
"Melati... "panggil seseorang.
Melati menoleh kearah pintu masuk tokonya, asal suara panggilan itu. Tampak mama Lani dan dibelakangnya ada Lani yang menggandeng anaknya Bobby.
"Mama.. "ucap Melati berlari memeluk wanita itu yang sangat disayanginya seperti bundanya sendiri.
"Mela, mama kangen banget"ucap mama sambil mengusap punggung Melati yang ada dalam pelukannya.
Lani yang berada di belakang mama hanya diam memandangi Melati dan mamanya yang berpelukan melepaskan kerinduan sambil berurai air mata.
"Maafkan mama, nak"
"Mama nggak ada salah, mengapa mama harus minta maaf "ucap Melati masih memeluk mama Lani.
Setelah cukup lama berpelukan, Melati melepaskan pelukan itu dan menggenggam tangan wanita itu yang tampak sangat kurus dari terakhir ia bertemu.
"Ma, kita masuk ke ruang istirahat Mela aja ya. Biar lebih enak bicaranya"ucap Melati membawa mama masuk.
"Pa, kita masuk ke dalam aja. Lani.. ayo masuk"gumam Melati pelan.
Setelah mempersilakan semua duduk di sofa yang ada di ruang istirahatnya, Melati keluar sebentar.
"Mira,aku tak mau diganggu ya beberapa jam kedepan. Jika ada yang ingin pesan, kamu tangani aja sendiri. Terima kasih ya"
"Baik mbak "
Melati kembali masuk ke ruang istirahat dengan membawa dua piring kue.
__ADS_1
"Ma, tunggu sebentar ya. Mela buat air dulu"
"Nggak usah repot repot nak, air putih aja"
"Ma, mana ada seorang mama merepotkan anaknya hanya karena membuat segelas air. "
"Baiklah Mel, tapi seperti biasa mama nggak mau terlalu manis ya"
"Ma, tenang aja. Mela masih ingat kok"ucap Melati ke dapur membuatkan teh buat mama dan Lani serta kopi buat papa.
Setelah selesai, Melati menghidangkannya.
"Mela, tadi papa sudah dibuatkan kopi, sekarang buat lagi, nanti papa bisa diabetes banyak minum manis. "
"Segelas dua gelas nggak akan langsung membuat papa diabetes. Mela selalu berdoa papa dan mama sehat"
"Terima kasih nak"ucap mama kembali memeluk Melati yang duduk di sampingnya.
"Mama selalu menganggap kamu anak mama. Mama selalu ingat kamu nak. Tapi mama malu dan takut untuk menghubungi kamu "
"Malu dan takut kenapa ma"
"Mama malu atas perbuatan Lani terhadapmu, dan mama takut kamu tak mau menerima telepon mama "
"Mama, Mela selalu ingat mama. Malahan Mela yang takut menghubungi mama. Mela takut mama tak mau menerima telepon Mela. Maafkan Mela ma. Mela salah karena melupakan mama, seharusnya sebagai anak Mela yang dulu menghubungi mama, bukan menunggu mama yang menghubungi Mela.. Mela salah karena tidak mengabari mama ketika nikah lagi"
"Nggak apa nak. Mama mengerti semuanya. Kamu nggak salah.. "
__ADS_1
"Ma, jika mama sakit, jangan lupa mengabari Mela. Lihat, tangan mama makin kurus. Mama harus jaga kesehatan mama, jangan pernah sakit lagi. "
"Mela, mama tahu kamu belum bisa maafkan perbuatan Lani, tapi mama sebagai orang tua yang telah melahirkan Lani,mohon padamu nak, maafkan semua kesalahan Lani. Mama tahu, mama telah gagal menjadi mama buat Lani,mama gagal membuat ia menjadi wanita yang berbudi baik"
"Mama, mama tidak pernah gagal menjadi seorang mama. Mama sangat baik dan menyayangi anak mama, aku aja yang bukan anak kandung mama, merasakan kasih sayang mama. Jika Lani berbuat salah, itu murni kesalahan dari dirinya, itu bukan karena mama yang gagal menjadi orang tua. Mama nggak boleh menyalahkan diri mama "
"Tapi perbuatan Lani memang sudah keterlaluan dan membuat mama malu sebagai orang tuanya"
Lani yang mendengar ucapan mama nya hanya tertunduk malu. Ia sebenarnya tadi enggan datang, hanya karena mama yang memaksa. Kebetulan mama Willy tadi tak di rumah, jadi mama Lani tak sempat bertemu.
