
Willy masuk ke rumah dan melihat Naya yang sedang digendong bibi sambil menyusu.
"Selamat sore anak ayah...lagi nyusu ya. Lapar anak ayah. Sini bi, biar aku yang gendong. Bibi bisa mandi sekarang"
"Apa bapak nggak capek. Biar bibi gendong dulu sampai susu nya habis"
"Nggak apa bi...bibi bisa kerjakan yang lain"
"Baiklah pak...nanti kalau bapak mau istirahat ,panggil aja bibi"
"Iya..bi mama mana"
"Ada di dalam kamar pak... Apa perlu bibi panggilkan"
"Nggak usah , bi"
Bibi pamit ke belakang meninggalkan Willy dengan Naya.
"Sayang...maafkan ayah ya nak. Ayah terpaksa membuat kamu terpisah dari ibumu. Ini semua ayah lakukan buat kebaikan kamu. Ayah nggak mau kamu nanti jadi terpengaruh dengan ibumu. Walau ayah bukanlah ayah yang baik tapi ayah mengharapkan semua yang terbaik buat anak anak ayah. Semoga kamu nanti esar bisa seperti kakakmu Nabila. Jadi anak yang sopan dan pintar... "lirih Willy
Ia mengecup pipi gembul Naya. Seakan mengerti dengan ucapan ayahnya, Naya lalu tertawa.
"Anak ayah tertawa...cantik banget anak ayah"
"Hhhmmmm...."dehem mama Elly, membuat Willy menghentikan ciumannya di pipi Naya.
"Mana Nabila..."
"Aku nggak bisa membawa Nabila"
"Apa Melati dan Rangga tak mengizinkan"
"Bukan ma, tapi Nabilanya yang nggak mau"
"Masa anak kecil bisa membantah"
"Mama Nabila bukan anak kecil lagi. Usia nya sudah delapan tahun. Ia sudah mengerti apa yang diinginkannya. Aku mendengar dari mulutnya sendiri jika ia tak mau menginap apalagi pergi ke luar kota jika tidak bersama papi dan bundanya"
Mama Elly duduk di sofa berhadapan dengan Willy.
"Kamu yakin itu kemauan Nabila...bukan karena hasutan Rangga atau Melati"
"Aku sendiri yang bertanya langsung, Ma . Lagi pula menurutku, seandainya Rangga dan Melati melarang itu juga hak mereka, karena Nabila anak mereka"
"Nabila anakmu Willy"
"Ma, memang Nabila darah dagingku. Tapi yang membesarkan Nabila adalah Rangga dan Melati. Selama ini aku telah mengabaikannya. Aku malu jika memaksa Nabila harus mengikuti kemauanku,apa mama tidak merasa malu. Selama ini kemana aja kita...setelah ia besar dan pintar kita seenaknya mengatakan jika kita juga berhak atas Nabila. Di izinkan bertemu dan bermain saja bagiku telah lebih dari cukup"
"Kamu jangan pura pura berperan jadi orang baik Willy. Mama satu satunya Oma kandungnya, apa salah jika mama ingin dekat dengan cucu mama. Lagi pula mama mau di sisa umur mama , mama ditemani oleh cucu cucu mama dan mama ingin mereka semua akur"
"Cucu mama ada yang lain, bukan hanya Nabila. Ada putri anaknya kak Shinta dan juga Naya. ..."
"Apa kamu nggak mau dekat dengan Nabila"
__ADS_1
"Siapa yang nggak mau dekat dengan Nabila, ia anak pertamaku. Tapi jika anakku yang tak mau dan tak merasa nyaman apa aku harus memaksa. Aku takut ia akan semakin jauh dariku jika aku paksakan"
"Kamu nggak mengerti perasaan seorang Oma"
Setelah mengucapkan itu , mama Elly masuk ke kamarnya.
"Ma...bukan aku tak mengerti mama. Aku tak mau memaksa Nabila yang akan membuatnya tidak nyaman dan aku takut nantinya ia malah nggak mau ketemu aku lagi. Aku baru saja dekat dengannya....aku nggak mau ia kembali jauh lagi "
##################
Ketika hari menjelang sore , mama Elly pergi dengan mengendarai mobilnya menuju toko roti Melati.
Sampai di toko roti Melati , mama Elly langsung masuk. Ia bertanya dengan Mira, karyawan Melati.
"Selamat sore,Melatinya ada"
"Ada bu... ada perlu apa ya bu "
"Aku ini mama mertuanya..."
"Mama mertua...."tanya Mira kaget. Karena Mira tahu mertuanya Melati adalah mami Mia.
