Sahabatku Musuhku

Sahabatku Musuhku
Bab.44 Pertengkaran


__ADS_3

Boy pun menuruti keinginan Aini, tapi dalam hatinya Boy yakin kalau Aini mencurigainya berselingkuh dengan wanita lain. Padahal Boy tak ada niatan untuk itu, terlebih ibunya cukup ketat pada urusan rumah tangga.


"Jadi kau mau tanya apa?" tanya Boy.


"Kau yakin tas itu untuk mom?" tanya Aini.


"Harus kukatakan berapa kali sih? itu hadiah ulang tahun mom.. kau tanya saja sana sama mom..!" ucap Boy kesal terus dicurigai.


"Kenapa sekarang kau tak pernah mengajakku kemanapun?? apa kau punya wanita lain?" tanya Aini.


"Aini.. kau ini habis darimana sih? apa yg kau pikirkan sampai sejauh ini.. aku memang malas mengajakmu karena kau saat ini terlihat gemuk dan kesulitan bergerak karena kau itu sedang hamil tak baik bepergian dengan kondisi ini.." ucap Boy.


"Kau tidak sedang membohongiku kan?" tanya Aini lagi.


"Ck.. apa maumu?? apa buktinya kalau aku berselingkuh?" balas Boy membuat Aini terdiam.


"Kau lama-lama menyebalkan.. egois dan bersikap seenaknya.. Dimana Aini yg dulu selalu berkata lembut dan perhatian padaku..?" ucap Boy lalu keluar dari kamarnya.


Boy pun sangat kesal akan tindakan Aini. Meski Boy melihat Aini sudah tak semenarik dulu, tapi Boy sadar kalau Aini sedang mengandung anaknya. Dan mungkin saja itu karena pengaruh hormon kehamilannya membuat Aini terlihat gemuk. Tapi tak ada niatan baginya untuk berselingkuh.


Bahkan sampai struk pembelian tas untuk momnya saja Boy sampai diintrogasi begitu. Boy pun pergi ke taman rumahnya dan menghisap beberapa batang rokok. Hal itu Boy lakukan setiap kali dirinya stres atau sedang ada masalah.


Dan ibunya Leni pun melihat anaknya sedang merokok diluar lalu menegurnya. Sebagai seorang ibu Leni sudah mengenal Boy dengan sangat baik terutama kebiasaannya.


"Boy, ada apa?" tanya Leni.


"Mom, Aini mulai berulah.." ucap Boy.


"Berulah bagaimana?" tanya Leni.


"Dia curiga aku berselingkuh karena melihat struk belanja tas yg kemarin kuberikan pada mom." ucap Boy.


"Kadang mom juga merasa Aini sangat kekanakan, mungkin itu bawaan bayinya atau secara ilmiah itu pengaruh hormon kehamilannya." ucap Leni.


"Aku sudah mencoba bersabar dengannya, tapi semakin hari dia semakin menyebalkan." ucap Boy.


"Boy, jangan berkata begitu.. bagaimana pun Aini itu putri yg berharga di keluarganya sama sepertimu.. kau harus bersabar menghadapinya." ucap Leni.


"Aku sedikit tak terima saja jika dia cemburu hanya karena aku membelikan mom tas itu." ucap Boy.


"Sudahlah, biarkan saja.. kau harus bersabar dan mungkin setelah anak kalian lahir Aini akan kembali seperti dulu." ucap Leni.


"Mom jika Aini kurang ajar bilang saja padaku, itu tugasku mengajarinya." ucap Boy.


"Kau tak perlu sampai segitunya, mom tahu cara mengajarinya dengan benar." ucap Leni.


"Mom.. kalau aku menikahi Arne apa kondisinya akan lebih baik?" tanya Boy.


Plakk..


Leni pun memukul pundak putranya karena mengatakan yg tidak-tidak.


"Kalau mau menyesal sudah terlambat..! itu anak orang sudah kau nikahi dan hamili." ucap Leni.


"Ya.. kan seandainya." ucap Boy.


"Tak ada kata seandainya, jangan berandai-andai hadapilah kenyataanmu.. kalau kau menikahi Aini tandanya Aini jodohmu kau harus terima segalanya tentang Aini." ucap Leni.


"Ck.. mom benar-benar tak bisa bercanda.. " ucap Boy.


"Sudah, hentikan kebiasaanmu merokok istrimu sedang hamil.. lalu tidur ini sudah larut malam." ucap Leni.


Kemudian Boy pun berhenti merokok dan masuk ke dalam kamarnya. Di dalam Aini sudah tertidur dan nampak habis menangis. Boy pun tak tega, tapi dirinya juga harus membuat Aini sadar dan tak terus berpikiran buruk tentangnya.

__ADS_1


.


.


Keesokannya, mereka pun sarapan di meja seperti biasanya. Dan Leni menegur sikap Aini pada Boy soal tas yg dibelikan Boy.


"Aini, apa kau baik-baik saja? kau terlihat seperti habis menangis." ucap Leni.


"Tidak mom." jawab Aini.


"Mom tahu, kau marah pada Boy soal tas ini kan?" tanya Leni menunjukkan sebuah tas pemberian Boy.


"Jadi benar untuk mom." ucap Aini kemudian menutup mulutnya.


"Benar, kau bahkan tak percaya padanya dan menangisi hal yg tak perlu.. apa kau mau tas ini?" tanya Leni.


"Tidak usah mom.." ucap Aini.


"Ambillah, mom tak mau hanya karna sebuah tas kau bertengkar dengan Boy." ucap Leni.


"Tidak mom... maaf aku yg salah." ucap Aini.


"Baiklah, kita anggap masalah ini selesai.. " ucap Leni.


"Dan Aini, mom juga pernah ada di posisimu yg sangat sensitif karena sedang hamil.. tapi pakai logikamu jangan hanya mengandalkan emosimu." ucap Leni.


"Baik mom.. aku mengerti." ucap Aini


"Kau dengarkan, aku tak berbohong soal tas itu." ucap Boy.


"Ya.. maaf Boy." ucap Aini.


"Baguslah jika kalian sudah berbaikan. Ingat Aini kau sedang hamil jangan lakukan hal yg tidak-tidak." ucap Leni.


"Mulai hari ini Boy akan masuk ke perusahaan dadnya.. Boy jangan kecewakan dadmu." ucap Leni.


"Baik mom.. tapi kapan dad pulang?" tanya Boy.


"Mom tak tahu, karena dia masih sibuk di cabang luar negeri." ucap Leni.


"Baiklah.. aku akan berusaha." ucap Boy.


Aini pun hanya menyimak ucapan Leni dan Boy. Dirinya pun merindukan pekerjaannya dan harus berhenti karena mengandung. Lalu Aini pun jadi tak sabar ingin cepat melahirkan agar bisa berkarir lagi.


.


.


Beberapa hari kemudian, ayah dari Boy tuan George kembali dari luar negeri. Dirinya pun memperkenalkan Boy sebagai wakilnya sekaligus penerusnya di perusahaannya. Tentunya, di momen tersebut bertepatan pada hari ulang tahun perusahaan tersebut.


Dan akan diadakan pesta untuk merayakan momen ulang tahun perusahaan. Beberapa klien pun diundang untuk hadir dalam acara tahunan tersebut.


"Boy.. ajaklah Aini datang nanti malam." ucap George.


"Tapi dad.. Aini sedang hamil besar." ucap Boy.


"Sudahlah, tak masalah.. nanti ayah mertuamu dan kakek Aini akan hadir juga." ucap George.


"Baik Dad.." ucap Boy berat.


Boy pun merasa pesta malam ini tak cocok untuk Aini yg tengah hamil besar. Dan lagi, akan merepotkan jika tiba-tiba Aini merasa sakit perut. Boy pun segera mengabari Aini dan memintanya hadir bersamanya dalam acara perusahaan. Aini pun senang bukan kepalang, karena akhirnya dirinya bisa menunjukkan diri sebagai istri Boy di perusahaan ayah mertuanya.


Aini ingin melihat bagaimana lingkungan bekerja suaminya. Dan mencegah pelakor dalam rumah tangganya.

__ADS_1


.


.


Malam pun tiba dan Aini sudah siap untuk pergi ke acara tersebut. Boy pun menjemputnya, dan melihat Aini terlihat lebih baik dengan riasan diwajahnya. Lalu mereka datang ke acara perusahaan.


Saat datang, Aini sudah bergaya bak nyonya besar. Terlebih ada banyak staf mertuanya yg menghormatinya dan Boy. Tapi sikap Aini cukup kelewatan dengan meminta salah seorang staf untuk membawakan tasnya. Boy pun langsung menegurnya.


"Pegang sendiri atau taruh di dalam mobil..!" ancam Boy sambil berbisik.


Aini pun tersentak dan langsung memegangi tasnya.


Di dalam sudah mulai ramai tamu berdatangan, salah satunya Richard dan Martha. Lalu ada Jakson dan Arne yg juga turut hadir membuat Aini kesal. Terlebih Jakson memperkenalkan Arne sebagai penerusnya pada para kliennya.


"Kenalkan ini cucuku Arne.. dia adalah calon penerusku.. kalian harus banyak membantunya nanti." ucap Jakson.


Dan respon orang-orang pun positif pada Arne. Mereka menyambutnya dengan ramah tamah dan senyuman. Meski Arne adalah anak muda, tapi mereka tahu kalau Arne seorang dokter yg pastinya memiliki kepintaran. Bahkan Arne memiliki beberapa skil berbahasa asing yg cukup baik.


"Kakek.." sapa Aini.


"Oh Aini kau hadir juga." balas Jakson.


"Dia juga cucuku dari Richard dengan istri barunya." balas Jakson.


Mereka pun hanya tersenyum pada Aini. Dan Boy malu melihat Aini yg tak mau kalah bersaing dengan Arne. Boy pun menariknya agar duduk saja di meja bersamanya.


"Aini, kita duduk saja." ucap Boy.


"Kenapa? aku masih ingin bicara." ucap Aini.


"Kau itu sedang hamil besar, cukup duduk dan menikmati acara saja." ucap Boy.


Tapi saat Boy pergi berbicara dengan beberapa rekan dan klien, Aini pun ikut berdiri dan mendekati ayahnya yg sedang berbicara dengan Jakson, Arne serta kliennya.


"Papa.. kakek.. boleh aku bergabung.." pinta Aini.


"Iya Aini." ucap Richard.


Sementara itu mereka pun berbicara dan Aini hanya mendengarkan. Lalu perutnya terasa sakit.


"Akh.. perutku.." ucap Aini.


"Aini kau kenapa? dimana Boy.?" tanya Richard.


"Papa, ajak Aini duduk dulu." ucap Arne.


Saat Aini duduk, Arne pun melihat Aini memakai heels dan Arne tahu apa penyebabnya. Lalu Boy menghampiri istrinya tersebut.


"Ada apa dengan Aini? Arne apa kau tahu sesuatu?" tanya Boy.


"Aini tidak boleh pakai heels.. tapi dia memakainya dan berdiri cukup lama.. dia hanya butuh istirahat dan sebaiknya Aini segera pulang." ucap Arne.


"Arne kau ingin mengusirku?" tanya Aini.


"Tidak, memangnya aku siapa, kan ini perusahaan ayah mertuamu." balas Arne.


"Boy, bawa dia pulang atau ke rumah sakit." ucap Richard.


"Ck.. sudah kubilang untuk duduk saja..!" ucap Boy menggerutu.


Boy pun membawa Aini ke rumah sakit sambil memarahinya karena memakai heels. Sepanjang jalan mereka pun bertengkar dan Aini akan berhenti jika perutnya sakit lagi.


"Sudah diam.. !" ucap Boy saat melihat Aini kesakitan sambil mengomel karena tak terima.

__ADS_1


__ADS_2