
Saat ini Riana, Iqbal dan Bu Kartika sudah sampai di rumah, Bu Kartika langsung menuju ke kamarnya karena dia mengeluh katanya lelah. Ingin segera berbaring di ranjang.
Sedangkan Kiara langsung berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian dan bermain boneka di kamarnya.
Di ruang keluarga tinggal tersisa Riana dan Iqbal, mereka duduk berdampingan sambil menonton Tivi, Tangan Iqbal merangkul pundak Riana, sedangkan Riana memeluk tubuh Iqbal dari samping.
Sungguh pasangan yang romantis, membuat jomblo di luar sana iri melihat kemesraan mereka berdua.
Para pelayan tidak ada yang berani mendekati ruang tamu di saat seperti ini.
"Mas tadi kok sepertinya kamu tidak terlalu suka dengan kedatangan mbak Sofia?" ucap Riana sambil memakan cemilan yang ada di depannya.
"Gimana ya bilangnya, Aku kenal Sofia sudah lama, jadi tidak mungkin dia berubah secepat itu, seperti ada sesuatu yang di sembunyikan olehnya. untung saja saat Kiara di ajak oleh Sofia dia tidak mau." ucap Iqbal.
"Ya mungkin Kiara merasakan hal yang sama sepertimu, jadi dia tidak mau pergi dengan Sofia." ucap Riana.
"Iya mungkin saja." ucap Iqbal sambil mengambil cemilan yang ada di depan Riana.
"Ish jangan di ambil mas, itu cemilan ku." ucap Riana.
"Minta dikit aja jangan pelit." ucap Iqbal
Dengan sengaja Iqbal mengambil cemilan itu dan di angkat tinggi - tinggi olehnya hingga Riana susah mengambil cemilan itu.
Riana berusaha untuk mengambil cemilan itu dari tangan Iqbal, tapi Iqbal senang menggoda Riana. Saat akan berdiri mengambil cemilan itu kaki Riana tersandung bantal dan akhirnya dia jatuh di atas Iqbal.
"akhhhh." ucap Riana.
Gubrak...
Suaranya keras sekali, Riana reflek menutup matanya. Saat dia buka matanya di hadapan Riana ada wajah Iqbal yang sedang menatap penuh cinta Riana.
Entah siapa yang memulai mereka berdua mulai berc*Uman. Yang awalnya hanya saling kecap, mulai saling hisap. Riana merasa kehabisan nafas karena ulah Iqbal.
Iqbal pun melepaskan c*Umannya, mereka berdua menunduk lalu tertawa bersama. Tanpa mereka tahu di belakang mereka ada Bu Kartika dan pak Bagaskara yang berdiri melihat kelakuan anak dan calon menantunya itu.
"Kalian sedang apa? wah gak benar ini, apa kita nikahkan sekarang saja Pah mereka berdua?" ucap Bu Kartika.
__ADS_1
"Sepertinya di percepat saja mah, karena papah gak ingin ada kejadian yang tidak di inginkan jika mereka tidak cepat - cepat di nikahkan." timpal pak Bagaskara
Riana dan Iqbal seketika kaget melihat orang tuanya ada di belakang mereka. Riana langsung berdiri menjauhi Iqbal. Riana malu karena sudah ketahuan oleh orang tua Iqbal.
"Ish mama dan papah ganggu kesenanganku saja. Gak suka banget liat anaknya seneng?" ucap Iqbal yang masih berbaring di sofa.
"Lah kamu sendiri yang tidak liat tempat, bikin iri saja." ucap Bu Kartika yang mulai ikut duduk di sofa.
"Untung saja kita yang liat, coba jika Kiara? Haduh kalian ini." ucap Pak Bagaskara.
"Ya maaf Pah." ucap Iqbal sambil nyengir.
"Mah Pah Riana buatin teh ya." ucap Riana.
Riana berusaha kabur ke dapur supaya tidak malu banget sama calon mertuanya itu. Dia ke dapur dan membuatkan teh untuk mereka berempat.
"Katanya kalian tadi ketemu Sofia di mall?" tanya pak Bagaskara.
