
Arne pun melewati beberapa perawatan, hingga akhirnya diperbolehkan pulang. Semua urusan pekerjaannya diselesaikan oleh Anderson dan Sammy dengan cepat tanpa ada masalah berarti.
Dan tibalah dimana Arne harus keluar dari rumah sakitnya. Dirinya dijemput oleh Anderson dan dibawa ke suatu tempat. Awalnya Arne pikir Anderson ingin membawanya ke rumah orangtuanya.
"Kita mau ke rumah mama?" tanya Arne.
"Kau ikut saja.. Aku punya sedikit kejutan." ucap Anderson.
"Wow.. Aku jadi penasaran." ucap Anderson.
"Kalau begitu duduklah dengan tenang dan nikmati perjalanan ini." ucap Anderson tersenyum.
Mereka pun tiba di kompleks lain dari rumah Jeny. Perumahan yg terlihat masih sepi karena baru selesai di bangun. Arne pun mulai paham maksud dari tujuan Anderson. Dan mereka tiba di sebuah rumah mewah disana dengan halaman yg luas.
"Selamat datang di rumah kita." ucap Anderson.
"Aku sudah bisa menebaknya.. Terimakasih sayang." ucap Arne.
"Tentu, ini semua demi keamanan dan kenyamananmu." ucap Anderson.
"Kau pasti gelisah setelah Angel tahu apartemen kita." ucap Arne.
"Itu ada benarnya juga, tapi aku sudah membelinya sebelum kita menikah." ucap Anderson.
"Kau sudah menyiapkan sebelumnya, tapi kenapa kita baru pindah?" tanya Arne.
"Karena ada beberapa hal yg harus direnovasi." ucap Anderson.
"Oh jadi begitu, boleh kita masuk sekarang?" tanya Arne.
"Tentu saja, kau diam di dalam dulu." ucap Anderson.
Anderson pun keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk istrinya tersebut. Lalu Anderson merangkul istrinya dan membawanya masuk ke dalam.
Anderson pun membuka kunci rumahnya dengan pasword. Dan dirinya memberitahu Arne paswordnya.
"Jadi paswordnya tanggal lahirmu." ucap Anderson.
"Kenapa begitu?" tanya Arne.
"Tidak apa, agar selalu ingat saja." ucap Anderson dan Arne pun tersenyum.
Mereka pun masuk ke dalam dan Arne melihat furnitur rumah pun sudah lengkap. Sudah ada kursi, meja, sofa, meja makan dan dapur mereka pun sudah rapi.
__ADS_1
Arne pun tersenyum melihat rumahnya tersebut.
"Bagaimana apa kau menyukainya?" tanya Anderson.
"Tentu saja aku menyukainya." ucap Arne tersenyum.
Mereka pun melihat-lihat isi rumah tersebut, ada kamar tamu, kamar ART, toilet, ruang cuci, dan kamar utama di lantai dua. Bahkan di rumah tersebut memiliki rooftop yg indah yg sudah didesain oleh Anderson untuk tempat santai.
"Aku suka rumah ini, tidak terlalu besar dan nyaman." ucap Arne.
"Ya.. Karena kalau rumah kita besar akan ada banyak pelayan yg bekerja, itu membuatku kurang nyaman karena ada banyak orang di rumah." ucap Anderson.
"Tidak apa, ini saja sudah cukup untukku." ucap Arne.
"Syukurlah jika kau merasa begitu, kita tinggal merekrut orang untuk menjadi pelayan." ucap Anderson menghela nafas.
"Kenapa?" tanya Arne.
"Karena aku takut menerima orang yg salah.. Ya beberapa kasus saat ini cukup membuatku resah meninggalkanmu dengan orang asing." ucap Anderson.
"Bukankah ada semacam yayasan yg mempekerjakan orang untuk jadi ART??" tanya Arne.
"Iya, tapi tetap saja aku khawatir." ucap Anderson.
"Jika ada yg mencurigakan pecat saja dia dan beri uang." ucap Anderson.
"Iya aku mengerti." ucap Arne.
"Dan rumah kita tak jauh dari rumah orangtuamu, kau bisa kesana kapan saja." ucap Anderson.
"Iya, kau memang bisa mengerti aku." ucap Arne.
"Sekarang, kita pesan makanan saja kau tak perlu memasak.. Kau harus istirahat sampai tanganmu pulih." ucap Anderson.
"Oke." ucap Arne.
Keduanya pun sepakat untuk memesan makanan dan duduk di rooftop untuk menikmati udara segar. Dan ketika makanan mereka tiba, Anderson yg akan turun untuk menerimanya. Dan mereka menikmati makanan berdua dengan suasana tenang.
