
Dengan sedikit taktik, Jeny pun akhirnya mau dinner bersama Sammy. Dan Sammy memilih sebuah resto tempat mereka berkencan dulu. Jeny pun terkejut karena Sammy masih mengingat resto tersebut. Ajaibnya resto tersebut juga masih buka dan tak banyak yg berubah.
"Wah, tak kusangka pilihanmu klasik sekali." ucap Jeny.
"Bukankah kau dulu menyukainya?" tanya Sammy.
"Benar, kuharap makanannya juga masih sama." ucap Jeny tersenyum.
Mereka pun duduk dan memesan menu makanan. Nampak Sammy senang bisa duduk bersama Jeny di tempat ini. Jeny pun sedikit canggung makan berdua dengan Sammy setelah sekian lama.
"Santailah.. Lagipula ini resto jadul jadi tak banyak anak muda yg datang." ucap Sammy.
"Iya, rasanya memang begitu." ucap Jeny yg melihat sekelilingnya yg memang tak ada anak muda.
Tak berapa lama makanan pun datang. Dan menunya tak jauh berbeda dengan dulu, bahkan rasanya pun masih sama seperti dulu.
"Cita rasanya tak berubah.." ucap Jeny.
"Ya.. Itulah yg membuat mereka tetap ada sampai sekarang." ucap Sammy.
"Selamat menikmati." ucap Jeny lalu menikmati makanan pesanannya.
Inilah momen yg dinantikan oleh Sammy selama bertahun-tahun. Dan tak ada yg bisa mengganggu hubungan mereka saat ini. Dahulu, memang Sammy terlalu bodoh yg mempercayai ucapan seseorang. Ditambah lagi dengan masalah keluarganya yg mengharuskannya kembali ke negara tempat dimana keluarganya tinggal.
Jika diingat lagi, dahulu ada seseorang yg mengirimkan foto-foto Jeny bersama pria lain. Dan pria itu adalah Richard. Sammy pun terbakar api cemburu, dan membuatnya menghampiri Jeny yg tengah berada di pertemuan bersama keluarga Richard. Saat itu, Jeny bahkan baru tahu kalau dirinya dan Richard dijodohkan. Dan Sammy melihat kejadian itu di depan matanya yg membuatnya hatinya hancur.
Jeny pun menolak perjodohan dan memilih Sammy, tapi saat dirinya mencoba bicara, Sammy menolak dan pergi meninggalkan negara tersebut untuk kembali pada keluarganya.
Dua tahun kemudian, saat Sammy kembali ke Indonesia, dirinya baru tahu kalau Jeny baru saja menikahi Richard karena terpaksa harus menerima perjodohan orangtuanya. Beberapa temannya pun berkata kalau Jeny selama ini menunggunya tapi Sammy tak kunjung kembali dan Jeny terus didesak untuk menerima pernikahan dengan Richard.
Ketika mengetahui hal ini, Sammy pun menyesal setengah mati. Dan penyesalan itu berlangsung sampai sekarang. Jika saja dirinya mau mendengarkan Jeny, mungkin mereka sudah menjadi pasangan yg serasi dan Jeny takkan tersakiti oleh pria seperti Richard.
Nasi sudah menjadi bubur, dan saat Sammy kembali lagi ke Indonesia pada tahun lalu dirinya baru mendengar perceraian Jeny dari Arne. Sammy pun memang tak memercayai Richard, dan firasatnya terbukti saat ini. Meski semuanya sudah terlambat, tapi status mereka takkan mungkin menghalangi jika hubungan itu terjalin lagi.
"Terimakasih sudah membawaku kesini.. Makanannya masih lezat seperti dulu." ucap Jeny.
"Ya tentu, dengan senang hati." ucap Sammy.
"Tapi, ada hal yg ingin kusampaikan padamu." ucap Sammy.
"Apa itu? Kelihatannya kau sangat serius." ucap Jeny.
"Aku ingin meminta maaf karena menuduhmu di masa lalu, aku bahkan tak tahu kalau kau menungguku selama 2 tahun." ucap Sammy.
"Aku benci membahas masalalu.. " ucap Jeny.
"Aku sungguh meminta maaf dengan tulus, Jen." ucap Sammy.
"Kata maafmu takkan mengubah keadaan. Jadi sadarlah pada kenyataan." ucap Jeny.
__ADS_1
"Dulu, aku terpengaruh oleh seseorang yg mengirimkan foto dirimu dengan Richard." ucap Sammy.
"Lalu?" tanya Jeny.
"Dengan bodohnya aku percaya, bahkan orang itu bisa tahu kapan rencana orang tua kalian bertemu untuk mengumumkan perjodohan." ucap Sammy.
"Maksudku, gunanya membahas ini sekarang apa? Semua sudah 20 tahun lebih berlalu, bahkan putriku sudah dewasa." ucap Jeny.
"Maaf, aku tak memercayaimu.. Aku masih mencintaimu hingga kini. Dan masih menunggumu, jika kau menunggu 2 tahun, aku sudah menunggumu 20 tahun lebih tanpa memikirkan untuk menikah." ucap Sammy.
"Kenapa kau membuang waktumu untuk menungguku?' tanya Jeny.
"Itu adalah hukumanku karena sudah tidak mempercayaimu dan meninggalkanmu." ucap Sammy.
"Baguslah, karena 2 tahun itu aku sangat frustasi menunggumu ditambah dengan desakan keluargaku untuk menikah dengan Richard." ucap Jeny.
"Jeny, aku tahu aku adalah pria bodoh yg menyia-nyiakanmu di masa lalu.. Bisakah aku menebus kesalahanku?" tanya Sammy.
"Sammy sudah kubilang kita ini sudah tidak muda lagi." ucap Jeny.
"Aku tak masalah asalkan bisa menghabiskan sisa waktuku denganmu." ucap Sammy.
"Bagaimana pendapat putriku? Apa kau pernah memikirkannya?" tanya Jeny.
"Kurasa dia sudah dewasa dan akan mengerti, aku yg akan bicara dengannya." ucap Sammy.
"Aku akan memikirkannya." ucap Jeny.
"Jangan banyak berharap meski aku memikirkannya." ucap Jeny.
"Tentu, setidaknya aku sudah mencobanya." balas Sammy.
"Cih, padahal kau mungkin sudah bertemu banyak wanita cantik diluaran sana, tapi malah memilih tetap menungguku." ucap Jeny.
"Mau bagaimana lagi jika aku belum bisa melupakanmu." ucap Sammy.
"Sammy, sadarlah usia kita tidak muda lagi, apa kata Arne dan teman-temannya yg merupakan juniormu." ucap Jeny menutup wajahnya malu.
"Aku tak peduli, memangnya apa hak mereka pada kehidupan pribadiku." balas Sammy.
"Kau santai sekali." ucap Jeny.
"Tentu saja, kau akan lelah jika memikirkan ucapan mereka." ucap Sammy.
"Benar, dan setelah aku berpisah dari Richard pandangan orang mulai berubah padaku, beberapa wanita mulai waspada jika suami mereka sering bicara padaku. Itu membuatku muak." ucap Jeny.
"Jika ada aku, pandangan itu akan berubah lagi." ucap Sammy.
"Ya, kita bahas itu setelah aku memutuskan." ucap Jeny.
__ADS_1
"Dan ini hadiah karena telah makan malam denganku." ucap Sammy memberikan dokumen yg dibutuhkan Jeny.
"Terimakasih." balas Jeny.
Di sudut meja lain, nampak Richard sedang makan juga dengan Cindy kekasih simpanannya. Cindy pun nampak bergelayut manja pada Richard, dan Richard tak peduli tentang pandangan orang.
"Sayang.. Aku mau itu." ucap Cindy manja.
"Baiklah." ucap Richard.
Dan setelah mereka selesai makan, keempatnya berpapasan di pintu keluar. Nampak pandangan Jeny tak peduli, tapi berbeda dengan Richard dan Sammy yg saking tatap.
"Kau..!" ucap Richard.
"Ada urusan apa ya?" tanya Sammy.
"Apa yg kalian lakukan disini?" tanya Richard.
"Sayang mereka siapa?" tanya Cindy.
"Cindy diam." ucap Richard.
"Memangnya restoran tempat apalagi kalau bukan tempat makan, dan Richard bukankah Martha belum kau ceraikan?" tanya Jeny.
"Ck.. Jeny, kenapa kau bersamanya?" tanya Richard.
"Apa hubungannya denganmu?" tanya Jeny.
"Tentu saja ada, putriku bersamamu kan. Apa kata Arne nanti?" tanya Richard.
"Dia justru memintaku untuk bahagia dan memperbolehkanku menikah lagi. Apa masalahmu sekarang?" balas Jeny.
"Cih, kau pasti bohong dan kau..?" ucap Richard memandang Sammy.
"Kenapa? Dulu kau sudah menghancurkan hubungan kami, tapi malah menyakiti Jeny. Sekarang kau bukan suaminya dan Jeny tak punya urusan lagi denganmu mau dia bersama siapapun." balas Sammy.
"Memangnya kenapa? Kau saja yg bodoh dulu yg mudah diadu domba." ucap Richard.
"Oh jadi kau yg membuat Sammy pergi dulu, lalu setelah kita menikah malah berselingkuh dengan Martha sampai lahir Aini. Saat ini kau bahkan berkencan dengan wanita yg seusia putrimu, kau lebih menyedihkan Richard." ucap Jeny.
"Maaf aku tak ada waktu denganmu, Sammy ayo kita pergi." ucap Jeny.
"Aku takkan kalah kali ini." ucap Sammy.
"Ck.." ucap Richard.
"Sayang, bukankah kita mau ke apartemenku?" tanya Cindy.
"Baiklah." ucap Richard.
__ADS_1
Sementara Jeny, dirinya pun tak mengerti dengan isi otak Richard. Istrinya masih di dalam penjara, tapi dirinya bisa-bisanya berselingkuh dengan wanita muda. Mungkin julukan tua-tua keladi sangat cocok untuk Richard. Jeny pun pulang dengan mobilnya, dan Sammy juga pulang dengan mobilnya.