"Kenapa..kamu kelihatan kaget"
"Maaf bu, karena yang saya tahu mertuanya ibu Melati adalah tante Mia"
"Aku ibu dari ayah Nabila. Mama dari suami pertama Melati"
"Oh...mantan mertua"
"Baiklah , bu. Silakan duduk "
Mira masuk ke ruang istirahat dan memanggil Melati. Tak berapa lama Melati keluar menemui Mama Elly setelah ia menidurkan Arsha.
"Selamat sore ,Ma. Maaf mama harus menunggu. Aku tidurkan Arsha dulu tadi ,ma"
"Nggak apa. Mela ,mama ingin bicara tentang Nabila"
"Ada apa ya sama Nabila..."
"Begini ,Mel. Mama ingin membawa Nabila bertemu dengan Bobby besok dan mama hanya menginap satu malam. Apa kamu mengizinkan..."
"Bagaimana ya Ma,aku harus menjawabnya"
"Apa kamu masih marah dengan mama"
"Mama,kenapa berpikir kesana. Mela tidak pernah membenci mama"
"Jika kamu nggak marah, kenapa tak mengizinkan Nabila ikut mama menemui Bobby. Melati...mama tahu, mungkin masih sulit bagimu memaafkan Lani, tapi bagaimanapun Bobby dan Nabila saudara...mereka harus saling mengenal"
"Ma..aku telah memaafkan Lani. Dan aku juga tahu ma jika anak Lani dan Nabila bersaudara. Dan aku tidak pernah melarang Nabila ikut. Tapi Nabila nya yang nggak mau, ma"
"Jika memang Nabila yang tidak mau ikut,dan kamu mengizinkan Nabila ikut, apa kamu tidak bisa membujuk Nabila agar mau ikut dengan mama"
__ADS_1
"Ma...aku tidak pernah memaksa anak harus ikut kemauanku. Begitu juga Rangga. Kami memberi kebebasan buat Nabila asal itu tidak melanggar norma dan hukum. Rangga apa lagi,ia selalu saja mengikuti apa maunya Nabila selama itu baik"
"Ini bukan memaksa Mela, tapi membujuk agar ia mau ikut. Tujuan mama baik kok, agar ia mengenal siapa saudaranya. Agar nanti setelah besar mereka sudah saling mengenal"
"Ma...aku tahu tujuan mama baik, atau begini aja. Mama coba tanya lagi dengan Nabilanya, apa ia mau ikut. Biar nanti tidak ada salah paham. Sebentar lagi pasti Nabila sampai"
Baru aja Melati selesai bicara, tampak Nabila yang berjalan mendekat ke meja tempat bundanya duduk.
"Selamat sore bunda...."ucap Nabila dan mencium tangan Melati.
"Eh..ada Oma. Selamat sore , Oma"ucap Nabila dan mencium tangan Oma
"Baru pulang sekolah.."
"Iya , Oma"
Rangga yang berjalan sambil menenteng tas sekolah Nabila, menghampiri Melati dan mengecup dahinya.
"Papi..ada mama mas Willy"ujar Melati
"Selamat sore ,bu"
"Selamat sore...."
"Nabila, Oma boleh bicara berdua Nabila..."
"Boleh, Oma"
"Mama, silakan bicara. Aku dan Rangga pamit sebentar ke dalam"
"Iya...silakan"
Setelah Melati dan Rangga menghilang masuk ke dalam ruang istirahat , mama Elly baru mulai bicara.
"Nabila, apa Nabila ingat pernah ada janji dengan Oma"
"Janji apa , Oma"
"Janji mau menginap di rumah , Oma. Nabila lupa ya"
"Oh , itu ya. Bila ingat kok ,Oma"
"Kalau begitu, mengapa ayah bilang Nabila tidak mau menginap"
"Maaf , Oma. Bila belum bisa tidur di rumah Oma"
"Kalau Nabila tak mau di rumah Oma, Nabial ikut Oma aja. Kita menginap di hotel bersama ayah Willy. Oma mau mengenalkan Nabila dengan adik Nabila, Bobby namanya. Saat ini Bobby sudah SD juga. Nanti kira pergi ke mal bersama sama"
"Oma ,Bila tak bisa ikut. Bila tak bisa tidur jika tak ada papi atau bunda"
"Untuk itu Nabila harus belajar tanpa ada papi dan bunda. Nabila udah semakin besar nggak mungkin selamanya tidur ditemani papi atau bunda. Mau ya ikut , Oma"
Nabila menunduk dan mulai mengeluarkan air mata. Ia tak biasa dipaksa. Jadi ia merasa takut. Ia tak tahu harus menjawab apa lagi.
__ADS_1
*******************
Terima kasih....