Anderson juga sudah membersihkan seisi rumah ini kemarin dengan jasa bersih-bersih hingga Arne tak perlu repot-repot membersihkannya. Saat ini rumah mereka sudah bersih dan tertata rapi, bahkan pakaian mereka juga sudah ada dilemari.
Arne dan Anderson banyak membicarakan soal asisten rumah tangga dan mencoba menghubungi beberapa agen yg tersedia. Yang Anderson takutkan bukanlah soal harga, dirinya bisa membayar berapapun. Tapi yg ia khawatirkan apakah orang yg bekerja padanya akan bekerja dengan baik atau justru sebaliknya.
Arne pun berupaya membujuknya dan akan mengawasinya langsung. Dan meski semuanya sudah rapi, tapi mereka kekurangan bahan makanan di dapur. Kulkas besar tersebut juga hanya berisi air mineral dan minuman dingin lainnya.
__ADS_1
Arne yg melihatnya pun gatal dan ingin berbelanja.
"Kau baru pulang dari rumah sakit." ucap Anderson.
"Kita butuh makanan jika situasi mendesak." ucap Arne.
"Contohnya?" tanya Arne.
"Di malam hari atau saat cuaca buruk." ucap Arne.
"Itu benar juga." ucap Anderson.
"Ayolah,, kita beli sedikit makanan persediaan saja." ucap Arne.
"Oke hanya sedikit ya dan kau jangan menggunakan tangan kirimu." ucap Anderson.
Akhirnya mereka pun pergi berbelanja ke supermarket, dan membeli beberapa stok makanan. Arne pun dengan cekatan membeli bahan-bahan tersebut. Meski bilangnya hanya sedikit tapi keranjang belanja mereka lama-lama penuh oleh bahan makanan dan beberapa barang lain.
"Ini yg kau sebut sedikit?" protes Anderso.
"Hehe.. Kita butuh semuanya." ucap Arne tersenyum.
"Baiklah, sudah cukup ya.. Kau itu sedang sakit dan tak mungkin selalu memasak." ucap Andersoj khawatir.
"Baiklah-baiklah, aku juga hanya membeli buah yg gampang dimakan." ucap Arne.
Anderson pun langsung membawa istrinya ke kasir kalau tidak keranjang mereka akan semakin penuh. Dan hal itu membuat Arne harus mengerjakan sesuatu.
Setelah membayar, Anderson bersama istrinya pun pulang ke rumah mereka. Anderson bahkan sampai membantu istrinya merapihkan isi kulkas mereka, memotong sayuran dan buah, dan Arne hanya memerintahkan suaminya tersebut.
Untungnya Anderson bisa diandalkan, dan tak masalah mengerjakan semuanya asalkan istrinya tak banyak bekerja dengan satu tangan yg pastinya sulit. Arne pun hanya tersenyum senang melihat suaminya begitu perhatian padanya dan sampai memotong beberapa buah agar dirinya mudah memakannya.
Anderson juga menyiapkan beberapa bahan yg diminta Arne untuk stok di kulkas mereka. Pria itu pun menuruti istrinya saja meski tak pernah melakukan hal itu. Untung saja tak ada yg salah dalam pekerjaannya. Dan semua selesai dikerjakan.
Anderson pun beristirahat karena lelah mengerjakan semuanya. Arne pun tidur di sampingnya menemaninya. Begitu bersyukurnya Arne menikahi Anderson yg begitu penuh perhatian dan setia padanya. Dan disisi lain Arne bersyukur suaminya Anderson bukan Boy pria yg pernah menyakitinya.
....
Esok harinya, Anderson pun pergi bekerja dan Arne sendirian di rumahnya. Anderson meminta Arne untuk ke rumah Jeny jika dirinya bosan. Tapi disanapun sama saja karena kedua orangtuanya juga pasti bekerja.
Akhirnya disinilah Arne sendirian di rumahnya. Arne pun hanya membersihkan rumahnya dengan vacumcleaner dan mengelap meja saja. Yang bisa dilakukannya hanyalah menonton film sambil memakan camilan atau bahkan tidur. Baginya menjadi pengangguran sangatlah membosankan karena dulu aktivitasnya sungguh padat. Tapi jangankan bekerja, mengerjakan pekerjaan rumah saja dirinya kesulitan dengan satu tangan.
Sementara itu, asisten rumah tangga mereka baru akan tiba lusa. Dan Arne harus ekstra hati-hati jika orang itu mulai bekerja. Ditambah lagi kelakuan ART akhir-akhir ini membuat resah di sosial media.
__ADS_1