
Melati membaca kembali pesan yang dikirim Lani melalui nomor barunya. Lani mengatakan jika rumah yang ditempatinya dulu sekarang dihuni istri baru Willy.
Melati lalu mengambil surat rumah itu. Ia sedang memikirkan apa yang akan ia lakukan dengan surat ini.
Rangga yang baru kembali dari membawa Nabila bersepeda, melihat Melati memegang surat itu.
"Mana Nabila nya,Ngga"
"Tadi jumpa mami, Nabila minta ikut sama mami"
"Kasihan mami, Ngga. Capek nanti menjaga Nabila terus"
"Mami malahan senang karena ada yang temani. Itu surat apa yang kamu pegang,Mel"
"Ini.. ini ya. Ini surat rumah yang dulu aku tempati bersama Willy, ia memberikan buatnya. Karena rumah itu atas namaku, sebagai hadiah perkawinan kami dulu"ucap Melati sedikit gugup
"Kapan ia beri.. atau kamu yang membawanya "
"Willy yang memberi saat aku bertemu sebelum sidang terakhir perceraian dulu"
"Kembalikan saja.. kamu tak perlu menerima apapun dari Willy"
"Ini atas nama aku,Ngga.Willy bilang ini buat Nabila"
"Kembalikan saja Mel. Aku akan memberi rumah buat Nabila yang lebih dari itu. Kamu mau dimana"
"Tapi Ngga, ini hadiah dari ayahnya Nabila"
"Aku sebagai papi nya juga ingin memberi hadiah buat Nabila. "
"Nggak perlu, Ngga. Buat apa rumah banyak banyak. "
"Mengapa kamu tak pernah bilang jika Willy memberi surat itu"
"Aku lupa, Ngga. Maaf.. karena saat Willy memberi ini, kita belum jadi suami istri"
"Mengapa saat ini kamu ingat kembali dan memegang surat itu"
"Aku sedang memikirkan ,akan melakukan apa dengan surat ini. Lani mengabarkan aku jika rumah itu sekarang ditempati istri baru Willy. "
"Pulangkan surat rumah itu dengan Willy. Kamu harus punya harga diri Mela. Apa kamu masih mau menerima rumah yang pernah ditempati juga oleh wanita simpanan Willy. Aku mau kamu kembalikan segera.. jijik aku lihat kelakuan Willy. Apa maunya lelaki itu. Setelah ia memberi suratnya padamu, ia membawa wanita lain untuk menempati rumah itu.. "ujar Rangga lalu pergi duduk di sofa ruang keluarga
__ADS_1
Melati mengikuti Rangga dan duduk disampingnya.Melati tahu saat ini Rangga pasti lagi menahan emosi.
"Ngga.. kamu mau aku kembalikan surat ini ya"ucap Melati sambil memeluk lengan Rangga. Ia tahu Rangga sedang emosi. Rangga memang sulit mengendalikan emosinya, itulah kekurangan dari dirinya yang harus Melati pahami dan dimengerti.
"Aku nggak mau kamu menerima apapun itu dari Willy, aku tak mau jika barang pemberian Willy akan membuat kamu jadi terus mengingatnya. Aku akan memberi rumah buat Nabila, jika perlu atas namanya langsung "
"Ngga... maaf. Aku tak bermaksud menerimanya agar aku selalu mengingat Willy. Aku pikir itu bisa sebagai investasi buat Nabila,jika suatu saat ia membutuhkan buat biaya sekolah, aku bisa menjualnya. Karena aku dulu tak pernah membayangkan akan menikah lagi secepat ini,karena aku takut gagal lagi. Tapi karena kamu yang sangat baik dan ganteng ini bisa meluluhkan hatiku dan mengobati sakit hatiku, aku bisa cepat banget move on nya"ucap Melati sambil memeluk tubuh Rangga dan menyembunyikan kepalanya diceruk leher Rangga.
"Kamu ya.. sekarang sudah pandai banget merayunya.Nggak malu lagi"ucap Rangga sambil langsung menggendong Melati masuk ke kamarnya.
"Ngga.. kamu mau apa.. ini masih sore"ucap Melati melihat Rangga membuka bajunya.
"Kenapa emang nya kalau sore"ucap Rangga dan tidur disamping Melati memeluk dan menarik pinggang Melati agar merapatkan tubuhnya.
