Sahabatku Maduku

Sahabatku Maduku
Bab Tujuh puluh Empat


__ADS_3

Melati sedang bermain dengan Nabila di sudut ruangan ketika ia mendengar seseorang memanggilnya.


"Melati.. kamu lagi ngapain.Lagi beli roti juga."


"Weni.. aku kira siapa"


"Kamu langganan toko roti ini juga ya. Tante aku sering beli disini, aku suka rotinya. Tadi tante aku nggak kerja jadi minta tolong aku yang beliin"


"Kebetulan ini toko roti milikku, Wen"


"Jadi toko roti ini milik kamu. Yang buat rotinya kamu atau ada koki nya"


"Yang buat aku dibantu dengan karyawan yang lain"


"Wah hebat.. pantas Rangga sangat mencintai kamu. Pasti kamu juga jago masak ya. Lelaki memang akan jatuh cinta jika selalu dimanjakan dengan lidah. Kamu hebat.. besok besok aku bisa belajar ya denganmu"


"Boleh... kapan kapan main saja kesini"


"Siapa si cantik ini"ucap Weni memegang pipi Nabila.


"Sayang.. kenalkan namanya dengan tante Weni"


"Tenalkan tante,nama aku Nabiya. Bundaku Meyati dan papi aku Langga"ucap Nabila sambil tersenyum dengan suara cadelnya


"Pintar banget kamu sayang. Pasti Rangga sangat menyayangi kamu"


"Tentu taja.. papi tangat sayang dengan Biya. Papi biyang Nabiya putlinya yang paling cantik, tante"


"Kamu memang sangat cantik. Tante boleh nggak mencium pipi kamu"


"Tata papi,Bila tak boyeh dipedang atau ditentuh selain sama bunda,oma dan Opa."(Ha.. ha.. gimana ya buat dialaog anak anak dengan suara cadelnya. Anggap saja begitu ya)


"Sayang.. tante ini kan wanita seperti bunda. Yang tidak boleh menyentuh Nabila itu lelaki"


"Butan begitu bunda, papi biyang Biya tidak boleh pelcaya dan disentuh oleh oyang yang balu ditenal "


"Maaf Weni. Rangga memang terlalu protektif dan posesif dengan Nabila. Ia memang tak mengizinkan Nabila dekat dengan orang yang tidak dikenalnya"


"Aku mengerti Melati. Ini semua pasti karena Rangga terlalu mencintai dan menyayangi Nabila "


"Tante kamu sering belanja disini. Mungkin aku mengenalnya ya"ucap Melati mengalihkan pembicaraan


"Ya.. setiap pulang kerja tanteku selalu mampir beli roti disini. Tante tadi libur makanya minta tolong aku yang beliin. Tante memang pernah ngomong jika toko roti ini milik seorang wanita muda yang cantik dan ramah, ternyata kamu. "

__ADS_1


"Tante kamu bisa saja memuji"


"Tapi kamu memang hebat Mel. Cantik, ramah, banyak kepintarannya lagi. Memang nggak salah jika lelaki mencintaimu. Aku jadi ingin tahu lelaki bodoh mana yang rela melepaskan kamu dulu "


"Aku pasti memiliki kekurangan sehingga suami pertama aku melepaskan aku"


Ketika Weni akan melanjutkan perbincangannya, terdengar suara seseorang memanggil Melati.


"Melati.. aku ingin bicara sebentar "


"Mas Willy... mengapa datang ke sini"


"Aku ingin bicara denganmu"


"Mas.. Rangga sudah sering bilangkan,jika mas ingin menemui Nabila bisa datang ke rumah pada malam hari.Saat Rangga sudah pulang dari kerja "


"Tapi aku ada kepentingan sebentar denganmu.. bukan Nabila"


"Sama saja mas.. Rangga tak mengizinkan aku menemui lelaki tanpa izin darinya "


"Banyak aturan banget sih suami kamu itu. Takut ya kamu diambil orang lain. Apa ia belum percaya sepenuhnya jika kamu mencintainya.. mengapa posesif banget"


"Maaf mas.. Rangga itu suamiku, tidak pantas mas menjelekan Rangga didepanku."


