan kepalanya kedada Rangga.
"Pusing.. minum obat dong. Jangan hanya di tahan"
"Nanti aja.. aku masih mau peluk kamu"
"Tumben istriku manja banget "
Rangga memeluk Melati sambil mengecup pipi Melati. Ia senang jika Melati manja dengannya.
"Bie.. memangnya jam berapa sekarang "
"Sudah jam delapan.. "
"Apa... jam delapan.. "ucap Melati langsung bangun dari tidurnya.
"Mengapa nggak bangunkan sih, bie. Aku harus cepat. Ada pesanan roti.. "
"Mira juga bisa buat roti sendiri kan.. "
"Tapi nggak mungkin ia sendirian, kasihan.. "
"Kan ada Novi juga yang bisa bantu"
Melati langsung ke kamar mandi. Ia segera mandi dan berpakaian.
"Bie.. nggak kerja. "
"Nggak... kamu lupa ini hari sabtu sayang.. "
"Oh iya.. aku buatkan sarapan ya. Nasi goreng mau bie"
"Boleh.. nanti biar aku yang antar kamu ke toko. Setelah aku jemput Nabila,baru ke toko bantu kamu ya"
"Terserah kamu aja bie.. "ucap Melati berjalan segera ke dapur
Rangga mengikuti Melati ke dapur. Ia duduk di kursi makan sambil memandangi Melati masak. Ketika Melati menggoreng bawang, perutnya terasa mual. Ia tak tahan dengan bau bawang goreng. Melati mematikan kompor dan masuk ke kamar mandi.
Rangga mendengar suara muntahan Melati menjadi cemas. Ia menyusul Melati masuk ke kamar mandi.
"Sayang.. kamu kenapa. Sudah jangan masak lagi. Beli aja sarapannya.. "ucap Rangga sambil memijat tengkuk Melati yang sedang muntah. Setelah Melati selesai, Rangga mencucikan wajah dan mulut Melati.
"Dari kemarin aku pusing dan muntah terus, mungkin masuk angin bie"
"Nanti kita ke dokter aja ya. Biar pesanan roti Mira dan Novi yang buat"
"Nggak apa, bie. Paling cuma masuk angin. Nanti juga sembuh dibalut minyak angin"
"Kamu tuh jangan meremehkan penyakit. Kita harus ke dokter. Aku tak mau nanti penyakit kamu makin parah"
"Nggak perlu, bie. Aku sudah agak baikan nih sekarang. Aku harus ke toko segera. Kamu nggak mandi, bie. Biar aku bawa mobil sendiri aja ya. Maaf.. aku nggak jadi buatkan sarapan"ucap Melati memeluk pinggang Rangga yang berdiri dihadapannya
"Nggak apa.. aku mandi di rumah mami aja. Aku antar kamu, tapi kita sarapan dulu ya.. "
__ADS_1
"Nggak usah bie.. aku nggak lapar"
"Mela.. itu yang membuat perutmu makin sakit. Mau sarapan atau ke rumah sakit "
"Iya... sarapan dulu. Tapi cepat, bie. Aku harus segera buka toko. "
"Aku hubungi Mira agar membuka toko roti . Dan aku juga meminta Mira memulai membuat roti pesanan . Kamu harus sarapan denganku dulu. "
"Terserah hubby saja"
"Begitu.. jadi istri tuh harus menurut kata suami "ujar Rangga mengusap kepala Melati
"Memangnya aku pernah membantah ya, bie"
"Pernah... "
"Kapan.. bie"
"Kamu tuh masih aja cengeng.. nggak mau dengar kata aku. Aku bilang jadi wanita itu harus kuat, jangan mau ditindas.. "
"Hubby... aku sudah berpikir kapan aku membantah kamu"
"Kamu tuh istri yang menuruti kata suami kok"ucap Rangga sambil mengusap kepala Melati
"Walau hubby selalu bohongi akukan"
"Kapan aku bohongi kamu sayang... "
"Itu soal ruko dan rumah yang kamu beli lagi dari mas Willy"
"Kalau soal ruko itu ternyata milikku, aku bohongnya kan saat belum jadi suami kamu. Dan soal rumah yang aku beli dari Willy.. aku mau itu jadi hadiah ulang tahun saat Nabila sudah berusia tujuh belas tahun. Aku juga membelinya agar Willy bisa mendapatkan tambahan dana buat modal usahanya. Tapi ternyata tidak bisa juga membuat usaha Willy kembali. Ia telah menutup perusahaannya, yang aku dengar dari bawahanku"
"Padahal itu impian mas Willy, ia sangat senang dan bangga saat bisa membuka usaha sendiri. Ia tak mau menjalankan perusahaan milik mamanya,karena ingin membuktikan pada orang tuanya ia juga bisa sukses. "gumam Melati
"Bie.. jangan salah paham. Aku hanya sekadar prihatin saja, nggak ada maksud lain"
"Aku tahu sayang.. "
"Cepat bie.. ganti pakaiannya. Nanti makin telat nih aku ke toko"
"Oke.. istriku sayang"ucap Rangga mencubit pipi Melati.
