
Boy pun berteriak meminta pertolongan, dan tak berapa lama datanglah petugas keamanan. Mereka pun membantu Boy dan menghubungi ambulans. Tak lama setelah itu, ambulans datang dengan cepat dan membawa Boy ke rumah sakit.
Dengan kondisi yg cukup banyak mengeluarkan darah, Boy pun langsung ditangani oleh dokter di rumah sakit. Saat itu yg bertugas adalah Arne dan Anderson. Dan mereka dengan sigap menjahit luka yg diterima Boy.
Tak lama orangtua Boy pun tiba setelah dihubungi pihak rumah sakit. Arne dan Anderson yg baru selesai menangani Boy pun langsung dihampiri Leni ibunya Boy.
"Arne, bagaimana kondisi Boy?" tanya Leni.
"Dia ditikam oleh orang tak dikenal, saat ini lukanya sudah kami obati.. Dan Boy butuh istirahat karena kehilangan banyak darah saat tiba disini." ucap Arne.
"Nyonya, untuk saat ini Boy jangan diajak bicara dulu.. Biarkan sampai dia sadar." ucap Anderson.
"Terimakasih Arne, profesor." ucap Leni.
"Ya.. Kami permisi, jika terjadi sesuatu anda bisa memanggil kami atau perawat yg bertugas." ucap Arne.
Begitulah, akhirnya Boy ditikam oleh Martha. Dan kali ini Boy adalah korban kedua dari Martha. Hingga Boy belum sadarkan diri dan belum ada keterangan lebih lanjut. Dan pihak kepolisian juga hanya menemukan pelakunya adalah seorang wanita paruh baya. Tapi lewat cctv, wajah Martha tak begitu terlihat hingga menyulitkan penyelidikan.
Leni dan suaminya pun hanya bisa menunggu Boy bangun untuk mengetahui cerita lengkapnya.
"Boy apa yg terjadi padamu? Siapa lagi yg kau ganggu sampai kau jadi begini?" ucap Leni menangis.
"Kurasa, meski Boy melawan kita sekalipun Boy bukan tipe orang yg suka cari masalah." ucap suami Leni.
"Dan menurut kepolisian pelakunya adalah wanita, rasanya tak mungkin Boy mencari masalah dengan wanita." lanjutnya.
"Aku juga memercayai putraku, tapi Boy harus sadar agar bisa menceritakan semuanya." ucap Leni.
"Benar, itu lebih bagus lagi."
Mereka pun menunggu dengan sabar dan tak lama, anggota penyidik pun tiba untuk meminta laporan dari korban. Tapi sayang Boy belum sadarkan diri juga. Dan ayah dari Boy meminta penjagaan di sekitar rumah sakit takut kalau wanita itu datang lagi menyerangnya.
"Baiklah tuan, kami akan berada disini.."
"Bagus, kalian harus waspada kalau wanita itu datang lagi." ucap ayah dari Boy.
"Baik tuan."
Begitulah akhirnya hingga Boy sadarkan diri. Dirinya pun sadar sudah berada di rumah sakit dan melihat kedua orangtuanya.
"Mom.. Dad.." ucap Boy.
"Boy, akhirnya kau sadarkan diri." ucap Leni.
"Baguslah, kau sudah sadar."
"Akh.. Mom, Dad.. Pelakunya adalah ibu dari Aini." ucap Boy.
"Martha??" ucap keduanya.
"Ya.. Dia dendam padaku karena kondisi Aini saat ini." ucap Boy.
"Apaa?? Bukankah dia ada di rumah sakit jiwa?" tanya Leni.
__ADS_1
"Rumah sakit jiwa?" tanya suaminya terkejut.
"Iya, dia dinyatakan terganggu mental dan psikologisnya. Bagaimana dia bisa berkeliaran??" ucap Leni.
"Dia pasti kabur.. Boy kau harus sampaikan info ini pada petugas agar orang itu dicari." ucap ayahnya.
"Baik dad." ucap Boy.
Lalu Boy pun memberikan keterangannya pada pihak kepolisian dan mereka segera melacak keberadaan Martha.
"Anda adalah korban kedua tuan." ucap penyidik.
"Apa? Lalu siapa korban pertamanya?" tanya Boy.
"Suaminya sendiri, tuan Richard. Dia juga kini dirawat di rumah sakit lain."
"Baiklah, dia sangat berbahaya jika sudah begini.. Pak tolong tangkap dia, sebelum ada korban lain." pinta Boy.
"Korban lain ? Siapa kira-kira tuan?"
"Putri tirinya yg juga dokter disini, namanya dr.Arne. Kemungkinan begitu karena dia bisa berada di penjara karena menuduh Arne." ucap Boy.
"Baik tuan, kami akan berjaga di sekitar sini dan menghubungi dr.Arne." ucap petugas.
Setelah itu penyidik pun menghampiri Arne dan meminta penjelasan mengenai hubungannya dengan Martha. Arne pun mau tak mau menceritakannya dan memang hubungan mereka tidak pernah baik.