"Nabila.. sini nak sama ayah.. "ucap Willy mendekati Nabila ingin menggendong


"Ini ayah nak.. bukan orang lain"


"Tak mau... "teriak Nabila


"Mas.. jangan membuat Nabila takut terus denganmu"


"Mela.. bagaimana Nabila bisa dekat denganku jika Rangga selalu mencuci otaknya dengan kata kata kalau Nabila tidak boleh dekat dengan orang selain dirinya. Seharusnya Rangga sadar ia hanya ayah sambung bukan ayah kandung"


"Mas.. dari kecil Nabila sudah terbiasa dengan Rangga. Jadi ia hanya tahu papinya Rangga"


"Ia dari dulu sengaja mendekati Nabila karena ia memang dari dulu sudah suka denganmu, makanya ia yang paling semangat ketika kamu mengajukan cerai"


"Mas... jaga ucapanmu. Disini ada teman Rangga. Mas,tidak boleh menyebarkan fitnah"


"Maaf Weni, aku tinggal sebentar. Aku mau menghubungi Rangga dulu ya. Nabila ayo ikut bunda nak"


"Iya.. silakan Mel"

__ADS_1


"Iya bunda"


"Biar Nabila bersamaku.. mengapa kamu bawa masuk, kamu takut aku bawa lari"


"Mas.. aku lagi tak mau berdebat. Aku pamit mau menghubungi Rangga dulu"ucap Melati dan berjalan masuk ke dalam ruang istirahat.


"Jadi ini suami Melati yang pertama. Cukup ganteng. Jika diperhatikan, ia agak mirip dengan papa. Bibir dan matanya mirip banget dengan papa. Pasti papa ketika muda sangat mirip dengannya. Jika aku punya saudara lelaki pasti wajahnya mirip suami Melati ini"


Weni tanpa sadar memandangi Willy dengan intens.


"Mengapa memandang aku seperti itu,kamu naksir"


"Jangan geer, aku tak tertarik dengan lelaki tua seperti kamu"


"Apa katamu.. lelaki tua. Apa matamu buta, bilang aku sudah tua. Sok kecantikan aja kamu. Melati jauh lebih cantik darimu saja tak pernah mengatakan aku tua"


"Walau aku tak cantik.. tapi aku tak sudi denganmu.Apa lagi Melati yang cantik. Mungkin dulu Melati mau menikah denganmu saat itu karena ia lagi bermimpi. Setelah ia sadar langsung minta cerai"


"Hei... jaga mulutmu ya. Jika kamu bukan wanita, sudah aku tampar mulutmu itu"


"Dasar lelaki pecundang.. kamu pikir aku takut. Aku tak salah, ngapain aku takut denganmu. Berani kamu sentuh aja aku, akan aku lapor kamu kepolisi"


"Kamu.. ih untung aja wanita"gumam Willy sambil mengepalkan tangannya.


"Melati mana ya,lama banget.Mending aku pergi dari pada melayani orang gila, mbak aku mau roti yang ini dan ini masing masing selusin. Oh ya bilang sama Melati aku pulang ya.. aku ada perlu. "


"Baik Mbak. Ini Mbak rotinya"


"Berapa Mbak semuanya"


"Tiga ratus ribu Mbak.. "


"Ini uangnya.. "


"Terima kasih Mbak. Semoga Mbak puas dan kembali lagi"


"Sama sama. Jangan lupa ya bilang Melati, aku pamit"ucap Weni dan berjalan meninggalkan toko roti Melati


"Gila ...suami Melati mirip banget sama papa.. suaranya juga sangat mirip. "


Ketika Weni akan pergi ia melihat Rangga yang turun dengan tergesa dari mobilnya.Rangga tidak melihat Weni karena terburu buru masuk.


"Rangga benar benar mencintai Melati, buktinya ia langsung datang ketika Melati menghubunginya.Dari pembicaraan Melati dan mantan suaminya tadi, aku jadi tahu jika Rangga tidak mengizinkan Melati bertemu lelaki manapun, apa karena ia takut Melati direbut orang lain.. Melati beruntung banget dicintai begitu besarnya oleh Rangga. Semoga aku juga mendapat lelaki yang mencintai aku sebesar itu juga "

__ADS_1


**************************


Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini


__ADS_2