Sahabatku Maduku

Sahabatku Maduku
BAB 41


__ADS_3

"Adit..? Bener ini kamu? Wah dunia memang sempit ya?" ucap Riana.


"Riana? wah tidak menyangka bakal ketemu kamu disini." ucap Pria yang bernama Adit.


Riana tak menyangka jika pemilik dari PT Suka Makmur adalah Adit temen SMA nya, dia tidak pernah berhubungan langsung dengan CEO nya dia hanya saling bertelepon dengan sekretarisnya saja yang kini datang bersama dengan Adit.


Riana menyalami Adit dan sekretarisnya, mereka mengobrol sebentar sampai Iqbal datang ke ruang meeting.


Setelah tiga puluh menit berlalu, Iqbal dan Soni datang ke ruang meeting. Iqbal melihat Riana sedang mengobrol dan sesekali bercanda dengan Adit. Ria heran kenapa Riana begitu akrab dengan CEO PT suka Makmur.


Adit dan Laras langsung menyalami Iqbal begitu melihat Iqbal sudah datang bersama dengan asistennya.


"Selamat pagi pak Adit, mohon maaf jika anda menunggu lama, karena saya masih ada kerjaan tadi." ucap Iqbal sambil tersenyum


"Tidak apa - apa pak Iqbal, saya yang salah karena datang terlalu cepat, karena sudah tidak sabar untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan bapak." ucap Adit.


"Oke pak Adit silahkan di mulai saja." ucap Iqbal.


Riana heran kenapa Iqbal jadi seperti itu, seperti sedang menahan amarah.


Adit lalu memaparkan proyek yang di ajukan proposalnya ke perusahaan Iqbal. Iqbal yang melihatnya menganggukkan kepalanya. Iqbal sangat puas dengan apa yang di paparkan Adit, tanpa butuh waktu lama Iqbal menandatangani proposal proyek itu.


Iqbal menunjuk Soni untuk menjadi penanggung jawab proyek bersama dengan PT suka Makmur.


Setelah semuanya selesai mereka semua keluar dari ruang meeting, Soni mengantar Adit dan Laras keluar gedung.


Sebelum mereka berpisah Adit berpamitan dengan Riana terlebih dahulu.


"Aku pulang dulu Ri, kapan - kapan bisa kan kita bertemu lagi? No ponsel kamu masih yang lama kan?" ucap Adit.


Riana hanya melongo mendengar perkataan Adit, karena ada Iqbal di sampingnya. Riana melirik Iqbal dan dia melihat wajah Iqbal yang merah padam menahan amarah. Iqbal langsung pergi meninggalkan Riana yang masih berbicara dengan Adit.


Riana hanya menjawab sekedarnya saja, dia tak ingin melihat Iqbal marah. Riana berpamitan ke Adit, lalu dia mengejar Iqbal yang sudah tidak terlihat lagi.


Riana masuk ke dalam ruangan Iqbal, di sana Iqbal sedang berdiri menatap keluar jendela. Riana langsung berjalan mendekati Iqbal lalu dia memeluk Iqbal dari belakang.


Iqbal tahu yang memeluknya adalah Riana, tapi dia tetap tidak bergeming.


"Senangnya Ayang cemburu, berarti ayang ku ini benar cinta sama aku." ucap Riana sambil memeluk erat Iqbal.


Iqbal mulai berbicara kepada Riana.


"Siapa yang cemburu! enak saja. Gak level cemburu dengan Adit, dia gak sebanding dengan ku." ucap Iqbal penuh percaya diri.


Riana tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Iqbal.


"Iya gak cemburu tapi kok gak mau menghadap ke sini? harap sini dong." ucap Riana sambil dia membalik badan Iqbal untuk menghadap ke arah dirinya.

__ADS_1


Iqbal dengan malas berbalik menghadap ke arah Riana.


"Ganteng banget Ayang ku ini, jangan marah, Adit itu teman SMA ku, kamu jangan berpikir yang macam - macam terkait ajakannya tadi, dia pasti hanya bercanda." ujar Riana.


Dia membelai pipi Iqbal yang bersih dan mulus. Iqbal menghembuskan nafasnya lega, kemudian dia berkata.


"Baiklah, tapi kamu janji ya, jangan pernah mau jika di ajak bertemu oleh cowok lain, karena kamu itu milikku." ucap Iqbal.


"Iya sayang aku janji kok, ngomong - ngomong kapan mamah sama papah kamu ke rumah?" ucap Riana.


"Mungkin seminggu lagi, mama sedang mempersiapkan semuanya."ucap Iqbal.


"Mempersiapkan apa Mas, bukannya ke rumah hanya untuk silaturahmi saja?" ucap Riana.