Mendengar penjelasan Arne, penyidik pun mengerti dan akan memberikan perlindungan jika Martha sampai kemari. Apalagi kini sudah ada dua korban saat ini.
"Baiklah pak saya mengerti." ucap Arne.
"Ya pak.. Tentu." ucap Arne.
Dan Anderson pun tahu semua kondisinya saat ini. Dirinya pun mengkhawatirkan keselamatan Arne kekasihnya.
"Arne, kau tak boleh jauh dariku." ucap Anderson.
"Ya aku mengerti. Tapi ini rumah sakit." ucap Arne.
"Pokoknya turuti saja." ucap Anderson.
"Baiklah." balas Arne.
"Jangan pulang sendirian."
"Oke." balas Arne.
"Kabari aku jika kau mencurigai sesuatu atau kau dalam bahaya." ucap Anderson.
"Tentu prof." ucap Arne.
"Kau ini terlalu santai.. Tak sadar kalau bahaya mungkin akan datang." ucap Anderson.
"Baiklah, aku akan menuruti semua saranmu." ucap Arne tersenyum.
__ADS_1
Begitulah Arne pun menjadi target Martha selanjutnya. Dan Martha sudah mendatangi rumah sakit tempat Arne dibekerja tapi sayangnya sudah ada polisi yg berjaga dan keamanan rumah sakit diperketat dengan pengawasan identitas di pintu masuk dan keluar. Nampak sekali pihak berwajib maupun rumah sakit tak ingin ada keributan disana.
Hingga akhirnya Martha menyerah dan mundur daripada dirinya tertangkap. Martha pun menunggu saat yg tepat hingga bisa menghabisi Arne. Wanita itu adalah masalah utama yg menyebabkan Aini menjadi seperti saat ini. Dan Martha menyimpan dendam karena Arne yg membuatnya berada di penjara.
"Awas kau Arne.. Kau akan segera bertemu malaikat maut." ucap Martha.
Martha pun mencoba mencari celah dan menemukan lokasi parkir yg aman dari penjagaan. Dirinya pun menunggu di sekitar sana dan mencari mobil milik Arne, tapi sayang dia tak menemukannya.
"Sial apa si ja**ng itu ganti mobil lagi?" umpatnya.
Karena tak kunjung menemukannya, Martha pun terpaksa menunggu dan mengamati sekitar. Dan saat waktunya pulang bekerja, Martha pun menunggu Arne lewat.
Saat itu, Arne pun akan pulang bersama Anderson tapi ada barang yg tertinggal di ruangan Anderson yg membuatnya harus kembali.
"Ck.. Kunci mobilku tertinggal, kau tunggu dan jangan kemana-mana." ucap Anderson.
"Oke." ucap Arne.
Arne pun menunggu Anderson, dan beberapa rekannya juga pulang ikut menyapanya. Martha pun melihat Arne disana sedang menyapa teman kerjanya. Wanita itu pun tersenyum menyeringai. Terlebih Arne terlihat sendirian dan sedang menunggu seseorang.
Saat situasinya sudah sepi, Martha pun keluar dari mobilnya dan menghampiri Arne sambil tertawa.
"Hahahahahaaa... Akhirnya aku menemukanmu." ucap Martha.
"Oh tante Martha, kukira siapa." balas Arne.
"Apa?? Tante?? Kurang ajar sekali ja***ang ini..!" ucapnya kesal.
"Iya, tante mau apa?" tanya Arne.
"Membunuhmu.." ucap Martha lalu mengeluarkan pisau.
"Pisau? Dia benar-benar ingin membunuhku?" gumam Arne dalam hati.
Arne pun berhati-hati menghadapi Martha yg mentalnya tak stabil tersebut. Ditambah lagi sudah ada dua korban saat ini. Arne pun tak sempat menghubungi siapapun karena fokus matanya ada pada Martha yg tengah memegang pisau.
Martha pun mendekati Arne dan menyerangnya dengan pisau tapi Arne menghindar dan menggunakan tasnya sebagai tameng.
"Aaaa.. TOLONGGG..!!!" teriak Arne sekuat tenaga agar siapapun datang menolongnya.
Bughhh..
Sebuah tendangan pun membuat Martha tersungkur. Dan itu adalah tindakan Anderson untuk menyelamatkan Arne.
"Ck.. Kau..!" teriak Martha.
"Berani sekali kau menyerang tunanganku." ucap Anderson.
Beberapa petugas yg berjaga pun berlarian ke area parkir tersebut dan membuat Martha panik. Martha pun memilih kabur dari sana.
"Arne kau tak apa?" tanya Anderson.
"Iya.. Aku hanya terkejut saja bertemu dengannya disini." ucap Arne.
__ADS_1
Sementara petugas yg ada disana mengejar Martha, meski sedikit terlambat. Kali ini Arne berhasil selamat karena Anderson tiba tepat waktu. Dan hal itu juga membuat Martha dikejar oleh pihak kepolisian.