
Romeo pun bekerjasama dengan Jakson untuk mengungkap siapa mata-mata yg berani mengikuti Arne dan Anderson tadi malam. Dan mereka langsung secepatnya bergerak memerintahkan beberapa orang untuk mengecek plat mobil yg digunakan pelaku.
Kurang dari 24 jam mereka sudah mendapatkan hasilnya. Dan ternyata itu adalah plat nomor palsu, jadi mereka memang adalah mata-mata yg sengaja mengikuti Arne.
Sementara Arne masih tak tahu apa-apa, dirinya terus bekerja dan pergi kemanapun seperti biasanya. Baik, Anderson maupun kakeknya tak memberitahu apapun agar lebih mudah menangkap mata-mata tersebut.
Anderson pun dilibatkan oleh Romeo agar mimiliki kedekatan dengan Arne. Meski begitu, Anderson memang memiliki sedikit kepedulian pada Arne. Dirinya cemas karena Arne hanya tinggal berdua dengan mamanya, apalagi hubungannya dengan Richard merenggang dan hanya Jakson yg bisa dimintai pertolongan. Sementara kakek tua itu juga pasti tak bisa cepat bergerak dan hanya meminta orang suruhannya.
Arne mengingatkan Anderson pada mendiang adiknya Lili. Dan dirinya tak ingin melihat Arne dalam bahaya, apalagi adanya mata-mata yg mungkin mengincar dirinya.
.
.
Sementara Aini terus memantau pergerakan Arne. Dirinya mengamati kalau Arne hanya keluar untuk bekerja saja dan jarang bepergian. Ditambah lagi Arne selalu kemana-mana sendirian membawa mobilnya.
"Sepertinya kondisinya pas.. hanya tinggal menunggu waktu yg tepat." gumam Aini dalam hati.
Aini pun terus merencanakan kejahatannya, setelah kemarin berhasil menumbangkan karir Lisa. Dan hingga kini akun sosial media Lisa menghilang. Mungkin juga karirnya sudah selesai karena pemberitaan buruk ini. Dan tak ada konfirmasi apapun dari Lisa maupun pria paruh baya tersebut. Hal itu membuat Aini puas tertawa karena Lisa telah meninggalkannya dan memilih Arne.
Meski bahagia, tapi kehidupan rumah tangganya tak sebahagia rencananya jahatnya. Boy masih marah padanya dan kini mereka tak banyak bicara. Aini juga dilarang keluar rumah oleh ibu mertuanya setelah mendengar semua keluhan Boy soal gaya hidup Aini.
Leni pun mendaftarkan Aini beberapa kelas ibu hamil dan Aini harus menurutinya agar diterima di keluarga Boy. Padahal Aini sangat malas bergerak. Mulai dari kelas olahraga sampai kelas parenting, Aini ikuti tapi tak pernah benar-benar memperhatikan dan hanya sekedar hadir saja. Padahal kelas-kelas itu penting sebagai calon ibu, tapi Aini hanya berpikir bagaimana nanti dirinya harus bekerja dan berkarir tanpa memikirkan anaknya. Dirinya hanya akan mencari pengasuh untuk mengurus anaknya, sementara Aini bisa bebas bekerja dan bersaing dengan Arne.
Aini pun tak sabar untuk memberi Arne pelajaran agar tak mendekati Boy lagi. Apalagi kakeknya hanya ingin Arne menjadi penerusnya dan tak pernah menganggapnya ada selama ini. Memang tak adil bagi Aini, tapi bagi Jakson Aini tak berhak atas segalanya karena memiliki kecenderungan yg sama dengan Martha, yakni serakah dan haus akan harta.
.
.
Di rumah sakit, hubungan antara Arne dan Anderson pun baik-baik saja meski mereka harus terus berkencan sebanyak 4x lagi sebagai syaratnya. Belum lagi masa residen Arne yg begitu menguras energinya.
"Kenzi.. kenapa hidupku sesulit ini.." gerutu Arne.
"Sulit darimana?? kau itu hanya tinggal menjalaninya saja." balas Kenzi.
"Masih ada 4 kencan lagi.. aku harus bagaimana menghadapi si kulkas itu. " ucap Arne frustasi.
"Tak ada yg lebih baik selain menjalaninya.. ayolah Arne hanya 4x.." ucap Kenzi.
"Ya.. oke semangat." balas Arne.
Lalu Nino muncul dengan aura penuh kebahagiaan.
"Ehmm.. yg abis kencan romantis mah beda ya auranya." ucap Arne.
__ADS_1
"Arne, lebih baik kau pikirkan kencanmu yg berikutnya.. karena kulihat semalam kalian bertengkar." balas Nino tersenyum.
"Ck.. kau itu melihat saja aib memalukan itu." balas Arne.
"Ayo Nino ceritakan aibnya.. aku penasaran." pinta Kenzi.
Nino pun menceritakannya dan Arne hanya menutup telinganya dari obrolan serta ejekan kedua temannya.
"Cie.. awas Arne Cinta itu bisa berawal dari Benci." goda Kenzi.
"Ya biasanya begitu sih Ken." tambah Nino.
"Bodo amat.." ucap Arne keluar ruangan dan bertabrakan dengan Anderson.
Brakkk..
"Ck.. Arne apa yg kau lakukan?" tanya Anderson.
Sementara Arne menabrak dada bidang Anderson dan terjatuh ke lantai.
"Apa aku menabrak tembok.." gerutunya.
"Hhh.. kau tak apa?" tanya Anderson menghela nafas.
"Ee..Profesor." ucap Arne malu karena menyebut Anderson tembok.
"Tentu saja tembok rumah sakit ini keras dan kokoh.." balas Arne tersenyum.
"Kalau jalan pakai mata..! jangan asal saja menabrak orang lain.. bagaimana kalau yg kau tabrak membawa sesuatu atau justru pasien?? " ucap Anderson mengomeli Arne.
"Maaf prof.." ucap Arne menunduk.
"Sekarang kau urus pasien di kamar A-B." ucap Anderson.
"Baik prof." ucap Arne langsunh bergerak.
Sementara Kenzi dan Nino menguping dari dalam.
"Kalian menguping? atau sedang tak ada kerjaan?" tanya Anderson.
"Tidak prof, kami baru akan mengecek pasien.. benar kan Nino.?" tanya Kenzi.
"Iya.. kami permisi prof." balas Nino.
"Huh.. dasar mereka bertiga ini selalu saja bikin emosi." ucap Anderson.
__ADS_1
Dan malam ini mereka sedang jaga malam. Anderson pun beberapa kali iseng ijin keluar untuk membeli sesuatu. Dan dirinya menemukan mobil yg kemarin mengikuti mereka terparkir di area parkir parkir pengunjung rumah sakit.
Seketika Anderson pun punya ide dan meminta bantuan kakeknya untuk mengirim beberapa orang yg menyamar sebagai pengunjung rumah sakit. Orang-orang suruhannya akan bertugas untuk mengamati mobil yg terparkir tersebut.
Saat Anderson kembali ke rumah sakit, mereka masih berada disana. Bahkan hal itu terjadi sampai pagi hari saat Anderson dan Arne hendak pulang. Anderson pun berjalan terlebih dahulu dan menunggu di depan sebuah toko agar tak diketahui kalau mengikuti Arne.
Arne pun keluar dari rumah sakit, dan berjalan menyusuri jalan biasanya. Rasa kantuk dan lelah pun membuat Arne mengambil jalur aman agar sampai apartemen dengan selamat. Arne juga menjaga kecepatan standar agar mudah dikendalikan. Kemudian Anderson mengikutinya dari belakang bersama beberapa orang suruhannya.
Hingga sampailah ke apartemen Arne dan mobil Arne masuk ke area parkir apartemen. Sementara mobil itu berhenti di depan pintu apartemen berpura-pura salah arah dan ingin memutar. Lalu orang suruhan Anderson mengepungnya dari depan dan sisi samping agar mobil itu tak bergerak.
"Ada apa ini?" tanyanya.
"Ada apa ya? kau yakin tak mau mengakuinya.?" tanya Anderson.
"Apa maksud kalian? kalian mau aku laporkan?" ancam pria yg ada di dalam mobil.
"Yakin kau punya alasan yg tepat melaporkanku?" tanya Anderson.
"Kemarin kau mengikuti wanita yg baru saja masuk apartemen. Dan semalam mobilmu juga berada di rumah sakit. Mau menjelaskannya disini atau di kantor polisi?" tanya Anderson.
Seketika pria itu pun tak punya pilihan, mau kabur pun percuma karena sudah dikepung. Dan lagi Anderson punya sederet bukti kuat yg membuatnya ketakutan. Pria itu pun diseret ke rumah Jakson dan diintrogasi kenapa mengikuti Arne hampir setiap hari.
"Jawab apa tujuanmu mengikuti cucuku..?" tanya Jakson.
"Aku.. aku hanya disuruh seseorang." jawabnya.
"Siapa? cepat jawab." ucap Jakson seraya mengarahkan tongkatnya ke leher pria tersebut.
"No-nona Aini.." ucapnya.
"Aini? kau yakin? coba lihat ponselmu." ucap Jakson.
Jakson pun memeriksa ponselnya dan menemukan percakapan dengan pria ini. Dan Aini memintanya untuk mengikuti Arne, lalu menakut-nakutinya. Bahkan kalau bisa menculik Arne.
Brakk..!
"Dasar manusia tak punya harga diri..!" ucap Jakson.
"Apakah isinya buruk?" tanya Anderson.
"Lihat sendiri." ucap Jakson.
Anderson pun membacanya dan syok akan permintaan Aini yg meminta pria ini agar menakut-nakuti Arne, mancelakainya atau bahkan menculiknya jika bisa.
"Anda ingin melaporkan tindakan Aini?" tanya Anderson.
__ADS_1
"Tentu saja.. ini tak bisa dibiarkan." balas Jakson.
Dengan segera Aini pun dilaporkan atas tindakannya oleh Jakson sendiri. Dan bahkan Arne tak tahu menahu soal ini.