Sahabatku Musuhku

Sahabatku Musuhku
Bab.70 Sang penggoda


__ADS_3

Malam itu Thompson bersama Maria pun datang ke rumah sakit tempat Anderson dan Arne bekerja. Nampak sekali jika Thomson ingin tahu kehidupan putranya dan kekasih barunya. Dan pada saat itu, kebetulan Thomson mengeluhkan sakit kepalanya.


Arne pun menanganinya.


"Kurasa anda harus mengurasi makan seafood. Tingkat kolesterol anda tinggi." ucap Arne.


"Kau memang pintar.. Aku memang habis makan seafood." ucap Thompson.


"Baiklah tuan, anda harus rajin meminum obatnya sampai kadar kolestrol anda stabil.. Dan menghindari makanan laut untuk sementara." ucap Arne.


"Semua dokter selalu berkata hal yg sama ya tak peduli seberapa mahal aku membayarnya." ucap Thompson.


"Karena penyakit anda memang hanya itu, dan kesehatan anda tergantung pada bagaimana pola hidup anda." ucap Arne.


"Kau berani sekali berkata begitu pada suamiku?? Kau lupa siapa dia?" balas Maria.


"Maria, cukup.." ucap Thompson.


"Aku tidak lupa, tapi posisiku disini adalah seorang dokter, dan dari jawaban pasien semua dokter berkata hal yg sama.. Artinya kemampuanku tak diragukan lagi bukan?" balas Arne.


"Baiklah, terimakasih.. Tapi dimana Anderson?" tanya Thompson.


"Dia sedang ada di lab.." ucap Arne.


"Apa yg dia kerjakan malam-malam begini? Bisa-bisanya dia mengabaikanku." ucap Thompson.


"Dia memeriksa beberapa alat kesehatan, dan sebagai profesor yg ahli di bidang tersebut putra anda bertanggungjawab akan hal itu." ucap Arne.


"Jadi begitu, tolong panggilkan dia.. Aku mau bicara dengannya." ucap Thompson.


"Baik tuan." ucap Arne.


"Tidak perlu karena aku sudah ada disini." ucap Anderson berada tepat di hadapan Maria.


Maria pun membeku disana, saat mendengar suara Anderson.


"Kalau begitu, aku permisi." ucap Arne lalu pergi.


Dan disanalah Anderson dan Thompson bicara, bahkan Maria pun diusir dari ruangan tersebut.


"Jadi ada apa?" tanya Anderson.


"Seperti biasa aku sakit kepala." ucap Thompson.


"Ya.. Kau memang sudah tua dan bodoh." balas Anderson tanpa takut.


"Kau itu sudah kelewatan sebagai seorang anak.. Berani sekali menyebutku bodoh." ucap Thompson.


"Kalau kau tidak bodoh harusnya kau menghindari makanan yg tak boleh kau makan." balas Anderson.


"Cih, aku tak butuh saranmu." balas Thompson.

__ADS_1


"Itulah alasanku menyebutmu bodoh, karena hanya orang bodoh yg tak mau mendengarkan fakta." ucap Anderson.


"Cih, bicara denganmu selalu membuatku naik darah." ucap Thompson.


"Tak usah basa-basi sampai kapan kau akan memata-mataiku dan Arne kekasihku?" tanya Anderson.


"Bede***h ini sangat waspada rupanya.. Sebagai ayah aku harus tahu kehidupanmu." ucap Thompson.


"Padahal 20 tahun terakhir kau sama sekali tidak peduli, hanya kakek tua itu dan ibuku yg memedulikanku." ucap Anderson.


"Apa kali ini kau tertarik pada kekasihku lagi??" tebak Anderson.


"Kuakui dia memang cantik.. Tapi aku terlalu gila jika mendekatinya tanpa tahu keluarganya." ucap Thompson.


"Dia cucu tuan Jakson, kau tahu kan siapa dia? dia bisa menghancurkanmu dalam sekali serangan." ucap Anderson.


"Jadi berita itu benar."


"Ya.. dan kau terlalu cepat seratus tahun jika mau mendekatinya karena baik aku ataupun keluarganya takkan tinggal diam." ucap Anderson mengancam Thompson.


"Kau semakin pandai mengancam seperti ayahku." ucap Thompson.


"Karena dia yg merawatku, jadi aku tahu caranya menggigitmu.. Ini peringatan pertama dan terakhir, kuharap kau sudah puas dengan memiliki Maria." ucap Anderson.


"Ya.. Lagipula, aku hanya penasaran dengan kekasihmu itu.. Tentu saja Mariaku lebih jago, apalagi urusan ranjang." ucap Thompson.


"Baguslah, kalau begitu silahkan pergi dari sini." ucap Anderson.


"Dokter cantik itu bilang aku boleh pergi kalau cairan infusnya sudah habis, jadi aku akan menunggu sebentar." ucap Thompson.


.


.


Di tempat lain, Maria pun sedang bicara dengan Arne.


"Ada apa nyonya? Apa tempat ini sudah cukup sepi.?" tanya Arne.


"Kau yakin mencintai Anderson.?" tanya Maria.


"Pertanyaan anda sungguh konyol.. Haruskah aku mengatakan sejauh apa hubungan kami?" balas Arne tersenyum.


"Aku juga pernah bersamanya, dan kami sampai melakukannya.. Kau tahu kan hubungan orang dewasa seperti apa?" tanya Maria.


"Jika bicara itu tentu aku tahu ototnya yg seksi itu.. Dia punya tenaga yg cukup besar, yg bisa membuat wanita kelelahan." balas Arne tak mau kalah.


"Cih, kupikir kau itu gadis polos." balas Maria.


"Tak ada gunanya berlagak polos di hadapan sang perayu handal seperti dirimu." ucap Arne.


"Kau berani sekali.." ucap Maria kesal.

__ADS_1


"Jika kulihat-lihat, kau memacari Anderson tapi menikahi ayahnya.. Bagaimana ya menanggapinya, kau seperti mencari sesuatu yg lebih dari keduanya." ucap Arne.


"Kau..! Dengar ya.. Suatu saat aku akan kembali pada Anderson." ucap Maria.


"Itupun jika dia mau kembali padamu. Oh iya, kakek kami sudah sepakat jika kami menikah. Kuharap kau datang ya ke pernikahan kami." balas Arne memanas-manasi.


"Kau takkan pernah bisa menikah dengannya.. Karena dia hanya mencintaiku, ingat itu..!" ucap Maria.


"Aku akan mengingatnya wanita serakah." ucap Arne.


"Sepertinya ada yg menarik disini.." ucap Anderson.


Maria pun terkejut dan merasa malu karena Anderson mendengar pembicaraannya.


"Kenapa ibu Maria? Kau malu setelah mengatakan hal itu pada kekasihku?" tanya Anderson.


"Di dalam suamimu memuji kemampuanmu lho di atas ranjang.. Berarti kau memang paling handal membuat pria bertekuk lutut." ucap Anderson.


"Anderson..! Kau sudah kelewatan, kau tak bisa menungguku lagi?" tanya Maria.


"Tidak.. Apalagi jika ada wanita secantik Arne, yg jauh lebih penting dia setia tak sepertimu." ucap Anderson.


"Lihat saja.. Nanti kau yg akan memintaku kembali." ucap Maria.


"Benarkah? lalu calon adikku itu akan memanggilku kakak atau apa ya?" balas Anderson.


"Lebih baik anda kembali ke ruangan suami anda sebelum ketahuan menggoda putra tiri anda." ucap Arne tersenyum.


Maria pun tak mampu menjawab pertanyaan Anderson dan juga membalas Arne, dirinya pun memilih mundur dan kembali ke ruangan suaminya. Arne pun bicara sejenak pada Anderson.


"Ibu tirimu itu luar biasa, dia seperti tokoh dalam novel dewasa." ucap Arne.


"Ya.. Dia memang sefrontal itu jika mendekati pria. Kudengar tadi kau memuji ototku.." ucap Anderson.


Pipi Arne pun memerah malu.


"Prof, itu hanya improvisasi karena aku tak mau kalah darinya." ucap Arne.


"Benarkah? Darimana kau tahu ototku yg seksi itu?" goda Anderson.


"Ck, kau lupa kita pernah bertemu di pantai Bali? kau kan memarkannya dan jadi pusat perhatian para wanita." ucap Arne.


"Lalu darimana kau tahu aku punya tenaga yg besar yg mampu membuat wanita kelelahan?" tanya Anderson.


"Ya.. Mulut cerewetmu mampu membuatku berlari dari satu ruangan ke ruangan lain di rumah sakit ini." ucap Arne.


"Tapi maksud ucapanmu tadi tak begitu, apa kau memang diam-diam adalah wanita yg berpengalaman?" tanya Anderson.


"Haruskah aku mengeceknya di rumah sakit ini agar kau percaya?" balas Arne.


"Apa yg harus kau cek?" tanya Anderson.

__ADS_1


"Prof, ini tidak lucu.. Berhenti menyudutkanku dengan pertanyaan ambigumu." balas Arne lalu meninggalkannya.


Arne pun sangat malu membahas hal itu dengan pria, sementara Anderson senang mengorek sesuatu karena Arne terlihat tak mau kalah dari Maria. Meski Anderson tahu Arne adalah wanita baik-baik dan tak mungkin berbuat sejauh itu bersama pria.


__ADS_2