"Ma, mungkin ini semua sudah jalan takdir Tuhan buatku ma. Aku harus merasakan terluka dan pengkhianatan dari orang orang terdekatku, sebelum akhir aku mendapatkan kebahagiaan yang saat ini aku rasakan"
"Mama senang mendengarnya jika kamu sudah bahagia. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan itu nak. Setelah banyak penderitaan dan tangisan yang kamu jalani"
"Ma, aku terkadang bersyukur, aku berpisah dengan mas Willy. Karena perpisahan ini mempertemukan aku dengan lelaki yang saat ini menjadi suamiku, lelaki terhebat yang hadir dalam hidupku. Ia mau menerima aku apa adanya dan ia menyayangi Nabila seperti anak kandung nya sendiri. Dan yang paling penting ia menyayangi aku dan mencintai aku sepenuh hatinya"
"Kamu wanita yang baik, pantas mendapatkan lelaki yang terbaik juga nak"ucap papa.
"Mela, apa kamu mau menerima Lani lagi sebagai sahabat serta saudara kamu seperti dulu lagi. Mama sangat merindukan saat saat kalian tidur bersama, bermain bersama dan melakukan semuanya bersama. Mama rasanya ingin mengulang saat itu lagi. Mama bahagia memiliki dua anak gadis saat itu. "gumam mama
"Mela, papa tahu tak mudah bagimu bisa menerima dan memaafkan Lani. Papa sebagai orang tuanya saja masih sulit menerima perbuatan Lani. Tapi seperti yang papa katakan tadi jika papa tetaplah orang tua, sejahat dan sebej*t apapun Lani, ia tetap anak papa ,darah daging papa. Saat ia bersedih dan terpuruk papa juga merasakannya. Papa dan mama sengaja datang ke sini karena ingin memperbaiki hubungan kamu dengan lani. Papa bisa saja menjemput lani tanpa melibatkan kamu. Tapi papa nggak bisa tenang jika kamu belum memaafkan kesalahan Lani "
Lani hanya menarik nafasnya. Mama tadi sudah berpesan agar ia diam ketika mama dan papa bicara. Lani hanya boleh mendengar, papa dan mama nanti akan memberi waktu khusus buat Lani minta maaf.
Melati hanya menghela nafasnya mendengar ucapan papa.
"Papa jika aku menuruti kata hatiku, sulit bagiku menerima maaf dari Lani. Tapi melihat wajah papa dan mama aku tidak tega. Lagi pula tak ada gunanya aku menyimpan dendam pada Lani. Bukankah aku sudah mendapatkan kebahagiaanku. Seharusnya aku juga berterima kasih pada Lani, karena pengkhianatan yang ia lakukan pada Willy, mata hatiku terbuka melihat siapa sebenarnya Willy dan bagaimana sebenarnya sifat Willy. Dan juga karena pengkhianatan mereka lah akhirnya aku dipertemukan dengan lelaki hebat, suami aku sekarang.Mungkin dengan aku memaafkan semua kesalahan Lani, aku bisa lebih tenang kedepannya dengan keluargaku saat ini. Aku tak boleh lagi mengingat masa lalu, cukup itu ku simpan sebagai pelajaran bagiku di dalam mengarungi rumah tangga," ucap Melati dalam hatinya.
__ADS_1
************************
Terima kasih buat semua yang tetap setia menunggu dan membaca novel ku ini.