"Kamu nggak lagi pengin kan"tanya Melati sambil memandangi wajah Rangga
"Kalau pengin kenapa... "
"Jangan main main,Ngga.Nanti mami datang membawa Nabila. "
"Biarin aja.. mami pasti mengerti kok. Mami pernah muda jugakan... "
"Rangga.. lepasin ih. Nanti malam aja.. aku mau masak buat makan malam"ucap Melati berusaha melepaskan pelukan Rangga
"Rangga ih.. jangan mesum deh, masih sore."
"Jangan masak.. makan di luar saja. Kamu mau makan dimana. Sekalian janjian ketemu Willy untuk mengembalikan surat itu"
"Iya.. aku ganti pakaian dulu. Lepasin tangan kamu nih.. "ucap Melati memukul tangan Rangga yang bermain didadanya
"Lagi enak.. bentar lagi ya"
"Nggak mau.. nanti kamu minta lebih"
Rangga langsung menarik baju Melati keatas dan memaksa membukanya. Melati tak bisa melawan lagi. Akhirnya Rangga melakukan satu ronde penyatuan tubuh mereka.
Melati mandi lagi sebelum mengganti pakaiannya, Rangga juga ikutan mandi. Ketika Rangga ingin meminta lagi, Melati cepat cepat menyelesaikan mandinya dan berlari keluar dari kamar mandi.
Rangga tertawa melihat tingkah istrinya itu
"Mela.. sejak aku menikah denganmu, hari hari yang aku jalani terasa berwarna. Kamu dan Nabila memberi banyak perubahan dan juga kebahagiaan buatku. Maaf.. jika aku egois. Karena aku tak akan pernah ingin berbagi dengan siapapun, walau pun Willy ayahnya Nabila."
__ADS_1
Melati mengirim pesan buat bertemu dengan Willy. Setelah membaca pesan dari Melati, Willy segera menuju tempat yang dijanjikan.
Ketika memasuki kafe itu, Willy melihat Melati hanya sendirian saja. Rangga memang memberi waktu untuk Melati mengembalikan. surat rumah itu. Rangga hanya melihat dari kejauhan. Ia tak ingin nanti Willy menjadi canggung.
"Ada apa Mel, kamu ingin kita bertemu"
"Mas.. ini surat rumah yang pernah mas berikan, aku kembalikan lagi. Aku tak bisa menerimanya"
"Kenapa Mel, bukankah itu atas namamu, itu milikmu"
"Jika mas memang menganggap itu milikku, mas tak akan membawa orang lain masuk tanpa izin aku"
"Maksud kamu apa Mel"
"Aku tahu rumah itu sekarang mas tempati bersama istri baru, mas. Jadi ini aku kembalikan buat mas. Aku tak bisa menerimanya "
"Maaf Mel.. aku hanya sementara menumpang disana. Karena Yana habis melahirkan, kasihan tak ada tempat tinggal yang layak"
"Untuk itu aku mengembalikan kepada mas lagi. Mas bisa berikan buat siapa yang mas inginkan.. apakah buat Lani atau wanita mas lainnya"
"Mel.. kamu marah karena rumah kenangan kita ditempati orang lain, apakah itu berarti kamu masih ada niat buat kembali bersamaku menempati rumah itu lagi"ucap Willy dan meraih tangan Melati lalu menggenggamnya. Melati menarik tangannya cepat.
"Mas ...mas jangan salah paham. Aku tak pernah marah dan tak ingin kembali ke rumah itu lagi, terlalu banyak kenangan pahit di sana.Dan satu lagi mas.. kita tak mungkin akan kembali, aku sudah hidup bahagia dengan Rangga,aku tak akan meninggalkan Rangga "
Belum sempat Willy berkata,Rangga datang menghampiri mereka.
"Sayang.. sudah bicaranya. Yuk .. kita pergi lagi"ucap Rangga memeluk bahu Melati dan mengecup puncak kepala Melati.
"Sudah Ngga.. "ujar Melati menengadah memandang wajah Rangga. Ia langsung mengecup bibir Melati.
"Willy.. aku rasa pembicaraan ini selesai, aku dan istriku pamit dulu"ucap Rangga.
Melati berdiri dari duduknya. Rangga langsung memeluk pinggang Melati.
"Mas. aku pamit dulu"
Melati dan Rangga meninggalkan Willy sendirian. Willy langsung meninju meja begitu mereka menghilang,membuat pengunjung kafe yang lain memandang ke arah Willy.
"Dasar bajing*n..aku tahu kamu sengaja memanasi aku dengan memperlihatkan kemesraan kamu dan Melati. Kamu akan menangis nanti setelah aku bisa merebut kembali Melati dari tanganmu anak ingusan"
**********************
__ADS_1
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini