
Rangga menyetir mobilnya dengan diam. Ia terus memandangi jalanan tanpa suara.
"Papi.. kenapa diam aja"ucap Melati, merasa ada yang salah. Tidak biasanya Rangga diam aja.
"Nggak ada,lagi malas ngomong aja"
"Pasti ada yang membuat papi diam,nggak biasanya.. "
"Papi.. beli es krim"rengek Nabila
"Nanti di supermarket kita mampir ya"
"Banyak banyak ya pi"
"Iya... "
"Aku mau juga ya, om"
"Iya nanti om beli banyak banyak buat Nabila dan Syifa"
Sampai di supermarket terdekat dengan rumah, Rangga turun dari mobil dan membeli es krim. Setelah membeli es krim,Rangga kembali mengendarai mobilnya menuju rumah.
Sesampainya di rumah, Rangga langsung menuju kamar dan membaringkan tubuhnya di kasur.
Melati mengganti pakaiannya dengan daster dan ikut tidur di samping Rangga. Ia memiringkan tubuhnya memeluk tubuh Rangga.
"Kenapa sih diam aja"
"Apa kita pindah aja dari kota ini"
"Mengapa harus pindah"
"Kota ini sangat sempit rasanya, mengapa selalu aja ketemu Willy terus"
"Jadi kamu marah karena tadi ketemu Willy. Papi, kemana pun kamu membawa aku, kita pasti akan terus berhubungan dengan Willy, karena Nabila. Aku tak bisa melarang Willy buat bertemu Nabila. Karena bagaimanapun juga Willy ayah kandung Nabila. Kecuali jika aku menyerahkan hak asuh Nabila dengan Willy, baru kita bisa menghindari Willy"
"Sayang, bukan begitu maksud aku. Aku cuma malas aja lihat ia selalu memandangi kamu dengan intens jika bertemu. Jika hanya bertemu Nabila bagiku tak masalah. Dan jangan pernah kamu berpikir lagi buat memberi hak asuh Nabila pada Willy, karena aku tak akan pernah rela dan mengizinkannya. Aku sayang Bila seperti anak kandungku sendiri. Aku tak apa jika dikatakan egois, tapi jujur aku tak suka jika Nabila nantinya lebih menyayangi Willy.. "
"Nabila pasti lebih menyayangi papi dari ayahnya karena dari kecil ia telah dibesarkan dengan papi"
"Sayang, janji ya.. kamu tak akan pernah berniat untuk kembali ke Willy. Karena aku tahu, bagaimanapun Willy adalah cinta pertamamu, seperti aku yang sangat mencintaimu, cinta pertama dan terakhirku"
"Memang Willy cinta pertama bagiku, tapi cinta terakhirku kamu.. aku ingin sisa hidupku dihabiskan bersama kamu dan anak anak kita nantinya "ujar Melati sambil mengusap perutnya
__ADS_1
"Anak anak kita, berarti habis lahiran yang ini, kamu masih mau hamil lagi sayang "
"Tergantung... "
"Tergantung apa... "
"Tergantung sama kamu, papi. Apa kamu masih sanggup membuat anak "
"Kamu... sekarang bisa ya meremehkan aku. Jangankan buat satu lagi, sepuluh lagi aku sanggup. Mau coba sekarang"ucap Rangga langsung mengecup leher Melati
"Papi... geli.. "ucap Melati. Rangga menghentikan kecupan dileher dan memeluk tubuh istrinya.
"Sayang, aku tak mau melihat kamu bersedih dan kecewa, karena kamu yang telah memberi aku senyuman selama ini. Kamu harus tau sayang, aku mencintaimu kamu melebihi dari segalanya. Walau aku mungkin tak bisa memperlihatkan rasa cintaku, tapi percayalah Rangga, kamu adalah segala galanya bagiku saat ini. Tak pernah terpikirkan bagiku untuk meninggalkan dirimu, jangankan meninggalkan kamu, jauh dari kamu aja tak ada dalam pemikiran aku saat ini"
####################
Keesokan harinya.
Melati disibukan dengan pesanan kue kotak dari pelanggannya.
Melati sedang menyusun kue yang telah dimasukkan kedalam kotak ketika ia mendengar namanya dipanggil.
"Melati.. "
"Papa.. kapan sampai. Duduklah Pa, pasti capek"
Papa Lani duduk dekat meja Melati.
"Kamu sibuk Mel"
"Nggak kok Pa, ini sudah hampir selesai. Tunggu bentar ya Pa, karena pesanan ini mau diambil"
"Iya Mel... "
"Papa sendirian aja atau sama mama"
"Sama mama... "
"Mana mamanya, pa"
"Mama pergi ke rumah Willy, ingin menjemput Lani dan Bobby "
"Oh... "ucap Melati singkat. Setelah selesai dengan kerjaannya ,Melati menyusunnya, menghampiri papa Lani
__ADS_1
"Apa kabar papa dan mama"
"Papa sehat aja Mel. Mama kamu yang sering sakit. Dokter bilang mama banyak pikiran.. "
"Mengapa papa nggak ada beri kabar Melati, kalau mama sakit"
"Mama tak boleh nak, ia takut kamu nanti akan datang. Mama belum bisa bertemu kamu. Ia masih marasa bersalah padamu, karena Lani"
"Pa, Mela sudah bilang, Mela sudah ikhlas menerima semua yang terjadi pada hidup Mela. Mungkin mas Willy bukan jodoh yang terbaik buatku, mungkin Tuhan mempertemukan aku dengan lelaki yang salah sebelum ia memberikan jodoh yang terbaik. Maaf pa, aku bersyukur pada akhirnya aku pisah dengan mas Willy. Kerena aku mendapatkan Rangga sekarang "
"Iya nak... Willy sepertinya tidak akan pernah berubah, Papa dan mama datang ke kota ini hanya ingin membawa Lani pergi, dan tinggalkan Willy. Ia tak akan pernah berubah. Percuma Lani mempertahankan semuanya"
Melati hanya diam mendengar ucapan papa Lani, karena ia tak ingin ikut campur lagi dengan urusan Willy, ia tak mau Rangga bagi marah. Ia hanya ingin mengurus rumah tangganya saja.
"Papa mau minum apa. Mela buatkan dulu"
"Terserah Mela aja. Mela.. apa mama dan Lani nanti boleh bertemu papa di sini"
Melati tidak menjawab pertanyaan papa, ia tak ingin menolak dan juga dari hatinya masih belum bisa bertemu Lani.
"Terserah papa aja. Jika papa memang merasa nyaman bicara di sini, silakan. Mela tak apa apa. Melati ke dalam sebentar ya Pa.."
Melati masuk ke dapur dan membuatkan minum buat papa, setelah itu membawa kali ke meja papa Lani.
"Mela, papa minta maaf atas nama Lani"
"Pa.. mengapa papa yang harus minta maaf"
"Papa tahu nak, sampai saat ini sulit bagimu untuk menerima Lani kembali. Persahabatan kalian yang telah dihancurkan Lani, harus dibayar mahal oleh Lani. Ia tak pernh dapat merasakan kebahagiaan lagi sejak ia merampas kebahagiaan kamu. Papa bukannya tidak tahu tentang rumah tangga dan kehidupan Lani sejak ia memilih keluar dari rumah. Lani sebenarnya pasti menyesal telah memilih Willy dari keluarganya. Cuma ia malu buat kembali. Kamu tahukan,dari dulu ia paling tak bisa menerima kekalahan. Papa tahu Lani bertahan selama ini dengan Willy hanya untuk membuktikan pada papa jika ia tak salah memilih"
Papa berhenti bicara dan menarik nafas sedalam dalamnya .
"Mela,bagaimanapun jahat dan salahnya seorang anak, seorang papa pasti tetap menyayangi dan memikirkan nasib anaknya. Maafkan papa tidak bisa menghukum Lani lebih lama lagi, papa ingin bawa Lani kembali. Tapi itu bukan berarti papa melupakan kesalahan Lani padamu nak. Papa hanya tak ingin ia lebih menderita lagi. Papa ingin membuka mata dan hati Lani, agar ia dapat melupakan cinta gila dan obsesinya pada Willy dan memulai kehidupan yang baru. Ia harus merubah hidupnya."
"Pa, Mela tak apa. Mela sudah merelakan dan memaafkan semuanya. Jika saat ini Mela belum bisa bersikap seperti dulu lagi pada Lani, itu bukan karena Mela masih dendam. Mela sudah memaafkan Lani, tapi buat melupakan semuanya Mela masih butuh waktu lagi. Bertemu saja masih bisa, tapi biat bersahabat seperti dulu lagi Mela belum bisa Pa. Maafkan Mela Pa.. "
"Kamu nggak salah, Mel. Memang kesalahan Lani sulit buat dilupakan. Kamu memaafkan Lani saja itu sudah lebih dari cukup. Lani dan mama sudah dalam perjalanan ke sini. Kamu benar nggak apa kan jika papa bertemu di sini. "
"Ya.. pa"ucap Melati pelan
"Ya Tuhan ,Engkau tahu aku sudah mengikhlaskan dan melepaskan semua kehidupan lamaku. Aku tak mau memandang kebelakang lagi, aku mau memandang dan berjalan kedepan bersama suamiku Rangga, bantu aku untuk benar benar merelakan semuanya dengan aku bisa melupakan pengkhianatan yang pernah dilakukan Lani"
******************
__ADS_1
Terima kasih