"Aku sudah bilang ke papa mu jika aku akan sekalian melamar kamu, dan langsung menentukan tanggal pernikahan. Kenapa? Kamu gak mau cepat menikah denganku?" ucap Iqbal


"Hahahaha ya nggak lah aku mau kok menikah dengan kamu mas, ya sudah berarti aku harus sudah di sana sebelum kalian datang ya." ucap Riana.


"Iya kamu akan aku antar pulang hari Jumat." ucap Iqbal.


"Jangan deh Mas, aku pulang sendiri saja. Nanti kamu malah kecapean jika Jumat antar aku, kan Sabtunya kamu harus ke rumah bareng keluarga." ucap Riana.


Iqbal melihat jam di tangannya ternyata sudah jam dua belas siang.


"Ya sudah deh kalo begitu. Sudah saatnya makan siang kita makan siang bersama?"ucap Iqbal


Iqbal hanya menggeleng dan tersenyum, mereka berdua pergi keluar untuk makan siang.


****


Seminggu berlalu.


Hari ini di rumah pak Raka ramai oleh keluarga dan tetangga sekitar, mereka sedang membantu Riana untuk mempersiapkan acara lamaran dirinya dengan Iqbal.


Saat keluarga tahu jika Riana akan di lamar oleh kekasihnya, mereka semua berbondong - bondong ke rumah pak Raka, untuk membantu mempersiapkannya.


"Nanti dari keluarga Nak Iqbal ada berapa yang datang Ri?" ucap Budhe Ria. Kakak dari pak Raka.


"Sekitar 20 orang budhe, memang kenapa budhe?" ucap Riana.


"Banyak juga ya, ya sudah budhe mau siapin makanan nya dulu ya." ucap Budhe Ria yang langsung pergi ke dapur.


"Iya budhe." ucap Riana


Riana membawa minuman dan cemilan yang sudah dia buat ke depan rumah. Dia memanggil papahnya jika minumannya sudah jadi.


"Pah, istirahat dulu ini minuman dan cemilannya." ucap Riana.

__ADS_1


Pak Raka menyuruh bapak - bapak yang sedang mendirikan tenda untuk beristirahat dahulu.


Pak Raka sengaja mendirikan tenda di depan rumah karena dia mengundang semua tetangga dan karyawannya di kebun teh, jadi membutuhkan tempat yang luas.


Awalnya Riana menolak untuk diadakan acara lamaran besar - besaran, tapi papahnya tidak mau, karena dia tahu jika calon besannya itu bukan orang biasa jadi dia tidak mau membuat malu keluarga mereka.


Padahal hari ini hanya acara lamaran tapi seperti acara pernikahan. Berbeda saat dulu Riana menikah dengan Damar, karena saat itu pak Raka belum sesukses sekarang.


Riana saat ini sedang berada di kamarnya dia sehabis mandi, saat sedang mengeringkan rambutnya ada orang yang mengetuk pintu kamarnya.


Tok.. Tok.. Tok..


"Mbak Riana itu ada temannya datang sekarang di ruang tamu." ucap Riski saudara sepupu dari Riana.


"Iya Ki bentar, kamu bikinkan minuman ya buat teman mbak." ucap Riana.


"Iya mba." ucap Riski.


Riana langsung memeluk Nova dan Siska. Dia memang mengundang Nova dan Siska untuk ikut menemani dirinya saat lamaran nanti.


"Bagaimana perjalanan kesini? Pasti cape ya?" ucap Riana.


"Banget lah Ri, apalagi ini Siska gak mau gantian nyetirnya." ucap Nova sambil manyun


"Kan aku bilang nanti pulangnya aku yang nyetir." ucap Siska gak mau disalahkan.


Riana tertawa mendengar celotehan mereka berdua.


"Sudah - sudah ayo aku antar kalian ke kamar, kalian pasti ingin istirahat." ucap Riana.


"Iya ayo." ucap mereka berdua.


Riana mengajak mereka ke kamar tamu yang berada di samping kamar Riana.


"Ini kamar kalian dan sebelahnya kamarku. Silahkan kalian istirahat dulu, nanti saat makan siang aku panggil ya." ucap Riana.


Riana meninggalkan Nova dan Siska di kamarnya. Dia kaget saat di tepuk pundaknya dari belakang oleh seseorang.


Saat berbalik ternyata yang menepuk dia Riski.


"Kamu bikin kaget saja Ki, ada apa?" ucap Riana.


"Ini mbak minuman dan cemilannya buat temen mbak, tapi pas aku ke ruang tamu gak ada orang." ucap Riski


"Astaga, lupa, kamu antar ke kamar tamu saja ya Ki. Mbak mau ke dapur buat bantuin Budhe." ucap Riana


Riski langsung menuju ke kamar tamu dan memberikan minuman dan cemilan ke teman Riana.

__ADS_1


__ADS_2