"Iya Pah kebetulan ketemu, tapi Kiara gak mau sama Sofia. Malah nempel terus dengan Riana." ucap Iqbal.
"Begitu ya, kamu harus hati - hati terhadap Sofia ya Iqbal, soalnya tadi papah baru dapat kabar dari orang suruhan papah, katanya Sofia sudah di blacklist dari dunia permodelan karena kasusnya dia yang menggoda salah satu petinggi perusahaan yang menaungi agensinya. Papah gak mau Kiara di manfaatkan oleh Sofia, untuk membuat kamu rujuk dengan Sofia. Secara dia sekarang sudah tidak punya apa - apa lagi." ucap pak Bagaskara.
"Aku juga merasa ada yang di sembunyikan oleh Sofia Pah, cuma aku belum tahu apa. aku dengan tegas sudah menolak ajakan rujuknya Pah, cintaku sekarang untuk Riana." ucap Iqbal
Riana datang membawa nampan berisi teh dan cemilan untuk mereka semua.
"Silahkan mah, Pah di minum tehnya." ucap Riana.
Mereka menyesap teh sambil menonton televisi.
"Persiapan pernikahan kalian sudah hampir selesai, tinggal sebar undangan saja. Besok undangan sudah jadi dan akan di kirim ke rumah." ucap Bu Kartika.
"Terima kasih ya Mah, sudah mempersiapkan acara resepsi pernikahan kita." ucap Iqbal
"Sama - sama nak, mama senang kok melakukannya. Dua hari sebelum resepsi kita semua akan menginap di hotel itu." ucap Bu Kartika.
"Mama atur saja lah, yang penting semua beres." ucap Iqbal.
__ADS_1
Riana hanya menyimak obrolan mereka saja. Karena dia bingung harus berkata apa.
*****
Keesokan harinya Riana sudah bersiap untuk pulang karena tidak mungkin dia akan tinggal di sana sampai acara resepsi di laksanakan.
Riana pulang setelah undangan resepsi pernikahannya datang, dia membawa beberapa untuk teman - temannya.
Dua Minggu berlalu begitu cepat tidak terasa dia hari lagi acara pernikahan Riana dan Iqbal berlangsung.
Saat ini seluruh keluarga besar dari Riana dan Iqbal sudah berada di hotel tempat acaranya.
Di kamar Riana bersama dengan Siska dan Nova. Mereka berdua dengan setia menemani Riana.
"Ri, akhirnya jadi Nyonya Iqbal juga ya. Semoga pernikahan ini adalah pernikahan yang terkahir." ucap Siska
"Iya Ri, kita doain semoga langgeng sampai maut memisahkan." ucap Nova.
"Terima kasih ya kalian sudah mau menemaniku di sini." ucap Riana.
"Oia Kamu undang Damar dan keluarganya?" tanya Siska
"Iya karena mas Damar kan masih karyawan dari Mas Iqbal jadi ya dia di undang." ucap Riana
"Bagus kalo mereka di undang, karena secara tidak langsung kamu menunjukkan bahwa kamu bisa mendapatkan pengganti Damar yang melebihi dari Damar." ucap Siska.
"Pasti Risa kebakaran jenggot ya, soalnya Riana mendapatkan Iqbal Yang seorang konglomerat di negeri ini. Tidak ada apa - apa nya di banding Damar. Pasti dia merasa kalah lagi darimu Ri." ucap Nova.
"Kalian bisa aja, aku gak merasa menang atau kalah, jika pun nanti Risa akan merebut suamiku lagi, tidak akan aku biarkan,dan aku yakin Mas Iqbal tidak akan pernah mengkhianati ku." ucap Riana.
"Iya.. Iya tahu. Bosnya Nova kan udah bucin banget sama Riana. Gak mungkin akan berpaling dari Riana." ucap Siska.
"Iya percaya aku, sekertaris pak Iqbal yang sekarang kan cowok, bukan cewek. Ya karena sudah bucin akut sama Riana." ucap Nova.
Saat sedang asik ngobrol, dari arah pintu ada yang mengetuk. Mereka bertiga penasaran siapa yang mengetuk pintu itu.
Nova membuka pintu dan dia berteriak.
__ADS_1
"Kamu..!!!" ucap Nova.