Rangga akhirnya mandi juga dan berpakaian segera. Setelah selesai ia lalu menemui Melati yang sedang menyusun bawaan buat ke toko. Rangga memeluk Melati dari belakang dan mengecup lehernya.
"Hubby.. kamu pakai parfum ya.. "ucap Melati sambil menahan perutnya yang terasa mual.
"Kenapa.. biasanya juga begitu sayang.. "
"Lepasin bie, pelukannya. Perutku mual jadinya bau parfum kamu"ucap Melati dan segera masuk ke kamar mandi
"Mengapa Melati jadi begitu.. biasanya aku juga pakai parfum ini. Tapi ia suka aja baunya"
Rangga masuk kamar mandi dan kembali memijat tengkuk Melati.
"Kamu kenapa sayang, muntah muntah aja. Nanti harus mau ke rumah sakit. Kamu harus diperiksa. "
"Hubby.. aku ini cuma masuk angin"ucap Melati sambil membasuh wajahnya setelah ia muntah.
"Nggak ada bantahan... "
"Aku harus buat roti pesanan orang bie.. "
__ADS_1
"Setelah itu kita ke rumah sakit.. "
"Ih.. hubby. Terkadang ngeyel juga. Sudah aku bilang, aku ini cuma masuk angin"
"Kenapa bisa masuk angin.. padahal tadi malam kamu masih berpakaian lengkap tidurnya, karena aku nggak minta jatah. Kasihan lihat kamu kecapean"gumam Rangga
"Hubby... pikirannya langsung mesum. Yuk ah.. berangkat. Aku lihat tanda tanda kurang baik yang akan membuat aku telat nanti "
"Ha.. ha.. kamu takut aku minta ya pagi ini"bisik Rangga
"Hubby... aku serius nih. Sudah telat. Sarapannya nanti bungkus aja, biar makan di toko.Sekalian beli buat Mira dan kawan kawan"
"Terserah istriku yang cantik aja. Tapi janji ya harus di makan sarapannya. Aku bawa sarapan ke rumah mami aja. Aku mau beli bubur ayam buat Nabila"
"Ya bie.. "
Rangga membawakan barang barang Melati buat di tokonya. Ia melajukan mobil menuju salah satu warung yang menjual bubur ayam terenak menurut seleranya.
Setelah membeli sarapan,Rangga mengantar Melati ke tokonya. Ia menurunkan semua barang bawaan Melati.
"Ingat sarapannya di makan. Sore kita harus ke rumah sakit, periksa kesehatan kamu"
"Tapi bie.. ini aku nggak sakit lagi. Parfum kamu tuh aja yang baunya menyengat."
"Sayang... yang tadi aku pakai juga parfum yang biasa. Selama ini kamu nggak ada protes baunya, malahan kamu selalu aja nempel di badannya aku"
"Nggak tahu bie.. mengapa bisa begitu ya.. "
"Makanya nanti kita ke dokter. Aku antar sarapan buat Nabila dulu... "
"Hati hati bie.. salam buat mami dan kak Rachel"
"Iya.. ingat jangan lupa sarapannya"
"Iya bie... kok bawel sih sekarang"
"Apaaa....sudah berani bilang suaminya bawel"
"Eh....habis hubby dari tadi ngomong itu terus.. "
"Aku nggak mau kamu sakit sayang"
"Terima kasih my hubby....I love you "ucap Melati dan mengecup pipi Rangga
"Love you too... "Rangga juga mengecup pipi Melati. Rangga lalu pergi meninggalkan Melati.
"So sweet banget sih mbak Melati, beruntung banget punya suami seperti mas Rangga. Sudah ganteng, baik,dan perhatian. Jangan sampai lepas mbak. Jaga baik baik, sekarang banyak pelakor berkeliaran "ucap Mira.
"Ya Mira, aku memang sangat bersyukur di beri suami seperti Rangga.Yuk kita buat roti lagi.. "
"Mbak Melati sakit.. "
"Hanya sedikit pusing dan mual"
"Pantas wajah mbak Melati pucat. Atau jangan jangan mbak Melati hamil"
"Hamil.. "gumam Melati
"Iya.. kan mbak bilang kepala pusing dan mual, itu seperti gejala ketika aku mulai hamil anakku dulu"
"Apakah aku memang hamil.. mungkin saja. Mengapa aku nggak kepikiran kesana ya. Mengapa aku jadi lupa begini jika itu bisa saja tanda awal kehamilanku. Dan Aku juga baru ingat jika aku sudah telat dua minggu. Tapi aku nggak boleh beri tahu ini dulu dengan Rangga, takutnya itu tak benar. Rangga sangat berharap aku segera hamil, jika ternyata itu tak benar, aku takut ia kecewa"
__ADS_1
**********************
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini